I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Kalah Telak



Di bawah pohon mangga rindang yang besar Rara terduduk dan termenung merenungi nasib yang menimpa dirinya, tangan kanannya berada di bawah dagunya menjadi tompangan kepalanya


"Assalamualaikum"


"Assalamualaikum"


"Assalamualaikum"


Suara salam di ulang berkali-kali hingga salam yang ketiga dia menyentuh pundak Rara


"Eeehhh" spontan Rara membalikkan badannya melihat siapa pemilik tangan yang bertengger di bahunya


"Eeehhh ustadzah Ratna" ujar Rara


Ustadzah Ratna tersenyum "Jawab dulu dong salamnya, menjawab salam hukumnya wajib"


"Hehehe maaf ustadzah gak denger sibuk meratapi nasib, mmmm mohon di ulang us salamnya" pinta Rara


"Assalamualaikum" ustadzah Ratna mengulang salamnya untuk yang kesekian kali


"Waalaikumsalam" jawab Rara


"Nampaknya kamu banyak beban hidup ya?" tanya ustadzah Ratna yang kemudian duduk di samping Rara


"Jangan di tanya us, sudah terpampang jelas di wajah saya"


"Sabar ini adalah cobaan" ujar ustadzah Ratna sembari mengelus pundak Rara pelan


Rara mengangguk pelan "Iya aku lagi menunggu buah kesabarannya menghampiri ku tapi kok gak jatuh-jatuh ya dari pohon" ujar Rara sembari mendongakkan kepalanya menatap buah mangga yang bergelantungan di pohon


"Ra kau tahu di dunia ini banyak sekali rahasia kehidupan" ustadzah Ratna tersenyum menatap Rara dalam dalam dia salut dengan gadis di sebelahnya ini di saat lagi terpuruk dia masih saja melontarkan kata-kata yang aneh untuk melindungi hatinya


"Tapi kenapa harus aku?" tanya Rara


"Karena kamu wanita yang kuat, mungkin kalau orang lain yang mendapat cobaan seperti ini mereka tidak akan sekuat dirimu" jawab ustadzah Ratna


Rara tersenyum sinis mendengar perkataan yang terlontar dari bibir ustadzah Ratna "Sekeras-kerasnya batu pasti akan hancur pada waktunya"


Ustadzah Ratna membalas senyuman Rara dengan senyuman termanis "Tapi kemudian batu-batu tersebut akan berevolusi menjadi batu yang baru"


"Sebeku-bekunya es batu pada akhirnya akan berakhir menjadi air"


"Tapi dia akan menyegarkan tenggorokan bagi siapa yang meminumnya"


"Selama-lamanya manusia hidup ujung-ujungnya akan mati juga"


"Tapi dia akan memiliki kehidupan yang baru di akhirat kelak"


"Seenak-enaknya makanan pada akhirnya akan keluar sebagai kotoran"


"Tapi dia dapat mengeyangkan perut dan memberikan rasa kenikmatan tersendiri bagi lidah"


"Setegar-tegarnya hati jika terus di sakiti pada akhirnya akan retak dan hancur"


"Tapi ada Allah yang selalu siap untuk memperbaiki retakannya dan membangun kembali kehancurannya"


Rara melengkungkan bibirnya ke bawah kalah telak, ia mendongakkan kepalanya pandangan nya menatap ke arah langit yang luas tampak damai tanpa ada kebisingan


"Kenapa semua orang tidak ada yang mempercayai ku?" ujar Rara sendu


"Tapi saya yakin banyak orang yang mempercayai mu"


"Apa ustadzah percaya padaku?" tanya Rara


"Saya tidak tahu kejadian apa yang menimpa mu, semua kebenaran hakikinya hanya Allah yang tahu"


"Semua orang pernah melakukan kesalahan di sengaja ataupun tidak disengaja namun mereka juga memiliki kesempatan untuk merubah semuanya"


"Apa kamu masih memiliki seseorang yang selalu menemanimu, yang tidak mempedulikan tentang gosip yang beredar mengenai dirimu?" tanya ustadzah Ratna


"Ada, namun ada pula orang yang sangat membenci ku tanpa tahu kebenarannya" ujar Rara


"Iya tapi kapan?" tanya Rara lagi


"Suatu saat nanti, saya akan berusaha mencari keadilan untukmu, kau tahu bukan cuma saya saja tapi ada beberapa orang yang sedang membantu mu untuk mencari keadilan, sebenernya keadilan untukmu sudah lama di temukan"


"Benarkah siapa yang menemukan keadilannya kenapa kok belum terungkap?" tanya Rara girang


"Allah lah siapa lagi, kita tinggal menunggu kapan Allah akan mengungkapkannya" ujar ustadzah Ratna yang membuat Rara melongos hilang sudah rasa girangnya tadi


***


"Dasar pelakor bisanya cuma merusak rumah tangga orang lain"


"Nyadar dong kamu tuh sudah jadi orang ketiga dalam sebuah pernikahan"


"Pelakor mati aja"


"Dasar pelakor laknat"


"Pergi ke neraka aja sana dasar pelakor jahannam"


Bisikan demi bisikan memasuki gendang telinga Rara lama lama bisikan itu berubah menjadi teriakan ia mengangkat kedua tangannya untuk menutup kedua daun telinganya


"Hentikan aku bukan pelakor aku tidak pernah merusak rumah tangga orang lain" Rara berteriak sekuat tenaga kedua telapak tangannya masih setia menempel pada daun telinga


"Aku bukan pelakor, aku bukan pelakor, aku tidak salah" Rara terus saja berteriak histeris namun suara hinaan dan cacian itu masih terus mengalir tanpa henti


Rara berdiri di tengah-tengah sebagai bahan hujatan, segerombol orang mengelilinginya dengan bibir yang terus mengeluarkan hinaan dan cacian layaknya burung beo yang tidak mau berhenti


"Hentikan aku bukan pelakor" Rara terus saja berteriak histeris tubuhnya merosot ke bawah dia menjongkokkan dirinya dan menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya


Tiba-tiba suara hujatan itu berhenti suasana nampak hening beberapa saat kemudian terdengar suara derap kaki yang melangkah ke arahnya, kedua tangan Rara di pegang oleh seorang wanita, perlahan Rara mendongakkan wajahnya menatap wanita tersebut


"Kenapa kamu merusak rumah tangga ku?"


"Kenapa kamu merebut suami ku?"


"Kenapa kamu tega melakukan ini semua?"


"Apa salahku padamu selama ini?"


"Kenapa hah jawab"


"Kenapa hiks hiks hiks"


"Hiks hiks hiks"


"Hiks hiks hiks"


Rara menatap wajah Azizah yang penuh dengan air mata wanita itu menyiratkan betapa dalam sakit hati yang ia rasakan, wajah itu nampak sangat dekat setega itukah dirinya karena telah menghancurkan rumah tangga wanita yang sama sekali tidak bersalah


"Aku tidak merusak rumah tangga mu, ku mohon percayalah padaku"


"Bukan aku yang merusak rumah tangga mu"


"Aku bukan pelakor"


"Ku mohon percayalah padaku"


"Ku mohon tolong percayalah padaku" Rara terus saja memohon kepada wanita yang ada di hadapannya ini namun ia sama sekali tidak bergeming


"Bukan bukan aku, aku bukan pelakor" Rara berteriak histeris hingga ia membuka matanya dengan lebar dan reflek mendudukkan dirinya


Nafasnya masih tersengal-sengal, lagi-lagi ia mengalami mimpi buruk, dua mimpi buruk yang selalu menghantui dirinya masih terngiang-giang dengan sangat jelas di kepalanya


"Maaf maafkan aku, aku bukan pelakor"


"Aku mohon percayalah padaku" suara Rara terdengar sangat pilu, dia meremas baju yang menutupi bagian dadanya tepatnya di bagian ulu hati yang terasa sangat perih dan pedih, sesekali tangannya memukuli dadanya dengan pelan menahan rasa sesak selama bertahun-tahun lamanya


"Kenapa harus aku lagi" perlahan air matanya mengalir dia menutup mulutnya agar tidak terdengar suara isak tangisan, bahkan ia menutup dirinya dengan selimut, ia menangis tanpa suara di tengah malam yang sunyi, bukankah menangis tanpa suara itu rasanya lebih menyakitkan