I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Hanya Sekertaris Sekaligus Teman Tidak Lebih



Rara berjalan mengendap-endap, lagi-lagi ia mengintip lewat jendela hendak memata-matai si buntel, benar saja kucing putih jantan itu kini sedang asyik berhubungan dengan kucing betina milik tetangga, siapa lagi kalau bukan si gumpel


"Kukira si gumpel jantan, ternyata dia betina, bodo banget kamu ra bisa-bisa nya tidak menyadari gender kucing" gumam Rara


Rara mengarahkan kamera yang terletak di hp miliknya, ia memotret perbuatan mereka berdua yang sedang asyik bermain kucing-kucingan eh bukan kuda-kudaan


"Awas kamu buntel besok aku kurung di kandang baru tahu rasa" gerutu Rara kesal


Namun tiba-tiba kedua kucing itu segera berlari karena mendengar suara pagar terbuka, nampak sebuah mobil memasuki pagar nampaknya Abi baru pulang dari luar kota


"Untung aku udah mengambil beberapa foto haram kalian berdua, mau aku laporin sama papah kamu, biar di ceramahin habis-habisan" ujar Rara sembari tertawa sinis


Rara segera menelpon Azril namun pria tersebut tidak menjawab panggilannya "Mungkin dia sibuk" ujar Rara, bukannya menyerah ia malah menelpon Azril kembali


Rara mengembangkan senyumnya kala di rasa panggilannya sudah di angkat oleh Azril


"Hallo Assalamualaikum" sapa seorang wanita di seberang sana yang membuat Rara diam mematung


"Hallo"


"Ehh i-iya Waalaikumsalam" jawab Rara gugup


"Ada yang bisa saya bantu? mas Azrilnya sekarang sedang berada di ruang rapat" ujar wanita tersebut


"Kamu siapa?" tanya Rara to the points


"Saya sekertarisnya mas Azril" ujarnya


"Sekertaris? sejak kapan dia punya sekertaris?" tanya Rara curiga


"Sudah lama mbak, mohon maaf apa ada pesan yang mbak titipkan buat mas Azril"


"Kamu sekertaris kenapa manggil mas, yang profesional dong, manggilnya pak, mana ada sekertaris manggil mas" ujar Rara sedikit geram, ia mulai meninggikan suaranya satu oktaf


"Maaf mbak saya tidak ada waktu buat ribut dengan mbak, jika ada pesan mohon di sampaikan sekarang juga" ujar wanita itu sopan tapi bikin kesal


"Kenapa hpnya bisa sama kamu?" tanya Rara sinis


Perempuan itu nampak menghembuskan nafasnya, menahan kesabaran "Hp nya sengaja di tinggal di ruangan kerjanya agar tidak menggangu ketika sedang rapat" ujarnya memberitahu alasan yang masuk akal, padahal sebenarnya karena Azril lupa membawa hpnya


"Bilangin sama mas Azril nanti suruh telpon balik" Rara segera memencet tombol merah tanda panggilan ia akhiri


"Issss nyeselin banget sih tuh sekertaris, berani-beraninya dia ngangkat telpon aku, belum tahu siapa aku hah" dumel Rara


"Sssssss" Rara mendesis kala merasakan perutnya lagi-lagi terasa keram


"Aduh kok keram lagi ya" Rara mengelus-elus perut nya berharap rasa nyeri itu cepat menghilang


Beberapa jam kemudian hp nya berbunyi, buru-buru ia mengangkat telpon dari suaminya dengan perasaan dongkol


"Hallo Assalamualaikum sayang, tadi......."


"Sejak kapan kamu punya sekertaris?" tanya Rara sinis


Azril bingung mendengar pertanyaan Rara, namun ia tetap menjawab seadanya "Dari dulu ra, saat mas menjabat sebagai pemilik restoran"


"Ohhh lama juga ya"


"Lah ra bukannya setiap pemimpin mempunyai sekertaris ya, bahkan ketua kelas pun ada sekertaris nya" ujar Azril menjelaskan


"Ya emang tapi bukan gitu cara sekertaris kamu bersikap"


"Maksud kamu?"


"Kenapa dia manggil kamu mas, bukan pak?"


"Oalah, itu karena dia temen mas, udah kenal lama juga dan udah kebiasaan"


"Kamu ingat kan ra yang mas bilang pernah nolong pasangan suami istri untuk modal usaha mereka, nah itu salah satu anaknya, anak paling sulung milik mereka"


"Ohhh gitu" Rara hanya ber oh riya


"Itu mas si buntel telah berzina" pekik Rara


"Hah?"


"Aku punya foto buktinya, udah aku kirim barusan coba mas liat"


"Astaghfirullah" pekik Azril kala melihat sesuatu yang di rasa aneh tapi lucu juga, bisa-bisanya Rara memotret hal seperti ini


"Mas gimana dong, kita nikahin mereka aja ya" usul Rara


Azril memijat pelipisnya "Sayang kan mereka binatang, gak ada pernikahan adanya langsung musim kawin"


"Gak bisa gitu dong mas, kita aja yang kepergok melakukan hubungan seperti itu langsung di nikahin, si buntel juga harus lah" ujar Rara tak terima


Azril tertawa lepas di seberang sana, apalagi ia mengingat awal pertemuan mereka, kulit mulus Rara yang terekspos kala itu membuat ia ingin segera menemui istrinya, namun sayang jarak diantara mereka terhalang cukup jauh


"Mas kok ketawa sih" gerutu Rara kesal


"Sayang kita kan manusia memiliki akal sedangkan mereka tidak, mereka aja tidak pakai baju gak malu, lah kita"


"Ahhh mas gak seru, padahal kan aku pingin beli kucing betina buat jadi teman hidup si buntel, biar dia bisa tumbuh berkeluarga, melahirkan banyak anak dan hidup bahagia sementara" desis Rara


"Namanya juga hidup ra, tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita"


"Ya udah deh aku gak ngelarang hubungan mereka berdua lagi" ujar Rara pasrah


Azril malah terkekeh mendengar suara pasrah istrinya, ntah istrinya yang kurang kerjaan hingga mengurusi hal seperti itu apa memang agak rada-rada ntahlah suka-suka dia aja


"Mas tahu gak pas pertama kali aku liat si buntel sedang berhubungan diam-diam seperti itu membuat aku teringat saat malam pertama kita, rasanya tuh kayak habis melakukan dosa besar dan ketangkap basah sama seluruh orang, malu banget merasa diri sendiri hina, padahal mah kita gak ngerasain apa-apakan karena di bawah pengaruh obat"


"Uhukkkk uhukkkkk" Azril tersedak oleh minuman yang ia teguk kala mendengar pernyataan istrinya


"Ehh mas kenapa?" tanya Rara panik


"Mas gak pa pa, sayang jangan bahas itu lagi ya, gimana kabar abi sama umi?" tanya Azril yang mengalihkan pembicaraan


"Baik mas, abi baru pulang dari luar kota, bawa oleh-oleh banyak" ujar Rara sumringah


***


"Fera" panggil Azril kala melihat sekertarisnya sibuk memeriksa data


Fera memang jarang terlihat di dekat Azril, tidak seperti sekertaris pada umumnya yang bertanggung jawab langsung pada pemimpinnya, diantara mereka ada pembatas yaitu Baheer, Fera melaporkan segala sesuatu pada Baheer hal ini lah yang membuat Baheer harus bekerja ekstra, tentu gajinya juga ekstra


Perempuan itu mendongakkan kepalanya, menatap Azril yang memanggil dirinya


"Iya mas?" tanyanya sembari berdiri


"Kalau hp saya tertinggal lagi dan berbunyi namun ternyata yang menelpon istri saya tolong jangan diangkat ya, saya tidak mau istri saya salah paham, langsung berikan kepada saya atau diamkan saja"


Fera menganggukkan kepalanya tanda mengerti


"Lanjutkan pekerjaan kamu!" perintah Azril yang langsung pergi memasuki ruangannya kembali


Fera menghembuskan nafasnya "Apa tadi istrinya mengatakan sesuatu yang buruk tentang ku" batinnya sedikit kesal


"Hufttt kenapa nasibku tidak beruntung, andai aku yang ada di posisi istrinya, yang tidak pernah merasakan kesusahan dari kecil, lahir di keluarga yang kaya dan memiliki suami seperti mas Azril" gumam Fera sembari menatap pintu ruangan Azril


Fera duduk kembali sembari menelungkupkan kepalanya di atas meja "Aku yang mengenal ia lebih dulu, aku yang sering bertemu dengannya, bahkan keluargaku yang mengabdikan diri bekerja dengannya, tapi kenapa dia memilih wanita lain, pertama Azizah kedua Rara, kenapa bukan aku, kenapa harus mereka"


"Sesakit inikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, kenapa aku bisa jatuh cinta padanya yang jelas-jelas tak pernah mencintaiku, kenapa rasa cinta ini bisa hadir hingga saat ini, padahal ia hanya menganggap ku sebagai teman tidak lebih"


"Aku ingin membunuh rasa ini tapi kenapa begitu susah, apa aku harus resign dan mencari pekerjaan baru"


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗


Comment titik doang juga gak pa pa 🙃