I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Zahra Oh Zahra



Tangan Azril menarik selimut untuk menyelimuti istrinya yang kini telah berbaring di atas tempat tidur dengan mata terpejam nya, perlahan dia membungkukkan badannya menempelkan bibirnya tepat di dahi Rara selama beberapa detik


Azril beranjak pergi membuka pintu kamarnya, nampak Afham yang sedari tadi berdiri di depan pintu dengan raut wajah khawatir


"Bagaimana keadaannya?" tanya Afham


"Biarkan dia beristirahat dulu" Azril berjalan ke ruang tamu yang diikuti oleh Afham di belakangnya


"Hanya ada satu jawaban, Zahra yang memotong rambutnya" ujar Afham sembari mendudukkan dirinya di samping Azril


"Apa maksudnya? kamu menuduhnya?" tanya Azril tidak percaya


Afham menghela nafasnya pelan "Semua santriwati yang ada di pesantren sudah kami periksa satu-satu, begitupula para guru di sana, tidak hanya itu seluruh cctv yang ada di pesantren sudah kami cek, kau tahu sendiri bukan tidak banyak cctv yang terpasang di pesantren hanya ada beberapa yang terletak di tempat terpenting saja"


"Cctv tersembunyi di bagian gedung administrasi yang hanya ada satu jalan menuju asrama Rara menunjukkan ada seorang wanita yang berjalan tengah malam mengenakan masker, di lihat sekitar pukul 23.30 hanya ada satu wanita tersebut yang masih kelayapan di malam hari"


"Setelah kami selidiki gamisnya serta poster tubuhnya itu semua mengarah pada Zahra, lagipula bukankah kau tahu sendiri bahwa Zahra lah yang paling membenci Rara"


Azril mencerna setiap kata yang di lontarkan oleh Afham segitu bencinya kah Zahra pada Rara


"Apa Zahra masih dendam terhadap Rara karena masalahku dengan kakaknya?" ujar Azril heran


"Bukan karena itu" ujar Afham yang juga terheran-heran melihat tingkah Zahra yang sudah di luar batas


"Kalau bukan karena itu karena apa lagi? dia sendiri kemarin yang menangis tersedu-sedu kala menceritakan penderitaan Azizah" timpal Azril


"Kau tahu aku pernah menemukan beberapa lembar foto mu di laci tempat duduk Zahra"


"Hah" Azril membelalakkan matanya


"Salah satu foto itu di belakang nya tertera sebuah tulisan yang aneh"


"Tulisan apa?"


"La ahad yastatiu an ya'khudzuka siwaiya"


Azril mengerutkan dahinya "Tidak ada yang bisa memilikimu kecuali saya" gumam Azril


"Apa kamu ingat ketika kamu hendak melamar Azizah namun ternyata kamu malah mendapat fitnah telah melakukan hubungan terlarang dengan salah satu santriwati di pondok hingga Azizah tidak mempercayai mu" ujar Afham yang mendapat anggukan dari Azril


"Aku juga ngerasa ada yang janggal waktu itu" Azril kembali mengingat masa kelamnya itu, karena kejadian itu lamaran untuk Azizah di tunda hingga berbulan-bulan


"Zahra terobsesi dengan kamu, dia membenci Rara bukan karena Rara telah menghancurkan hidup kakaknya melainkan karena Rara yang telah memiliki kamu"


"Aku sempat bertanya pada teman sekamarnya, katanya dia pernah menemukan sebuah buku yang isinya semua foto-foto kamu dengan caption yang berbeda di bawahnya pada setiap lembar foto"


"Jika memang benar dia menyukaiku lantas untuk apa dia mengenalkan aku pada kakaknya" ujar Azril bingung


Dulu juga Azril merasa aneh dengan sikap perhatian Zahra, namun kini dia merasa seluruh sikapnya itu hanya untuk mencomblangkan dirinya dengan kakaknya


"Kalau itu mana saya tahu, oh ya pihak pesantren memutuskan untuk mengeluarkan Zahra dari pondok, seminggu lagi akan aku pastikan dia keluar dari sana dengan bukti-bukti yang tidak bisa ia elak" ujar Afham tegas


"Ya keluarkan saja dia, kau tahu aku menyesal telah menitipkan Rara padanya" ujar Azril sendu


"Ya karena itu dia jadi menderita di pesantren, kau tahu setiap Rara mendapatkan sidang dia selalu mengungkit tentang malam yang tttttttttiiiiiiiiiitttttttttt hingga Rara tidak bisa membantah lagi, bahkan dia selalu mengancam akan melaporkan semua perbuatan buruknya di pesantren kepadamu"


Azril menatap ke arah Afham "Dia selalu melaporkannya, tiap hari dia meneleponku untuk melaporkan apa saja yang Rara lakukan hingga membuatku jenuh, karena isinya hanya tentang Rara yang melanggar aturan bahkan berani melawan semua guru yang ada di sana"


"Oh ya ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatiku, apa benar dia memberikan surat cinta pada Nathan?" tanya Azril penasaran


"Apa kamu cemburu?" tanya Afham sembari memicingkan matanya


"Gak, aku hanya ingin tahu saja" Azril mengalihkan pandangannya ke arah lain


"Tentu saja..."


"Apa jadi benar Rara menyukai Nathan" terlihat raut wajah Azril yang memerah menahan rasa sesak dihatinya


"Hey aku belum selesai bicara, tentu saja tidak, jiah ada yang cemburu nih" goda Afham kala melihat raut wajah Azril yang nampak lega mendengar perkataannya


"Gak kok" elak Azril


"Tentang kecelakaan itu kau belum menjelaskannya secara detail" ujar Azril


"Setelah dia menelponmu dia langsung berlari ke arah gerbang pesantren, dia memanjat gerbang tersebut, gerakannya lumayan cepat, karena hujan yang lebat penjaga gerbang tidak menyadarinya"


"Tentu saja aku berusaha mengejarnya, namun tak di sangka dia segera menyetop taksi, aku berlari ke dalam mengambil mobil dan berusaha mengejarnya, aku sempat melihat plat nomor mobil tersebut"


"Taksi itu tidak mengebut karena hujan lebat maka aku berhasil menyusulnya tepat di belakang taksi yang ditumpangi Rara"


"Namun siapa sangka di tikungan berbelok ada truk yang kehilangan kendali, aku melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri, taksi itu terbalik kesamping dan mengenai bagian depan mobilku hingga mengeluarkan asap"


"Kepalaku menabrak setir depan, lumayan sakit butuh waktu beberapa menit untuk menjernihkan pikiran ku, hingga aku dapat keluar dari mobilku sendiri"


"Aku melihat Rara yang berusaha keluar dari taksi, kepalanya penuh darah hingga merembes pada gamisnya, tanpa pikir panjang aku meraih tangannya dan membantu dia untuk keluar"


"Ketika itu pula dia menggenggam tanganku dengan erat sembari memohon padaku untuk menyelamatkan sopir taksi tersebut, dia terus merancau agar aku bisa menyelamatkannya dia juga sempat bilang bahwa sopir taksi itu lah yang membantu nya keluar dari dalam"


"Aku berjanji padanya bahwa sopir taksi itu bisa selamat, ketika itu pula sudah datang mobil polisi dan ambulance yang membantu mengeluarkan sopir taksi tersebut, kondisi Rara saat itu sudah pingsan karena kekurangan darah"


"Setelah mereka di bawa ke rumah sakit, pihak rumah sakit menyatakan bahwa sopir taksi tersebut sudah meninggal di tempat kejadian" Afham tersenyum pilu kala mengingat kejadian itu


"Bagaimanapun aku yakin Rara bakal menyalahkan dirinya sendiri karena sopir taksi itu yang telah menyelamatkan nyawanya"


Azril menghembuskan nafasnya pelan "Iya kau benar, lantas sopir truk itu bagaimana sekarang, sudahkah dia mendapatkan hukuman yang setimpal?"


"Tentu saja, karena dia mengendarai truk dalam keadaan mabuk hingga menewaskan korban, kini dia telah mendekam di penjara untuk beberapa waktu"


"Oh ya bagaimana kondisi Rara apa dia telah mengingat sesuatu selain wajahku dan sopir taksi itu?" tanya Afham


Azril menggelengkan kepalanya "Apa aku egois jika aku menginginkan ingatannya agar tidak pernah kembali?"


Afham tertegun mendengar perkataan Azril


"Aku tidak bisa membayangkan jika ingatannya kembali, luka yang dulu aku toreh akan menganga kembali, begitu pula luka-luka di masa lalunya sebelum dia mengenal diriku, semua akan terbuka kembali hingga membuatnya hidup dalam rasa penyesalan" sorot mata Azril terlihat pedih, tatapan nya berubah menjadi sendu


"Masa lalu bukan hanya sekedar menyimpan sebuah luka, tetapi ada kenangan-kenangan terindah yang tidak akan pernah bisa terulang kembali"


"Ya kau egois, kau sangat egois, kau hanya takut kehilangan dia bukan, kau takut dia membencimu karena kesalahan yang dulu kau perbuat meski secara tidak langsung"


"Aku yakin kau memilih Rara karena rasa penyesalan mu yang teramat dalam daripada rasa cinta mu pada Rara" ujar Afham


"Ya aku memang menyesal tapi aku juga mencintainya" elak Azril