I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Hantu Ngidam



"Kak kayaknya kita harus membawa Rara ke dukun deh, bayangkan aja tiap malam tiba-tiba dia selalu muncul di kamar kak, siapa yang gak terkejut coba, aku bisa jantungan lama-lama" ujar Dariel yang duduk di ruangan kantor milik Alfred


Plakkkk


Alfred melempar pulpen yang sedari tadi ia mainkan tepat di dahi Dariel


"Aduh kak" keluh Dariel sembari mengelus dahinya


"Lan kamu juga berpikiran yang sama kan" Dariel menghadap Lan mencari pembelaan


"Iya tuan, saya sampai kaget tiba-tiba non Rara muncul di balik kaca mobil, bahkan terkadang muncul di samping tempat duduk samping kemudi kala saya baru memasuki mobil, ntah kapan non Rara memasuki mobil itu"


"Apa dia lagi stress?" timpal Alfred


"Iya belakang ini dia sering muncul tiba-tiba di dalam kamar, anehnya kenapa di malam hari" lanjutnya


"Nah udah di pastikan jangan-jangan dia kerasukan hantu makanan, iiihhh serem, mana minta makanan nya aneh aneh lagi" Dariel bergidik ngeri


"Kamu jangan asal ngomong" tegur Alfred


"Siapa yang asal ngomong sih kak, itu memang kenyataan"


"Kita bawa aja ke dukun yuk, atau ke orang pintar gitu, pokok nya Rara harus waras kembali"


"Apa non Rara tertekan karena pernikahan nya" ujar Lan


"Akhh masak sih sampai segitunya, aku khawatir aja dia kerasukan tiap malam hari, soalnya kalau pagi siang sore normal-normal aja"


"Aku sampai gak mau pulang nih aku takut" Dariel menelungkup kan kepadanya di atas meja, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi tak ada tanda-tanda dari mereka yang beranjak untuk pulang


"Lan" Alfred menatap ke arah Lan


"Iya bos"


"Saya juga takut" gumam Alfred yang ikut menelungkup kan kepalanya di atas meja


"Sama bos" gumam Lan menunduk


Brakkkkkkkk


Alfred Dariel dan Lan menoleh ke arah pintu


"Akhhhhh Hantuuuuu"


"Astaghfirullah ya Allah"


"Astagaaaaaa"


Teriak mereka bertiga kompak kala pintu ruangan terbuka dengan keras, ada sosok berjubah putih tepat di ambang pintu yang membuat mereka terkejut


Sosok itu mendekat ke arah mereka yang sedang menyembunyikan wajahnya


"Kak" bentak Rara, ketiga orang itu menoleh menatap sosok bergamis putih dengan kerudung putih pula, wajahnya terlihat kesal tapi masih memancarkan kemanisan


"Eh Rara" ujar Dariel yang sudah kembali dapat bernafas dengan lega


"Rara" Alfred mengelus dadanya pelan begitupula dengan Lan


"Kenapa Rara telpon gak diangkat" bentak gadis manis tersebut, ia menatap tajam ke arah Alfred meminta penjelasan yang masuk akal


"Ehhh maaf ra kakak dari tadi sibuk gak sempat buka hp" ujar Alfred


Kemudian Rara beralih menatap ke arah Dariel "Emmm anu itu ra, baterai kakak habis jadi hpnya mati" ujar Dariel gelagapan


Kemudian Rara beralih menatap ke arah Lan "Anu non tadi saya sudah mau mengangkat tapi ...." Lan melirik ke arah Dariel yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam


"Tapi tiba-tiba hpnya kemasukan kolam itu ra, terus agak konslet" potong Dariel sembari menunjuk kolam ikan


Rara melengkungkan bibir nya ke bawah "Nyebelin kalian semua" teriak Rara, moodnya benar-benar rusak, kini ia sudah susah mengendalikan mood naik turun bagaikan roller coaster


"Eh ra jangan marah dong, gimana kalau kita makan di restoran enak" Dariel merangkul adiknya


"Iya kamu mau makan dimana? biar kita bertiga yang teraktir" timpal Alfred


"Mau KFC"


"Ok ayo kita ke sana" Alfred berdiri merapikan mejanya


"Kamu tadi ke sini diantar siapa ra? jangan bilang kamu nyetir sendiri" tanya Dariel


"Sama mang Mamat"


"Syukur deh, awas kamu nyetir mobil sendiri lagi"


"Baby paman-paman kamu nyebelin semua, bikin mamah kesal" ujar Rara sembari mengelus perut ratanya


"Hah" mereka bertiga saling berpandangan seakan-akan tidak percaya dengan perkataan Rara


"Ra kamu hamil?" tanya Alfred


Rara menganggukkan kepalanya pelan tangannya tak berhenti mengelus-elus perutnya


"Ya ampun aku dah mau jadi paman" pekik Dariel girang, ia langsung memeluk erat tubuh Rara


"Lah kan kakak gak nanya" ujar Rara santai


"Iya juga ya" Dariel membenarkan ucapan Rara


Mereka bertiga melongo menatap Rara "Jadi selama ini kamu ngidam" gumam mereka sembari menggelengkan kepalanya pelan


"Ayo kita rayakan" ajak Alfred, ia juga merasa senang sebentar lagi ia akan mendapatkan julukan baru


***


"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu hamil?" tanya mama kesal, selama ini mamanya di rumah, sebagai seorang ibu tentu ia ingin mengetahui semua keadaan anak-anaknya


Rara hanya menunduk melihat raut wajah mama yang murka, begitu pula papanya terlihat agak marah


Habis makan tengah malam bersama kakak-kakaknya di KFC kini dia harus duduk di ruang tamu, mendapatkan eksekusi dari kedua orang tuanya hanya karena ia di tuduh telah menyembunyikan kehamilan nya


"Apa suami kamu sudah tahu?" tanya papa penuh selidik


Rara menggelengkan kepalanya pelan, matanya sudah kedip-kedip ingin di istirahatkan


"Mulai sekarang bereskan semua barang kamu, mama kecewa sama kamu"


"Mama, tolong jangan usir Rara" pekik Rara memohon, matanya yang tadi kedip-kedip kini terbuka sempurna bahkan hampir copot


"Iya Rara salah maafin Rara, besok-besok kalau aku hamil lagi aku bakal ngasih tahu mama janji ma, jangan usir Rara"


"Gak ada toleransi ra, sudah cukup kamu mengundur waktu, bersikap dewasa ra jangan plin plan gini, status masih jadi istri orang tapi malah tinggal terpisah"


"Tinggal terpisah cerai gak mau, itu sama aja kayak hidup enggan mati tak mau"


"Beda ma itu......."


"Mama bilang sama ya sama, jangan membantah perkataan mama" potong mama yang tak mau di bantah sedikit pun


***


Esok hari sehabis shalat subuh


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" suara sautan dari pemilik rumah yang sangat mereka kenal


"Mama papa" ujar Azril terpaku kala melihat kedua mertuanya ada di sini pagi-pagi buta


"Rara" ujar Azril lirih kala melihat wanita yang selama ini sangat ia rindukan


"Ayo masuk" Azril mempersilahkan mereka bertiga masuk


"Eh ya ampun ada menantu umi, bentar ya umi panggilkan abi dulu" ujar umi yang bergegas memasuki kamarnya


Azril diam terpaku, hatinya deg deg an tidak karuan, pikiran nya bertanya-tanya untuk apa Rara ke sini sepagi ini dan bahkan ada kedua orang tuanya "Apa dia ingin minta pisah dari ku" batin Azril meringis


"Ini silahkan di minum" ujar umi yang menyuguhkan secangkir teh beserta tiga toples cemilan


"Ra Azril kangen banget lo sama kamu, tiap hari wajah nya lesu terus kayak mayat hidup" ujar umi


"Ehhh iya mi" Rara hanya tersenyum canggung


"Alhamdulillah akhirnya obat rindu nya udah datang" timpal abi Azril yang baru saja menghampiri mereka


"Ra mama kasih kamu waktu untuk bicara berdua sama Azril, sana cepetan"


"Ehh i-iya ma" Rara berdiri dengan perlahan ia berjalan menghampiri Azril, melihat Rara berdiri hendak menghampirinya ia ikut bangun dari duduknya


"Mmmm ayo bicara di kamar ku saja" ujar Azril kikuk, ia memandu Rara menuju kamar milikinya


Pintu kamar telah tertutup rapat, ntah apa yang akan Rara bicarakan yang jelas Azril harus tetap mempertahankan pernikahan nya


"Ra aku merindukan mu"


"Gimana kabar kamu?" Azril berbicara dengan kikuk, jantungnya benar-benar tidak aman untuk saat ini


"Baik"


"Mmmm mau ngomong apa tadi?"


"Mau tinggal sama kamu"


"Apa ra" Azril terkejut dengan ucapan Rara, benarkah yang Rara katakan, kalau benar tentu saja dia sangat senang


"Mau tinggal sama kamu" ujar Rara dengan nada yang ia tinggikan agar Azril dapat mendengar dengan jelas


"Benarkah, Alhamdulillah ya Allah, terimakasih Engkau telah mengabulkan doa hamba" wajah Azril terlihat senang


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗