
“Loh ra kamu habis darimana aja sih kok sampek keringetan gini?” tanya Zelin
“Biasa lah di hukum sama ustadzah apalagi coba” sindir Lesy
“Makanya jangan banyak tingkah donk, jangan caper juga inget” timpal Tari
Rara hanya menatap mereka berdua sinis dan segera mengganti pakaiannya karena siang ini aka ada kelas lagi
Zelin hanya menggelengkan kepalanya jujur saja ikut campur urusan orang lain bukanlah tipenya, dia akan berteman dengan siapa saja asal nyaman baginya baik murid nakal, pinter, alim dan sebagainya
“Kenapa nasib ku sial sekali” ujar Rara sembari mengacak-acak rambutnya ketika dua orang yang paling malas Rara temui itu sudah keluar dari kamarnya
“Punya temen sekamar yang gak waras lagi, apa sih tujuan mereka” umpat Rara lagi
“Kamu mau tahu jawabannya?” tanya Zelin yang mendapat anggukan dari Rara
“Karena kamu tinggal sekamar sama anak-anak paling nakal, kau tahu kamar ini khusus buat anak-anak nakal yang di atas rata-rata apalagi mereka berdua yang sering membuli orang lain” ujar Zelin santai
“Oh pantas saja nasib ku begitu sial, lantas kamu sendiri kenapa bisa di sini?” Rara memicingkan matanya menunggu jawaban dari Zelin
“Karena aku juga nakal, cuma bedanya aku nakal hanya merugikan diri sendiri dan tidak melibatkan orang lain, aku suka melanggar karena menurutku peraturannya terlalu memaksa yah kamu tahu sendiri kan aku ini tipe orang yang santai” ujar Zelin bangga
“Cihhh” Rara mendengus melihat tingkah Zelin
“Kamu harus hati-hati sama mereka berdua kayaknya kamu yang akan di jadikan target deh” ucap Zelin serius
“Gak usah kamu kasih tahu aku juga sudah tahu kok, makanya kamu harus bantuin aku” ujar Rara memelas
“Ok karena aku baik hati dan tidak sombong aku akan berusaha membantu kamu” ujar Zelin lagi yang membuat Rara tersenyum
“Ayo buruan masuk kelas” ujar Zelin, Rara segera memakai jilbabnya dan mambawa buku pelajarannya dan mengikuti Zelin keluar kamar
“Banyak banget sih yang ngomongin aku segitu terkenalnya kah aku” gumam Rara di sebelah Zelin
“Iya kamu sangat terkenal sekarang bahkan melebihi aku” timpal Zelin dengan mimik wajah yang dibuat serius
“Kenapa ya orang hanya mendengar apa yang ingin dia dengar dan mengabaikan apa yang ingin ia abaikan” ucap Rara sendu
“Eh kamu jangan sedih dong ra, biarin aja mereka tapi aku juga belum tahu kebenarannya sih nanti aku akan mengintrogasi kan kamu” ujar Zelin yang tiba-tiba langsung menarik tangan Rara
“Assaalamualaikum ustadz Nathan yang paling ganteng diantara ustadz-ustadz lain” sapa Zelin yang ternyata dia menarik Rara ke pinggir jalan karena melihat ustadz pujaannya lewat
“Waalaikumsalam” jawab ustadz Nathan datar mungkin rasanya dia sudah bosan mendengar suara gadis itu
“Ustadz kok tadi pagi gak ngajar di kelas ku sih?” tanya Zelin
“Sibuk” ujarnya singkat
“Sibuk apa ustadz?” perempuan itu terus saja mencoba berbasa-basi
“Udah yuk Zelin masuk kelas” ujar Rara yang mencoba menarik-narik lengan Zelin
Ustadz Nathan melirik ke arah Rara “Cewek yang tadi itu kan, mmmm istrinya ustadz Azril” batinnya
“Isss ustadz jangan dingin-dingin donk” degus Zelin kesal
“Bukannya dingin Zelin dia cuma takut kamu terlambat masuk kelas, ayo sekarang masuk kelas yuk” bujuk Rara lagi yang membuat ustadz Nathan membulatkan matanya
“Benarkah ya ampun perhatian banget sih kak Nathan tuh, kalau gitu aku masuk kelas dulu ya wassalamualaikum” Zelin dan Rara akhirnya berjalan menuju kelas
***
Hari demi hari sudah berlalu kini sudah empat bulan Rara berada di pesantren bohong jika ia tak merasakan hari sedang berjalan justru ia merasa bahwa waktu berjalan sangat lambat, kerjaan Rara hanya belajar dan menerima hukuman yang terkadang bukanlah kesalahannya, ingin rasanya dia mengamuk sejadi-jadinya namun dia selalu urungkan bukan karena lemah namun karena ada rasa bersalah dari lubuk hatinya yang paling dalam, rasa itu masih ada dan melekat hingga sekarang tidak peduli seberapa kuat ia meyakinkan dirinya bahwa dia tidaklah bersalah namun tetap saja nihil
Kini di sinilah ia berdiri, ia berdiri di hadapan para ustadz dan ustadzah tentu saja untuk menjadi tersangka atas perbuatan yang lagi-lagi bukanlah hasil dari kedua tangannya
“Baca surat ini!” perintah ustadzah
Rara segera mengambil amplop yang ada di hadapannya, tangannya dengan lincah membuka amplop itu dan mengeluarkan kertas di dalamnya, betapa terkejutnya ia ketika melihat tulisan yang ada di dalamnya itu merupakan tulisannya sendiri namun ada banyak bagian yang di ubah terlihat dari stipo putih yang hampir memenuhi isi suratnya oh shit ini cuma bagian awal tulisan miliknya untuk selanjutnya ini bukanlah tulisannya tapi ntah kenapa begitu mirip dengan tulisannya
“Masih belum baca” bentak ustadz Nathan
“Heh trik apa lagi ini, darimana kalian semua mendapatkan kertas ini?” tanya Rara datar
“Apa kamu mau membantah perintah semua guru di sini? Baca surat itu sekarang!” terdengar suara salah satu ustadz lainnya
Rara tersenyum sinis
“Assalamualaikum wr wb, gimana kabarnya ustadz? Saya harap ustadz di sana baik-baik saja, kapan mau datang ke sini bukankah kau bilang bahwa kau akan sering datang kesini” Rara menghentikan bacaannya hanya ini tulisan dia yang murni, ya dia ingin menulis surat untuk Azril dan menitipkannya ke ustadzah Zahra, karena beliau bilang jika ingin berkomunikasi dengan ustadz Azril harus melalui surat
“Lanjutkan!” perintah ustadz Nathan ketika Rara berhenti membaca tulisannya
“Untuk apa saya lanjutkan jika tulisan di bawah ini sudah di ganti dengan tulisan orang lain” ujar Rara wajahnya biasa saja datar dan tanpa ekspresi
“Ra lanjutkan!” ulang ustadz Nathan lagi
“Tahukah utadz bahwa saya memendam perasaan kepada ustadz, setiap kali melihat ustadz hati saya berdebar-debar hahahaha” Rara tertawa sendiri membaca surat tersebut kemudian dia menatap ke arah depan semua memandangnya dengan tatapan sinis
“Ehh kenapa lagi natapnya kayak gitu, kompak bener dah” gumam Rara pelan yang hanya mampu di dengar oleh dia sendiri dan pastinya sang Maha Pendengar
“Ekhmm wajah ustadz selalu terlintas dalam pikiran saya dan saya tidak bisa menghentikannya sedikit pun, jujur saja saya sudah memendam perasaan ini sejak awal kita pertama bertemu ekhmm ekhmm” Rara berusaha menahan tawanya baru kali ini dia membaca surat dari perempuan untuk laki-laki, biasanya dia membaca surat dari laki-laki untuk dirinya
“Ustadz maukah ustadz menjadi pendamping hidup saya, menjadi ayah dari anak-anak saya, menjadi orang pertama yang saya lihat di setiap bangun tidur saya dan menua bersama saya hingga akhir hayat duhh so sweet banget” ujar Rara sembari senyam-senyum menahan tawanya
“Ustadz Nathan I Love You”