
Rara bersender di bahu Azril menikmati acara televisi di hadapannya, tadi Azril pulang sore hari hingga membuat pria itu masih meluangkan waktu untuk sikem dan menonton acara di televisi pada malam hari
"Kalau lihat sikem kok pada mirip kamu semua ya, apa gak bisa salah satu diantara mereka mirip denganku" ujar Rara tiba-tiba
Azril tersenyum mendengar ucapan Rara
"Soalnya waktu pembuatan mamahnya sikem sok sok an nolak gitu, ya jadinya mereka memilih mengikuti jejak papahnya" ujar Azril yang membuat Rara memelototkan matanya
"Itu aku beneran nolak loh mas, bukan sok sok an" gerutu Rara kesal, yahh meski ujung-ujungnya terbawa suasana juga
"Masak sih sayang, seinget mas nih ya kamu begitu antusias, hal itu dapat di dengar dari suara yang keluar dari bibir kamu"
"Itu... itu kan reflek dari tubuh mas, siapa yang tahan coba, sama halnya dengan orang yang apabila kesakitan ia mengeluarkan air matanya dan meringis kesakitan, itu murni dan alami dari tubuh" bela Rara
"Hahahaha" Azril tertawa melihat wajah kesal Rara, memang benar sih itu semua reaksi dari tubuh
"Iya iya gak usah di bawa serius dong" Azril mencubit pipi Rara gemas
"Harusnya mas bersyukur aku gak nerima perjodohan dari mama papa, coba kalau aku nerima pasti aku bahagianya sama orang lain" Rara tak sadar mengucapkan kata itu, mungkin ia kesal karena mendapat godaan dari Azril
Mendengar Rara mengucapkan itu ntah kenapa sekelebat bayangan tentang kebersamaan Rara dan kakaknya terlintas begitu saja di otaknya, buru-buru ia menggelengkan kepalanya menyingkirkan bayangan itu
"Gak ra, kamu sudah berjodoh sama mas titik, gak bisa dikasih koma lagi atau kata hubung lainnya" ujar Azril tegas
"Iya ya, pasti mas bersyukur aku kabur dari perjodohan kan?" Rara terkekeh kala mengingat aksi nekat yang ia lakukan
"Banget, mas bersyukur banget" Azril mencubit pipi Rara untuk kesekian kalinya, ntah kenapa ia suka sekali memainkan pipi itu, Rara yang sudah biasa akan hal itu tak protes sama sekali
"Kira-kira gimana ya nasib orang yang dulu dijodohin sama aku, udah menemukan pasangannya apa belum ya?" gumam Rara
"Hah" Azril nampak bingung, ucapan Rara seakan-akan mengatakan bahwa ia sama sekali tak mengetahui siapa pria yang di jodohkan dengannya dulu
"Kamu tahu gak siapa pria yang di jodohkan dengan mu dulu?" tanya Azril ragu-ragu dan pelan
Rara menggeleng "Gak" ujarnya jujur, ia memang sama sekali tak mempedulikan hal semacam itu, mendengar akan di jodohkan saja ia sudah menolak apalagi mencari tahu siapa pria itu
"Alhamdulillah ya Allah" batin Azril mengucap syukur, ntah kenapa hatinya merasa senang dan tenang kala Rara tak mengetahui bahwa kakaknya sendirilah yang di jodohkan olehnya dulu
"Udah gak usah di pikirkan, aku yakin kok dia sedang mencari kebahagiaan tersendiri"
Rara hanya mengangguk mendengar ucapan Azril
"Udah malam ayo tidur, sebelum tidur cas mas dulu ya" bisik Azril lembut
Rara beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar sikem, seperti biasa kalau di malam hari ia akan menaruh bayinya di kamar mereka
***
"Bi Wawa lihat buntel gak?" tanya Rara, tumben-tumbenan makhluk berbulu putih itu belum menampakkan ekornya di sore hari, biasanya ia hanya akan keluar rumah sebentar, waktu yang ia gunakan lebih sering di dalam rumah, duduk di dekat kolam ikan sembari menggoda para ikan meski ia terkadang gagal memasukkan ikan-ikan tersebut ke mulutnya atau bermain dengan sikem
"Bibi gak lihat non" ujar bi Wawa
"Aduh kemana ya dia" gumam Rara
"Jangan-jangan diambil orang aja" Rara berjalan keluar rumah dan berjalan mendekati pagar
"Pak lihat si buntel gak?" tanya Rara pada satpam ganteng yang telah beristri
"Oh kucing gemuk itu ya non, tadi dia keluar non" ujar pak satpam
"Belum balik ya?"
"Sepertinya belum non, saya belum lihat, tapi saya tidak tahu barang kali ia memanjat pagar namun tak saya sadari"
Rara hanya mengangguk paham, ia celingak-celinguk di depan pagar rumahnya, langkahnya perlahan berjalan menelusuri jalanan rumah-rumah para tetangga yang jaraknya tak berdempetan
Matanya tajam bak elang, ia mampu melihat gumpalan putih itu sedang berada di semak-semak
"Buntel" teriak Rara keras
Kucing itu nampak kaget dan berlari terseok-seok, bukan si buntel melainkan kucing berwarna oren yang tak selevel dengan bulu halus nan putih bersih milik si buntel, si buntel memang kucing persia yang di beli Azril karena lucu dan menggemaskan cocok dengan kriteria kucing yang Rara sukai
Seakan mengerti maksud Rara makhluk berbulu itu akhirnya berlari ke arah rumah Rara, memasuki pagar rumah dan menyembunyikan dirinya
Wajah Rara terlihat kesal, ia mengambil hp dan mengirim chat pada suaminya
"Mas si buntel selingkuh 😠"
Azril yang mendapat notif pesan dari "Si Manis" segera membuka pesan tersebut
Dahinya berkerut namun sedetik kemudian ia terkekeh pelan
"Ada apa bang?" tanya Baheer bingung
Azril mendongak menatap Baheer "Kata Rara si buntel selingkuh hahaha" ujar Azril yang masih saja terkekeh
"Aduh dia kan kucing bang bukan buaya" timpal Baheer yang ikut terkekeh
"Waktu ini dia bilang si buntel berzina, sekarang dia bilang si buntel selingkuh ada-ada aja istri saya" Azril menggelengkan kepalanya sembari senyam-senyum tak jelas
"Pasti seru punya istri seperti itu, saya juga mau punya istri kayak non Rara"
Azril melunturkan senyumannya, ia beralih menatap tajam ke arah Baheer
"Di dunia ini Rara cuma satu, gak ada wanita lain yang kayak dia, jadi... kamu jangan berharap deh" ujar Azril dingin
"Eh sensi amat dah, ini bang periksa dokumen pemasukan barang, saya permisi mau mencairkan suasana dulu" Baheer menyerahkan dokumen itu dan keluar dari ruangan Azril
***
"Mas aku mau bawa si buntel ke dokter hewan, biar dia di sterilkan di sana" ujar Rara yang telah merebahkan dirinya di samping Azril
"Apa dia gak mikir udah punya dua anak, dan lagi masih ada si gumpel meski status mereka tak jelas"
"Sayang dia kan kucing, mereka bisa kawin berkali-kali"
"Iya iya sih, tapi tetep aja aku gak setuju, pokoknya besok mau ke dokter hewan biar dia di sterilkan di sana"
"Ya besok mas anterin ya pas jam makan siang"
"Gak usah mas aku bisa sendiri" tolak Rara, ia tak mau terlalu dimanjakan oleh suaminya, masak cuma ke dokter hewan harus diantar
"Bener nih gak pa pa?"
"Iya, aku sendiri aja ke sana, biar bi Wawa dan mbak Sita jagain sikem, mas kerja dan pak satpam menjaga rumah"
"Ya udah hati-hati tapi ya"
"Iya.... oh ya mas anu..... aku boleh gak ngajak teman-teman aku buat makan-makan di restoran milik kamu tapi gratis?" tanya Rara
"Boleh dong... emang kapan mau ngajak mereka, ya asal gak bawa mantan aja"
"Bener nih mas gak pa pa? mas tenang aja nanti aku ganti biayanya, biasanya tuh mereka gak cukup dengan dua porsi makanan belum lagi kalau mereka minta bungkus" ujar Rara yang tanpa ia sadari sudah melukai hati Azril
"Maksud kamu apa ra? Mas tahu uang mas gak sebanyak uang kamu, tapi untuk biayain temen-temen kamu makan di restoran mas masih sanggup" ujar Azril ia berbalik badan memunggungi Rara
"Ehhh gak gitu maksud Rara, Rara cuma takut merepotkan mas aja kok"
"Mas ini suami kamu ra, mas sama sekali gak merasa di repotkan" ujar Azril dingin
"Ehh iya iya Rara minta maaf ya" perlahan tangan Rara terulur melingkar di pinggang Azril
"Jangan marah, Rara minta maaf" Rara mengusap rambut Azril dengan wajahnya
Azril tak menggubris ucapan Rara, ia lebih memilih memejamkan matanya dan berdoa di dalam hati hendak tidur
"Mas.... maaf"
***