I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Seromantis Inikah Dia



Kini mobil telah terparkir di sebuah mall besar, mereka berdua turun dari mobil dan mulai memasuki mall tersebut


Tangan Azril sedari tadi sudah gatal ingin menggandeng tangan Rara, namun ada saja halangan nya


Contohnya seperti sekarang saat Azril hendak meraih tangan istrinya Rara malah lebih dulu memegangi barang-barang yang ada di dalam mall, ntah itu tas, sepatu, maupun aksesoris lainnya padahal mah ia tak membeli itu semua


Azril menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berulang kali mengucapkan kata maaf mbak atau maaf mas, bagaimana mungkin setiap toko Rara masukin padahal hanya sekedar melihat-lihat saja dan sekedar bertanya-tanya tanpa ada niatan membeli sedikit pun, bayangkan saja bagaimana perasaan para pegawai yang dimainkan oleh Rara sakit bukan tapi tidak berdarah


"Ra sebenarnya kamu ingin membeli apa sih?" tanya Azril yang berjalan di samping Rara


"Beli barang" ujarnya datar, dan kini ia melangkahkan kakinya memasuki sebuah toko lagi, jika Azril tidak salah hitung ini sudah toko ke sembilan belas yang mereka kunjungi


Mata Rara fokus pada gamis yang berjejeran di sana, pegawai toko menghampiri nya dan bertanya-tanya


"Mbak berdoa saja semoga kamu tidak menjadi korban yang kesembilan belas" bisik Azril yang membuat pegawai tersebut bingung


"Yang ini bagus gak mas?" tanya Rara pada suaminya


"Bagus kok ra" ujar Azril


"Kalau yang ini?" Rara menunjuk gamis lainnya


"Bagus juga"


"Kalau yang ini?"


"Itu juga bagus"


"Kalau ini?"


"Bagus"


"Terus yang mana yang jelek" ujar Rara sebal


"Ehhhh" Azril gelagapan kala mendengar ucapan istrinya, pasalnya pegawai tersebut mendengar apa yang Rara ucapkan


"Ra jangan ngomong gitu" bisik Azril


"Kenapa memang, aku sengaja cari yang jelek agar merusak pemandangan kamu" ujar Rara dengan suara yang sengaja ia besarkan


"Astaghfirullah" Azril mengusap wajahnya kasar


"Eh Rara kan?" tanya seorang gadis berjilbab seusianya


"Mel" ujar Rara kala melihat teman SMA nya dulu


"Ya ampun ra, kangen banget sama kamu" Amel berhamburan memeluk tubuh Rara dengan erat


"Alhamdulillah ya Allah, teman aku yang satu ini telah Engkau berikan hidayah" Rara mendengus sebal mendengar ucapan Amel


"Sama siapa kamu ke sini?" tanya Amel sembari melirik pria yang berdiri tegap di samping Rara


"Sama saya mbak" ujar Azril angkat bicara


"Perkenalkan mbak nama saya Azril, saya suaminya" dengan pedenya Azril mengenalkan dirinya dengan bangga di hadapan teman Rara


"Subhanallah dapet yang alim gini dimana ra?" tanya Amel penuh selidik


"Di dalam kamar" Azril melotot mendengar ucapan Rara


"Hah"


"Ra yang ini bagus, coba kamu pakai" ujar Azril yang mencegah obrolan mereka agar tidak berlanjut ke obrolan yang aneh-aneh


"Mel ayo" suara teriakan seorang wanita dewasa memanggilnya


"Iya kak, ra pamit dulu ya, kapan kapan kita meet up" ujar gadis berjilbab tersebut


"Hati-hati mel" ujar Rara yang mendapat anggukan dari Amel


"Jadi mau yang mana ra?" tanya Azril


"Mmmmm gk ada" ujar Rara yang langsung melongos pergi begitu saja


"Permisi mbak maaf ya" ujar Azril ramah, pegawai itu hanya mampu melongo menyaksikan drama yang ada di hadapannya sembari mengelus dada, sesesak inikah di tinggal pelanggan yang tidak jadi membeli, bagaimana besok kalau ia di tinggal pacarnya


"Ra" panggil Azril namun ia tak mendapat respon dari Rara


"Toko ke dua puluh" gumam Azril dengan langkah gontai memasuki toko tersebut


"Mbak mau yang ini, ini, ini, ini, sama ini" ujar Rara sembari menunjuk lima warna jilbab segiempat yang berbeda-beda


Dengan sigap pegawai tersebut mengambil semua jilbab yang Rara tunjuk


"Mmmmm sama yang ini, ini dan ini" ujar Rara lagi kala melihat jilbab pashmina


Pegawai tersebut dengan keramahannya mulai membungkus semua pesanan Rara


"Totalnya....."


"Pakai ini mbak" potong Azril sembari menyerahkan sebuah kartu yang bisa di gesekan, tadi ia melihat Rara hendak mengeluarkan dompet maka dengan sigap ia segera menyerahkan kartu miliknya


"Nanti kalau kita pisah kamu jangan nagih semua barang-barang pemberian kamu" bisik Rara pelan


"Kita gak akan pisah ra, nanti aku akan membelikan banyak barang untukmu" Azril membalas bisikan Rara dengan bisikan juga


***


Kini di sinilah mereka duduk di bangku taman yang indah dengan hawa yang sedikit panas, meski masih ada angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah manis Rara, tidak banyak pengunjung karena hari ini bukanlah hari libur, hanya ada beberapa yang berlalu lalang ntah itu pegawai atau petugas


Jika yang kalian maksud adalah taman kota maka kalian salah, ini adalah taman margasatwa yang dipenuhi dengan kandang untuk mengurung makhluk-makhluk ciptaan Allah dengan jenis yang beragam


Rara benar-benar tidak menyangka bahwa Azril akan membawanya ke sini, duduk di bangku dengan pemandangan hewan adalah suasana yang sangat menegangkan


"Mas lihat itu ada saudara mu" tunjuk Rara pada salah satu kandang yang di dalamnya terdapat simpanse yang tengah memanjat manjat pohon


"Mas teman mu" tunjuk Rara lagi pada kandang yang berisi beberapa ekor buaya


Azril terkekeh mendengar ucapan-ucapan Rara, namun perlahan ia menggeser tubuhnya hingga berdempetan pada istrinya hingga tak ada jarak diantara mereka "Ra aku mencintaimu" bisik Azril tepat di telinga Rara


Azril merogoh saku celananya mencari benda yang sakral di dalamnya, setelah menemukan apa yang ia cari Azril langsung menyodorkannya di hadapan Rara


Rara mengerutkan dahinya menatap kotak kecil di hadapannya dengan sebuah tanda tanya yang kecil


"Apa" ujar Rara bingung


Azril membuka kotak tersebut, sebuah cincin perak dengan desain yang indah, tak lupa terdapat beberapa berlian kecil-kecil yang menghiasi cincin tersebut


Azril mengambil cincin dari kotaknya kemudian ia meraih jari manis Rara dan menyematkan cincin di sana


Rara mengangkat telapak tangannya serta memutar-mutarkan nya, betapa indah jari lentiknya yang kini melingkar sebuah cincin perak di jari manis miliknya


Seulas senyum dari wajah Rara dapat Azril tangkap, ia ikut tersenyum kala melihat istri tercintanya tersenyum


"Mas aku bingung harus apa"


"Aku terharu, bagaimana mungkin kamu bisa seromantis ini, menjadikan kita berdua sebagai objek tontonan para hewan yang ada di sini" ujar Rara yang sudah tak mampu berkata-kata lagi


Biasanya seorang pria akan memberikan cincin dengan cara berlutut, bahkan tak jarang mereka melakukannya pada saat di atas panggung atau bahkan di sebuah taman yang ramai hingga menjadi tontonan orang-orang di sana, para pria yang melakukan seperti itu ingin membuktikan pada semua orang bahwa ia mencintai gadis tersebut


Tapi ini apa, Azril tak berlutut di hadapannya sama sekali, bahkan ia memberikannya saat ia duduk di samping istrinya, mungkin kisah mereka akan di kenang oleh para hewan-hewan di sana, ya para hewan di sanalah yang menjadi saksi ungkapan cinta Azril pada istrinya


Azril memeluk tubuh istrinya dari samping, ia menelungkup kan kepalanya di ceruk leher Rara yang tertutupi dengan hijabnya "Sayang maaf, aku grogi" ujarnya lirih


"Aku gak tahu kenapa bisa segrogi ini"


Rara merasakan degup jantung Azril yang tak karuan, berdetak melebihi batasnya


"Mas lepasin ih" Rara memaksa Azril agar melepaskan pelukannya


Azril tersenyum kikuk kala mendapati seorang petugas kebersihan memergoki mereka berdua


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗