
"Aku pernah di culik saat usia ku sekitar empat tahun, tempatnya gelap sampai aku tak bisa melihat apapun, tak banyak yang ku ingat hanya ada suara derasnya hujan serta petir yang saling bersahutan"
"Waktu itu aku hanya mampu menutup telingaku sembari memanggil papa dan mama"
"Kenapa kok kamu di culik?" tanya Azril prihatin, anak kecil selalu renta terhadap trauma, namun ada juga yang tidak karena mereka tak mengerti apapun
"Ya karena apa lagi, resiko orang kaya" ujar Rara bangga meski hatinya sakit kala mengingat kejadian itu
"Resiko gimana?" tanya Azril sembari tersenyum masam
"Haishhh masak kamu gak tahu sih mas, banyak yang ngincer duit papa, banyak musuh perusahaan, jadi orang kaya itu gak seenak yang orang-orang pikirkan"
"Kadang aku nyesel juga ya jadi orang kaya, banyak yang deketin cuma karena modus terutama soal duit, ada aja maunya, gak banget deh"
"Jangan-jangan kamu juga gitu ya?" tanya Rara yang memundurkan kepalanya sembari menyipitkan matanya
"Kalau iya kenapa" Azril memajukan kepalanya, mengikis jarak wajah diantara mereka
Cup
Mata Azril membulat sempurna kala merasa sesuatu yang lembab mendarat di pipinya, ini pertama kali Rara mencium dirinya meski hanya di pipi
"Lagi ra" gumamnya tanpa sadar masih dengan mode mematung
"Gak mau nanti kamu ketagihan" Rara mendorong pundak Azril agar menjauh darinya
"Aku benci diriku yang lemah" Rara melanjutkan ucapannya, seketika Azril mengumpulkan kewarasannya kembali dan menatap Rara bingung
"Ku kira trauma itu akan menghilang seiring berjalannya waktu, hanya anak kecil yang takut petir, benar-benar memalukan bukan"
"Gak, gak sama sekali, ra terkadang kita tidak bisa mengendalikan kondisi psikologis kita, bukan salahmu, bukan salah keadaan juga, itu sudah takdir bukan"
"Hahaha gak usah serius amat mukanya" Rara tertawa melihat ekspresi Azril, ekspresi kasian itulah yang Rara benci
"Sekarang ceritain mantan kamu itu!" perintah Azril
"Hah untuk apa, gak penting banget"
"Bagi aku penting"
"Oke sebelum cerita siapkan mentalmu dulu, baca bismillah agar tidak syok"
Azril mengangguk, ia bahkan menurut dengan membaca bismillah
"Kak Faiz, dia kakak kelasku waktu SMA, waktu itu aku kelas 10 dia kelas 12, dia itu terkenal pintar, tampan, dingin apalagi ya banyak deh pokoknya kelebihannya"
Baru mendengar pembukaannya aja hati Azril sudah memanas
"Aku kenal dia waktu di kantin, meja kantin udah penuh aku yang kelaparan akhirnya numpang duduk di bangku yang di penuhi kakak kelas karena masih tersisa dua orang"
"Dia orangnya cuek banget, pas aku minta duduk di samping nya baik-baik malah dilirik sinis, karena kesel plus lapar langsung aja tuh aku duduk di sampingnya, emang mereka pikir bangkunya punya mereka apa"
"Aku makan lahap gak ada lima menit udh habis, dan saat itu pula mata para kakak kelas memandangi ku dengan tatapan aneh, karena udah habis aku langsung bilang makasih dan kabur deh"
"Semenjak itu dia selalu memperhatikan ku diam-diam...."
"Darimana kamu tahu kalau dia selalu memperhatikanmu diam-diam?" potong Azril
"Orang dia sendiri cerita"
"Oh"
"Seiring berjalannya waktu dia akhirnya berani mendekati ku, terus-menerus dia memberikan aku perhatian lebih, hanya padaku"
"Lanjut part 2" ujar Rara yang mematahkan wajah serius Azril
"Hah apa apaan itu ra" pekik Azril kesal
"Mas aku gak yakin kamu bisa nerima masa lalu aku"
"Bisa, aku sudah memutuskan untuk mencintai kamu, itu berarti aku juga harus siap menerima semua masa lalu kamu"
"Aku pernah ke bar"
"Aku tahu, waktu itu aja aku jemput kamu di bar"
"Kamu tahu kan kalau orang ke bar itu ngapain?" tanya Rara menunduk
Azril hanya terdiam
Azril agak terkejut "Bukankah kamu tahu akan seperti ini" batin Azril yang berbicara pada dirinya sendiri, namanya juga bar, kalau gak bercin** ya mabuk-mabukan
Rara mendongakkan kepalanya menatap wajah Azril yang nampak tenang, ekspresi terkejutnya kini telah berubah selagi Rara menunduk
"Malu ya, gak terima?" tanya Rara hati-hati
"Gak, itu kan hanya masa lalu" ujar Azril sesantai mungkin
"Habis aku penasaran sama rasanya alkohol tuh kayak gimana, jadi aku minum deh sampai mabuk, eh besoknya pas sadar dimarahin habis-habisan sama papa, sampai ditampar berkali-kali" ujar Rara yang kala mengingat kesalahannya dulu
"Habis itu masih di lanjutin mabuk-mabukkan nya?" tanya Azril sinis
"Gak lah, bisa-bisa aku berakhir di rumah sakit aja"
"Lanjutin cerita mantan kamu tadi" pinta Azril
"Tunggulah sampai part 2"
Ting tong
"Eh mama papa datang" pekik Rara girang kala mendengar suara bel rumah berbunyi, ia langsung berlari keluar
"Jangan lari-lari" teriak Azril, ia mengingatkan istrinya bahwa ada daging lain dalam dirinya
Rara memeluk tubuh mamanya erat, ia sangat merindukan wanita yang telah melahirkannya dengan susah payah
"Gimana kabar kamu sayang?" tanya mamanya yang memutar-mutarkan tubuh Rara, melihat perubahan yang terjadi pada tubuh Rara
"Baik kok ma, aku tambah berisi nih" ujar Rara
"Hahaha iya kamu makin bantet"
"Gak ya ma, gak separah itu" Rara melengkungkan bibirnya ke bawah
"Ra" panggil mama kala melihat perut Rara yang besarnya melebihi orang hamil pada umumnya
"Bayi aku sehat ma, dia makan mulu makanya belendung nya besar" ujar Rara mengerti tatapan dari sang mama
"Papa gak di peluk?" pekik papa yang muncul dari belakang
"Papa" Rara menghampiri papanya dan memberikan pelukan hangat
"Assalamualaikum ma pa" sapa Azril
"Waalaikumsalam nih oleh-oleh buat kalian" ujar papa yang menenteng dua kresek besar
Azril mengambil alih bawaan papa mertuanya "Kenapa repot-repot pa ma?"
"Gak repot kok"
"Ayo ma pa duduk dulu"
"Apa kalian udah melakukan USG?" tanya mama
"Belum ma, masih rencana" Azril menjawab pertanyaan mertuanya kala melihat Rara hanya diam saja
Mereka berempat duduk di ruang tamu sembari berbincang-bincang cukup lama hingga akhinya kedua orang tua Rara pamit pulang
"Ra lakukan USG biar mendapat kepastian, jangan sampai kamu menyesal" bisik mamanya
"Mama tenang aja, aku gak kayak mama kok, asumsi mama salah, toh aku juga sudah USG tanpa sepengetahuan mas Azril, mau ngasih kejutan buat dia" ujar Rara santai
"Hah jadi hasilnya?"
"Cewek dong" Rara tersenyum manis seakan-akan apa yang ia inginkan telah terwujud
"Alhamdulillah, kalau gitu jaga bayinya baik-baik ya, ingat BLA BLA BLA BLA BLA " akhirnya nasehat itu keluar lagi dari mulut mamanya, setelah mendengar ocehan mertuanya kini ia harus mendengar ocehan mamanya sendiri
"Siap ma"
"Ma ayo" panggil papa yang telah siap berdiri di samping mobil didampingi oleh Azril
"Udah ma itu di tunggu papa di mobil, mama tenang aja semua aman" ujar Rara, mereka masih berdiri di ambang pintu
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗