
Rara diantar pulang oleh Baheer, selama perjalanan ia hanya mampu menangis tanpa suara, berkali-kali ia menyeka air matanya namun tak kunjung terhenti
Sedangkan Azril ntah pergi kemana, ia menghilang begitu saja tanpa mengatakan hendak kemana
Setelah sampai di rumah Baheer membuka pintu mobil agar Rara dapat turun dengan mudah "Non" Baheer memanggil Rara, wanita itu hanya menunduk menutup wajahnya, butuh beberapa kali hingga akhirnya Rara melepaskan kedua telapak tangan dari wajahnya
Ia turun dari mobil dan berjalan dengan gontai, matanya membulat sempurna karena mendapati Azril tengah duduk manis di sofa ruang tamu
Buru-buru Rara mempercepat langkahnya, tubuhnya merosot tepat di hadapan Azril, ia memeluk kaki Azril
"Aku minta maaf, aku terpaksa melakukan ini, hiks hiks"
"Terpaksa? bukankah kandungan kamu sehat sehat aja, mana nya yang terpaksa" tanya Azril dingin sembari menatap lurus ke depan, ia enggan melihat wajah istrinya
"Ini karena kutukan itu mas, aku mohon percaya sama aku"
"Kutukan, apa maksud mu?"
"Kembaran aku mati beberapa menit setelah lahiran, kembaran mama juga, nenek serta nenek buyut semuanya mati mas, mereka gak bakal bisa bertahan lebih dari satu bulan" ujar Rara gentir
"Aku cuma mau hilangin satu, kita masih punya satu lagi"
Azril terkejut mendengar perkataan Rara, bagaimana bisa istrinya memiliki pemikiran seperti ini, bukankah hidup mati ada di tangan Allah dan yang lebih membuat ia terkejut lagi bahwa kini istrinya tengah mengandung bayi kembar namun ia tak mengetahuinya sama sekali
"Kamu gila ra" spontan Azril berdiri dengan kasar hingga membuat Rara jatuh terduduk, beruntung karena posisi Rara berjongkok hingga tak mengalami benturan yang cukup keras
"Kamu gak waras" Azril menatap Rara dengan tajam
"Aku gak gila, itu fakta mas, percaya sama aku" tangan Rara berusaha menggapai kaki Azril, namun ia menghindari sentuhan Rara
"Apa kamu gak percaya sama Allah, apa bedanya kamu sama orang-orang yang tak memiliki agama hah" bentak Azril
"Kalau emang seperti itu kenapa Allah mengambil dia hah, kenapa? kenapa Allah tak membiarkan mereka hidup lebih lama" suara Rara tercengang, nafasnya tersengal-sengal akibat tangisannya
"Hidup dan mati ada di tangan Allah bukan di tangan kamu, kamu benar-benar gila ra, jika tau seperti ini lebih baik aku membawamu ke rumah sakit jiwa"
"Aku gak gila, aku gak gila, itu semua kenyataan" teriak Rara frustasi, tangannya menarik-narik jilbab yang melindungi rambutnya
"Mana ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya ra, mana ada, kamu benar-benar gak pantas jadi seorang ibu ra" Azril menjongkokkan dirinya mensejajarkan wajahnya tepat di hadapan Rara
"Kalau aku tahu akan seperti ini lebih baik aku tidak menumbuhkan benih di rahim kamu ra, sekarang pilihan mu cuma dua, kamu mau aku talak sekarang apa ketika bayi ini telah lahir"
Deg
Tubuh Rara membeku mendengar ucapan suaminya
"Gak aku gak mau, kamu janji gak akan ninggalin aku, kamu janji mas" Rara meraih kepala Azril hingga dahi mereka saling bertabrakan
"Rara" teriakan mama yang histeris membuat mereka berdua menoleh ke arah pintu
Mamanya berlari menghampiri putrinya, ia memeluk tubuh Rara erat, hatinya ingin marah namun ia tak tega melihat kondisi putrinya saat ini
"Mama hiks hiks, maafin Rara hiks hiks"
"Rara takut hiks hiks"
Azril mulai berdiri ia menatap papa mertuanya yang tak jauh dari mereka
"Pa aku titip Rara dulu, jika Rara sudah memberikan jawaban dan hatiku sudah siap aku akan menjemputnya"
"Assalamualaikum" tanpa menunggu apapun ia bergegas pergi
"Masssss" teriak Rara kala melihat Azril melangkah menjauh ke luar, ia melepas pelukan mamanya hendak mengejar Azril
"Mass Azril" namun mamanya menarik Rara lagi, memeluk wanita itu agar tak berusaha mengejar Azril bahkan di bantu oleh papanya, sekuat apapun ia berteriak dan memberontak tak mampu mengalahkan kekuatan orang tuanya
Mereka tahu putrinya salah, ia ingin memberikan waktu untuk Azril hingga ia siap menerima semua kekurangan istrinya
***
Rara terbangun di dalam kamar lamanya, orang tuanya kemarin membawa ia pulang ke rumah untuk sementara waktu
"Maafin mamah yang udah mencoba membunuh kamu, mamah cuma gak tega melihat kamu menangis hanya sebentar saja"
"Hiks hiks hiks" Perlahan mata Rara tertutup kembali
"Sayang bangun yuk, ra bangun yuk kamu harus makan"
Rara membuka matanya kala ada suara lembut serta tangan yang mengusap-usap pundaknya
"Mama" gumamnya
"Makan dulu yuk"
"Nanti aja ma, aku nunggu mas Azril ke sini" ujarnya lirih
"Ini udah jam sembilan kamu makan dulu ya, kasian bayi-bayi kamu"
"Iya ma, nanti aku makan bareng mas Azril"
"Ra"
Berkali-kali mamanya membujuk tapi Rara tetap enggan memakan sesuap nasi pun, ia hanya mau meminum susu saja
Mamanya bolak balik sedari tadi dari kamar Rara hanya untuk mengecek keadaan Rara, masih sama ia diam dengan pandangan kosong
"Hallo adik ku tersayang, kangen gak nih sama kakak kamu yang paling tampan" suara Dariel menggelegar di dalam kamar Rara
Rara hanya melirik sekilas dan kembali lagi pada lamunannya
"Kakak bawa kue terenak versi lidah kakak, ayo cobain" Dariel sibuk memotong kue bergambar monyet sebagai hiasan dengan garpu tadi ia lupa membawa pisau
"Aaaaaa monyet mau masuk gua nih" Dariel menyodorkan garpu ke arah mulut Rara namun ia sama sekali bergeming
"Ayo dong di buka guanya, gak kasian sama dia udah kedinginan"
"Aaaaaaammm" akhirnya ia memasukkan kue tersebut ke mulut nya sendiri
"Emmmm kuenya tuh langsung meleleh di lidah, manisnya benar-benar pas di mulut, mmmmmm so delicious"
"Pasti kamu ngiler kan ra, sini kakak suapin"
"Mas Azril udah datang kak?" tanya Rara tiba-tiba, mata sayu itu berharap mendapatkan jawaban yang ia inginkan
"Mmmmm...... Nobi belum datang ra, dia masih ada urusan, nanti ke sini kok" ujar Dariel hati hati
"Kapan?"
"Kalau urusannya udah selesai"
Rara kembali tertunduk lesu
"Ra kamu istirahat aja ya"
Rara menggeleng "Aku mau nunggu mas Azril, nanti kalau aku tidur aku gak bisa menyambutnya"
Dariel hanya mampu menatap Rara dengan nanar, ia mengusap pipi Rara yang nampak lembab akibat air mata yang telah mengering
"Kakak cari dia ya sekarang, jangan sedih lagi kasian ponakan ku"
Dariel melangkah keluar dari kamar Rara
"Kamu udah jatuh cinta ternyata"
"Akunya kapan?"
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗