I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Duo Siblings Arogan



Beberapa Minggu kemudian


Azril duduk di dekat kolam ikan sembari memberikan makanan buat ikan-ikan peliharaannya, ia menggantikan pekerjaan yang biasanya istrinya lakukan


"Bang" panggil Baheer


Azril menoleh ke arah Baheer sembari tersenyum tipis "Gimana dapet infonya?" tanyanya dengan penuh harapan mendengar jawaban Baheer


Baheer menggelengkan kepalanya "Pesawat yang di tumpangi non Rara berbeda dengan tiket yang kemarin kita lihat" ujarnya yang membuat Azril terkejut


"Tujuannya bukan negara tetangga?" tanya Azril


"Kita tak banyak punya kuasa untuk mengeceknya bang" ujar Baheer, mereka sadar posisi mereka bukanlah keluarga Rara yang dapat melacak sampai ke luar negeri


Azril menghembuskan nafasnya sudah ia duga bahwa Rara tak akan memberitahukan tujuannya dengan mudah mengingat Azril yang selalu melacak hpnya, belum lagi sampai sekarang Azril tak pernah dapat menghubungi Rara di karenakan hp Rara yang tak aktif-aktif sampai saat ini


***


Tok tok tok


"Masuk"


"Ada tuan Azril yang ingin bertemu dengan bos" ujar Lan yang tengah berdiri di hadapan Alfred


"Suruh dia masuk" perintahnya


Azril memasuki ruangan singga sana Alfred, begitu luas dan elegan, mungkin ini baru pertama kali ia memasuki ruangan tersebut, dulu hanya Baheer lah yang telah memasuki ruangan kakak Rara


"Assalamualaikum"


Kini Azril telah berdiri di hadapan Alfred dengan Baheer yang mengekor di belakangnya


Alfred mengalihkan pandangannya dari laptop dan menatap dua curut di hadapannya


"Katakan!" ujarnya


"Bang ..... saya.... "


Alfred mengangkat tangannya menandakan Azril harus berhenti berbicara


"Ini di kantor jangan panggil bang" ujarnya dingin


Azril hanya menghembuskan nafasnya "Baiklah, pak saya..."


Lagi-lagi Alfred mengangkat tangannya "Panggil tuan"


"Astaghfirullah gini amat punya kakak ipar" batin Azril


"Baik tuan ada hal yang ingin saya sampaikan"


"Apakah itu mengenai pekerjaan? kamu tidak bekerja dengan saya sudah dipastikan bukan soal pekerjaan"


"Jangan menggangu saya bekerja"


"Silahkan keluar" ujar Alfred sembari menunjuk pintu ruangan


Azril melongo melihat tingkah Alfred benar kata orang-orang Alfred sangat profesional dalam bekerja dan begitu arogan


"Assalamualaikum" ucap Azril ia memberi salam kemudian langsung keluar diekori oleh Baheer


"Serem kan bang" bisik Baheer di luar ruangan


Azril hanya menghembuskan nafasnya "Apa mama papa sudah pulang ke rumah?" tanya Azril pada Baheer


"Sepertinya belum bang"


"Ya sudah kembali ke restoran" ujar Azril


Azril dan Baheer melangkah memasuki restoran namun pandangannya tertuju pada salah satu pelanggan yang tak asing baginya, seorang pria tampan penuh karisma dan humoris namun agak rada-rada, Azril buru-buru mempercepat langkahnya dan menghampiri meja sang pria


"Assalamualaikum bang Dariel" sapa Azril


"Waalaikumsalam" jawab Dariel, ia menghentikan obrolannya dengan kawannya


"Nobi, ngapain kamu di sini?" tanya Dariel heran


"Heem, maaf menyela restoran ini milik bang Azril tuan" ujar Baheer di belakangnya, sekali-kali menyombongkan tuannya sebagai bentuk balas dendam yang di lakukan Alfred di kantor tadi


"Oh ya lupa, maklum gak begitu penting" ujar Dariel songong


"Bang bisa kita bicara sebentar" ujar Azril


"Bicara apa?"


"Tentang..."


"Rara" potong Dariel


"Karena saya begitu baik dan tidak sombong saya akan memberikan waktu lima menit, duduklah"


Azril duduk di samping Dariel, karena di rasa penting teman Dariel izin pergi lebih dulu agar tak mengganggu pembicaraan mereka, inilah ciri-ciri teman yang peka


"Rara pergi kemana bang? negara mana?" tanya Azril to the point


"Rahasia"


"Saya berhak tahu bang, saya suaminya"


Dariel menatap ke arah Azril dengan tatapan tajamnya "Ia tak ingin kamu tahu, tugasmu hanya menunggu ia sampai kembali"


"Tapi apa benar ia melanjutkan pendidikan di sana?" tanyanya


"Menurutmu?" Dariel malah balik bertanya


"Kemarin ia sempat minder karena omongan tetangga, mungkin benar ia ingin melanjutkan pendidikannya"


Dariel tersenyum miris "Ternyata sampai saat ini kamu tidak pernah mengenal tentang Rara"


"Maksud abang gimana? dia bohong? terus untuk apa dia ke luar negeri"


"Untuk liburan" ujar Dariel santai


"Gak mungkin bang....."


"Waktu habis" ujar Dariel


"Maaf tuan masih sisa dua menit" sela Baheer


"Ck kamu nyebelin banget sih kayak Lan" decak Dariel


"Bang kalau gitu tolong biarkan saya menghubunginya, semenjak dia pergi hpnya gak aktif dan gak pernah bisa di hubungi" pinta Azril


"Ya iyalah orang hpnya di tinggal" batin Dariel


"Mungkin dia sibuk menikmati salju di sana, berduaan dengan ......."


"Maksud abang apa, jangan memfitnah istri saya" ujar Azril tak terima


"Ck kamu yang soudzon, maksud saya tuh berduaan sama boneka salju" gerutu Dariel


"Bang saya serius"


"Saya dua rius malah"


"Ya Allah bang"


"Ya Allah Azril, udahlah nikmati aja kesendirian kamu, toh juga ini kan yang dulu Rara rasain bahkan lebih parah" ujar Dariel sinis


Azril terdiam apa ini balasan atas perbuatannya dulu, tidak ini sama sekali tak sebanding dengan apa yang Rara rasain dulu, jauh bagaikan langit dan bumi, Rara lebih menderita darinya


"Waktu habis ini sudah lima menit saya sibuk" ujar Dariel, ia berdiri dan merapikan jasnya kemudian berjalan begitu saja hendak keluar restoran


"Tuan tuan tunggu dulu" teriak salah satu pelayan di sana namun Dariel tetap melangkahkan kakinya dengan mantap enggan untuk berbalik seperti di sinetron-sinetron yang beradegan ketika seseorang mengejar seseorang untuk memohon


"Tuan tunggu dulu" pelayanan itu kini telah berdiri di samping Dariel yang hendak membuka pintu


"Apaan sih, bilangin sana sama tuan kamu saya enggan memberitahunya" ujar Dariel dengan meninggikan suaranya


"Maaf tuan bill anda, anda belum membayar makanan anda" ujar pelayanan sembari menyerahkan secarik kertas bill


"Hah sial" umpatnya, sungguh ia merasa malu, bahkan kini ia jadi tontonan para pelanggan lain


"Biarkan saja, dia kakak ipar saya" ujar Azril yang kini telah berdiri di belakang Dariel


"Baik bos, kalau gitu saya permisi dulu" pelayan itu langsung pergi kala mendapat anggukan dari Azril


Dariel melihat ke sekeliling para pelanggan itu masih saja memperhatikannya "Kamu.... jangan harap saya akan memberitahu trentang Rara hanya karena kamu telah menyelamatkan saya dari situasi ini, pelayan kamu aja yang gak sopan, emang dia gak tahu apa siapa saya" ujar Dariel sembari menahan malu, ia mencoba membuka pintu namun ternyata sulit sekali


"Heh kalian berdua ngapain diam saja saya mau keluar, ini lagi pintu apaan sih sulit banget di buka" ujarnya pada penjaga pintu yang berdiri di ujung kedua pintu


"Maaf tuan ini pintunya di geser buka di tarik atau di dorong" tegur sang penjaga pintu mereka berdua kini membukakan pintu lebar-lebar untuk Dariel


"Silahkan tuan terimakasih sudah berkunjung" mereka berdua sengaja tadi tidak membukakan pintu untuk Dariel karena mereka mengira ia memang belum membayar makanannya


"Awas kamu Nobi, semua karyawan mu sudah membuat ku malu" batin Dariel kesal


***


Siapa sih yang bilang udah end, belum di tandai tamat padahal, jangan pada kabur dulu, oh ya Jan lupa baca kisah tentang kakaknya Azril ok


Terimakasih kasih semua telah membaca karya saya, semoga rejeki kalian dilimpahkan oleh Allah, Jan lupa baca Al-Qur'an juga sama shalawat nya di kuatin biar dapat syafaat dari Rasulullah di akhir kelak, Jan lupa juga tinggalin jejak ya love u all, my Allah always bless you all