
"Apa benar ini tempatnya?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang berada di dalam mobil
"Iya benar pa, alamatnya di pesantren ini kok" ujar sang istri yang sibuk membuka hp untuk mengecek alamat yang di berikan oleh besannya
"Permisi pak apa di sini bener tempat tinggalnya tuan Azril?" tanya asisten yang merangkap jadi sopir kepada penjaga gerbang pondok
"Oh iya benar mas, mas lurus aja terus nanti belok kanan terus nanti ada bangunan di sana" ujar penjaga gerbang memberikan instruksi
"Itu rumahnya tuan Azril?" tanya pria tersebut
"Bukan mas itu kantor guru sama kantor pengasuhan, mas tanya aja di sana dimana rumah ustadz Azril saya kurang tahu soalnya" ujar penjaga gerbang tersebut
Pria tersebut mengangguk mendengar ucapan satpam tersebut "Oh ya udah pak makasih ya" mobil pun berjalan mengikuti instruksi dari penjaga gerbang tersebut
Setelah sibuk bertanya akhirnya mereka sampailah di sini, di depan rumah kecil yang cukup sederhana
"Bener kan ini rumahnya kok sepi ya?" tanya pria paruh baya yang baru saja turun dari mobil
"Hah tempat apaan ini, apa Rara sanggup tinggal di sini" gerutu anak kedua mereka yang syok melihat kondisi rumah
"Hust kamu tuh gak boleh gitu" tegur sang mama
Kakak pertamanya langsung menggedor pintu rumah tersebut "Bobrok banget sih" gumamnya
"Kak pelan-pelan dong nanti kalau hancur gimana, ini rumah terlihat lapuk dan rapuh serapuh hati ku hari ini" ujarnya mengingatkan sang kakak
"Iya ah bawel" ujarnya datar
Dia menggantikan kakaknya mengetuk pintu tersebut dengan sopan
"Assalamualaikum"
Assalamualaikum"
"Assalamualaikum, permisi kami bukan rentenir kok tenang aja"
"Hushh kalian tuh gak ada yang bener mundur kalian biar papa yang ngetuk pintunya" ujar sang papa yang langsung mengambil alih dalam pengetukan pintu, namun ternyata hasilnya sama saja tidak ada sahutan di dalam
"Pa kayaknya mereka berdua lagi gak ada di rumah deh" ujar sang mama yang sedari tadi berusaha mengintip lewat jendela, bagian dalam rumah nampak gelap tanpa secercah cahaya sedikitpun
"Apa kita salah rumah, mungkin yang itu" anak pertama mereka menunjuk sebuah rumah yang hampir sama persis dengan rumah tersebut namun rumah tersebut nampak kelihatan lebih hidup dan terawat, dengan jarak sekitar lima meter dari rumah yang mereka kunjungi
Mereka semua akhirnya berjalan mendekati rumah tersebut baru saja hendak mengetuk pintu, pintu tersebut sudah terbuka secara otomatis menampilkan sosok pria yang memakai baju koko lengkap dengan sarung dan pecinya, ia hendak pergi ke masjid karena sebentar lagi mau memasuki waktu ashar
"Salah rumah kan kak, sotoi sih" gerutu Dariel
"Mmmm permisi pak bu cari siapa ya?" ujar seorang pria pemilik rumah tersebut
"Rumah Rara mana?" tanya Alfred datar
"Ya dimana rumahnya jangan bilang gubuk yang itu" ujar Dariel menunjuk rumah yang tadi mereka gedor namun sang pemilik tak nampak
"Husstt kalian tuh" ujar sang mama geram
"Permisi nak kita mau cari rumahnya Azril sama Rara dimana ya?" tanya papa Rara sopan
"Mohon maaf sebelumnya bapak ini..."
"Kami keluarganya" Alfred langsung memotong ucapan Afham begitu saja
"Oh ya perkenalkan saya papa nya Rara ini mama nya Rara, dua orang ini babu nya Rara nah yang itu namanya Lan dia manusia yang merangkap segalanya" ujar papa Rara menjelaskan
"Papa nih yang bener coba, pantes aja gen nya ancur semua" gerutu mama kesal
"Hahahaha iya iya bercanda sayang jangan ngambek ih, tapi kan bener mereka berdua babu di perusahaan papa hahahaha" namun istri serta anak-anaknya malah menatapnya dengan tatapan tajam
"Iya iya papa kenalin ulang, dua orang ini merupakan anak saya yang mukanya datar namanya Alfred anak pertama saya, yang mukanya lembek gini namanya Dariel anak kedua saya, dan ini Land dia keponakan saya sekaligus asisten anak saya sekaligus sopir pribadi jika di butuhkan" papa Rara menjelaskan ulang
Afham tersenyum gentir, betapa berwibawa nya keluarga Rara auranya benar-benar bangsawan dan nampaknya mereka semua sangat menyayangi Rara bagaimana jika mereka mengetahui kondisi Rara, mungkin sepupunya Azril itu sudah tidak dapat di selamatkan lagi kecuali atas izin Allah "Azril aku hanya bisa mendoakan mu dari kejauhan" batin Afham meringis
"Perkenalkan pak bu nama saya Afham pemilik rumah ini, saya merupakan sepupu dari menantu bapak dan ibu" ujar Afham sopan
"Oh sepupunya kebetulan mana Azrilnya?" tanya sang papa yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putri kesayangannya begitu pula dengan yang lain
"Bapak ibu mas mas sekalian masuk dulu duduk di dalam, atau mau duduk di luar" tawar Afham
"Di luar aja" Alfred langsung mendudukkan dirinya di kursi yang terletak di depan rumah diikuti dengan Dariel
"Disini aja nak Afham kami kemari hanya ingin mengunjungi mereka berdua" ujar mama Rara ramah
"Saya panggilkan dulu Azril nya ya, bapak ibu mas-mas mohon tunggu sebentar" ujar Afham sopan setelah itu dia langsung berjalan menuju kantor guru tempat dimana tadi Azril berada untuk menemui kedua teman Rara
"Eh kita julid yuk" ujar Dariel memulai pembicaraan
"Ayo dosanya di bagi rata ya" timpal sang papa
"Azril kok nyuruh Rara tinggal di tempat kayak ginian ya, kira-kira Rara betah gak ya tinggal di tempat kayak ginian" ujar Dariel miris
"Pa ma aku mau beliin Rara rumah" ujar Alfred tiba-tiba
"Nah sip itu kak, yang ada kolamnya Rara kan suka kolam" timpal Dariel
"Hussstt kalian tuh gak boleh gitu harus menghargai suaminya" tegur sang mama
"Iya kalian tuh gimana sih, masak kalian mau menjatuhkan harga diri seorang suami, suatu saat kalian akan menjadi suami apa kalian mau di jatuhkan harga dirinya" ujar sang papa yang membenarkan ucapan istrinya
Sementara itu
"Rara di......."
" Assalamualaikum Azril gawat" ujar Afham dengan nada yang tinggi hingga membuat ketiga orang yang berada di ruang guru kaget
"Waalaikumsalam" ujar mereka kompak sembari mengelus dada masing-masing
"Ini kalian udah selesai belum?" tanya Afham
"Sudah kalian boleh pergi" Azril langsung menyuruh kedua teman Rara pergi
"Loh ustadz Rara nya...."
"Kalian pergi dulu sana ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan ustadz Azril" Afham langsung memotong ucapan mereka, dengan sangat terpaksa mereka berdua keluar dari ruangan tersebut
"Ada apa sih ham?" tanya Azril bingung
"Orang tua Rara, itu orang tua Rara di sana" ujar Afham panik
"Hah dimana coba bicara yang jelas" ujar Azril yang masih bingung
"Azril orang tua Rara sekarang berada di sini, lebih tepatnya di depan rumah ku, mereka lagi nyari kamu dan Rara" ujar Afham yang membuat Azril tertegun, batinnya syok bercampur kaget
"Bagaimana ini" gumam Azril pelan