I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Aku Ingat Semuanya



Mobil telah berhenti di sebuah bar ternama, bar yang megah menjulang tinggi bak hotel bintang lima


"Bar" gumam Rara pelan


"Emmmm kamu tunggu di sini biar saya saja yang mengantarkannya"


"Makasih kak, ini pakai jas hujannya kak, takut bajunya basah"


Rara mengambil jas hujan tersebut dan langsung memakainya, pintu masuk dengan parkiran mobil cukup jauh, tanpa payung atau jas hujan sudah di pastikan baju itu akan basah kuyup


"Ini bar apa hotel mewah bener, belum pernah aku kesini" gumam Rara pelan


Ting


Lift terbuka dengan lebar, dengan langkah mantap dia berjalan keluar, kepalanya celingak-celinguk mencari sosok pembeli yang di maksud


"Ketemu" Rara berjalan menghampiri dua orang pria berjas yang tampak mengobrol


"Permisi pesanan anda" ujar Rara ramah, ia menaruh pesanan tersebut di atas meja


Kedua pria tersebut menatap Rara dari atas hingga bawah sembari tersenyum sinis


"Heh bocah bukankah kami hanya memesan satu"


Rara mengerutkan keningnya sembari mengecek ulang


"Maaf kalian salah mencari sasaran" ujar Rara datar


"Totalnya satu juta lima ratus ribu"


"Heh bukankah kami bilang bahwa kami hanya memesan satu" ujar salah satu diantara mereka sembari tertawa


"Jelas-jelas di sini kalian memesan lima pizza, apa mata kalian picek" ujar Rara sembari menyodorkan hp milik gadis yang ia tolong


"Kalau memang gak mampu beli gak usah banyak tingkah, pakai sok sok an datang ke bar ini lagi"


"Kamu tuh gak ada sopan-sopannya ya sama pelanggan" pria tersebut meraih kantong plastik besar yang berisi tumpukan pizza


Brukkkkk


Seketika semua pizza berceceran di atas lantai


"Kamu tuh cuma pengantar makanan gak usah sok sok an deh, mau kita laporin sama bos kamu" ujar pria angkuh tersebut sembari menusuk-nusuk kepala Rara dengan jari telunjuknya


Rara yang sudah hilang kesabaran mulai mengepalkan tangannya, memejamkan matanya untuk mengumpulkan semua tenaga yang ia miliki


Brakkkkkkkkk


Satu tendangan ia layangkan pada pria yang telah berani menyentuh kepalanya


Azril terkejut kala menyaksikan adegan itu, benar-benar pengantar makanan yang handal, namun mata Azril membulat sempurna ia terpaku kala melihat orang itu melepaskan penutup kepalanya, orang yang melayangkan sebuah tendangan itu ternyata orang yang sedari tadi ia cari, bagaimana bisa istrinya berada di tempat ini sebagai pengantar makanan


Rara berjalan mendekat ke arah pria yang kini tersungkur di lantai, kemudian matanya melirik tajam ke arah pria satunya lagi


"Kami bayar, kami akan bayar" ujar pria yang tengah berdiri dengan wajah pucat nya


Rara tersenyum sinis kala mereka telah menyerahkan jumlah uang yang tadi Rara sebutkan


"Rara" panggil Azril yang membuat wanita itu menoleh


Rara mengerutkan dahinya kala melihat sosok Azril di sini, bukankah ini tempat maksiat bagaimana mungkin suaminya mau menginjakkan kakinya ke sini


Azril berjalan mendekati Rara, ia menarik tangan gadis itu hingga keluar


"Kamu ngapain di sini?" tanya Rara bingung


"Harusnya mas yang nanya ra, untuk apa kamu mengunjungi tempat seperti ini?" ada kilatan kemarahan yang terpancar jelas di wajah tampannya


Rara diam saja tak menjawab pertanyaan Azril hingga mereka sampai di parkiran


"Aku bawa mobil sendiri" ujar Rara yang berusaha melepaskan tangan Azril


"Sini kunci mobil kamu"


"Untuk apa? aku bisa pulang sendiri" ujar Rara yang enggan memberikan kunci mobil miliknya


"Ra bahaya, lihat hujan masih deras" ujar Azril yang tengah memegangi payungnya sedari tadi agar tubuh mereka berdua tidak terlalu basah


"Ya kita antar bareng-bareng pakai mobil kamu, jadi mana kuncinya?" Azril menjulurkan tangannya siap untuk menerima kunci mobil Rara


Kini mereka bertiga telah duduk di mobil


"Kami meniggalkan motor nya di....."


"Berikan alamatnya biar Baheer yang mengantarkan" ujar Azril yang memotong pembicaraan Rara


***


Selepas dari bar Azril hanya diam saja, biasanya Azril akan cerewet ketika istrinya itu baru pulang dari manapun


Padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam tapi nampaknya pria itu enggan memejamkan matanya dan masih setia duduk di atas sofa sembari memandangi tab yang berada di tangannya


Ntah kenapa Rara merasa tidak tenang, ia juga belum bisa memejamkan matanya, membolak-balikan badannya sedari tadi ke kiri dan ke kanan mencari ketenangan agar ia bisa tidur terlelap


Akhirnya Rara mendudukkan dirinya di atas ranjang, Azril hanya melirik sekilas dan kembali lagi fokus pada tabnya


Perlahan Rara turun dari ranjang, ia membuka pintu kamarnya dan pergi ke arah dapur untuk meneguk air dingin agar pikirannya jernih kembali


"Kekanak-kanakan banget sih kamu ra" gumam Rara ia tunjukkan pada dirinya sendiri


"Lepas aja"


"Untuk apa hidup kayak gini"


"Argghhhhh" Rara mengacak-acak rambutnya, berkecamuk dengan pikirannya sendiri


Setelah selesai berperang dengan batinnya ia kembali ke kamar, dilihatnya Azril masih setia pada tempat semula, tak ambil pusing soal itu ia benar-benar sudah mantap dengan keputusan yang ia buat, akhirnya ia naik ke atas ranjang menarik selimut dan memejamkan matanya tak lupa ia membaca doa terlebih dahulu, inilah kebiasaan yang dulu mamanya ajarkan sejak kecil


Pukul tiga dini hari ia terbangun, sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran, suara inilah yang membuat ia tidur nyenyak tanpa mimpi buruknya, hatinya merasa tenang, apa mungkin karena setiap hari ia mendengar suara ini maka mimpi buruknya hilang begitu saja


Rara mengucek matanya pelan, dalam keadaan berbaring dilihatnya Azril tengah duduk di atas sajadah sembari membaca Al-Quran


"Merdu banget" gumam Rara pelan


Namun sedetik kemudian ia kembali memejamkan matanya menyelami alam mimpinya yang terasa cukup indah


***


"Heem" Rara berdehem untuk mengambil alih perhatian semua keluarganya, benar saja dehemannya mampu menarik semua pandang mata ke arahnya


"Ada apa ra?" tanya papanya sembari menghentikan aktivitas sendok dan garpu nya, tak hanya papanya saja yang menunggu jawaban, mamanya serta kedua kakaknya juga menanti jawaban dari Rara


"Aku ingat" ujar Rara datar


Semua orang tentu bingung dengan ucapan ambigu Rara


"Aku ingat semuanya" ulang Rara karena tak mendapat respon di ucapan pertama nya


"Ingatan kamu dah pulih ra?" tanya mamanya yang langsung menghampiri putrinya, matanya berbinar berharap apa yang ia inginkan terwujud


Rara hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan mamanya


"Alhamdulillah ya Allah" pelukan hangat ia dapatkan dari wanita yang telah melahirkan dirinya, tak mau kalah sang papa juga ikut berhamburan memeluk tubuh Rara


Dariel dan Alfred tersenyum dan saling pandang kala mendengar kabar baik tersebut


"Sejak kapan dek?" tanya Alfred antusias


"Sejak....... ntahlah"


"Mungkin saat di Sidoarjo" ujar Rara


"Apa? kenapa baru bilang sekarang sayang?" degus mamanya sebal, namun Rara hanya diam saja


"Suami kamu dah tahu?" tanya papa yang telah melepaskan pelukannya


Rara hanya menggelengkan kepalanya, ia sengaja mengucapkan itu sekarang, di saat Azril harus berangkat pagi hingga tak dapat ikut sarapan, dan mumpung papa mamanya telah pulang dari luar kota semalam


"Aku ingin pisah darinya"


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗