
"Mas kapan masuk kerja?" tanya Rara sembari memijat pundak suaminya
Azril mendongakkan kepalanya hingga matanya mampu menatap wajah Rara dari bawah
"Kamu ikut mas kerja ya" ujarnya tak masuk akal
"Hah, kamu nyuruh aku kerja?"
"Bukan gitu, kamu temenin mas kerja, Av dan Ay juga di bawa"
"Hahahaha kepala kamu habis ke bentur apa mas" Rara beralih memijat kepala Azril dengan kuat sesekali menjambak pelan rambut Azril, rambut suaminya begitu lembut terkadang ia suka memainkannya
"Aduuhh jangan keras-keras" pinta Azril
"Lagian ini otaknya masih berfungsi gak sih" Rara mengetuk-ngetuk kepala Azril
"Ra, apa kamu bahagia?" tanya Azril tiba-tiba
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Mas hanya ingin tahu"
"Bahagia itu kan pilihan, jadi kalau aku pilih bahagia ya berarti aku bahagia, kalau aku pilih tidak bahagia ya berarti aku tidak bahagia"
"Jadi apa pilihanmu?"
"Tentu saja aku memilih bahagia"
Azril tersenyum "Bagaimana dengan mimpi-mimpi kamu?"
"Mimpi? mimpi apa?"
"Dokter spesialis kulit, punya klinik sendiri, nikah di usia 25 tahun, punya anak empat"
"Ehhh kamu tahu dari mana? kebiasaan banget sih kepoan" ujar Rara kesal, pasti suaminya baca-baca di salah satu buku catatannya, kan dia jadi malu
"Emang kenapa kalau kepo sama istri sendiri? kalau kamu mau lanjut kuliah gak pa pa kok ra, apapun yang kamu inginkan selagi itu baik dan tak melanggar syariat mas izinin"
"Bener nih gak pa pa?" tanya Rara, sebenarnya ia seneng namun ia juga bingung nanti siapa yang mengurus sikem, masak harus bergantung terus dengan baby sitter, apalagi kalau ia kuliah di jurusan kedokteran sudah dipastikan harinya bakal menjadi amat sibuk
Azril mengangguk
"Menurut mas gimana?"
"Apapun asal buat kamu senang" ujarnya, namun dengan sorot mata yang tak sama dengan perkataannya
"Bener nih, bener loh ya"
"Iya..."
Rara tersenyum "Aku akan daftar semester depan, kebetulan itu merupakan waktu penerimaan mahasiswa baru"
"Mau kemana?" tanya Azril kala melihat istrinya hendak beranjak pergi
"Mau nanya kak Faiz kapan pendaftaran di buka, masih bisa gak ya aku daftar di univ negeri?" ujar Rara
"Hah gak gak, mas gak mau kamu satu kampus sama dia, cari kampus lain"
"Gak ah mas, udah nyaman aja di sana, udah tau gedungnya, udah tau ruangan-ruangannya"
"Gak ra gak boleh, mas cariin kampus lain aja"
"Kenapa sih, toh juga aku dan kak Faiz gak ada hubungan apa-apa lagi"
"Ra... kamu mau gak punya toko kue aja?" ujar Azril yang tiba-tiba berganti haluan
"Hah kok jadi toko kue sih"
"Ah, iya iya kok jadi toko kue sih" ujar Azril kikuk, ia tertawa sumbang
"Mas" panggil Rara
"Heem"
"Kamu gak mau kan aku jadi dokter" ujar Rara
"Ehh gak kok siapa bilang, justru mas bangga kalau kamu bisa wujudkan keinginan kamu" dustanya, mungkin dulu ia bisa berkata seperti ini dengan mudah namun tidak untuk sekarang, di saat ada sikem serta kondisi Rara yang tak memungkinkan
"Kenapa?" tanya Rara
"Kenapa apanya?"
"Bilang aja kenapa? kamu kayak gak ikhlas"
"Itu..."
Rara memeluk tubuh Azril, ia menaruh kepalanya di pundak sang suaminya, tangannya beralih memainkan rambut belakang suaminya
"Kalau gak ngizinin bilang aja mas, In Syaa Allah aku bakal mencari ridha mu" ujar Rara penuh keyakinan
"Takut kalau nanti kamu kecapekan dan banyak pikiran, takut kalau nanti kamu jatuh sakit lagi mengingat kondisi kamu seperti ini"
"Mas takut kalau nanti beban di pundak kamu semakin banyak"
Rara menghembuskan nafasnya
"Ya udah aku mau duduk manis nungguin kamu pulang aja ya"
Azril mengangguk "Iya lebih baik seperti itu, jangan sakit lagi, jangan kecapekan lagi, dan yang paling penting jangan tinggalin mas dan anak-anak lagi"
"Iya iya, mas cerewet juga ternyata"
"Ra ayo kita buat mimpi bareng-bareng, mimpi yang dapat di wujudkan secara bersama-sama"
"Ok, jadi apa mimpi mas?"
"Pergi ke Mekkah bersamamu"
Rara tersenyum haru mendengar permintaan suaminya
"Ayo kita ke sana"
"Iya, Insya Allah besok mas daftarin tapi butuh beberapa tahun antriannya"
"Hooh gak pa pa, kok mas gak daftar dari dulu"
"Mas pingin daftarnya bareng kamu dan berangkat juga bareng kamu"
***
Pagi ini Rara mengantar suaminya berangkat kerja, hari pertama bekerja saat istrinya baru pulang berobat
"Kayak anak TK aja minta di anterin" ujar Rara kala sudah sampai di ruang kerja Azril
"Biarin" ujar Azril acuh
"Selamat bekerja nak penuh semangat, rajinlah selalu tentu kau dapat, hormati karyawan sayangi rekan, itulah tandanya kau atasan budiman" nasehat serta lagu dari Rara untuk suaminya
Azril cemberut mendengar Rara bernyanyi seperti itu, apa salahnya sih minta di antar istri bekerja
"Udah ya mas aku pulang dulu" Rara meraih tangan Azril namun bukannya dia yang mencium justru malah ia arahkan agar Azril mencium punggung tangannya
"Assalamualaikum" pamit Rara tak lupa ia memberikan kecupan singkat di pipi agar suaminya tak cemberut lagi
"Hihihi gambaran kalau besok aku ngantar Av dan Ay ke sekolah" ujarnya dengan bersenandung ria sembari membayangkan moment tersebut, padahal anak-anaknya masih bayi dia sudah berpikir jauh ke depan
Rara pulang ke rumah ia segera cuci tangan dan memandikan bayinya, bayinya baru dimandikan jam segini karena tadi ada sedikit drama antara ia dan Azril
Perlahan tapi pasti kini Av dan Ay sudah mau menerima Rara, memang ya tak ada perjuangan yang sia-sia
"Mmm anak mamah udah wangi semua ya" Rara menciumi kedua bayinya gemas
"Bi Wawa" panggil Rara
"Iya ada apa non"
"Tolong jaga sikem dulu ya saya mau nelpon seseorang dulu" pinta Rara
"Baik non"
Rara mengambil hpnya dan mencoba menghubungi seseorang, namun sayang telpon dari Rara tak di angkat, berkali-kali Rara mencoba dan berkali-kali pula tak terjawab
"Hufttt kak Darel ngapain sih"
Baru saja Rara hendak menaruh hp nya tiba-tiba ada panggilan masuk, dengan cekatan Rara mengangkat panggilan tersebut
"Hallo assalamualaikum kak"
"Waalaikumsalam, oh masih ingat punya kakak"
"Gimana ya kak, sebenarnya sih hampir lupa, pikiran ku dah banyak kan udah punya pasangan"
"Ck gak usah nyindir orang, langsung ke intinya, kamu mau apa?"
"Aku mau info tentang orang yang menjebak ku dan mas Azril"
"Haish ra, kan kakak udah bilang don't know too much"
"Kenapa? salah ya aku tahu?"
"Heem, kakak yakin suatu saat nanti Azril sendiri yang akan memberitahukan itu"
"Aduhh ra kakak ada meeting nih, kakak tutup ya wassalamu'alaikum" Dariel memutuskan panggilan secara sepihak
"Kenapa sih, cuma pingin tahu doang, kan aku penasaran" batin Rara, sebenarnya dia sudah penasaran dari dulu namun ia mengurungkan niatnya untuk mencari tahu lebih dalam karena ia tahu itu tak akan pernah merubah apapun, namun tiba-tiba rasa penasaran itu muncul lagi
***