
Sandra menyetir mobilnya menuju salah satu stasiun yang terletak di seberang pasar di pusat ibukota, rencananya setelah ini, ia akan membawa keluarga dari mantan suaminya menuju ke hotel tak jauh dari kantornya sesuai pesan yang diterimanya dari Ferdiansyah.
Sebelum sampai hotel, ia mampir terlebih dahulu ke restoran cepat saji dengan layanan Drive thru untuk mereka makan di hotel.
"Kata Ferdi kamu masih jadi sekertaris nduk?"tanya Mantan mertuanya saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar hotel dengan dua bed itu.
Sandra meletakan dulu travel bag milik wanita paruh baya itu di lemari pakaian yang terletak disudut kamar, "iya Bu,"jawabnya.
Elina sedang membantu anak-anaknya membersihkan diri di kamar mandi.
"kenapa kamu nggak rujuk aja sama anak ibu? Toh dia udah dapat ganjaran gara-gara menduakan kamu dulu, jadi ibu berharap kalian bisa bersama lagi,"pintanya.
Sandra duduk di sofa yang tersedia, sepertinya ia harus berbasa-basi sejenak dengan mantan mertuanya itu, sebenarnya ia ingin segera kembali ke kantor, ini sudah cukup terlambat, apalagi sedang ada Benedict berkunjung, tapi ia tak enak jika langsung pergi, apalagi wanita tua itu pernah jadi orang tuanya.
"Sandra sudah bahagia, hanya dengan Xander Bu, biar mas Ferdi cari perempuan yang lebih baik dari Sandra, setidaknya yang masih singel,"ujarnya merendah.
"tapi nduk, kalian sekampung, orang tua kamu dan ibu teman dekat, biar persaudaraan kita nggak terputus,"
"tanpa rujuk pun, Sandra akan menjaga hubungan baik dengan ibu dan Elina, biar begini saja ya Bu,"ucapnya, Sandra melihat pergelangan tangannya, "Sandra ke kantor lagi ya Bu, soalnya lagi ada bos besar datang dari luar negeri, nggak enak kalau Sandra ijin terlalu lama,"
Mau tak mau wanita paruh baya itu mengijinkan, tapi sebelum keluar dari kamar, Sandra sempat memberikan beberapa lembar uang merah pada Elina, "ini buat jajan anak-anak, mbak usahakan Dateng lagi, soalnya lagi ada bos,"
Elina mengangguk, lalu menyuruh anak-anaknya untuk bersalaman dengan Sandra tak lupa berterima kasih.
Sesampainya di kantor, tanpa sengaja, ia bertemu dengan Ferdiansyah yang akan membeli kopi, lelaki itu mengucapkan terima kasih karena mau membantunya menjemput ibu dan adik serta keponakannya.
Tak mau menimbulkan gosip, Sandra ijin naik terlebih dahulu, dirinya mengaku sedang ditunggu oleh atasan.
Sesampainya di meja sekertaris sudah ada Jonas yang sedang sibuk didepan komputernya,
Menyadari kedatangan rekannya, Jonas mendongak, "mbak, dicariin bos besar tuh sampai dua kali telpon kesini,"ujarnya sambil melirik pada telpon paralel yang terdapat di masing-masing meja sekertaris.
"Mode si bos gimana Jo? Lagi merah atau ijo,"tanya Sandra sedikit was-was.
"Waktu telpon pertama masih ijo, terus telpon kedua udah oranye, kalau sekarang mungkin merah kali,"sahut lelaki itu asal, tentu saja itu hanya ulah isengnya.
"mampus gue, aduh Jo, doain gue ya, semoga gue selamet,"ujar wanita itu berharap, sementara Jonas berpura-pura menyemangatinya saja.
Sandra mengetuk pelan pintu ruangan yang didalamnya ada Rama dan Benedict, setelah ada sahutan dari dalam, wanita itu segera masuk.
Terlihat Benedict duduk di kursi kebesaran yang biasa digunakan oleh Alex sedangkan Rama berada di seberangnya, keduanya menghadap laptop masing-masing,
"siang pak, apa tadi bapak mencari saya?"tanya Sandra sopan, mode atasan dan bawahan aktif.
Benedict melirik, lalu dengan tatapan mata itu menyuruh Sandra untuk duduk disebelah Rama.
"Sa, coba buka email deh,"perintah bos besar.
Beruntung tadi sebelum memasuki ruangan atasannya, Sandra sempat mengambil laptopnya, bisa ngamuk lelaki besar itu.
"Lo mau belajar menangani management rumah sakit kan? Coba Lo periksa, terus kalau ada kesalahan, Lo tandai lalu kasih tau gue salahnya dimana,"jelas Benedict, "kalau masih bingung, Lo bisa tanya Rama,"
"Tunggu Ben, Lo serius ijinkan gue pindah?"tanya wanita itu tak percaya.
"makanya Lo belajar, gue kasih waktu sebulan, Lo harus bisa kuasai semua, kalau dari waktu yang ditentukan Lo nggak bisa, berarti Lo tetep disini,"
Sandra mengangguk, wanita itu terlihat bersemangat mengerjakan tugas pertama memeriksa laporan dari manager keuangan rumah sakit yang diberikan big bosnya.
Rama melirik kekasih sahabat sekilas, lalu menghembuskan nafasnya kasar, bisa-bisanya wanita sebelahnya begitu bersemangat untuk pergi dari sisi Alex.
Beberapa kali Sandra menanyakan hal yang tak ia mengerti pada Rama, dan lelaki itu menjelaskannya.
Menjelang jam pulang kerja, ketiganya sudah menyelesaikan pekerjaan untuk hari ini, Benedict sempat memuji Sandra yang cepat belajar.
Ketiganya turun bersama diikuti oleh Jonas dan Robert dibelakangnya, biasanya Benedict langsung menuju ke parkiran bawah tanah, tapi entah mengapa lelaki itu justru turun ke lobby terlebih dahulu.
Sebagian besar pekerja, tau jika lelaki tinggi besar itu adalah atasan tertinggi pemilik sebenarnya, apalagi sejak istrinya menetap disini, Benedict sering mendatangi gedung, walau jarang ke lobby.
Beberapa karyawan menyapanya ramah, Benedict hanya menanggapi dengan anggukan atau gumaman, lelaki itu memang terkenal dingin, hanya dengan orang terdekatnya ia banyak bicara.
Mereka juga memesan minuman di kedai kopi didekat lobby, saat sedang menunggu pesanan, kelima orang itu duduk di kursi yang disediakan untuk pengunjung.
Masih membicarakan tentang pekerjaan, juga rencana kepindahan Sandra ke rumah sakit, karena itulah besok Robert akan mulai belajar.
Saat mereka sedang mengobrol sambil menikmati minuman yang dipesan masing-masing, nama satu-satunya perempuan di sana dipanggil, kelimanya langsung menoleh ke sumber suara.
Itu Inah bersama Elina dan ketiga anaknya,
Sandra mohon undur diri sejenak, ia yang tau watak mantan mertuanya memilih berlalu dari atasan dan rekan kerjanya itu.
"Mereka siapa nduk?"tanya Inah penasaran.
"Itu atasan Sandra Bu, jadi ibu mau ngapain kesini?"tanyanya lagi.
"Ibu main ke kantor tempat kamu dan anak ibu kerja ndak boleh emang?"
"bukan nggak boleh Bu, soalnya lagi ada bos besar, Sandra nggak enak,"jelasnya.
"yang mana bos besar kamu?"tanya Inah penasaran sambil melangkah maju namun Sandra menahannya.
"Ibu mau ngapain?"
"Ibu mau bilang ke bos kamu, supaya naikin jabatan Ferdi, dengan gitu kamu bisa jadi mantu ibu lagi,"jawab perempuan paruh baya itu masih berusaha mendekati sekumpulan laki-laki tak jauh dari sana.
"Bu, Sandra mohon jangan buat malu,"
"siapa yang buat kamu malu sih nduk, justru ibu mau nolong kamu sama Ferdi biar bisa rujuk lagi,"
Elina tak bisa berbuat banyak, karena ketiga anaknya mulai tak bisa diam.
Ingin rasanya Sandra marah, rasanya kesal sekali melihat kelakuan mantan mertuanya yang keras kepala.
Sandra berusaha menghalangi langkah Inah, namun tak berhasil, perempuan paruh baya itu, berhasil menghampiri atasannya.
Benedict dan Rama bingung dengan kedatangan perempuan paruh baya itu, tapi tidak dengan Jonas, rekan kerja Sandra jelas tau siapa itu, karena saat Ferdiansyah kecelakaan, lelaki itu sempat menyambanginya secara diam-diam ke rumah sakit dan kebetulan Inah yang sedang menjaga putranya.
Inah memperkenalkan diri sebagai mertua dari Sandra, perempuan paruh baya itu juga mengatakan jika putranya bekerja sebagai staf marketing di gedung itu, juga menjelaskan tentang konflik yang sedang mendera anak dan menantunya.
Benedict dan Rama kompak menatap tajam Sandra yang sedari tadi menunduk, tak berani menunjukan wajahnya, pada kedua atasannya sekaligus sahabatnya.
Rasanya ingin membela diri, tapi tak ingin membuat keadaan tambah rumit, karena sekarang ini ia menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di kedai kopi.
Selama bekerja disini baru kali ini, ia benar-benar malu, rahasia jika dirinya pernah memiliki hubungan dengan Ferdiansyah terkuak sudah.
Bisikan negatif tentang dirinya mulai terdengar di telinganya, rasanya ingin lari saja dari sana.
"jadi begini Ibu Inah, saya sebagai pimpinan disini, tidak pernah mau tau tentang kehidupan pribadi para staf di gedung ini termasuk sekertaris Sandra, dan tentang kenaikan jabatan putra ibu Inah, management akan melihat kinerjanya, kalau seandainya bagus mungkin akan segera naik jabatan," jelas Rama, ia melihat pergelangan tangannya, "seperti saya harus segera pulang, istri saya sudah menunggu,"lanjutnya seraya bangkit.
Benedict berjalan paling depan, ia berhenti sejenak tepat di samping Sandra, "gue tunggu penjelasan lo, di parkiran,"
Ucapan Benedict membuat bulu kuduk Sandra merinding seketika, walau ucapan terdengar biasa tapi entah mengapa wanita itu mendadak takut, padahal biasanya dirinya selalu tenang dalam keadaan apapun.
Sepeninggal Keempat lelaki itu, Sandra menelpon Ferdiansyah, memberitahunya jika ibu dan adiknya sedang ada di lobby.
"Bu, Sandra pergi dulu, atasan manggil Sandra, maaf nggak bisa dampingi ibu,"ucapnya berusaha sopan, meskipun rasanya ia marah sekali dengan mantan mertuanya itu.
Namanya dipanggil oleh Inah, tapi ia tak peduli, ia harus segera menemui Benedict dan menjelaskannya.
Sesampainya di parkiran, Sandra menghampiri mobil SUV hitam, yang di sampingnya ada Jonas dan Robert menunggu kedatangannya.
"Nyari masalah lo mbak, gue doain Lo selamet,"bisik Jonas, sebelum Sandra memasuki pintu tengah mobil.
Rama duduk di jok paling belakang, sedangkan Benedict bersebelahan dengan Sandra.
Lelaki blasteran dengan wajah dominan Indo, menatapnya tajam, tatapan intimidasi atasan sekaligus sahabatnya membuat Sandra takut,
"Sa, lo tau bukan dari dulu gue nggak pernah mau tau urusan percintaan sahabat-sahabat gue, jadi sekarang gue minta jelasin sejelas-jelasnya, kenapa itu nenek-nenek ngomong kayak gitu? Lo masih ada ikatan sama cowok itu, tapi Lo berhubungan juga sama Alex, Lo mau bunuh temen gue apa gimana sih? Walau gue jauh, tapi gue tau kalau selepas dulu lo ninggalin Alex gitu aja, dia sampai depresi, gue pikir Lo udah cerai,"
Sandra melirik pada Rama yang sedari tadi menatapnya tajam, ia berusaha tetap tenang, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, ia mulai menjelaskan secara jujur, tentang penyebab perceraiannya, kecuali urusan ranjang, tentang kecelakaan yang menimpa Ferdiansyah, tentang niatan mantan mertuanya memintanya agar rujuk, juga tentang jawabannya.
"Perlu gue beresin mantan suami Lo?"tawar Benedict.
Sandra tau apa makna beresin yang dimaksud lelak dihadapannya, "jangan Ben, Mantan gue jadi tulang punggung keluarga, bapaknya udah nggak bisa kerja berat, sementara iparnya kerjanya masih serabutan, sebenarnya mantan gue nggak iseng, cuma ibunya aja yang terlalu berharap, dan gue nggak ada niatan untuk rujuk,"
Benedict terdiam sejenak, lalu melirik ada Rama, "gini aja Sa, mulai besok Lo nggak usah Dateng ke kantor ini,"
Sandra terkejut, "Lo mecat gue Ben?"protesnya.
"bukan dipecat sa, Lo kan mau bantuin Oscar, jadi besok Lo berangkat kerjanya ke rumah sakit, nggak usah kesini, kita tau, Lo pasti malu kan, tentang Robert, mungkin Jonas bisa bantu,"jelas Rama.
"Lo setuju ram?"
"demi kebaikan kita semua, gue nggak mau sahabat gue malu, dan Alex patah hati,"
Mata Sandra berkaca-kaca, ia terharu dengan kebaikan kedua atasan sekaligus sahabatnya.