How To Marry You ?

How To Marry You ?
enam puluh tujuh



Tak ada pilihan lain selain menuruti Alex, semakin Sandra membantah, makan lelaki itu akan semakin menekannya, ia tau kekasihnya akan melakukan segala cara agar ia menuruti perkataan lelaki itu.


Apalagi kalau bukan soal putranya, Alex mengancamnya lagi akan mengambil hak perwalian Xander, jika sudah begitu, ia tak akan bisa menemui putranya secara bebas,


"Cukup dua kali aku kehilangan kamu, tidak tiga kali, kalau kamu tetap nggak mau pulang, aku akan buat Asha celaka tanpa yang lain sadari, kamu tau bukan aku seperti apa,"ancam lelaki itu saat ia masih tetap kekeh ingin tinggal di rumah Natasha.


Dengan sangat terpaksa Sandra membereskan semua baju-bajunya dan putranya, tentu dibantu oleh Alex.


Bahkan ia tak sempat berpamitan pada Natasha, karena ponsel yang diberikan sahabatnya disita oleh Alex.


Sebelum kembali ke rumah Alex, Sandra berpamitan pada pemilik toko kue, ia meminta maaf, Karena harus mengundurkan diri secara mendadak, meski pemilik toko protes tapi tak bisa berkutik ketika Alex turun tangan.


Tak lupa menjemput putra semata wayang mereka di sekolah.


"Jadi kita kembali ke rumah papa gitu ma?"tanya Xander yang berada di jok belakang.


"Itu memang rumah kita, kamu, papa dan mama, mungkin calon adik kamu,"bukan Sandra yang menjawab, tapi Alex yang tengah mengemudi.


Sandra melototi lelaki disebelahnya, seakan memberi peringatan, agar tak berbicara sembarangan,


"Jadi apa aku akan punya adik?"tanya bocah itu lesu.


Alex melirik sekilas putranya melalui rear - vision mirror. "apa kamu keberatan jika memiliki adik?"tanyanya balik.


"Bukannya keberatan, tapi kasihan mama, nanti mama capek urus adik seperti bulik Eli,"jawab Xander,


"Siapa Bulik Eli? Papa baru dengar,"ucap Alex melirik Sandra seolah meminta penjelasan.


"Eli adiknya mas Ferdi, dia punya anak yang masih kecil-kecil dengan jarak umur tak terlalu jauh,"jelas Sandra.


"Bulik itu kasian pa, Sampai kurus gitu, ditambah Mbah uti juga sering marahi, kan kasihan, Xander tidak mau mama begitu, apalagi mama kan mesti cari uang buat Xander sekolah SMP, iya kan ma?"


Alex mengehentikan mobilnya ketika lampu lalulintas berubah menjadi merah, ia menghadap ke arah putranya, "Ada papa yang akan membiayai semua keperluan kamu, termasuk sekolah, jadi cukup papa yang bekerja keras, mama hanya perlu mengurus kamu dan papa, kamu mengerti?"


Xander mengangguk, "jadi mama tidak perlu bekerja keras lagi, dan papa akan kasih uang ke kami begitu? Apa benar itu mama?"


Alex menatap tajam Sandra, memberinya peringatan supaya menjawab dengan benar pertanyaan yang dilontarkan putranya.


"Tentu, Papa yang akan cari uang dan mama cukup di rumah, mengantarkan dan menjemput Xander si sekolah,"sahut Sandra.


Alex kembali melajukan mobilnya, cukup jauh jarak antara rumahnya dengan tempat tinggal Natasha.


Entah sudah berapa bulan, Sandra tak menginjakan kaki di rumah milik Alex, ada perubahan di cat dinding luar rumah.


Alex memarkirkan mobilnya di carport, ia keluar terlebih dahulu, ia mengeluarkan koper di bagasi mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Sandra bersama Xander mengikutinya dari belakang, Ada perubahan dari ruang tamu, cat dinding dan sofa diganti, begitu juga dengan ruang tengah.


Satu lagi yang membuat Sandra dan putranya saling pandang, karena tak ada lagi gambar simbol agama yang dianut keluarga Alex.


"Aku sedikit merenovasi rumah, selama kamu nggak ada, semoga kamu suka, dan Xander, kamu bisa lihat kamar baru,"ujar Alex meletakan koper di pintu cokelat, bertuliskan Alexander room.


Alex membuka pintu kamar dengan cat berwarna biru muda, dengan gambar mobil sport dinding, juga sprei dengan motif yang sama, ada karpet bulu, dan Televisi LED lengkap dengan PS, juga meja belajar yang dilengkapi dengan satu set komputer, lemari juga baru.


"Apa kamu suka? Kalau ada yang kurang atau kamu minta ganti, kamu bisa bilang ke papa, nanti diganti atau ditambahkan,"


"Tentu saja, kamu kan anak papa, tentu semua ini untuk kamu,"


Xander memeluk Papanya erat, bocah itu berterima kasih sambil menangis terharu, "Xander nggak nyangka bisa punya kamar sendiri,"


Sandra menyeka sudut matanya, ia terharu, ini kali pertama putranya terlihat puas, mungkin memang seharusnya ia tetap bersama Alex, papa kandung putra semata wayangnya.


"Jadi sekarang kamu istirahat dulu ya! sebentar lagi, makanan datang, nanti kita makan bersama, papa mau ada perlu sama mama sebentar ya!"


Xander mengangguk, bocah itu meletakan tas sekolahnya di kursi beroda.


Setelahnya Alex menutup pintu, dan menggandeng tangan Sandra menuju kamar yang akan ditempatinya.


Posisinya masih sama, namun saat pintu di buka, Sandra menutup mulutnya tak percaya.


Alex memeluk wanita itu dari belakang, "Aku merenovasi semuanya, Maria yang nyuruh supaya kamarnya di bongkar, agar kamar kita menjadi lebih besar, dia berharap kamu betah disini,"jelasnya.


"Lalu jika kak Maria pulang kesini, bagaimana?"


"Bisa tidur sama kamu atau Xander, kamu tau kan aku jarang pulang, dan atas persetujuan Maria juga, rumah ini sudah atas nama Xander, jadi nggak ada alasan kamu pergi dari sini, apapun yang terjadi dimasa depan,"


Kamar yang tadinya hanya berisi ranjang ukuran 120x200 sekarang diganti ranjang dengan ukuran king size, ada sofa singel, meja rias juga lemari dan sudah ada kamar mandi didalam yang dilengkapi bathub dan shower.


"Kalau ada yang perlu ditambahkan, kamu bisa bilang, aku harap kamu lebih nyaman dan tidak berfikir untuk keluar dari rumah ini,"


"apa ini tidak berlebihan? Aku hanya ibu dari anak kamu,"sahut Sandra merasa terbebani.


Alex memegang kedua sisi wajah kekasihnya, "hei... Kamu itu wanita yang paling aku cintai, bukankah aku pernah bilang, bahwa semua milik aku adalah milik kamu, ada atau tidaknya anak diantara kita, hanya kamu wanita yang aku cintai, aku harap setelah ini, kamu selalu ada di sampingku,"


Alex mencium bibir yang sedari dulu menjadi candunya.


Sandra melepaskan terlebih dahulu, "Lex, kita bahkan tidak ada ikatan apapun, seharusnya kamu cukup memberikan pada Xander saja,"


Alex kembali memegang kedua sisi wajah wanita yang dicintainya, "apa kamu ini semacam kode agar aku menikahi kamu?"tanyanya.


Sandra melepas tangan lelaki itu, ia berbalik membelakangi, "Bukan untuk menikah akan sulit, apa kamu lupa kita berbeda?"


Terdengar helaan nafas dari lelaki itu, "urus perceraian kamu, jika sudah selesai kita bisa bicarakan lagi hal ini, kita bisa menikah di luar negeri, sekalian jalan-jalan,"


"Alex itu nggak mungkin, kita berbeda, itu tetap tidak boleh,"


"Lalu apa mau kamu? jangan pakai alasan ini untuk kamu pergi dari aku lagi, aku nggak akan biarkan itu terjadi,"


"Tapi memang hal ini yang membuat kita sulit bersatu, kenapa tidak menyerah saja? Seharusnya kamu tidak perlu melakukan sejauh ini,"


Alex menghembuskan nafasnya kasar, "bisa nggak sa, kita nggak bahas ini, aku bingung, kamu sendiri nggak mau aku nikahi di luar negeri, jadi aku harus bagaimana? Aku nggak mungkin rela biarkan kamu pergi lagi, lebih baik aku mati,"


Pembicaraan keduanya terhenti, ketika kurir pengantar makanan tiba, Alex keluar dari kamar, sementara Sandra menjatuhkan dirinya di lantai,


Akan selalu begini, perdebatan yang tak kunjung mencapai titik temu, rasanya lelah, tapi tak ingin berpisah lagi,


Rasa cinta yang tertancap kuat di hati masing-masing membuat mereka sulit berpisah tapi jika bersatu juga sama.