How To Marry You ?

How To Marry You ?
enam puluh lima



Waktu berlalu, Sandra dan putranya masih tinggal bersama Natasha, wanita itu juga masih bekerja di toko kue.


Pagi hari merupakan waktu yang sibuk, Sandra memasak sarapan untuk sahabat dan putranya.


Setelah sarapan, Natasha baru berangkat bekerja namun sebelum itu, ia akan mengantarkan Xander ke sekolah terlebih dahulu.


Sementara Sandra akan mengerjakan pekerjaan rumah hingga pukul setengah delapan pagi, setelahnya bersiap berangkat menuju toko kue dengan berjalan kaki.


Karena sekolah Xander tak begitu jauh dari toko kue, sehingga ia tak lagi menjemput putranya, nantinya bocah itu akan menghampirinya.


Pemilik toko yang tau keadaannya tak masalah dengan keberadaan Xander, bocah itu terkadang membantu mamanya melayani pelanggan toko.


Penghasilan yang diterimanya memang tak begitu besar, namun Sandra bersyukur, setidaknya ia tetap bisa menghasilkan uang.


Ia baru pulang sebelum azan magrib berkumandang, biasanya Natasha sudah berada di rumah kalau tidak ada operasi dadakan.


Toko kue libur dihari biasa, karena weekend justru pengunjung lebih ramai, sehingga ia jarang mengajak putranya jalan-jalan saat libur.


Lebih sering Natasha yang mengajak Xander jalan-jalan diakhir pekan.


Malam itu, saat ketiganya berbincang usai makan malam di ruang keluarga, bel pintu berbunyi,


Sandra dan Natasha saling pandang, seolah bertanya, siapa yang berkunjung malam-malam padahal seingat keduanya, tak ada yang memesan layanan antar.


Xander yang baru saja keluar dari toilet berinisiatif membukakan pintu, tanpa bertanya dulu pada kedua wanita dewasa yang masih sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hingga,


"Aunty ada tamu nih, cowok bule ganteng, pacarnya ya! Kok nggak kasih tau Xander,"teriaknya.


Sandra dan Natasha bangkit, keduanya saling tatap, seolah saling bertanya, siapa yang dimaksud bocah itu.


"bule ganteng temen kita bukannya cuman Nando ya! Ngapain malem-malem kesini? Lo ada janji sama dia?"tanya Sandra.


Natasha menggeleng, belum sempat menggeleng, lelaki yang dimaksud sudah berdiri beberapa meter dari kedua wanita itu.


"loh Sa, Lo kok disini?"tanya Fernando terkejut.


Sandra tersenyum memperlihatkan giginya, "iya do, lo ngapain malem-malem kesini?"tanyanya balik.


"Bentar deh,"Fernando mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan,


"Lex, Sandra di rumah Asha nih, Lo nyariin kan?"ucap lelaki itu menghubungi salah satu sahabatnya.


Kedua wanita itu panik seketika, Natasha merebut paksa ponsel milik Fernando,


"Lex, Nando lagi becanda, nggak usah didengerin,"ucapnya.


Fernando melongo, namun segera tersadar, lalu berteriak, "beneran Lex, kalau nggak percaya Lo kesini,"


Natasha mengakhiri panggilan sepihak, tanpa menunggu tanggapan dari Alex, ia melemparkan ponsel mahal milik sahabat bulenya, "ngapa Lo udah kayak ember bocor sih? Ngeselin sumpah,"


Fernando berhasil menangkap ponsel miliknya, lalu tertawa, rasanya puas sekali melihat raut wajah panik kedua wanita sahabatnya.


"Lagian sa, ngapain segala kabur lagi sih, Alex nyariin tau, nggak puas apa ninggalin selama sepuluh tahun?"


Ketiganya duduk diatas karpet bulu di ruang tengah,


"Gue punya alasan Do,"sahut Sandra.


Fernando bersandar di sofa, "belum lama, Alex ngajak gue ke club' dia minum sampai mabok, dan manggil nama lo, setidaknya kalau ada masalah diomongin baik-baik, jangan main kabur aja, nggak cape apa?"


Sandra sedang memakan martabak yang dibawa lelaki bule itu, ia hanya menanggapinya dengan gelengan kepala,


"Lagian do, kenapa Lo ikut campur segala sih, tumben banget, dan apa maksud Lo Dateng ke rumah gue malem-malem?"tanya Natasha heran.


"Kasian gue liat Alex, gue tau dia sedih banget Lo tinggalin sa, kalau emang mau kabur masa ke rumahnya Asha, kurang jauh lo,"ucap Fernando pada Sandra.


"Dan Lo Sha, gue minta besok Lo ikut gue, ada yang harus Lo lakuin,"lanjutnya pada Natasha.


Kedua wanita itu menghela nafas secara bersamaan,


"Jam berapa selesai?"


"mungkin tengah hari, sebenarnya kenapa sih?"


"Lo telpon ke perawat, bilang minta ajuin, kalau perlu pagi-pagi, bilang gue yang suruh,"


"nggak bisa seenaknya gitu do,"


"Lo nggak nurut, gue acak-acak itu rumah sakit,"ancam laki blasteran itu.


"Segank bisanya pada ngancem, nggak ada cara lain apa?"cetus Sandra tiba-tiba.


Fernando mengumpat, sepertinya ia harus memberitahu alasan kenapa dirinya memaksakan kehendaknya hingga mengancam.


"gue cerita tapi jangan cerita ke siapapun,"


Kedua wanita itu kompak mengangguk,


"gue ngajak Lo, buat ketemu Ayu, gue mau Lo periksa keadaan dia, Lo tau kan dia lagi hamil bayi kembar, bagaimanapun calon bayi ayu itu pewaris bos kita, jadi ini penting banget kan?"jelasnya.


"Kenapa nggak dikasih tau Ben? Lo tau kan dia udah kayak orang gila nyariin ayu,"ucap Natasha.


Fernando menceritakan semua yang ia dengar dari Ayudia, termasuk alasan wanita itu kabur dari Benedict.


"kalau gue jadi Ayu, gue bakal kabur sejauh-jauhnya sih, ya kali diselingkuhi,"sahut Sandra manggut-manggut setelah mendengar cerita itu.


"Lo emang hobinya kabur sa, pokoknya jangan sampai yang lain tau,"


"Tapi do, kalau sampai Ben tau, kita ngumpetin Ayu, abis kita do, Lo tau temperamen Ben kayak apa,"Natasha mencoba memperingati sahabatnya.


"gue tanggung resikonya,"ucap Fernando yakin.


Ketiganya membicarakan rencana kedepannya, hingga pembicara itu terhenti ketika suara pintu ruang tamu terbuka.


Ketiganya menoleh kearah pintu itu, Sandra melebarkan matanya, begitu juga dengan Natasha, sedangkan Fernando tersenyum puas melihat kedatangan salah satu sahabatnya.


Sandra tak menyangka, lelaki yang selama ini dihindarinya ada dihadapannya sekarang, ia melirik Fernando yang terlihat menyebalkan dimatanya.


Alex menghampiri wanita yang selama berbulan-bulan tak bisa ia temui, ia memeluk erat kekasihnya, "maafkan aku sa, nggak seharusnya aku bersikap kayak gitu sama kamu,"


Alex memegang kedua sisi wajah Sandra, lalu mencium kening itu lembut.


"ehem... woy jangan dilanjutkan, masih ada gue disini,"cetus Natasha tiba-tiba.


Alex melepas pelukannya, ia duduk di samping kekasihnya, dan menggenggam tangan wanita itu erat,


"Jadi selama ini Lo yang ngumpetin cewek gue? Lo kok tega sih Sha, emang gue salah apa sama Lo? Gue udah kayak orang gila nyariin dia, dan Lo diem aja, jahat banget Lo,"ucap Alex marah.


Sandra melepas genggaman tangan Alex, lalu duduk bergeser disebelah Natasha,


"nggak usah di dengerin sha, bukanya terima kasih malah ngomel dia,"bisiknya.


Natasha mengangguk, lalu menatap tajam lelaki yang berprofesi sebagai pengacara itu, "iya gue jahat, terus mau Lo apa? Lo mau pukul gue? Apa mau musuhi gue?"tantangnya.


Alex menggeleng, "ya nggak mungkin gue kayak gitu, Lo kan cewek yang gue sayang setelah Sandra, Maria dan Tante Terry, gue malah mau berterima kasih, jadi hadiah apa yang Lo mau,"


Sandra dan Natasha saling pandang, keduanya bingung dengan sikap Alex,


"Sha, abis ayu lahiran, minta Alex bayarin liburan kita ke jepang,"bisik Sandra.


Natasha mengangguk dan menyebutkan permintaan sesuai apa yang dikatakan Sandra.


"Oke, nggak masalah,"sahut Alex.


"tambahan dari gue, kalau urusan yang gue minta berjalan dengan baik,"sela Fernando.


Kedua wanita itu mengembangkan senyumannya, sepertinya liburan yang dulu tertunda akan terlaksana beberapa bulan nanti.