
Tiga hari menjelang keberangkatan ke Itali, Xander mengalami demam tinggi sepulang sekolah.
Sandra yang tengah bekerja, dihubungi oleh mbak Ninik, ART harian yang dipekerjakan di rumah.
Setelah mengirimkan pesan pada Alex, ia bergegas pulang ke rumah, beruntung tadi pagi, ia berangkat naik motor, sehingga lebih cepat sampai, tanpa harus terjebak macetnya jalanan ibukota.
Sesampainya di rumah, Sandra terkejut saat putranya sedang muntah-muntah di toilet didekat dapur dibantu Mbak Ninik yang memijat tengkuk remaja itu.
Tadi pagi sebelum berangkat, Xander sempat mengeluh pusing, Sandra menyarankan untuk ijin tidak masuk, tapi putranya mengatakan jika hari ini ada ulangan matematika.
"mama, kepala Xander pusing banget, Xander kedinginan,"keluhnya setelah Sandra menuntun putranya untuk duduk di kursi ruang makan.
Sandra memberikan air hangat, tak lupa membalurkan minyak kayu putih di punggung putranya sambil memijatnya.
"kita ke rumah sakit ya!"ajaknya.
"tapi ma, kalau ke rumah sakit, berarti kita nggak jadi ke itali dong,"
"Xander, kalau kita ke rumah sakit, setidaknya kamu bisa dapat obat yang sesuai, semoga saja hanya dengan meminum obat kamu sembuh, sehingga kita bisa berangkat, jadi sekarang kita ke rumah sakit ya!"
Remaja itu akhirnya setuju, Sandra meminta Mbak Ninik untuk mengawasi Xander sebentar, sementara dirinya menyiapkan keperluan yang harus dibawa.
Xander yang terlihat lemas, akhirnya dijaga oleh Mbak Ninik di jok belakang, sementara Sandra mengemudikan mobilnya.
Ditengah perjalanan, ponselnya berbunyi, itu Alex yang menghubunginya,
"....."
"iya ini aku lagi dalam perjalanan ke rumah sakit,"
"....."
"badannya panas sama muntah-muntah,"
"......"
"ya udah, sampai ketemu di sana,"
Tak lama, mobil yang dikemudikan Sandra berhenti tepat didepan pintu IGD rumah sakit.
Di sana sudah ada dokter dan perawat yang bersiap menunggu kedatangan putra salah satu pemilik rumah sakit, mungkin Alex yang memberitahunya.
Xander dibawa masuk, sedangkan Sandra menunggu diluar bersama mbak Ninik.
Jonas datang tak lama, lelaki itu menanyakan keadaan keponakannya, dan Sandra menjelaskan yang dialami Xander.
Dokter memanggil wali pasien, bertanya ini itu dan setelahnya menjelaskan beberapa prosedur yang akan dilakukan terkait pemeriksaan darah, sehingga harus menunggu hasil dari laboratorium untuk melanjutkan tindakan berikutnya.
Sandra mempersilahkan Mbak Ninik untuk pulang terlebih dahulu, tak lupa memberikan ongkos untuk naik ojek.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, dokter memanggil wali pasien kembali, mempersilahkan masuk untuk menjelaskan hasil laboratorium.
Sandra bersama Jonas duduk menghadap dokter yang memeriksa Xander.
Dokter menjelaskan jika pasien bernama Alexander didiagnosa menderita Dengue Haemoragic Fever atau dhf karena terlihat dari hasil laboratorium trombositnya jauh dibawah standar dan kemungkinan ada infeksi karena kadar leukosit yang sedikit diatas batas normal.
Sehingga dokter menyarankan agar pasien menjalani perawatan di rumah sakit.
Xander dirawat diruang perawatan dengan fasilitas terbaik di rumah sakit.
Alex datang diikuti Robert dan Choki tak lama setelah Xander tertidur akibat obat yang tadi diberikan dokter.
Sandra menjelaskan tentang penyakit yang diderita putranya.
Sore hari giliran Tante Terry yang datang menjenguk cucu keponakannya, setelah sebelumnya dijemput oleh Jonas putra semata wayangnya.
Natasha dan Oscar juga turut menjenguk, bahkan Natasha sempat menawarkan diri untuk menginap menemani Sandra yang menjaga putranya.
Tentu hal itu ditolak mentah-mentah oleh Alex sebagai papa dari Xander, bahkan lelaki itu mempersilahkan penjenguk putranya untuk pulang setelah pukul delapan malam agar remaja itu bisa beristirahat dengan tenang.
Rama dan Benedict beserta istri masing-masing datang menjenguk pada keesokan harinya.
Sementara Fernando hanya melakukan panggilan video, menyemangati remaja itu agar segera sembuh dari sakitnya, begitu juga dengan umi Fatimah.
Sore harinya giliran guru dan teman-teman Xander yang datang menjenguk.
Remaja yang sedari tadi terlihat kuyu, berkat kedatangan teman-temannya bisa tertawa meskipun masih terlihat lemas.
Dokter mengatakan jika Trombosit pasien perlahan naik, namun leukositnya masih tinggi sehingga tak bisa pulang cepat, apalagi tadi pagi Xander sempat muntah sekali.
Hari kedua dirawat, giliran Maria datang berkunjung, perempuan dengan penampilan khas biarawati membawakan keponakannya jus jambu yang dibuatnya sendiri.
Sebelum pulang, Maria mengajak Alex dan Sandra berbicara di koridor didepan ruang rawat.
Maria menyinggung soal keberangkatan ke Itali, perempuan itu menyarankan agar menunda perjalanan ke salah satu negara di Eropa itu.
Tapi Alex kekeh tidak akan membatalkan keberangkatannya, Maria dan Sandra jelas tau watak keras kepala dari lelaki itu.
Sehingga Sandra menyarankan agar dirinya dan Xander tak jadi ikut, namun hal itu ditentang oleh Alex, lelaki itu memintanya untuk tetap ikut, sementara Xander akan dijaga oleh Choki.
Hal itu jelas ditentang oleh kedua wanita itu, akhirnya dengan berat hati Alex menerima jika Tante Terry dan Jonas yang akan berangkat menggantikan Sandra dan putranya.
Hari keberangkatan menuju Itali, Sandra tak bisa mengantarkan ke bandara, Alex sempat merajuk padanya, benar-benar kekanakan.
Karena Jonas harus menggantikannya pergi ke Itali, alhasil Sandra mengambil alih pekerjaan lelaki itu sembari menjaga putranya, sementara pekerjaannya di kantor dihandle oleh Robert.
"ma, maafin Xander ya, gara-gara Xander sakit, kita nggak jadi jalan-jalan bareng papa, padahal kita udah merencanakan ini jauh-jauh hari,"cetusnya tiba-tiba.
Sandra yang tengah bekerja sambil menjaga putranya, menghentikan pekerjaannya, ia menghampiri remaja itu, "nggak masalah Xander, kita bisa ke sana saat liburan sekolah, jangan menyalahkan diri kamu sendiri,"
"tapi ma, papa pasti marah deh,"
"sejak kapan kamu peduli papa marah atau tidak?"
"ya nggak enak aja ma, udah tiga kali kita gagal ke sana,"
Sandra mengelus kepala putranya, "nggak apa-apa sayang, lain kali kita ke sana dan sekarang lebih baik kamu istirahat, mama kerja dulu ya,"ucapnya.
Tak lama, pintu ruangan diketuk, Natasha masuk bersama dengan dua orang yang sepertinya dikenalnya.
"Sasa, apa kabar Lo? Gue kangen banget,"ucap Vina sembari memeluknya, ia adalah sahabat Sandra semasa sekolah.
Dibelakangnya ada Toni yang sekarang menjadi suaminya.
Sandra hanya menjabat tangan lelaki yang dulu dekat dengannya.
"gue baik Vi, kata Asha Lo di Aussie, ceritanya mudik nih,"
"mama Yuli masuk rumah sakit, beliau kecelakaan, jadi gue sama Toni balik,"jelas Vina, "kata Asha anak Lo lagi di rawat?"tanyanya.
Sandra memperkenalkan Vina pada putranya sebagai teman sekolah.
Terlihat jelas jika sahabat lamanya terkejut dengan fakta bahwa anak remaja itu adalah putranya.
"Vi, entar gue mau jenguk mama Yuli dong,"pintanya.
"Ya udah ayo, mama pasti seneng banget deh, beliau sering nanyain lo,"
Setelah mengobrol sebentar, Sandra pamit pada putranya untuk menjenguk ibu dari sahabatnya, tak lupa menitipkan Xander pada suster yang berjaga.
Yuli senang dengan kedatangan sahabat putrinya yang sudah belasan tahun tak bertemu, namun beliau kecewa, karena Sandra tak berkunjung kerumahnya, padahal sudah beberapa tahun kembali ke ibukota.
Cukup lama Sandra mengobrol dan melepas rindu pada perempuan yang sudah dianggapnya sebagai ibu kedua kala sekolah dulu.
Sandra juga menceritakan tentang kedua orangtuanya yang telah berpulang.
Sekitar satu jam lebih Sandra berada di ruang rawat yang ditempati Yuli, ia memohon undur diri untuk menjaga putranya.
Vina mengikutinya, sahabat lamanya itu mengajaknya berbicara berdua, dan disinilah keduanya sekarang, di koridor tak jauh dari ruang rawat Xander.
"Sasa, sejujurnya gue kecewa banget sama Lo tau nggak? Lo pergi tanpa pamit, udah gitu kenapa Alex bisa nyari Lo? Bukan cuma sekali, dia berkali-kali datang ke rumah gue, cuman mau memastikan kalau gue nggak ngumpetin elo,"ungkap Vina.
Helaan nafas terdengar dari istri Toni itu, "Sa, Xander itu anaknya Alex kan?"tanyanya.
Sandra hanya menjawab dengan anggukan.
"Lo kenapa nekad banget sih? sorry bukannya gue mau menghakimi elo, tapi ini Alex loh Sa, ya ampun Sasa, Lo tau bahkan saking brengseknya dia, beberapa teman kampus gue, di PHP in sama dia,"
"itu masa lalu Vi, sekarang Alex nggak gitu kok,"bela Sandra.
"oke jika itu masa lalu, tapi bagaimana keyakinan kalian? Asha sering cerita tentang temen-temennya sepeninggal elo dulu, karena gue temen cewek satu-satunya,"
"egh... Sasa, kenapa Lo milih jalan yang sulit buat hidup Lo sih?"
Sandra menunduk, ia tau dirinya memang salah, tapi ia juga tidak ingin hidup seperti ini.
Vina memegang pundak ibu satu anak itu, "sorry ucapan gue mungkin nggak enak didengar, tapi ini karena gue peduli sama Lo, gue pengen Lo bahagia,"
Sandra menoleh, matanya berkaca-kaca, "gue tau Vi, Lo sayang sama gue, maaf ya gue mengecewakan elo," kedua sahabat itu saling berpelukan sebelum kembali ke kamar rawat masing-masing.