How To Marry You ?

How To Marry You ?
tiga puluh dua



Pagi-pagi sekali, Alex dan Sandra mengantar Xander ke sekolah menggunakan taksi, mobil milik Alex ada di kantornya dan motor Sandra ada di apartemen.


Tempat Xander bersekolah terletak di gang yang hanya bisa dilalui satu mobil.


Alex dan Sandra bahkan mengantarkan bocah itu hingga ke kelas, juga menyapa teman-teman sekelas Xander.


"Nanti pulang sekolah papa yang jemput ya!"pesan Alex sebelum berpisah.


Xander tersenyum cerah, bocah itu terlihat senang.


Karena Sandra sudah tak sakit lagi, wanita itu memutuskan untuk mulai bekerja hari ini, dari rumah Alex, ia sudah mengenakan pakaian formal untuk bekerja.


"Hari ini aku mau bilang ke Mbak Mega, kalau aku mau minta dipindahkan kembali ke bagian administrasi,"ucap Sandra ketika keduanya dalam perjalanan menuju kantor.


Alex yang sedang mengecek email yang masuk di ponselnya, langsung menoleh, "kenapa tiba-tiba begitu?"tanyanya.


"bukannya kamu yang nggak mau lihat wajah aku,"jawab Sandra mengingat ucapan Alex tempo hari.


"Ayolah Sandra, waktu itu aku hanya sedang emosi, jangan dianggap serius,"ujar Alex keberatan.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Lakukan seperti biasa,"


"Baiklah,"sahut Sandra tersenyum kecil.


Alex langsung menuju lantai tujuh tempat tinggalnya, sedangkan Sandra mampir ke kantin untuk mengambil sarapan pesanan Alex.


Gedung masih sepi hanya petugas cleaning service dan Kantin juga security yang berjaga, Sandra segera naik ke lantai tujuh untuk mengantarkan sarapan untuk Alex.


Begitu memasuki tempat tinggal Alex, ia mendapati lelaki itu sedang berada di meja makan, lelaki itu sedang bekerja dengan laptopnya.


"Kamu nggak ganti baju? bukankah sedari kemarin kamu memakai kemeja itu?"tanya Sandra sambil menyajikan sandwich pesanan lelaki itu.


"tinggal sedikit lagi, kamu makan aja duluan,"


"apa kamu sudah menyiapkan pakaian yang akan kamu kenakan?"


Alex hanya menggeleng, sepertinya lelaki itu sedang fokus bekerja.


Sandra memasuki ruangan yang berisi pakaian milik bosnya, ia membantu memilihkan kemeja serta jas yang akan dikenakan lelaki itu, termasuk jam tangan juga dasi.


Sedang asik memilih dasi, Sandra dikejutkan dengan tangan yang melingkar diperutnya,


"serius banget, aku panggil sampai nggak denger,"bisik Alex, tepat ditelinga wanita itu.


"kamu ngagetin aja,"sahut Sandra masih memilih dasi yang cocok untuk dikenakan bosnya.


Alex masih memeluknya, "Sa, kayaknya udah lama deh kita nggak melakukannya,"


"bukannya kamu yang tidak menginginkannya, kamu bahkan tidak mau melihat aku,"


"kenapa diungkit sih, oke aku minta maaf, tolong jangan dibahas lagi,"


Alex membalik tubuh Sandra ia langsung mencium bibir yang berhari-hari ia rindukan,


Rasanya luar biasa, hanya dengan ciuman, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan diperutnya.


Sandra membalas ciuman itu, ia mulai satu persatu membuka kancing kemeja milik lelaki dihadapannya.


Alex terlebih dahulu melepas tautan itu, ia melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, waktu sudah menunjukan pukul tujuh lebih lebih sepuluh menit, "masih ada waktu satu jam lima puluh menit sebelum kita bekerja,"


Setelah mengatakannya, Alex memulai aksinya, keduanya mulai larut dalam gairah.


Seperti biasa, tak peduli apapun yang terjadi diluar sana, tentang status yang diantara salah satunya.


Tak peduli perbedaan yang ada, atas nama cinta, mereka melakukannya lagi dan lagi.


Sedari dulu hingga sekarang, cinta membutakan keduanya, seolah tak peduli apapun resiko yang mungkin harus mereka tanggung di masa depan.


Ranjang milik Alex menjadi saksi betapa panasnya permainan keduanya.


Selain karena rasa cinta yang begitu menggebu-gebu, gairah membara dan adanya seorang putra, membuat Alex tak akan melepaskan wanita yang tengah dalam kendalinya.


Sedikit lagi Alex meraihnya, ia mempercepat gerakannya hingga ia berhasil mencapai puncaknya, "ah......"tak lupa berterima kasih dan membisikan kata cinta untuk wanita yang paling dicintainya.


Beberapa saat kemudian,


"Kenapa manyun? Kamu mau lagi?"tanya Alex ketika keduanya sedang sarapan sandwich usai melakukan olahraga pagi.


"Apa kamu tidak lelah Alex?"tanya Sandra balik.


Lelaki itu tersenyum namun terlihat menyebalkan di mata Sandra.


"Seperti yang kamu lihat, aku lebih bersemangat memulai hari,"jawabnya.


"Tapi aku lemas,"keluh Sandra.


"Kamu tidur aja, nggak usah kerja dulu,"ujar Alex menanggapi.


"mana bisa begitu, kasihan Jonas, pekerjaannya pasti sudah menumpuk,"


"tidak usah memaksakan diri Sasa Sayang, aku nggak mau kamu sakit lagi,"


Sandra mengangguk, ia menghabiskan sisa potongan sandwich miliknya.


"Aku minta kamu segera berbicara pada Ferdi, aku mau kamu bercerai dengan dia,"pinta Alex tiba-tiba.


"tidak semudah itu, apa alasannya aku bercerai?"ujar Sandra.


"Ferdi selingkuh,"sahut Alex.


"bukankah aku juga sama, aku yang telah bersuami berselingkuh dengan pacar sekaligus cinta pertama aku,"


"Lalu apa kamu akan tetap seperti ini?"tanya Alex mulai kesal.


Sandra menaikan bahunya, "Biar waktu yang menjawab,"jawabnya.


"Oke terserah kamu, aku beri waktu, kamu selesaikan urusan dengan Ferdi, jika tidak Xander akan aku ambil alih, kamu tau bukan, hal seperti ini mudah bagi aku?"Alex memberikan peringatan.


"kamu mengancam aku?"


"Terserah ini kamu sebut ancaman atau tidak, yang jelas aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, kamu lebih mengetahui aku seperti apa melebihi siapapun,"


Setelah mengatakannya, Alex bangkit dan berjalan menuju kamarnya.


Sementara Sandra menghembuskan nafasnya kasar, sesungguhnya dirinya dilema, antara harus menuruti pesan mendiang kedua orang tuanya untuk tidak berpisah dengan Ferdi apapun yang terjadi, atau menerima tawaran dari lelaki yang dicintainya sekaligus ayah kandung dari putranya.


Rasanya ia ingin lari saja, tapi itu tak mungkin, Alex tak akan melepaskannya begitu saja, apalagi hal yang dimiliki lelaki itu membuatnya dengan mudah akan menemukannya.


Sandra bangkit, lalu berjalan menuju kitchen sink untuk mencuci piring dan gelas bekas sarapan.


Tak berselang lama, Alex datang lengkap dengan setelan jasnya juga tas kerja berwarna hitam.


Bos dan sekertaris itu turun menuju lantai enam, sudah ada Jonas yang sedang duduk di mejanya.


Senyum ramah menyambut kedatangan kedua orang itu,


"Hari ini, kamu yang mendampingi saya bertemu klien nanti siang, Sandra biar di kantor saja,"ucap Alex pada Jonas.


Meskipun sepupu, jika sedang jam kerja, keduanya akan berbicara formal layaknya atasan dan bawahan, "baik pak, mengenai jadwal, sudah saya kirimkan ke email baru saja,"sahut Jonas.


Sepeninggal Alex masuk kedalam ruangannya,


"Untung Lo masuk mbak, ya ampun gue nggak bis bayangin kerjaan gue kalo Lo nggak masuk lagi,"tutur Jonas.


"sorry, kemarin gue pusing banget, kepala nyut-nyutan,"sahut Sandra merasa tak enak pada rekannya.


Jika tidak ada Alex keduanya berbicara layaknya teman.


"Sebenernya Lo kenapa sih mbak? lagi perang dingin sama Abang? Tapi tadi gue liat udah akur, kemarin abis ketemu klien, Abang minta diantar ke apartemen Lo mbak, kayaknya khawatir gitu,"


"Iya kemarin dibawain buah segala, gue jadi nggak enak, makanya sekarang mau nggak mau gue harus masuk,"


"biarpun kepala batu, tapi Abang perhatian sama orang terdekatnya kok, yang penting kita sabar-sabar menghadapinya,"


Sandra menunjukan jempolnya, keduanya mulai bekerja.