
Natasha menyusul Sandra dan putranya yang sedang menunggunya di lobby,
"Jadi kita mau cari hotel disekitar sini atau gimana? Udah malem banget Sa?"tanya Natasha sembari duduk di sofa,
"Menurut Lo gimana sha? Mendadak pikiran gue buntu, badan gue juga udah capek banget,"jawab Sandra.
"Mending kita tidur disini dulu, mengenai besok, kita bisa pikirin sama-sama, gue juga udah ngantuk dan capek banget,"
Akhirnya ketiganya sepakat kembali ke kamar yang mereka sewa di resort itu, dan berharap tidak bertemu dengan lelaki brengsek itu.
Usai membersihkan diri secara bergantian, mereka mereka merebahkan diri di ranjang, Sandra bersama Natasha, sedangkan Xander di ranjang tersendiri, kebiasaan ketiganya ketika traveling.
Lewat tengah malam, Sandra tak kunjung memejamkan matanya, ia tak bisa tidur, meskipun rasanya lelah fisik maupun psikisnya.
Ia masih tak habis pikir dengan apa yang tadi dilihatnya, ia tak menyangka Alex mengkhianatinya, ia pikir lelaki itu berbeda dengan mantan suaminya, ternyata sama saja, apa ini yang disebut tabiat?
Sandra tau, sedari dulu Alex memang dekat dengan beberapa wanita sebelum bersama dengannya, dan lelaki itupun mengakuinya, hanya sebatas dekat, jalan atau makan bersama, tapi tidak sampai tidur.
Lalu setelah pertemuan mereka kembali, Sandra juga tau jika Alex sering menyewa anak buah mami Belinda untuk melampirkan hasratnya sebelum bertemu dengannya, namun setelah lebih dari dua tahun pertemuan mereka kembali, ini pertama kalinya ia melihat lelaki itu mengkhianatinya.
Kecewa dan sakit hati tentu saja, ia tak memungkiri jika dirinya cemburu, rasanya ingin menangis meraung-raung, tapi ia tidak mau Xander melihat dirinya yang terpuruk, itu akan membuat Alex semakin dibenci oleh putranya sendiri, mau bagaimanapun kelakuan lelaki itu, dia adalah ayah kandung Alexander.
Sandra menghela nafas lelah, sedari tadi ia berfikir, apa yang harus dilakukannya setelah ini?
"kenapa belum tidur? Lo masih kepikiran cowok brengsek itu?"tanya Natasha dengan suara seraknya.
Sandra melirik sekilas pada sahabatnya, "mata gue susah merem, padahal rasanya capek banget,"keluh wanita beranak satu itu.
Natasha menyentuh pundak sahabatnya, "Lo boleh nangis Sa, gue tau dari tadi Lo pengen nangis, tapi nggak enak sama Xander, seenggaknya kalau Lo nangis, Lo sedikit lebih lega, jangan dipendam,"
"Sha, ke bar yuk, kali-kali gue pengen mabok, berharap ini mimpi, rasanya sakit banget sha, ini kali kedua gue dikhianati,"ujar Sandra mulai terisak,
Natasha bangkit, lalu mengajak sahabatnya keluar menuju balkon, ia tak akan membiarkan Sandra salah jalan, tak lupa membawa selimut tebal untuk melindungi keduanya dari hembusan angin malam samudra.
Keduanya duduk di sofa secara berdampingan, tak lupa tadi menutup pintu balkon.
Sandra mulai menangis, rasanya sedih sekali, berbeda dengan pengkhianatan Ferdiansyah dulu, kali ini rasanya hatinya begitu sakit, mungkin karena dengan Alex, ia benar-benar mencintai lelaki itu.
Natasha hanya diam membiarkan sahabatnya melampiaskan tangisan yang sedari ditahan.
Puas menangis Sandra mulai membuka suara tentang apa yang ia rasakan, meskipun dengan ucapan yang beberapa kali terhenti karena ia masih sesenggukan.
"Makasih ya Sha, seenggaknya gue merasa lebih baik,"
"sama-sama sa, Lo kan sahabat gue, apapun yang terjadi gue bakal pasang badan buat Lo, lalu apa rencana Lo setelah ini?"
Sandra menghela nafas, "gue bingung Sha, gue belum bisa mikir, kepala gue pusing,"
"kalau emang Lo mau keluar dari rumah Alex, Lo bisa tinggal lagi di rumah gue, begitu juga dengan kerjaan, setau gue bukannya Alex udah mengalihkan sahamnya jadi atas nama elo, dengan kata lain Lo bisa bantu Oscar mengelola manajemen rumah sakit, gue yakin Ben dan Nando pasti setuju, apalagi tau alasan Lo mundur dari kerjaan Lo!"
Sandra memegangi kepalanya yang rasanya mau pecah memikirkan kelanjutan hidupnya.
"Lo tenang aja Sa, Alex nggak mungkin berani macem-macem kalau ada Ben disini, dia nggak bakal nekad ngacak-ngacak rumah sakit buat bawa Lo balik,"
Sandra memilih mengangguk, sepertinya ia harus memikirkan saran dari sahabatnya, toh Alex masih sebulan lagi berada disini.
"Gimana udah lega? kalau udah mending kita tidur aja ya! gue ngantuk banget,"
Sandra mengangguk, lalu keduanya masuk kembali ke dalam kamar melanjutkan tidur mereka.
Tadi ia mengobati lebam-lebam diwajahnya sendiri, ia tak mau diberi pertanyaan bertubi-tubi oleh bawahan sementaranya.
Ia juga telah melacak keberadaan kekasih dan putranya, ia sedikit lega setidaknya mereka masih dalam jangkauannya.
Ia tau dirinya salah, ia juga mengerti jika mereka marah padanya, tapi meskipun begitu ia tak akan membiarkan mereka meninggalkannya, apapun caranya ia akan membuat kedua orang yang paling berarti dalam hidupnya selalu berada disisinya, masa bodo dicap lelaki tak tau diri.
Keesokan paginya Alex terbangun setelah Bagus membangunkannya, kepalanya terasa berat, ia melihat jam yang melingkar ditangannya, ia mengumpat pelan, waktu menunjukan pukul sebelas siang.
"kenapa gue nggak dibangunin sih? jadi kesiangan kan,"keluhnya.
"Gue udah bangunin bang, tapi Lo susah dibangunin,"balas lelaki dengan setelan formal itu.
Alex bangkit lalu duduk disisi ranjang, memeriksa ponselnya sejenak, semalam ia mengirimi Sandra pesan, memintanya bertemu untuk menjelaskan, tapi tak ada tanggapan apapun, bahkan pesannya tak dibaca, padahal waktu onlinenya sepuluh menit yang lalu.
Ia memeriksa keberadaan wanita itu, terlihat dilayar ponselnya, jika kekasihnya sedang berada disalah satu pantai di timur pulau ini, ingin rasanya menyusul, tapi ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Malam harinya, Alex sengaja menunggu Sandra di lobby, ia tau jika wanita itu belum cek out dari kamar yang disewa, bahkan tadi dirinya sempat masuk untuk mengecek barang bawaan kekasihnya.
Meskipun itu melanggar aturan, tapi ia tidak peduli, toh penghuni kamar itu adalah kekasih, anak dan sahabatnya.
Alex bangkit dari duduknya ketika melihat kedatangan ketiga orang yang ditunggunya sedari tadi.
Sayangnya tawa Ketiganya terhenti ketika Alex memanggil salah satu dari mereka.
"Sandra, aku minta waktu bicara berdua sama kamu,"ucapnya sembari menghampiri kekasihnya.
Alex bisa melihat putranya hendak bersiap menyerangnya tapi ditahan oleh Sandra,
"Sha, ajak Xander ke kamar dulu,"
Natasha mengangguk sambil menggandeng tangan remaja yang tingginya sudah melebihi gadis itu.
Awalnya Alex hendak mengajak Sandra ke kamar, namun ditolak mentah-mentah oleh wanita itu, akhirnya keduanya duduk di bangku panjang tak jauh dari pantai.
Alex membawakan air mineral untuk kekasihnya sedangkan untuk dirinya, ada tiga kaleng bir serta camilan.
"Sebelumnya aku minta maaf, aku tau kamu sakit hati gara-gara kelakuan aku, kamu berhak marah, mencaci aku atau memukul aku, tapi aku minta jangan pernah tinggalkan aku, kalau kamu mau minta waktu, aku kasih waktu kamu sebulan, untuk kita break, tapi sekembalinya Nando, aku minta kita bersama kembali, terkesan egois, tapi aku benar-benar takut kehilanganmu, kamu tau bukan rasa cintaku sebesar apa sama kamu,"ungkap Alex mulai membuka percakapan.
Sandra masih diam mencerna setiap kata yang terucap dari mulut lelaki disebelahnya.
"Sa, dia mantan teman kencan aku waktu kuliah, beberapa kali aku tidur dengan dia, aku dan dia tidak sampai jadian, hanya bersenang-senang aja, kamu tau bukan hanya kamu satu-satunya pacar aku, kamu bisa tanya Asha atau yang lain, aku tidak pernah mencintai satu wanita pun selain kamu seumur hidup aku Sasa, hanya kamu satu-satunya pemilik hati aku, jadi tolong jangan pernah ada niatan kamu untuk pergi dari aku lagi, lebih baik aku mati, dari pada harus kehilangan kamu lagi,"
Sandra menghela nafas, rasanya pikirannya lelah, memikirkan perbedaan keyakinan diantara mereka meskipun setahun lalu ada niatan lelaki itu untuk mengikuti keyakinannya tapi nyatanya, hingga detik ini tak ada kejelasan status mereka, setau dirinya, Alex masih dengan keyakinan yang dianutnya, buktinya sebelum ujian kelulusan putranya dari sekolah dasar, lelaki itu masih merayakan hari raya yang biasa terjadi di hari Jum'at bulan April.
Sandra meminum air mineral yang tadi diberikan oleh lelaki disebelahnya, sepertinya ia harus memutuskan apa yang menurutnya baik untuk mereka.
Tentang Cinta, tentu saja, Sandra benar-benar mencintai Alex, tapi secara logika, bukankah sebuah hubungan harus bermuara dengan satu titik, yaitu pernikahan.
Selama menjalani hubungan beberapa tahun ini, terkadang Sandra merasa berdosa, ia sadar betul hubungan intim yang sering dilakukan antara dirinya dan kekasihnya itu dihukumi dosa besar di keyakinan yang dianutnya.
Mungkin kejadian ini adalah teguran dari sang pencipta padanya, untuk itulah seharian ini ia berfikir matang-matang, juga meminta pendapat Natasha dan Siska melalu sambungan telepon, keduanya mendukung apapun keputusan yang akan ia ambil.
Sekali lagi Sandra menghela nafas, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah keputusan terbaik untuk ia dan lelaki itu.
"Alex, aku minta, kita akhiri hubungan ini, dan mengenai Xander kamu bisa besarkan sama-sama, lalu sepulang dari sini aku akan angkat kaki dari rumah dan kantor kamu,"setelah mengatakan hal itu, Sandra bangkit dan meninggalkan lelaki yang terpaku ditempatnya usai mendengar ucapannya.