
Beberapa hari kemudian.
Sandra memberikan berkas yang harus ditandatangani oleh atasannya, ia berencana akan meminta ijin meminjam mobil yang biasa dipakainya untuk pulang ke kampung halamannya.
Namun sepertinya, rencananya harus tertunda dulu, "Sa, lusa ikut ke Lembang yuk, ajak Xander sekalian,"ucap Alex sambil memberikan berkas yang sudah diperiksa dan ditandatanganinya.
"Emang ada apaan?"tanya Sandra, mode kekasih berubah seketika.
"si Ayu ngambek sama Ben, cuman gara-gara transfer duit ke adiknya, padahal niatnya baik, tapi Ayu mikir yang enggak-enggak, ceritanya Ben mau ngadain Family gathering di cafe, kali aja Ayu bisa luluh,"jelas Alex.
"Asha ikut nggak?"tanyanya.
"kemarin bilangnya nggak bisa ikut, nggak tau kenapa,"
"Ya udah aku nggak ikut, aku mau istirahat aja di rumah."
"serius nggak mau ikut,"
"Iya, aku mau di rumah aja,"
"Oke,"
Di hari yang ditentukan, Sandra bersama Xander mengantarkan Alex menuju cafe tempat berkumpulnya peserta family gathering, tapi dirinya tak ikut turun dari mobil, tidak enak pada sahabat yang lain.
Setelah mengantarkan Alex, Sandra bertolak ke rumah sakit, untuk menjenguk Ferdiansyah.
Kedua mantan mertuanya masih berada di sana untuk menjaga lelaki itu.
Seluruh biaya rumah sakit, juga hotel tempat pasangan paruh baya itu menginap, semuanya ditanggung oleh Sandra.
Kebetulan saat dirinya datang, dokter sedang visit memeriksa pasien,
Dokter mengatakan jika beberapa hari lagi Ferdiansyah akan diperbolehkan pulang.
Belum sempat Sandra mengutarakan pendapatnya, Inah berucap, "sebaiknya Ferdi dibawa ke Semarang aja nduk, disini kamu kan sibuk kerja, sepertinya sulit untuk merawat suamimu,"
"Iya Bu, Sandra juga sebenarnya mau ngomong begitu, cuma nggak enak sama ibu, Sandra harus bekerja dan mengurus Xander,"
Inah menepuk pelan lengan menantunya, "maaf ya nduk, harusnya Ferdi yang cari uang, ini malah kamu yang jadi tulang punggung keluarga, nanti kalau suamimu sudah sembuh, gantian dia yang kasih kamu nafkah,"
"iya Bu, nanti tiap bulan Sandra usahakan mengirim uang buat mas Ferdi, maaf merepotkan ibu, harusnya ini kewajiban Sandra,"
"Yang namanya rumah tangga yang begini, saling bantu biar bisa awet terus,"
Selanjutnya hanya obrolan ringan tentang kesembuhan Ferdiansyah.
Pasangan paruh baya itu mengatakan ingin ke kantin untuk membeli sarapan, mereka mengajak Xander.
Sepeninggal ketiganya, Ferdiansyah mengajak Sandra berbicara,
"Sandra, bisa tidak perceraian kita ditunda dulu, setidaknya sampai aku sembuh,"cetus lelaki itu.
Hembusan nafas kasar dari mulut Sandra menandakan wanita itu sepertinya malas menanggapi, "Tinggal sekali sidang kok, akta perceraiannya akan keluar, kenapa mesti ditunda?"
"keadaan aku kayak gini, masa kamu tega sih?"
"Mas, kamu juga tega ninggalin aku buat selingkuh dengan wanita itu, apa mau aku sebutkan kesalahan fatal kamu satu persatu,"
"Setidaknya sampai aku sembuh, aku mohon,"
Sandra membuang nafasnya kasar, ia berusaha tenang, ia harus menahan amarahnya.
Bukan hanya tentang hubungannya dengan Alex tapi, tentang perlakuan lelaki itu terhadap dirinya dan putranya yang menurutnya keterlaluan.
Bilang cinta tapi terus menerus menyakiti bahkan mengkhianati.
"akan aku pikirkan, yang jelas aku sudah tidak mau kembali sama kamu,"
Setelahnya, Sandra memutuskan untuk keluar dari ruang rawat, dan duduk di kursi koridor menunggu putranya.
Ia memang telah memaafkan lelaki itu tapi tidak dengan kembali bersama.
Beberapa hari berlalu, Sandra mengajukan cuti selama dua hari, ia meminta ijin pada Mega,
Sandra yang sudah menjadi karyawan tetap tentu boleh mengambil cuti tahunannya,
Tinggal satu yang membuat dirinya kepikiran, ia harus meminta tanda tangan Alex yang merupakan atasannya,
Sandra memberanikan diri, mau tak mau, dirinya harus melakukannya, sebelum masuk ruangan bosnya, ia menghela nafas, meyakinkan dirinya jika ia mampu.
"Maaf pak Alex, saya minta ijin mengajukan cuti,"ucapnya sambil menyodorkan selembar kertas yang sudah ditandatangani oleh Mega.
Alex yang tengah bekerja menghentikan kegiatannya, ia mengambil kertas itu lalu membacanya, "kok di rumah kamu nggak bilang, emang mau kemana?"tanyanya.
Sandra berusaha tetap tenang, "saya mau pulang kampung, saya ingin bertemu dengan saudara saya,"jawabnya.
Alex melihat kembali tanggal dimana Sandra mengajukan cuti, "ini pas Ben mau nikah, kamu nggak bisa datang? Padahal Ben sahabat kamu juga loh,"
"Aku benar-benar minta maaf, tapi aku udah janjian sama saudaraku, aku nggak enak, lalu apa aku boleh bawa mobil ke sana, kalau nggak boleh juga nggak apa-apa,"ucapnya tak enak.
Alex bangkit dan menghampiri kekasihnya, ia memegang kedua sisi wajah wanita yang dicintainya, "Sasa sayang, semua yang aku punya, adalah milik kamu juga, jadi pakai aja, aku senang kalau kamu menggunakannya,"
Sandra memegang tangan lelaki itu lalu mengecupnya, ia tersenyum sambil berucap terima kasih.
"Tapi sebelum itu kita kan nggak ketemu selama empat hari, jadi aku minta kita habiskan waktu bersama beberapa malam sebelum kamu berangkat,"
"kamu kan sibuk,"
"aku akan menyempatkan diri, aku pasti akan merindukan kamu,"
"Ya ampun Alex, aku cuman empat hari perginya, kamu aja bisa tahan selama sepuluh tahun,"
"Kan beda, pokoknya aku minta waktu kamu, soal Xander biar sementara tinggal bersama Tante Terry, beliau pasti suka,"
"aku nggak mau merepotkan Tante Terry, beliau sudah sering menjaga Xander kalau kita sibuk,"
"Sasa sayang, tante Terry justru senang dengan hadirnya Xander, katanya rumahnya jadi nggak sepi,"
"Ya udah kalo gitu,"
Keduanya berciuman dulu sebelum bekerja kembali.
Sandra mengirimi pesan pada Natasha, memberitahukan rencananya untuk pulang ke Semarang.
Gadis itu memintanya untuk bertemu sepulang kerja nanti, katanya ada yang ingin dibicarakan dengannya.
Keduanya bertemu sepulang bekerja di rumah sakit tempat dimana Ferdiansyah di rawat.
Sandra dan Xander menunggu Natasha di lobby rumah sakit, tak lama gadis yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu datang.
"Tumben sore Lo nganggur? Biasanya lagi sibuk di ruang operasi,"tanya Sandra begitu melihat kedatangan sahabatnya.
"Ada dokter baru, jadi kerjaan gue agak ringan, lagian kan gue mau cuti lima hari,"
"Serius Lo mau anterin sendiri mas Ferdi?"tanya Natasha.
"Ya bener lah masa bohong, lagian Alex udah ngasih ijin,"jawab Sandra.
"Tapi sebenarnya Alex nggak tau alasan Lo pulang kampung kan?"
"Ya nggak mungkin gue kasih tau, bisa repot entar,"
"Jadi gini Sa, kebetulan sepupu gue dari pihak ibu ada yang nikah, Sabtu depan, maksud gue mending kita bareng aja ke Semarang, jadi kita bisa gantian nyetirnya,"usul Natasha.
"berarti Lo nggak Dateng nikahan Ben sama Ayi dong!"
"Ya gimana lagi, awalnya kan nggak tanggal segitu, ayu pake acara ngambek segala, kan jadi batal, tapi gue udah ngomong sama Ben sih, untung dia nggak marah,"
"Ya udah kita jalan Kamis malam, sepulang gue kerja,"
"Pake mobil Alex aja, mobil gue nggak muat,"
"Iya, gue udah ngomong tadi,"
Sandra menyempatkan menjenguk Ferdiansyah dengan mengajak Natasha dan Xander.
Ia juga mengenalkan Natasha sebagai sahabatnya yang nantinya akan turut serta mengantar Ferdiansyah.
Usai magrib mereka meninggalkan rumah sakit, menuju tempat tinggal masing-masing.