How To Marry You ?

How To Marry You ?
dua puluh empat



Sandra benar-benar gila sekarang, bagaimana mungkin dirinya dengan mudah menerima tawaran dari bos sekaligus cinta pertamanya.


Harusnya dirinya sadar tentang statusnya, ia perempuan bersuami, bisa-bisanya dirinya bersedia tidur dengan lelaki lain, demi mendapatkan kompensasi kelonggaran waktu istirahat makan siang dan lembur di sore hari.


Sia-sia sudah pendidikan agama yang didapatnya dari keluarga besarnya.


Seperti tak cukup dengan kelahiran Xander yang membuat ayahnya marah besar dan membuat ibunya sakit-sakitan.


Mungkin jika keduanya masih hidup mereka akan sedih dengan kelakuan putri satu-satunya.


Sekali lagi Sandra menepis semua pemikiran itu.


Bagaimanapun hidupnya sekarang bukan sepenuhnya salah dirinya, apalagi tentang suaminya.


Ia dijodohkan oleh Ayahnya dengan anak salah satu rekan satu kantor yang ternyata adalah senior di kampusnya.


Sandra tau kakak tingkatnya di kampus yang tak lain adalah Ferdiansyah diam-diam menyukainya.


Sejujurnya sedikitpun, Sandra tidak tertarik dengan lelaki itu, tapi sebagai anak yang berbakti akhirnya ia mau menerima lamaran Ferdiansyah.


Sedari awal pernikahan, suaminya menderita lemah syahwat, Sandra tak habis pikir, bagaimana mungkin laki-laki yang terlihat sehat itu menderita penyakit seperti itu.


Sehingga selama setahun pernikahannya dengan Ferdiansyah, lelaki itu tidak menyadari jika dirinya sudah tidak perawan bahkan pernah melahirkan.


Hingga suatu malam, Ferdiansyah tanpa sengaja mendengar percakapan Wijayanto dan Sri Mulyani tentang Xander, yang mengatakan bahwa bocah yang tadinya diakui sebagai anak bungsu mereka nyatanya adalah cucunya.


Ferdiansyah sempat marah besar, dan pergi dari rumah dengan alasan mendapatkan pekerjaan di ibukota.


Selama dua tahun, Sandra hanya dinafkahi sekadarnya,


Awalnya Sandra ingin mengajukan gugatan cerai, namun kedua orangtuanya menentang keras niatnya, mereka mengatakan jika ini semua akibat dirinya yang tidak bisa menjaga diri saat remaja.


Sandra menerima dengan lapang dada takdirnya.


Sudah beberapa hari ini suaminya tak kunjung pulang, setiap ia menghubungi, lelaki itu beralasan sedang berada diluar kota, ada event di sana.


Sandra tentu senang, itu artinya putranya bisa tidur di kamar yang nyaman.


Gosip tentang rencana kenaikan jabatan sebagai sekretaris Alex menggantikan Lolita, menyebar dengan cepat, seperti biasa ada yang mendukung ada juga yang meliriknya sinis.


Sandra tau resikonya, tapi ia tak peduli, baginya gaji dan fasilitas yang akan ia terima bisa menghidupi putranya dengan layak.


Gita sempat bertanya, dan ia menjawab, jika Alex sendiri yang menawarinya, mengingat mereka bersahabat dan sudah tau tentang kepribadiannya.


Gita terlihat percaya begitu saja dan tak lagi bertanya.


Sementara Celine mendadak mendiamkannya, beberapa kali Sandra tersenyum dan menyapa, tapi manajer keuangan itu mengabaikannya.


Tak masalah baginya, ia sudah kebal dengan pandangan sinis orang-orang apalagi sejak kehamilan tanpa suami.


Jalan hidup yang berliku membuatnya lebih kuat mental.


Waktu berlalu, staf administrasi penggantinya sudah ada, Sandra hanya mendampingi selama sehari, sisanya akan diserahkan pada Gita.


Arumi namanya, gadis yang baru saja lulus dari bangku kuliahnya.


Hari berikutnya Sandra mulai bekerja di meja sekretariat bersama Lolita.


Wanita yang akan menikah seminggu lagi, mengajarinya tentang pekerjaan sebagai sekretaris Alex.


Tak ada kendala apapun, Sandra cepat belajar sehingga Lolita dengan mudah mengajarinya.


Dari Lolita ia bisa tau tentang tingkah laku Alex.


Meski terlihat Ramah pada siapapun, Alex sebenarnya adalah orang yang tegas dan tak menerima sedikitpun kesalahan, lelaki itu perfeksionis, suka kebersihan dan kerapihan.


Sandra jelas tau itu, sedari masih bersamanya dulu, Alex adalah orang yang rapih dan selalu wangi.


Hari terakhir Lolita bekerja, wanita itu mengajaknya makan malam disalah satu restoran tak jauh dari kantor.


Tak mungkin Sandra menolak ajakan itu,


"Sandra, pesan gue, Lo mesti sabar menghadapi temperamen pak Alex, kalau udah ada tanda-tanda ngamuk, sebisa mungkin jauhkan dari benda-benda berbahaya, kayak gelas, piring, garpu, gunting pisau, soalnya kalau udah ngamuk, apapun bakal dilempar,"


Sandra mengangguk menanggapi ucapan Lolita.


"oh ya, gue lupa, jangan pernah pakai baju ketat, yang memperlihatkan bentuk tubuh Lo, bos benci banget sama perempuan yang sengaja godain dia,"


Lagi-lagi Sandra mengangguk.


"ini nggak sering sih, cuman kalau bos lagi uring-uringan doang, bos kadang minta sekretarisnya booking di tempat mami Belinda,"


Sandra mengernyit bingung, "siapa mami Belinda?"tanyanya.


"itu mucikari sekaligus pengelolaan tempat hiburan malam, ya gue nggak heran sih, yang namanya pak Alex kan laki-laki dewasa yang butuh pelepasan, berhubung beliau jomblo ya wajar dong dia nyari jal*Ng,"


Sandra terkejut mendengar ucapan Lolita, ia tak menyangka Alex menyewa jal*Ng.


Ada sedikit rasa sesak di dada Sandra.


"Kalau ada yang lo masih bingung, hubungi gue kapanpun,"


Dihari pernikahan Lolita, Sandra sempat hadir bersama Gita.


Sandra mulai resmi menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi lelaki itu.


Usai mengantarkan putranya bersekolah, Sandra harus tiba di lantai tujuh tempat tinggal bosnya tepat pukul tujuh pagi.


Saat dirinya datang, Alex sudah bangun dan tengah berolahraga di lantai delapan,


Tadi Alex sempat mengiriminya pesan, terkait apa yang harus dilakukannya.


Sesuai perintah atasannya itu, Sandra menyiapkan setelan formal lelaki itu, termasuk dasi dan jam tangan.


Sandra tak menyangka, sesuatu yang pernah dirinya lihat dalam drama nyatanya ada didepan matanya.


Ruangan berisi wardrobe dan aksesoris pendukung, seperti koleksi jam tangan mewah, dasi, sepatu, tas kerja dan yang lainya ada dalam satu ruangan khusus.


Ia tak menyangka, jika Alex sekaya itu, kalau dipikir-pikir bukankah, Alex hanya seorang pengacara muda, yang setahunya belum banyak kasus yang ditanganinya, kenapa bisa sekaya itu?


Belum lagi saat tempo hari Lolita menjelaskan mobil dan motor sport milik lelaki itu yang harus rutin mendapatkan perawatan dari bengkel langganan.


Kalau motor sport, dulu saat pacaran pun ia sering membonceng lelaki itu, tapi kalau mobil sport?


Selesai dengan ruangan itu, Sandra beranjak menuju dapur, di pintu kulkas ada menu sarapan yang harus ia buat setiap pagi.


Sarapan yang menurutnya tidak membuatnya kenyang,


Salad berisi sayuran dan ikan salmon mentah juga susu, Sandra sendiri tidak tau itu susu merk apa, ia hanya menyeduh sesuai takaran yang bisa ia lihat di toples kaca.


Baru selesai dengan urusan dapur, Alex turun dari lantai delapan, lelaki itu bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek juga handuk kecil yang melingkar di lehernya.


Melihat tubuh berotot lelaki itu, wajah Sandra memerah, namun berusaha mengendalikan ekspresinya.


"Sa, aku mau mandi dulu, bisa bantu aku?"


Mendengar itu Sandra mengernyit heran,


"Hanya memijat kepala saja, jangan berpikiran mesum,"ujar Alex sambil menyentil dahi asistennya.


Sandra mengangguk sambil menunjukan jempolnya.


"aku sarankan lepaskan blazer dan kemeja kamu, supaya tidak basah,"bisik Alex.


Mau tak mau Sandra menuruti, ia mengikuti bosnya menuju kamar mandi,


Sandra melepaskan kemeja dan celana panjang miliknya, menyisakan tank top juga celana pendek berwarna hitam.


Ia bisa melihat Alex yang sedang merebahkan diri di bathtub berisi busa sabun.


Sandra memulai pekerjaannya, ia mulai membasahi rambut lelaki itu, memberinya shampoo lalu memijatnya dengan lembut.


"Lex, boleh aku bertanya?"


Alex hanya berdehem.


"Sejak kapan hidup kamu seperti ini? Sarapan yang nggak bikin kenyang, apalagi ruangan khusus baju itu, kamu kayak bos yang aku lihat di Drama,"ungkapnya.


"em.. kalau untuk baju mungkin tuntutan profesi tapi kalau sarapan, semua gara-gara kamu,"tutur lelaki itu.


"kok aku?"tanya Sandra heran, ia sedikit tak terima disalahkan.


"ya kamu memang siapa lagi, kan kamu yang buat hidupku jungkir balik,"


"sudahlah lupakan,"ucap Sandra sambil mulai membilas rambut hitam lelaki itu.


"Sasa, kenapa tempo hari saat kita berhubungan intim rasanya sama seperti dulu kita melakukannya pertama kali? Bukankah seharusnya tidak seperti itu?"tanya Alex tiba-tiba.


"itu privasi, dan aku tak mau menjawab,"jawab Sandra yang tengah mengeringkan rambut lelaki itu.


Alex menghela nafas, tak mungkin wanita itu mau mengakui, sepanjang dulu ia berhubungan, bahkan ia tak tau nama lengkap, kekasihnya, bodoh bukan?


"Sasa aku menginginkannya sekarang,"cetusnya tiba-tiba.


Sandra yang langsung mengerti maksud lelaki itu menggeleng, "sebentar lagi jam kerja kita Alex,"tolaknya.


"kalau begitu jam makan siang nanti, kamu tidak boleh keluar,"ancamnya.


"mana bisa begitu, aku perlu menjemput putraku, lagian masih ada waktu empat hari ke depan,"


"tapi aku menginginkannya sekarang,"


Tau watak keras kepala lelaki itu, Sandra hanya bisa pasrah menurut, ia mulai menanggalkan kain yang menempel ditubuhnya.


"mau disini?"tanya Sandra.


Alex mengangguk seraya tersenyum lebar.


"tapi aku sudah mandi, masa mau mandi lagi,"


Alex mengangkat bahunya tak peduli.


Sandra mulai bergabung ke dalam bathtub, keduanya saling berciuman panas, tangan Alex tak bisa diam menyentuh di sana-sini.


Keduanya semakin terbakar gairah, tak peduli bagaimana diluar sana.


Tak cukup melakukannya di bathtub, keduanya melanjutkannya dibawah guyuran shower.


Tak ada yang tau jika di gedung perkantoran itu telah berlangsung kegiatan panas antara bos dan sekretarisnya.