
Sandra baru datang setelah menjemput putranya, sejak kejadian insiden antara dirinya dan Ferdiansyah, Alex menyuruhnya menggunakan salah satu mobil milik lelaki itu.
"Ben mana?"tanyanya.
"Lagi istirahat diatas,"jawab Alex, lelaki itu bangkit menghampiri putranya, "Xander kalau mau istirahat untuk sementara di kamar papa yang disini ya!"
Bocah itu mengangguk lalu mengeluarkan buku bersampul cokelat, untuk ditunjukkan pada Alex.
Kebiasaan Xander sepulang sekolah, ia akan mengerjakan PR nya sebelum istirahat, dan Alex akan mengajarinya.
"Mama kerja dulu bareng om Jonas ya!"Ujar Sandra.
Xander mengangguk menanggapi perkataan wanita yang dipanggilnya mama.
Sambil mengerjakan PR, bocah itu akan menceritakan apa yang dialaminya disekolah, sedangkan Alex mendengarkan juga menanggapi jika putranya meminta pendapatnya.
Kehidupan yang dulu ia impikan, memiliki anak dari Sasa-nya, membesarkan bersama-sama.
Sekarang hanya perlu membuat Sasa-nya resmi bercerai dengan Ferdiansyah dan setelahnya mereka akan menikah.
Pulang kerja biasanya, Alex akan bersama kekasih dan putranya, namun karena ada Benedict disini, mungkin ia tak akan pulang dulu, sepertinya akan ada pembicaraan tentang pekerjaan.
Sandra dan Xander baru pulang sejam yang lalu ketika Benedict baru turun dari lantai tujuh.
Rama dan Oscar juga telah datang ke kantornya, Natasha tidak bisa datang karena ada operasi darurat di rumah sakit, sementara Fernando masih sibuk mengurus resort yang ada di Bali menjelang akhir tahun.
"Ram, gue mau tinggal di kosan untuk sementara, kayaknya gue mau cobain fasilitasnya, terus gue mau pake motor buat kemana-kemana, lebih praktis keknya,"cetus Benedict saat keempatnya berkumpul sambil menikmati salah satu wine koleksi milik Alex.
Rama diam berfikir lalu melihat ponselnya, "ada nih Deket Kalimalang, Kalau lo mau, entar gue bilang ke yang jaga,"
"Ya udah gue mau yang itu, sekalian mau lihat pembangunan cluster di Bekasi,"
Rama mengangguk lalu mengutak-atik ponsel miliknya.
"Menurut kalian siapa yang duluan nikah?"tanya Oscar tiba-tiba sambil melihat ketiga sahabatnya secara bergantian.
Ketiganya saling pandang, lalu pandangan Alex dan Benedict tertuju pada Rama,
Yang dipandang justru melambaikan kedua tangannya, "bukan gue, sampai sekarang aja gue nggak yakin citra bakal jadi bini gue, kayak apa ya, Lo nih Lex diantara kita semua Lo mungkin bisa terangkan apa yang namanya jatuh cinta beneran,"jelasnya seraya melirik Alex yang ada disebelahnya.
"Kenapa gue?"tanyanya.
"Ya elo lah, karena cuman lo doang yang mau nunggu satu cewek hingga sepuluh tahun lebih dan tetep mau deketin meskipun itu cewek udah nikah, coba jelasin perasaan yang Lo rasain,"jawab Rama.
Alex berfikir, ia menggoyangkan gelas berkaki lalu meminumnya sedikit, "mungkin maksud Rama, perasaan berdebar-debar sama yang tadi gue omongin ke lo Ben?"
Ben menaikan bahunya,
Alex berdecak, ia tau bos sekaligus bosnya tak peduli dengan hal seperti itu, lelaki yang hanya tau tentang berkerja mana sempat memikirkan tentang percintaan.
"Gini, jadi saat lo ketemu cewek itu, rasanya kaya kesetrum, apa ya bahasanya, gue bingung jelasin, pokoknya intinya jantung berdetak lebih cepat, kadang sampai sesak, terus ada sisi hati yang mengatakan kalau Lo harus dapetin itu cewek, lo akan melakukan hal diluar kebiasaan, mendadak lo nggak bisa konsentrasi, karena yang ada di otak Lo, cuman itu cewek, lo juga jadi bego, dan karena kita udah dewasa, kejantanan bisa bangun hanya karena lihat itu cewek, padahal itu cewek cuman diam, tapi pikiran kita mendadak jadi ngeres, beda sama jal*Ng atau cewek lain kalau mau junior bangun harus di rangsang sampai segitunya bukan?"
"nah itu yang gue maksud, gue nggak ngerasain semua ke Citra, nggak ada tuh feeling kalau dia jodoh gue, terus setiap gue mau begituan, dia harus merangsang gue segitunya, baru bisa main,"
"mungkin Lo udah bosan kali ram, secara Lo udah hubungan sama dia dari SMA kan?"cetus Oscar.
"tapi gue nggak pernah ngerasain perasaan berdebar itu, ngerti nggak sih Lo! makanya gue masih bisa iseng ikut Dodo sama Alex,"
"itu dulu ya, sorry sejak ada Sasa, gue udah nggak gitu sekarang,"sangkal Alex.
"Ya ngapain gue sewa jal*Ng, ada Sasa yang bisa gue ajak bercinta ko!"jawab Alex dengan santainya.
Ketiga sahabatnya mengumpat secara bersamaan,
"Bini orang Alex, gila Lo!"ujar Benedict usai mengumpat.
"parah Lo, udah gitu Sasa mau lagi, kan jadi sama-sama bego,"giliran Oscar berucap.
"nah itulah yang gue bilang, cinta bikin orang pinter mendadak bego, lo bertiga jangan protes, entar kalau udah ngerasain sendiri baru tau rasa, terutama Lo Ben,"
"kenapa gue?"
"bukan Lo doang sih Nando juga, Lo berdua yang paling pinter diantara kita berenam, tapi gue yakin pas Lo berdua jatuh cinta, lo bakal mengorbankan segalanya buat dapetin itu cewek, otak mendadak buntu ya pokoknya apa yang gue alami bakal dialami juga sama kalian, jadi sekarang jangan pada nyalahin gue dan gue minta jangan panggil Sasa, itu khusus panggilan sayang dari gue, Lo semua panggil cewek gue Sandra,"
Lagi-lagi ketiganya mengumpat,
"posesif gila,"cetus Benedict.
"Lo bakal lebih posesif dari gue, jadi jangan ngatain gue, ketulah baru tau rasa Lo!"
Keempat masih membahas hal-hal yang saat ini hanya dialami oleh Alex saja, dan berpindah ke lantai tujuh untuk beristirahat pada dini hari.
Keesokan paginya disisi lain, Sandra mengantarkan putranya ke sekolah dengan mengendarai salah satu mobil milik Alex.
Semalam lelaki itu menghubunginya, jika dia sedang minum-minum bersama teman-temannya di kantor, dan tak akan pulang, karena akan menginap di sana.
"Papa menginap di kantor ya ma?"tanya Xander saat keduanya dalam perjalanan menuju sekolah.
"Iya, mereka sudah lama nggak ngumpul,"jawab Sandra sambil mengemudi.
"Apa aku kalau punya sahabat akan seperti papa dan teman-temannya?"
"mungkin saja, mereka sudah berteman sejak SMA hingga sekarang, mama juga berteman dengan sahabat papa,"
"wah, Xander ingin punya sahabat seperti papa,"
"jadilah anak yang baik dan saling menghargai sahabat kamu, maka pertemanan kalian akan langgeng,"pesan Sandra pada putranya.
Mobil parkir di minimarket, dengan berjalan kaki Sandra masuk ke dalam gang tempat putranya bersekolah,
Sandra juga berpesan akan menjemputnya nanti siang, sedangkan Xander mengangguk lalu menyalami tangannya dan mengucapkan salam.
Di tengah perjalanan menuju kantor, ponsel Sandra berdering, Alex menghubunginya,
"Ya, Alex ada apa?"
"kamu lagi dimana?"
"lagi dijalan, ini mau ke kantor, ada apa?"
"aku minta tolong ambilkan mie ayam ditempat kita biasa beli waktu masih sekolah, bilang aja pesanannya Alex, aku udah telpon bapak yang jual, aku pesan sekalian buat penghuni lantai enam,"
"oke, ada lagi?"
"kamu hati-hati dijalan, love you!"
Sandra berdehem lalu mengakhiri panggilannya, ia mengemudikan mobilnya ke tempat yang diminta oleh atasannya, sebagai seorang asisten pribadi ia harus menuruti perintah atasannya.