How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus



Pagi-pagi sekali Sandra sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya, ia ingat setelan formal yang terdiri dari blazer dan celana panjang dengan warna peach dihadiahkan Natasha padanya sebulan yang lalu ketika mereka berbelanja bersama.


Sepulang dirinya bekerja kemarin selepas isya, ia telah memberitahukan pada putranya tentang kepindahannya.


Xander menyemangatinya dan mendoakan yang terbaik untuk sang mama,


Sesuai perintah dari atasannya, Sandra datang ke rumah sakit untuk membantu Oscar dalam mengelola management rumah sakit.


Oscar mengadakan rapat bersama para bawahannya untuk memperkenalkan Sandra sebagai salah satu pemilik rumah sakit yang akan turut andil mengelola management.


Hari pertama bekerja, berjalan lancar, salah satu asisten Oscar mengajarinya,


Untuk ruang kerja, Sandra masih bekerja di ruangan yang sama dengan Oscar, dikarenakan mendadak, sehingga ruang kerja miliknya belum siap.


Jam makan siang, Benedict dan Rama datang, mereka makan siang bersama di ruangan Oscar, ada Natasha yang masih memakai baju hijau dan baru selesai dari ruang operasi.


Disela-sela makan siang mereka membicarakan tentang pekerjaan juga kejadian di lobby kemarin.


"Mantan mertua lo emang rese ya sa?"tanya Rama, "gue nggak nyangka dia seberani itu,"


"Ya itu juga salah satu alasan gue ngotot pisah sama mantan,"jawab Sandra, ia juga menceritakan saat setahun pernikahannya dengan Ferdiansyah berjalan harmonis, tapi setelah tau kenyataan jika Alexander adalah putra yang ia lahirkan, mantan suami dan keluarganya memperlakukan dirinya bagai sampah.


"Sebenarnya semenjak gue hamil tanpa suami, gue udah sering dapat reaksi buruk dari orang-orang di sekeliling gue, jadi udah nggak terlalu kaget dengan kondisi kayak gitu, mental gue kan kuat,"ceritanya mengenang masa-masa sulitnya dulu.


"Terus Alex udah tau tentang yang Lo alami?"tanya Benedict, dan Sandra mengangguk, "Apa reaksinya?"tanyanya lagi.


"kayaknya merasa bersalah gitu, cuma udah lewat biarin aja, toh sekarang gue dan Xander baik-baik aja hingga sekarang,"


"Rumit juga hidup Lo ya sa,"sela Oscar.


"Makanya kalau jadi laki, kalau belum nikah jangan pada tebar benih, yang repot bukan kalian tapi ceweknya, kalian mau enak, cewek tuh udah hamil, ngalamin morning sick, bawa perut kemana-mana, lahiran, nyusuin, ngurusin, semua itu butuh perjuangan, terutama Lo Os,"sahut Natasha menatap sepupunya tajam.


"Kok gue?"ucap Oscar tak terima.


"Ya elo doang yang belum nikah, jangan unboxing Anin dulu, kasihan dia,"giliran Sandra yang mengingatkan.


"Wah Ben, jagain tuh adik ipar Lo, Oscar biarpun keliatan kalem, dia itu bringas tau,"Rama mengompori sahabatnya.


Oscar menggeleng, "gue nggak gitu Ben, sumpah, gue kalau ketemu Anin, cuman makan di kaki lima sama nonton di bioskop, Lo tau kan kalau kosan Anin nggak boleh ada cowok masuk,"jelasnya tak mau membuat atasan sekaligus calon iparnya berprasangka buruk padanya.


"Jangan percaya Ben, kemarin dia baru cerita abis masuk ke kamarnya Anin,"Rama semakin memanaskan suasana.


Oscar mengumpat, "gue masang bohlam lampu Ben, sumpah Anin belum gue apa-apain, gue cuman pegangan tangan doang kok,"


Sandra dan Natasha menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan dari lelaki yang berprofesi sebagai dokter bedah itu, mereka jelas tau, jika Oscar sangat berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan Anindia, adik kandung dari Ayudia istri dari benedict.


Beberapa kali Oscar bercerita tentang usahanya dalam mendekati gadis yang sekarang masih berkuliah di kota pelajar itu.


"Oh ya Sa, lo udah kasih tau Alex tentang kepindahan Lo kesini beserta alasannya?"tanya Benedict tiba-tiba.


"Belum, gue pikir kalian berdua yang bakal ngomong dulu, sebenarnya waktu gue di Bali, gue udah sempat bahas, eh dia ngambek, tapi gue rasa kalau kalian bantu jelasin alasannya, Alex pasti bisa terima,"jawab Sandra.


"Lo aja ben yang jelasin, Alex kan segan sama Lo!"saran Rama.


"Oke nanti gue telpon,"sahut Benedict.


Rama yang awalnya menentang kepindahan Sandra, akhirnya justru mendukung, demi kebaikan wanita beranak satu itu.


Benedict dan Rama jelas tau, jika Sandra benar-benar harus menanggung malu atas kelakuan mantan mertuanya.


Keduanya menyuruh Jonas dan Robert agar menyebarkan rumor, jika bos mereka marah besar dan berakhir dengan memecat Sandra.


Sebagai sahabat tentu mereka tak terima jika sahabatnya dipermalukan seperti itu, maka dari itu untuk sementara Sandra akan bekerja di rumah sakit hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan.


Usai menyelesaikan makan siang, Benedict melakukan panggilan telpon dengan Alex, lelaki itu menjelaskan jika Sandra telah dipindahkan ke rumah sakit, juga tentang alasannya.


Alex sempat protes, tapi tak bisa berbuat banyak, lelaki itu terdengar pasrah menerima keputusan sahabat sekaligus atasannya.


Waktu berlalu, Sandra yang dasarnya cerdas, bisa menguasai seluk beluk management dalam waktu seminggu.


Ia menggantikan tugas Oscar, walau dalam pengambilan keputusan harus berdiskusi dengan atasannya yang baru, setidaknya sejak adanya Sandra di sana, Oscar lebih bisa berkonsentrasi di ruang operasi.


Pernah Xander berkomentar tentang pekerjaan barunya, "aku lebih seneng mama kerja bantuin uncle Oscar dibanding Papa, mama juga pulang lebih cepat, jadi waktu bareng aku lebih lama,"ujarnya suatu hari.


Sejak Xander mengenyam pendidikan di sekolah menengah pertama, remaja itu tak lagi diantar jemput, karena sekolah juga dekat dari rumah, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Sesekali Choki akan datang hanya untuk memastikan keamanan remaja itu, karena sekarang setiap pagi hingga siang akan ada orang yang bekerja membersihkan rumah dan mencuci setrika baju.


Tak terasa hari kepulangan Fernando tiba, yang artinya Alex akan kembali ke pekerjaannya yang sebenarnya.


Sandra bersama Oscar menjemput lelaki blasteran itu ke bandara, Natasha tidak bisa turut serta dikarenakan ada operasi dadakan yang harus dilakukannya, sementara Rama sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, lalu Benedict baru saja berangkat ke salah satu negara timur tengah bersama dengan istrinya.


Tapi sudah lebih dari tiga puluh menit, Sandra dan Oscar menunggu, belum ada informasi kedatangan pesawat yang ditumpangi oleh Fernando.


"Telat kayaknya Sa, gimana dong?"tanya Oscar setelah meminum kopi yang di pesannya.


"tunggu aja lah, nanggung juga,"jawab Sandra sembari mengamati orang-orang yang melintas di salah satu kedai kopi di bandara.


"Sa, kalau Nando balik, berarti Alex balik juga, apa setelah ini Lo bakal jadi sekretarisnya dia lagi?"


Sandra mengangkat bahunya, "nggak tau os, sejujurnya gue masih bimbang mau dibawa kemana hubungan gue sama dia, niat gue minta gabung di rumah sakit juga, karena ingin jaga jarak sama dia, Lo ngerti maksud gue kan?"


"tapi gue denger, dia mau ngikut keyakinan kita, nggak jadi emang?"


"bukannya nggak jadi, dia sih mau-mau aja, masalahnya os, gue nggak mau maksain yang emang bukan dari hati, lo ngerti maksud gue kan?"


Oscar mengangguk, "iya juga sih, adanya cuman buat status doang, tapi persoalan ibadah dia nggak mau ngelakuin sepenuhnya, sama aja bohong ya, begitu nggak sih maksud Lo,"


"Betul, cukup gue gagal berumah tangga sekali, jangan sampai dua kali,"


"tapi Alex cinta mati sama Lo sa, andai kalian nikah, nggak bakal dia mau cerai lah, susah payah di dapetin, terus dia mapan loh sa, duitnya banyakan dia dibanding gue,"


"Os, yang namanya berumah tangga bukan hanya persoalan cinta dan harta, tapi keberkahan dan ketenangan, walaupun mantan gue brengsek, tapi setahun pertama pernikahan, gue bahagia, disela-sela kesibukan nyari duit, mantan gue ngajarin gue ngaji, abis magrib, bareng Xander juga, meski beberapa hal gue nggak dapet, tapi urusan spiritual gue sama Xander dapet banget, itu yang nggak bisa gue lakuin jika nikah sama Alex, Lo paham maksud gue kan?"


Oscar manggut-manggut, menyetujui ucapan sahabatnya, "lalu apa rencana Lo? Apa lo mau putus sama Alex? Atau mau balik ke mantan Lo?"


Sandra menaikan bahunya, "biar waktu yang jawab,"


Pengumuman kedatangan pesawat yang ditumpangi Fernando telah tiba, Sandra dan Oscar bangkit dan berjalan menuju pintu kedatangan internasional.


Sekitar lima belas menit kemudian, kedua orang itu terkejut melihat penampilan Fernando.


Lelaki itu, berkulit kecokelatan cenderung gelap, dengan rambut di kuncir, dan kumis dan brewok menghiasi dagu juga sekitar mulut, walau masih terlihat tampan.


Fernando memeluk Oscar lalu menanyakan kabarnya, begitu juga dengan Sandra, namun saat memeluk wanita itu, lelaki blasteran itu sempat mencium pipi kekasih dari Alex, karena itulah sebuah cubitan diperut Sandra hadiahkan, tapi tak bisa mengingat perut yang keras.


"Tambah semok aja sa, wah bisa gue tikung nih Alex,"ujar Fernando melemparkan candaan.


"baru pulang nyari perkara aja nih Dodo,"sela Oscar.


"Ye elah os, Lo bayangin aja setahun gue nggak gituan, nggak ada cewek, pening banget kepala,"keluhnya.


Mereka berjalan menuju parkiran, sambil terus membicarakan tentang beberapa kejadian, termasuk Sandra yang memberitahukan kedatangan Cristy ke kantor tiga bulan yang lalu.


"nah itu mantan cewek lo masih nyariin, mending lo hubungi dia buat bantuin Lo!"


"Dih ngapain, nggak bisa gue nikahi,"Tolak Fernando mentah-mentah, "eh Sa, Lo kan juga nggak bisa nikah sama Alex, gimana kalau kita nikah aja, umi pasti mau Nerima Lo, ngga apa-apa janda, yang penting seagama,"


Sandra menatap sinis sahabatnya, lelaki yang kelakuannya hampir sama dengan Alex.


"wah, abis dibuang ke pulau, langsung diajak adu tinju sama Alex, seru kayaknya do, tapi apa Lo lupa, Alex juara boxing, bonyok Lo sama dia,"sahut Oscar.


"nggak apa-apa ya Sa, yang penting entar obati AA,"Fernando masih saja menjahili Sandra.


"Serah Lo do,"


Oscar mengemudi, Sandra duduk di sebelah bangku kemudi sedangkan Fernando duduk di jok belakang.


Lelaki blasteran itu meminta diantar ke rumah milik umi Fatimah, katanya ia akan beristirahat selama seminggu sebelum dirinya harus kembali bekerja di pulau Dewata.