How To Marry You ?

How To Marry You ?
tujuh



Masih Flash back.


Sandra sedang mencuci piring di dapur, sedangkan Alex sedang mandi di kamar mandi tak jauh dari dapur.


Usai mencuci piring, Sandra membuka pintu di samping dapur, namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat hewan berkaki empat dengan warna hitam, yang menurutnya menyeramkan ada dikandang disebelah pintu, belum lagi gonggongan dari hewan besar itu.


Saking terkejutnya, Sandra sampai jatuh terduduk, ia menjerit ketakutan.


Mendengar jeritan dari gadis yang jadi tamunya juga gonggongan hewan peliharaannya, tanpa pikir panjang, Alex keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.


Alex menghampiri Sandra, lalu membantunya bangun, dan menenangkan gadis itu.


Setelah Sandra lebih tenang, Alex mengambil sesuatu dari kulkas lalu berjalan menuju kandang hewan berkaki empat itu,


"makan dulu gufi,"ujarnya sambil menyodorkan wadah berisi makanan.


Selesai dengan urusan hewan peliharaannya, Alex kembali menghampiri Sandra yang masih berdiri ditempat.


"maaf ya Sa, gufi emang gitu kalau ketemu orang baru, tenang aja dia jinak ko,"


Alex kembali ke kamar mandi sedangkan Sandra menuju ruang tengah.


Gadis itu mulai mencari tas ransel miliknya, tapi baik di ruang tengah ataupun dapur, tak kunjung ia temukan.


"kamu lagi apa sa?"tanya Alex, lelaki itu baru saja selesai mandi.


"gue nyari ransel, kok nggak ada, lo taruh dimana sih?"


"ikut gue,"ujar Alex berjalan menuju pintu disebelah ruang tamu.


Ranselnya ada diatas ranjang dengan sprei berwarna navy polos, tanpa pikir panjang Sandra masuk hendak mengambil ransel miliknya.


Namun suara pintu yang ditutup juga kunci yang diputar membuat dirinya sadar, jika ia berada di kamar lelaki itu.


"kok ditutup sih?"tanya Sandra heran.


"gue mau pakai baju, masa iya pintu nggak ditutup, kalau ada yang masuk gimana?"


"ya udah gue keluar dulu,"


Alex menahan tangan Sandra, "kalau lo, disini aja nggak masalah,"


"Hah, maksudnya?"


"maksudnya khusus lo boleh ada di sini,"ujarnya sambil membuka lemari untuk mengambil baju.


Seolah tak peduli, Alex membuka handuk didepan Sandra, otomatis gadis itu menjerit dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Alex tertawa terbahak-bahak melihat reaksi gadis itu.


"Udah Sa, nggak usah ditutup, entar juga bakal lihat setiap hari,"Tutur Alex dengan senyum jahilnya.


"nggak usah mengada-ada Alex, kita nggak ada hubungan apapun, saudara bukan, temen bukan, dan sekarang gue mau balik, udah magrib,"terdengar sayup-sayup suara azan dari kejauhan.


"emang harus ada status ya?"tanya Alex yang duduk diatas ranjangnya, lelaki itu hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaos oblong berwarna hitam.


"nggak tau lah, sekarang buka pintunya, gue mau pulang,"


Alex menarik pergelangan tangan Sandra, alhasil gadis itu terduduk di pangkuannya.


Lelaki itu memeluk gadis yang masih mengenakan seragam sekolah, "gue kangen banget sama lo Sa, kenapa susah banget sih kalau mau deket,"ungkapnya.


Sandra berusaha bangkit, dirinya tak nyaman, ini kali pertama dirinya sedekat ini dengan laki-laki, "lepas dulu Alex, gue bukan bocah yang harus dipangku,"


"Bentar aja Sa, gue masih kangen,"pintanya sambil menyandarkan kepalanya di pundak kurus gadis itu.


"harusnya lo nggak boleh begini Lex, kita nggak ada hubungan apa-apa,"ungkap Sandra pasrah.


"emang harus ada hubungan apa sih Sa? biar gue sama lo tetap deket?"gumam Alex.


"Terserah,"


Alex teringat sahabat-sahabatnya, "mesti pacaran dulu ya sa?"tanyanya.


"Terserah,"


Alex memegang kedua sisi pipi gadis di pangkuannya, "jangan bilang itu alasan lo, selama ini jauhi gue?"


Sandra mengangkat bahunya,


"Gue kenapa nggak peka banget sih, padahal sahabat-sahabat gue suka cerita tentang hubungan sama cewek-ceweknya, maaf Sa, gue nggak peka, gue pikir kasih perhatian aja udah cukup, menyampaikan maksud bahwa gue ada rasa sama Lo,"


"Lo ngomong apaan sih Lex, nggak jelas tau nggak sih?"


"Sasa, mulai sekarang kita pacaran ya! Lo milik gue, dan gue milik lo,"ucap Alex.


"hah?"Sandra melongo mendengar Alex berucap semudah itu tanpa persetujuannya.


Alex mencium pipi gadis itu, "aku nggak minta persetujuan kamu, mulai sekarang kamu itu punya aku, kamu mengerti Sasa,"


Sandra termangu ketika pipinya dicium oleh lelaki yang memangku nya.


"Sasa kenapa bengong sih?"


Tersadar, Sandra memaksa bangkit dari pangkuan Alex, ia sudah bertekad tak akan dekat dengan lelaki playboy seperti Alex.


"Gue nggak mau jadi pacar Lo, gue tau, lo itu playboy, suka PHP-in banyak cewek,"


"kata siapa sih sa?"tanyanya, "jangan bilang Toni yang kasih tau?"


"nggak penting dari siapa gue tau, yang jelas gue nggak mau jadi pacar lo, titik,"tolak gadis berkuncir kuda itu.


"Mereka yang deketin aku duluan Sa, aku hanya menanggapi sekenanya aja, kamu berbeda, aku jatuh cinta sama kamu dan kamu adalah pacar pertama aku,"jelas Alex berusaha meyakinkan gadis pujaannya.


"Tapi gue nggak mau Alex, gue nggak mau punya hubungan apapun sama Lo,"Sandra tegas menolak.


Alex berdecak, sepertinya cara halus yang pernah disarankan sahabat wanita satu-satunya itu, tak berlaku pada Sandra.


Lelaki itu bangkit, lalu memeluk Sandra erat, "aku nggak butuh pendapat kamu, mulai detik ini, kita pacaran, nggak ada bantahan, kamu mengerti?"bisiknya.


Sandra merinding seketika,


Alex mengelus rambut pacar barunya, "malam ini kamu menginap ya! temani aku,"


Sandra menggeleng, "gue nggak mau, gue mau pulang,"tolaknya lagi.


"Sasa please,"ucap Alex memohon.


"Nggak bisa Lex, nanti ayah marah, anak gadisnya nggak pulang-pulang,"


"bukannya ayah kamu lagi nggak di rumah ya?"tanya Alex.


Sandra terkejut, lelaki itu tau jika Wijayanto dan Sri Mulyani sedang tidak ada di rumah, "dari mana lo tau?"tanyanya balik.


"tadi aku nggak sengaja baca SMS kamu, Vina nanyain kamu, mau menginap di rumahnya nggak,"


"kenapa hape gue diotak-atik, nggak sopan tau,"ucap Sandra kesal.


"oke aku minta maaf, jadi malam ini kamu menginap ya, lalu cara bicara kamu, aku minta balik seperti dulu, nggak sopan sama pacar ngomong gue elo,"


"kenapa maksa sih?"


Alex menuju lemari, mengambil handuk dan kaos oblong juga celana pendek miliknya, "sebenarnya aku pengen pinjamkan baju Maria, tapi pasti ketauan kalau aku bawa cewek ke rumah, terus kalau seragam, entar biar aku yang cuci, jadi besok kamu bisa pakai seragam yang bersih,"


Tak punya pilihan lain, Sandra menurut saja, Ia mandi dan berganti dengan baju milik lelaki itu.


Namun apes bagi Sandra dalaman miliknya jatuh di kamar mandi, alhasil dirinya tak memakai dalaman.


"Lex, biar aku yang cuci seragam ya!"pintanya,


Alex yang sedang menunggunya di dapur, menggeleng, "aku aja Sa, soalnya tempat cucinya ada disebelah kandangnya gufi,"jelasnya.


"tapi aku mau cuci daleman,"


"biar aku aja sa, nggak masalah lagi,"


Seolah sudah paham tak bisa menolak lelaki itu, Sandra hanya bisa pasrah.


Alex menyuruhnya untuk menunggunya di kamar,


Sandra membaringkan tubuhnya di ranjang milik Alex, ia menatap ke sekeliling ruangan empat kali empat meter itu.


Besarnya sama seperti kamar miliknya, hanya saja, kamar milik Alex lebih rapih dan wangi, sepertinya lelaki itu tipe orang yang suka kebersihan dan kerapihan.


Sedang asik melamun, Alex datang membawakan air dalam gelas, lalu menaruhnya di meja belajar.


"Ada PR nggak Sa?"tanyanya sambil duduk di kursi.


Sandra menggeleng,


"Aku kerjain PR dulu ya!"


Sandra mengangguk.


tidak sampai lima belas menit Alex mematikan lampu belajar dan memasukan buku kedalam tas ransel berwarna hitam, lalu menghampiri gadis yang tengah berbaring di ranjangnya.


Kasur dengan ukuran Seratus dua puluh kali dua meter itu terasa pas untuk keduanya berbaring.


"Sa, mulai sekarang jangan hindari aku lagi ya!"pinta Alex.


Keduanya berbaring saling berhadapan.


Sandra mengangguk menanggapi ucapan lelaki itu.