
Selama beberapa hari ini Sandra merenung, posisinya serba salah disini, niat hati ingin berbuat baik sebagai sesama manusia juga karena Ferdiansyah yang secara hukum masih berstatus sah sebagai suaminya, maka dari itu ia menolong lelaki itu, selain merawat, ia juga yang membayar biaya rumah sakit, plus hotel tempat menginap kedua mertuanya.
Nyatanya sikapnya itu membuat Alex marah besar, untuk pertama kalinya sepanjang ia mengenal lelaki itu, ia didiamkan selama berhari-hari.
Alex yang biasa menggodanya tak lagi melakukan hal itu, ada rasa kehilangan, tapi Sandra berusaha tetap tenang, walau timbul dihatinya kekhawatiran jika lelaki itu berhenti mencintainya.
Kebetulan sehari sebelumnya Sandra menarik uang dalam jumlah banyak, entahlah saat itu ia hanya ingin melakukannya saja.
Lalu malam itu setelah menunggu Alex menemani putranya tidur, Sandra mengajaknya bicara, tak ia sangka, lelaki itu malah menyuruhnya pergi.
Merasa kesal karena perlakuan yang diterimanya, Sandra dengan cepat memasukan bajunya ke dalam koper, ia memutuskan untuk menyendiri terlebih dahulu.
Tentang putranya, ia percaya Alex akan mengurusnya dengan baik, sejak memutuskan tinggal bersama mereka berharap Xander tumbuh dengan baik, lelaki itu berperan sebagai Papa yang baik untuk putra semata wayang keduanya.
Sebelum keluar dari kamar dengan menyeret koper miliknya, Sandra melirik sekilas ke lelaki yang telah memiliki seluruh hatinya, Alex masih diam di tempatnya tadi berdiri, entah apa yang sedang dipikirkannya.
Kebetulan saat baru saja keluar gerbang, ada taksi konvensional yang kebetulan lewat, tanpa pikir panjang Sandra menghentikannya, lalu menyebutkan alamat sahabatnya.
Ia menghela nafas, sepertinya memang lebih baik seperti ini, memberi waktu kepada lelaki itu, mungkin jika ia kembali nanti hubungan mereka menghangat lagi.
Sandra memutuskan mendatangi rumah Natasha sahabat yang sekiranya bisa ia percaya dan tinggal sendiri.
Sayangnya sesampainya di rumah gadis itu, tak ada tanda-tanda keberadaannya, mungkin masih berada di rumah sakit,
Sandra tak bisa menghubungi Natasha, ia memang sengaja meninggalkan ponsel miliknya di rumah Alex.
Ia memilih menunggu di Taman tepat di sebrang rumah gadis yang berprofesi sebagai dokter kandungan.
Cukup lama Sandra berada di taman dengan penerangan minim juga banyaknya nyamuk yang menjadi penghuni taman.
Hampir tengah malam, Mobil sedan berwarna silver yang dikemudikan Natasha baru saja memasuki gerbang.
Melihat hal itu, Sandra bergegas menghampiri sahabatnya yang hendak menutup gerbang rumahnya dengan remote yang dipegangnya.
Raut terkejut terlihat dari wajah lelah gadis itu melihat kedatangan dirinya,
"Lo ngapain sa? Kenapa bawa koper segala?"tanya Natasha heran.
Sandra yang sedang berusaha mengatur nafasnya, setelah berlari memberikan kode agar segera membuka pintu rumah, ia butuh ke toilet, menunggu terlalu lama membuat kandung kemihnya penuh.
Natasha yang paham, langsung menempelkan jarinya ke handel agar pintu segera terbuka.
Sandra berlari menuju toilet yang berada di dekat tangga dan meninggalkan kopernya begitu saja didekat sahabatnya yang melongo melihat tingkahnya.
Beberapa saat kemudian,
"ah... Lega,"cetus Sandra begitu keluar dari toilet, ia menghampiri Natasha yang sedang duduk di ruang makan sambil menuang air kedalam gelas.
Selain kebelet buang air kecil, menunggu Natasha cukup lama membuat kerongkongan Sandra kering, tanpa pikir panjang, ia mengambil gelas yang hendak diminum sahabatnya.
Setelah menghabiskan air satu gelas penuh, Sandra berucap syukur.
"Lo kenapa sih Sa? Dateng ke rumah gue malam-malam, bawa koper, nyerobot ke toilet, terus sekarang ambil minum gue juga, sebenarnya ada apa sih?"tanya Natasha kesal.
Sandra duduk berseberangan dengan sahabatnya, "gue diusir sama Alex,"jawabnya santai.
Natasha melotot, lalu menggeleng, "nggak mungkin Alex ngusir Lo, dia itu cinta mati sama Lo, ngarang banget si,"sahut gadis itu tak percaya.
Sandra menunjukan dua jarinya, "suwer Asha, buat apaan gue bohong,"Belanya.
"Apa alasannya?"
"Alex tau, kalau gue bantuin mas Ferdi dan menunda perceraian kami, dia marah besar, berhari-hari gue dicuekin, terus tadi gue diusir, ya udah gue cabut, ya kali gue tetap bertahan, nggak tau diri banget gue,"
"Ya Lo lagian, main api, aturan selesaikan dulu sama mas Ferdi baru Lo terima Alex lagi, kenapa senengnya nyari masalah sih, bukannya gue nggak setuju sama hubungan kalian, tapi nyatanya kalian kan sulit bersatu, dengan perbedaan diantara kalian, emang Lo mau ikut agamanya dia?"ungkap Natasha mengeluarkan unek-uneknya.
"tumben bener,"ujar Sandra, tak biasanya sahabatnya berkata seperti itu," yang jelas gue nggak mungkin ikut agamanya dia, kasihan ayah ibu nggak ada yang doain entar,"lanjutnya,
"Nah itu tau, jadi Lo emang sengaja nunggu momen ini? Terus gimana dengan Xander? Lo tega ninggalin dia gitu aja, emak macam apa Lo?"
Sandra yang sedang bersandar, langsung bangkit, dan menatap heran sahabatnya, "Asha, Lo lagi mens ya? kenapa jadi sensi sih?"
"Iya nih, hari kedua, udah gitu pasien gue banyak banget, operasi juga dari tadi Maghrib kaga berhenti, gue heran warga ibu kota doyan banget lahiran Mulu, udah padat juga,"keluh dokter kandungan itu.
"Yee, kalau banyak pasien duit Lo makin banyak, Lo makin kaya, kan enak bisa buat liburan sering-sering,"
"Lo kayak nggak tau aja, mau pasien dikit apa banyak, yang gaji gue bukan mereka, tapi bos besar, Lo tau sendiri kan? Kalau ngandelin dari pasien, koleksi tas branded gue nggak sebanyak itu,"
"iya deh, tapi kan emang ini keinginan Lo, jadi dokter kandungan, biar bisa nolongin banyak orang, nikmatin aja sha, sekalian ibadah,"
"iya sih, eh ngapa jadi bahas gue,"ujar Natasha menyadarinya, "jadi apa rencana Lo setelah pergi dari Alex? Apa Lo mau balik ke mas Ferdi?"tanyanya.
"kalau balik ke mas Ferdi, sorry ya, mau sebaik apapun dia nantinya, pintu damai udah tertutup, gue hanya nunda, seenggaknya sampai dia bisa kerja,".
Sandra menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan, ia menatap sahabatnya penuh harap, "Natasha Amalia, sahabat gue yang paling cantik, imut, baik hati dan tidak sombong, sayang jomblo, gue mau numpang dong di rumah Lo, gue kerja jadi ART Lo ya, nggak usah di gaji, asal gue bisa numpang tidur sama makan aja,"pinta Sandra.
Natasha menganga, mendengar permintaan sahabatnya, ia bangkit lalu memegang dahi wanita beranak satu itu, "Lo sakit apa gimana Sandra Wijayanti?"
Sandra menyingkirkan tangan gadis itu, "Alhamdulillah gue sehat, adanya elo yang lagi mens, gue serius Asha, Lo nggak liat muka gue!" jawabnya sambil menunjuk wajahnya.
"Gini ya Sandra Wijayanti, temen gue yang makin hari makin semok, gue seneng ada yang nemenin gue tinggal disini, masalahnya apa Alex nggak bakal ngamuk kalau tau Lo kabur kesini, mungkin selama ini kita lihat, dia cuman bisanya cengengesan doang, beda sama Ben dan Nando, tapi setau gue kalau orang model Alex kalau udah ngamuk itu serem,"
"Tenang aja, gue udah pikirin, asal Lo tutup mulut, Alex nggak bakal tau kalau gue ngumpet di mari,"
"Oke, berarti nggak masalah, pokoknya Lo boleh tinggal disini, nggak usah jadi ART segala, Lo itu udah kayak saudara gue, jadi anggap aja rumah sendiri, dan masalah kamar, terserah Lo mau kamar yang mana, asal jangan kamar gue, terus kalau butuh apapun kasih tau gue,"
Sandra mengangguk dan berucap terima kasih, Ia memilih kamar yang berada di bawah, ia tak ingin mengganggu privasi sahabatnya yang telah berbaik hati mau menampungnya.