
Usai subuh, Sandra dan Xander berpamitan, sekali lagi Indah mengingatkan dan mengancamnya untuk membatalkan gugatan cerai itu.
Sandra diam tak menanggapi ucapan perempuan paruh baya itu, ia harus menghormati orang yang lebih tua.
Tak lupa memberikan uang jajan untuk Eli dan anak-anaknya, ia juga berpesan agar wanita itu jangan segan meminta bantuannya.
Ia juga berpamitan pada Ferdiansyah, dan memberikan amplop berisi seratus lembar uang limapuluh ribuan.
Mengingat semalam, Rasanya ia kesal sekali, tapi memilih untuk tenang dan sabar menghadapinya.
Sandra menjemput Natasha dan orang tuanya terlebih dahulu.
Di rumah sepupu sahabatnya, ia sempat sarapan, rasanya bahagia bisa berkumpul dengan keluarga Natasha yang ramai, berbeda jauh dengan keluarganya, hanya Siska satu-satunya sepupu yang menurutnya menyenangkan.
Sebelum kembali ke Jakarta, mereka menyempatkan diri mampir ke pusat oleh-oleh kota itu, di sana ia janjian bertemu dengan Siska.
Ada banyak oleh-oleh yang dibeli oleh mereka, entah berapa dus yang dibungkus, sehingga kursi belakang di samping Xander penuh dengan oleh-oleh.
Sebelum berpisah, Siska sempat berpesan, "kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan hubungi aku,"
Sandra mengangguk sambil memeluk sepupunya, ia juga berpesan untuk selalu menjaga kesehatan.
Perjalanan dimulai, Soedrajat yang mengambil alih kemudi terlebih dahulu, disebelahnya ada Natasha sedangkan Sandra duduk bersisian dengan Suwarti.
Karena sudah seperti keluarga sendiri, Sandra menceritakan kisah hidupnya dari kehamilan tanpa suami hingga mengajukan gugatan cerai serta ancaman Inah, selama perjalanan.
kecuali perselingkuhannya dengan Alex tentunya, tak mungkin bukan ia membuka dosa yang dilakukannya hingga sekarang.
Sandra dengan tenang bercerita, justru Suwarti yang berhati lembut sampai menangis mendengar kisah sahabat putrinya.
Perempuan paruh baya itu menggenggam tangan Sandra, seolah memberikan kekuatan, agar dirinya sabar menghadapi cobaan.
Soedrajad memberikan saran agar Sandra menunda untuk sementara proses perceraiannya, setidaknya sampai Ferdiansyah sembuh.
"pokoknya kalau butuh bantuan kamu harus kasih tau ibu, jangan sungkan, kami menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga kami,"
Sandra tersenyum dan lalu mengangguk, sedari dulu kedua orang tua sahabatnya memperlakukannya dengan baik, meski mereka sibuk tapi selalu memberi perhatian pada putrinya dan dirinya.
Ditengah perjalanan, mereka mampir ke salah satu kota yang ada di jalur pantai Utara Jawa, untuk sekedar berwisata kuliner atau membeli oleh-oleh.
Hal yang langka mereka bisa berkumpul dan berjalan-jalan, karena kesibukan masing-masing tentunya.
Apalagi Natasha yang terkadang saat tanggal merah pun dihubungi rumah sakit, jika ada operasi darurat.
Sandra tersenyum melihat keakraban antara Xander dan Soedrajat, bocah itu terlihat bahagia.
Xander yang memang sudah tak memiliki kakek, bahkan memanggil Soedrajat dengan sebutan mbah kung sementara pada Suwarti, bocah itu memanggil Mbah uti.
Perempuan paruh baya itu sempat membisikinya, "Sasa, di kantor Alex nggak ada gitu advokat yang masih jomblo biar bisa dijodohkan sama Asha, ibu kan pengen ngemong cucu,"
Sandra yang tau alasan Natasha jomblo hingga sekarang, memilih mengatakan, "rekan advokat Alex udah pada nikah semua Bu, yang jomblo cuman Jonas sama Alex,"
"itu janganlah, kan beda keyakinan, bisa repot urusannya,"sahut Suwarti.
Sandra seolah tertampar dengan ucapan perempuan paruh baya itu, nyatanya hingga saat ini ia bingung apakah suatu hari dirinya bisa menikah dengan Alex.
Meskipun nantinya ia sudah resmi menjanda, sepertinya ia harus berfikir ulang untuk menikah dengan Alex.
Sekali lagi ia tak mungkin memaksakan kehendak agar Alex mengikuti keyakinan dirinya begitu juga sebaliknya.
Padahal jika ia memandang dari segi keyakinan yang dianutnya, hal itu haram hukumnya, mereka hanya menikah diatas kertas, tidak sah menurut agama.
Bisa jadi anak keturunan mereka akan bingung harus memilih keyakinan yang mana,
Itu pilihan sulit ketika anak-anak harus memilih mengikuti ibu atau ayahnya.
Berbeda dengan dirinya, saat melahirkan Xander, Alex bahkan tak tau jika benihnya berkembang menjadi janin, sehingga sedari bayi, putranya mengikuti keyakinan Sandra.
Bahkan Xander yang baru berusia sepuluh tahun sudah bisa membaca kitab suci agamanya, meskipun belum fasih, tapi setidaknya itu lebih baik.
Sedari umur empat tahun Xander sudah turut mengaji disalah satu masjid tak jauh dari tempat tinggalnya saat di Semarang.
Sandra berharap Xander akan terus mengikutinya, agar jika nanti dirinya menghadap Ilahi, ada yang senantiasa mendoakannya.
Tak mau ambil pusing, Sandra menjalani hidupnya layaknya air mengalir, dan biar waktu yang akan menjawab.
Perjalanan kembali dilanjutkan, giliran Natasha yang mengambil alih kemudi, Sandra duduk disampingnya, sementara Soedrajat duduk di bangku belakang bersebelahan dengan Suwarti, lelaki paruh baya itu memejamkan mata begitu mobil mulai berjalan.
Untuk menghilangkan bosan, Sandra dan Natasha mengobrol,
"Sa, abis lebaran, jalan-jalan ke jepang yuk,"ajak Natasha sambil mengemudikan mobil.
"berapa lama? masalahnya paspor gue belum jadi, baru kemarin sebelum ke Semarang gue bikin,"sahut Sandra.
"Biar cepat Lo minta tolong Jonas kek, kalau bisa Alex jangan sampai tau,"
"iya gue coba,"
"pokoknya begitu paspor dan visa jadi, Lo kabari gue, biar gue bisa ngajuin cuti sama beli tiket pesawat,"
Sandra menoleh, "Lo mau beliin gue sama Xander?"
Natasha berdehem, "waktu gue pertama kali dapat gaji sebagai dokter kandungan, gue pernah nazar, selain nyenengin orang tua, gue mau nyari lo, terus ngajak Lo jalan-jalan, Lo tau kan kalau sahabat gue yang cewek cuman elo sama Vina, tapi dia nggak mungkin gue ajak, eh... Lo udah ketemu Vina belum sih?"tanyanya.
Sandra menggeleng, "gue malu ketemu dia, apa kabar sekarang? Jadi nikah nggak sama Toni,"
"Jadilah abis wisuda langsung nikah, gue doang yang diundang, tapi cowok-cowok itu pada ikutan, malu gue, alasannya biar bisa ketemu elo, eh ternyata zonk,"
Sandra terdiam, ia memandang keluar jendela, ia tak berani menampakkan batang hidungnya pada Vina dan keluarganya, ia merasa malu.
"sa, Vina sama nyokap nya sedih banget waktu tau, Lo pergi dari ibu kota tanpa pamit, bahkan saat acara pernikahan Vina dan Toni, mereka masih berharap Lo tiba-tiba datang, saran gue mending Lo hubungi mereka deh, tapi yang di rumah cuma Tante Yuli, kalau Vina sama Toni pindah ke Singapura"
"tapi temenin gue ya!"pinta Sandra.
Natasha mengiyakan permintaan sahabatnya, ia masih bercerita tentang vina dan Toni yang belum memiliki anak meskipun sudah bertahun-tahun menikah.
Mendengar hal itu, Sandra bersedih, dalam hati ia berdoa, semoga sahabatnya segera diberikan momongan.
Sebelum masuk ke gerbang tol keduanya bertukar tempat, Sandra yang mengemudi, ia akan mengantarkan terlebih dahulu Soedrajat dan Suwarti.
Setelahnya ia baru mengantarkan Natasha ke rumahnya sendiri.
Sandra dan Xander beristirahat di rumah Natasha hingga malam, sampai Alex menghubunginya, menanyakan keberadaannya.
Ia mengatakan jika dirinya akan mengembalikan mobil terlebih dahulu ke kantor, untuk ditukar dengan mobil yang biasa ia gunakan sehari-hari.