
Sejak mengetahui fakta perceraian Sandra dan mantan suaminya, rasanya lega sekali, amarah karena dibohongi pun mereda.
Alex dan Sandra kembali mesra, tentang rencana pernikahan juga mulai dibicarakan, tentang berpindahnya keyakinan lelaki itu juga termasuk didalamnya, dan terakhir konsep pernikahan yang akan dilakukan nantinya.
Sandra menginginkan pernikahan hanya di KUA, tak ingin diadakan perayaan apapun, ia mengaku malu dengan statusnya sebagai janda.
Keduanya sempat berdebat, karena Alex menginginkan pesta mewah yang akan diadakan di resort, tapi pada akhirnya lelaki itu mengalah.
Xander yang diberitahu jika kedua orangtuanya akan menikah sangat senang, bahkan bocah itu sudah berpesan ingin segera memiliki adik seperti teman-temannya.
Sejak hari itu pula, Sandra tak bisa lagi bertemu dengan mantan suaminya, Alex benar-benar membatasinya,
Mereka akan berangkat mengantar putranya ke sekolah bersama, dan yang akan menjemput adalah Choki atau Jonas, jika memungkinkan Alex sendiri menjemput bocah itu.
Jam makan siang biasanya Sandra akan ikut dinas luar, entah menghadiri sidang atau bertemu klien, jika sedang berada di kantor saja, maka Alex akan menyuruh orang untuk membelikan makan siang untuk kekasihnya.
Sandra benar-benar dibatasi pergerakannya, ia bahkan tak lagi berkumpul dengan Gita dan Arumi.
Rencananya sekitar tiga bulan lagi keduanya akan melangsungkan pernikahan.
Malam itu, saat kedua sejoli itu memadu kasih, ponsel Alex berdering, tapi lelaki itu tak mempedulikannya,
Alex sedang sibuk menggerakkan pinggulnya menuju puncak kenikmatan bersama sang pujaan hati, erangan saling bersautan, menandakan begitu panasnya kegiatan panas itu.
"Lexxxx..... Anghkhat dhulu,"pinta Sandra sambil terengah-engah.
Bukannya menjawab, Alex malah membungkam mulut kekasihnya, Persetan dengan ponselnya, kegiatan menyenangkan itu tak boleh terganggu oleh siapapun.
Sesuatu yang entah apa namanya mulai menjalar di sekujur tubuh keduanya, rasanya nikmat sekali, dan puncaknya lenguhan panjang menandakan jika mereka bersamaan mendapatkannya.
Ucapan terima kasih dan ungkapan cinta saling terlontar dari mulut keduanya,
Mereka masih mengatur nafasnya ketika ponsel milik Alex kembali berdering.
Lelaki itu mengumpat, sedangkan Sandra tertawa, ia tau kekasihnya kesal karena dering ponsel itu.
"angkat aja Lex,"
Alex melepas tautan dibawah sana, ia berguling dan terlentang sementara tangannya meraih ponsel yang ada diatas kabinet di samping ranjang.
Tertera nama Rama di layar ponselnya, Alex menggeser tombol hijau, "berisik Lo, malem-malem telepon, kalau nggak penting abis Lo, ganggu aja sialan,"makinya.
"bangsat, gue kalau nggak penting juga males telpon Lo, gue tau Lo lagi ***-***, masalahnya Ben, telpon gue sambil nangis-nangis, ada yang lagi gawat kayaknya di rumahnya, makanya kita harus kesana, gue lagi dijalan, kita ketemu di sana," ucap Rama diseberang sana.
"Oke, gue siap-siap dulu,"sahut Alex mengakhiri panggilannya, "Sa lagi ada urusan darurat di rumah Ben, tadi dia sempat telpon, aku kesana sebentar ya, lihat situasi, kamu di rumah jaga Xander,"pintanya pada kekasihnya.
Sandra mengangguk, lalu bangkit memakai gaun tidur miliknya, ia membantu menyiapkan pakaian yang akan dikenakan sementara Alex membersihkan diri di kamar mandi
Alex baru keluar dari rumahnya sepuluh menit kemudian, Sandra juga mengantarkan lelaki itu tak lupa mengunci gerbang.
Jalanan lengang memudahkannya mengemudi dengan cepat hingga lima belas menit kemudian ia sudah tiba di depan gerbang rumah mewah itu.
Sudah terparkir mobil Rama dan Natasha di sana, ada salah satu maid yang memberitahunya jika dirinya harus pergi ke ruang kerja sang tuan rumah.
Tepat di depan pintu ruang kerja Benedict yang sedikit terbuka, Rama berdiri, sahabatnya itu bahkan memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan, khas pakaian rumahan.
Rama berbalik, ia menempelkan jari telunjuknya ke depan mulutnya sendiri, "syut.... Diem, Asha lagi ngomelin Ben,"ucapnya dengan suara pelan.
Alex mengintip di celah pintu, dari situ ia bisa melihat bagaimana Asha bertolak pinggang sambil memaki-maki big bosnya sendiri, sementara Benedict hanya pasrah.
"emang apa masalahnya? Ko Ayu disebut-sebut,"tanya Alex bingung,
Natasha sahabat perempuan satu-satunya sedari SMA, gadis itu memang sering memaki-maki sahabatnya yang lain, karena kelakuan brengseknya, tapi ini kali pertama dia memaki Benedict yang notabenenya adalah big bosnya sendiri.
Alex dan Rama masih menunggu didepan pintu hingga usai Natasha selesai melampiaskan amarahnya.
Sepeninggal Natasha yang masuk melalui pintu penghubung menuju kamar pribadi Ayudia dan Benedict, kedua lelaki yang sedari tadi menunggu mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruang kerja itu.
Benedict masih menunduk dalam, terlihat wajahnya yang memerah, bukan marah melainkan menahan tangis.
Rama dan Alex duduk dikedua sisi lelaki berbadan besar itu, berusaha menenangkan sahabatnya.
"gue bego banget, gue kayak binatang, gue nyesel, gue bangsat...."Maki benedict pada dirinya sendiri.
Rama dan Alex masih diam mendengarkan keluhan sahabat sekaligus bosnya itu.
Benedict menceritakan kejadian beberapa saat yang lalu, tentang dirinya yang cemburu, tentang perdebatan antara dirinya dan Ayudia, hingga kelakuan brutalnya pada istrinya.
Rama dan Alex tercengang mendengar pengakuan dari lelaki itu, ia tak menyangka Benedict segila itu,
"Kok bisa sih Ben Lo sampai kayak gitu? Lo kesambet apa gimana sih? Lo bikin Ayu pingsan hanya karena cemburu, astaga Ben!"ucap Alex seraya berdiri dari tempat duduknya.
Alex memang tidak seperti Fernando yang akrab dan sering bersama dengan Ayudia, tapi ia tak terima jika wanita malang itu diperlakukan seperti itu.
"Gue nggak bisa bayangin gimana sakitnya Ayu saat Lo ngelakuin itu, Lo lupa perbandingan badan Lo sama dia?"Alex masih tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya.
Rama menepuk pelan bahu lelaki disampingnya, "Lalu apa yang akan lo lakuin sekarang?"tanyanya.
Benedict kembali menceritakan saran Natasha untuk pergi dari hadapan Ayudia, "jadi menurut kalian gimana?"tanyanya.
"kalau gue setuju sama Asha, takutnya Ayu trauma kalau pas bangun lihat Lo, mending Lo cabut dulu gih,"ujar Alex berpendapat.
Benedict melirik Rama, seolah meminta pendapatnya, "saran gue beda Ben, kalau gue jadi Lo, begitu Ayu bangun Lo minta maaf ke dia dan berjanji tak akan mengulangi lagi, dengan Lo lari, bisa jadi malah buat Ayu kecewa, kesannya kayak Lo nggak tanggung jawab,"
"Mana bisa gitu Rama, kalau Ayu terima kalau nggak? bisa aja dia histeris liat muka Ben, mending Lo cabut deh sebelum ayu bangun,"Alex masih kekeh dengan pendapatnya.
Benedict menghela nafas, "oke gue balik, dan Lo Lex ikut gue, lalu tolong hubungi pilot gue buat bersiap satu jam lagi,"
Alex melebarkan matanya, "kok gue ikut, mau ngapain? Lo kalau mau galau mending ajak Nando aja sana, gue sibuk, kerjaan gue banyak,"tolaknya mentah-mentah.
"ikut atau...."tatap Benedict penuh ancaman.
Alex mengumpat kesal, bos sekaligus sahabatnya memang tak mengerti dirinya, bagaimana bisa, ia yang sedang mempersiapkan pernikahan harus ikut ke Amerika, tapi ancaman Benedict membuatnya harus mengalah, ia tau maksud tatapan tajam itu.
"Lo nggak usah balik, telpon Choki suruh siapin semua, dia juga harus ikut, dan langsung ke bandara,"pinta Benedict, "dan Lo Rama, gue titip Ayu, jangan sampai Nando tau,"lanjutnya.
Rama mengangguk sedangkan Alex menghubungi pilot pesawat pribadi milik Benedict agar bersiap berangkat menuju Amerika.