
"Jadi semalam, apa kamu bercinta dengan Rachel?"tanya Sandra saat keduanya berada di ranjang kamar rahasia.
Alex masih memeluk kekasihnya, ia mencium kening wanita itu lembut, "menurut kamu?"tanyanya balik, terlihat menyebalkan didengar.
Sandra berdecak kesal," mana saya tau, kalau saya tau saya tak akan bertanya bapak Alex Soejono,"
Alex terkekeh, lucu sekali saat wanita yang dicintainya merajuk, "coba kamu pikir, andai aku tidur dengan dia, apa mungkin sekarang aku berada disini memeluk kamu?"
"Jadi kamu bohongi aku?"tanya Sandra sembari mencubit perut keras kekasihnya.
Alex menggeleng, lalu menceritakan tentang alasannya datang ke club', apa saja yang ia bicarakan dengan mami Belinda, juga pertemuan tak sengaja dengan mantan teman kencannya, juga tentang ajakan threesome oleh mereka, dan terakhir tentang alasan penolakannya dikarenakan bayangan wajah Sandra yang mengganggu pikirannya.
Mendengar hal itu, kesal namun pada akhirnya ia tersipu malu, beruntung, sekarang ini ia membelakangi kekasihnya, sehingga lelaki itu tidak tau bagaimana rupa wajahnya.
"kenapa kamu diam? Apa kamu tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan?"tanya Alex semakin mengeratkan pelukannya.
"aku percaya, aku hanya sedang mencerna semua ucapan kamu,"sahutnya.
"Sa, bulan April besok, kita ke itali yuk,"ajak Alex tiba-tiba.
"kenapa kamu pengen banget ke itali sih? Emang ada apa di sana?"tanya Sandra heran, dua kali rencana mereka gagal mengunjungi negara itu karena kesibukan lelaki itu.
"aku mau merayakan paskah terakhir aku, sebelum menikahi kamu,"
Sandra terkejut, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki yang tengah memeluknya, jika ingin beribadah kenapa harus mengajaknya?
"kamu bisa bersama kak Maria atau Tante Terry jika ingin ke sana, kenapa malah mengajak aku?"
Alex membalikan tubuh kekasihnya, agar menghadapnya, ia mencium kening itu lembut lalu mengecup bibir itu singkat, "karena kamu wanita yang aku cintai, aku bukan bermaksud apa-apa, aku hanya ingin mengajak kamu kesana, dan kamu nggak usah ikut ke gereja, cukup di hotel aja, kasih aku kesempatan untuk merayakan paskah terakhir aku, karena sepulang dari sana, aku berencana menikahi kamu disini, kamu mengerti apa maksudnya bukan?"
"aku nggak paksa kamu untuk mengikuti keyakinan aku,"
"iya aku tau, tapi ini sudah jadi keputusan aku, dengan begini kita bisa menikah, membentuk keluarga kecil, kita berdua, Alexander dan calon anggota baru keluarga kita,"
"sekali lagi aku tegaskan, aku tidak memaksa kamu,"
"Sasa, ini keinginan aku sendiri dan Maria juga tidak keberatan dengan keputusan aku,"
Sandra mengelus rahang tegas kekasihnya, "Lex, aku nggak maksa kamu, tidak apa-apa jika kita terus begini, aku nggak masalah kok, yang penting kita sama-sama,"
"Tapi aku nggak mau, jika kejadian kemarin terulang lagi, aku nggak mau kamu menghindari ku, jadi tolong dukung dan hargai keputusan aku,"
Sandra mengangguk setuju, "tapi bisakah kita merahasiakannya dari siapapun,"pintanya.
Alex berfikir sejenak, "apa termasuk sahabat-sahabat kita?"tanyanya.
"Iya, termasuk Asha,"
"bolehkah aku tau alasannya?"tanya Alex bingung.
"Mereka tau jika kita telah putus, aku malu kalau sampai tau-tau kita balik lagi, kesannya kayak aku plin-plan,"jawab Sandra.
"Berarti tak ada pesta saat kita menikah?"
Sandra mengangguk, "cukup di KUA aja, dan membagikan bingkisan pada tetangga komplek saja,"
"lalu wali dan saksi nikah bagaimana?"
"kita bisa minta tolong pak RT atau sekertaris, kamu ingat bukan dari pihak ayahku, sudah tak ada saudara laki-laki yang bisa dijadikan wali, jadi mau tak mau, aku harus memakai wali hakim,"jelas Sandra.
"Baiklah kalau itu mau kamu, tapi bagaimana dengan asisten aku?"
"bisakah hanya Choki yang tau?"
Alex mengernyit heran, "artinya Jonas dan Tante Terry juga?"
Sandra mengangguk.
"Tapi Sa, kenapa kamu tidak ingin keluarga aku tau?"tanya Alex heran.
"Aku nggak ingin merusak hubungan persaudaraan kalian, aku tau jika mereka keberatan apabila kamu mengikuti keyakinan aku,"
Waktu berlalu, Sandra masih tetap sama, seolah menghindari Alex, ia masih sering menghabiskan waktu istirahatnya dengan Natasha atau Gita dan Arumi.
Ferdiansyah tak lagi terlihat, mungkin sibuk dinas luar, karena bagaimanapun mantan suaminya itu adalah staf marketing.
Saat weekend juga sama, Sandra masih menghabiskan waktu bersama sahabatnya, hanya saat malam, Alex akan datang untuk tidur bersama, dan pagi-pagi sekali akan kembali ke kantor.
Sebelum keberangkatan mereka ke Itali, Sandra mengajak Natasha bertemu, kebetulan ada Sinta juga yang turut serta.
Mereka bertemu di cafe dimana Rama bekerja.
"Jadi elo terima tawaran Alex buat jalan-jalan ke Itali?"tanya Natasha sembari menyeruput cappucino pesanannya.
"Lo mau ke Itali San? Jalan-jalan atau gimana?"Sinta ikut bertanya.
"Alex ngajak Xander, Lo tau kan sha kalau dia belum pernah ngajak anaknya ke luar negeri, kan elo Mulu yang ngajak,"jawab Sandra seraya menyuapkan cheese cake ke mulutnya sendiri.
"seingat gue, bukanya bulan April itu hari paskah ya? jangan bilang Lo mau ikutan rayain?"tanya Natasha memastikan.
Sandra melambaikan kedua tangannya, "ya nggak lah, ya kali, gue kesana cuma nemenin Xander, Lo tau bukan kemanapun anak gue pergi, gue bakal ikut, ya selama dia misa, gue bisa jalan-jalan atau diem di hotel,"jawabnya.
"Sandra, sorry bukannya gue menggurui elo, tapi kalau bisa Lo hati-hati, kalau Lo sampai keluar dari agama kita, lo nggak bisa doain mendiang kedua orang tua Lo, ingat Lo anak satu-satunya," Sinta mengingatkan.
"iya nyonya Rama, saya akan ingat itu,"
Ucapan mereka terhenti saat pipi Sandra tiba-tiba dicium, siapa lagi kalau bukan Alex, lelaki itu datang untuk menemui Rama.
"ih gemes deh sama emaknya Xander,"celetuknya.
Natasha dan Sinta melotot, keduanya terkejut dengan tindakan tiba-tiba lelaki dengan setelan formal itu.
"apa-apaan sih Lo Alex? Main nyosor aja ih,"ujar Natasha kesal.
Alex mengulangi hal yang sama, tapi ditambah dengan kening Sandra, "biarin aja, masih singel ini, selama emaknya anak gue jomblo, gue bakal begini, ia nggak Sasa sayang,"
"wah Sha, kayaknya kita harus segera kenalin Sandra ke sepupu jauh gue deh, ganteng dan dosen pula, cocok nih sama Sandra,"cetus Sinta.
"betul tuh sin, cepat deh kenalin, biar bapaknya Xander nggak nyosor Mulu, bisa-bisa gue nambah keponakan baru dari Sandra,"sahut Natasha menyetujui usul istri dari Rama.
Mendengar itu Alex melotot kaget, ia merangkul Sandra, "apa-apaan sih Lo berdua, Nggak bakal gue biarin Xander punya bapak tiri,"
"makanya nikahi temen gue Alex, jangan digantung Mulu, udah kayak jemuran," ucap Natasha kesal.
"Lo dulu sana sha, kasihan emak Lo udah nanyain cucu, gue biarpun belum nikah, tapi udah ada Xander,"
Natasha melempar remahan cake pada lelaki itu, "diem Lo, gue nikah kalau Lo udah nikahi Sandra,"
"gue pegang janji Lo, saksinya Sinta dan emaknya anak gue,"ucap Alex sembari menatap wanita yang bersahabat dengannya sedari masa orientasi SMA, tatapannya beralih ke arah sang kekasih, "Sasa sayang, aku mau menghadap suaminya Sinta dulu ya, entar kita pulang bareng ya!"pesannya.
"Jangan mau Sandra, dia cuman PHP in doang, buktinya sampai sekarang nggak dinikahi," Natasha mengingatkan.
Alex tak menanggapi sahabatnya, ia lebih memilih mencium punggung tangan Sandra.
Sepeninggal Alex,
"Sandra gue curiga deh sama Lo, bilang udah putus tapi kok masih nyosor Mulu,"cetus Sinta heran.
"Dih, Alex sama Nando itu sebelas dua belas sin, senengnya nyosor duluan, jadi jangan heran,"Natasha teringat sering kali kedua sahabatnya itu mencium pipinya.
"Lo korbannya ya sha?"tanya Sandra memastikan, ia ingat Fernando pernah memperlakukannya seperti itu.
Natasha menoleh menatap Sandra yang duduk di seberangnya, "jangan bilang Nando juga gitu sama Lo!"
"itu dulu sha, waktu Nando baru pulang dari pulau, dia bahkan sengaja foto lalu kirim ke Alex alhasil mereka babak belur, untung Ben nggak tau,"jelas Sandra.
"iya bener tuh, aku pernah denger laki gue ngomong kayak gitu,"
Selanjutnya mereka membicarakan soal rencana liburan saat Xander kenaikan kelas beberapa bulan kemudian.