How To Marry You ?

How To Marry You ?
lima puluh



Natasha menumpang istirahat di rumah keluarga Ferdiansyah, mereka baru tiba sebelum subuh tadi.


Rencananya jika hari sudah terang, Sandra akan mengantarkan gadis itu ke tempat sepupunya yang akan menikah.


Meskipun tidak nyaman, karena banyak penghuninya, Natasha berusaha demi menghormati pasangan paruh baya itu.


Ferdiansyah punya seorang adik perempuan yang sudah berkeluarga, dan memiliki tiga anak.


Kamar juga hanya ada tiga, rumah itu berada di gang yang terletak di perbukitan, sehingga mobil terparkir di lapangan tepat di pintu masuk.


Sandra bercerita jika awal menikah dulu, ia dan Ferdiansyah tinggal di rumah neneknya yang hanya ditempati kedua orangtuanya dan dirinya, ia adalah anak tunggal.


Tentu pernah beberapa kali Sandra menginap di rumah mertuanya, tapi Xander tak pernah ikut, mengingat kondisi rumah yang tidak memungkinkan.


Natasha merebahkan diri di kursi ruang tamu, ia butuh tidur sejenak, dari Tegal hingga Semarang ia yang mengemudi.


Sedangkan Sandra membatu adik iparnya menyiapkan sarapan di dapur, Xander berada di masjid dekat rumah sejak subuh tadi.


"Kerjaan mbak Sandra enak ya, tadi aku lihat mobilnya bagus, itu kan mobil yang biasa dipakai artis,"cetus Eli adik kandung dari Ferdiansyah.


Sandra yang sedang mencuci sayuran hanya tersenyum, "aku pinjem sama bos El, lagian aku kan baru sebentar kerjanya, lagi ngumpulin uang buat Xander masuk SMP,"sahutnya.


"Kadang aku nyesel nikah muda, aku jadi nggak bisa kuliah, dan ngerasain kerjaan yang enak,"keluh wanita tiga anak itu.


Eli lebih muda dari Sandra satu tahun, sebelum lulus SMA, wanita itu menikah dengan pacarnya yang berumur sebaya, tentu karena hamil sebelum menikah.


"Udah jalan hidup El, nikmati aja, kamu lupa aku juga kayak gitu,"Sandra berusaha menghibur adik iparnya.


"tapi mbak kan bisa selesaikan kuliah, sedangkan aku, sibuk ngurus anak-anak, aku capek mbak"


"kerja jadi ibu rumah tangga itu mulia loh, pahalanya besar,"


"Tapi aku pengin punya uang sendiri, nggak ngandelin suami, kalau kayak gini, mau beli skincare aja nggak bisa,huh.."Eli menghembuskan nafas lelahnya.


Sandra terdiam, ia juga pernah mengalaminya, saat dirinya menyusul Ferdiansyah, ia harus memutar otak jika diberikan uang belanja harian oleh lelaki itu.


Belum lagi ia harus membayar tukang ojek untuk mengantar jemput putranya ke sekolah.


Maka dari itu sambil menunggu panggilan kerja, Sandra bekerja di kantin milik mbak Titi.


Ia memahami keluhan adik dari Ferdiansyah,


Masa muda yang harusnya diisi dengan kesenangan bersama teman sebaya, harus diisi dengan mengurus anak dan suami.


Belum lagi jarak anak yang berdekatan, membuat Eli semakin tertekan.


Sandra tau suami Eli yang notabenenya masih berusia muda, belum terlalu siap untuk memiliki istri dan anak.


Mereka sering bertengkar hanya karena masalah sepele, Selain Eli, Inah dan Ferdiansyah beberapa kali bercerita tentang konflik rumah tanggal pasangan muda itu.


"El, sore kita jalan-jalan ke simpang lima yuk, ajak anak-anak sekalian,"Ajak Sandra, ia ingin menghibur ibu beranak tiga itu.


"Ga punya duit aku mbak, lah wong Sonny belum gajian,"tolak Eli.


"Kan mbak yang ngajak, jadi mbak jajanin, pokoknya ikut aja,"


"Serius mbak?"


Sandra mengangguk,


"Makasih mbak,"


Keduanya segera menyelesaikan kegiatan di dapur, serta segera menyajikannya.


Sandra membangunkan Natasha yang tengah tertidur di kursi panjang diruang tamu.


Tak lama Xander datang masih mengenakan baju kokonya,


Sandra menyiapkan sarapan terlebih dahulu untuk Ferdiansyah, ia juga menyuapi lelaki itu.


Terlihat Sandra begitu telaten mengurus Ferdiansyah, itu dikarenakan dulu ia pernah mengurus ibunya yang sakit, dengan kata lain, ia sudah berpengalaman.


Sarapan selesai, Natasha berpamitan pada penghuni rumah itu untuk menuju ke tempat tinggal sepupunya, tentu Sandra dan Xander yang mengantarkannya.


"Sa, Sabtu besok Lo harus dateng ke tempat sepupu gue, temenin gue,"pinta Natasha.


"kan ada bokap nyokap kenapa gue mesti nemenin elo, lagian gue nggak kenal sama sepupu lo,"tolak Sandra.


"Males gue Sandra, pasti mereka bakal bandingkan gue sama yang lain, pada lebih muda tapi udah pada nikah, sementara gue? Udah mau tiga puluh, jodoh gue belum nongol,"


"salah Lo Asha, lagian cari yang masih perjaka, ya susah, mungkin jodoh lo masih baru ngalamin mimpi basah sekarang,"


Natasha yang jarang mengumpat, akhirnya mengabsen penghuni kandang, "jodoh gue kayak dia dong,"ujarnya sambil menunjuk Xander yang ada di jok belakang.


Yang ditunjuk tak peduli dengan yang dibicarakan para perempuan di jok depan, bocah itu sedang asik dengan ponsel miliknya.


Sandra berusaha menahan tawanya,


"nggak usah ketawa Sandra,"ungkap Natasha kesal.


"iya sorry deh, tapi gue punya saran buat Lo untuk menutup mulut mereka,"


Natasha yang sedang memanyunkan bibirnya, sontak menoleh dan bertanya apa saran dari sahabatnya.


"Lo kasih duit warna biru buat bocah-bocah, terus buat yang tua, kasih aja duit warna merah dua lembar, gue jamin mereka bakal tutup mulut,"


"Tekor dong gue,"


"Pelit Lo, abis dapat bonus gede dari Ben juga, bagi-bagi rejeki lah, biar berkah,"


"Masalahnya gue nggak bawa duit cash banyak, ini aja gue nebeng sama Lo!"


"Lo udah kayak orang jadul, ATM udah banyak Asha,"


"Ya udah entar mampir dulu ke ATM, tapi biarpun begitu, hari Sabtu Lo harus tetap temenin gue, awas kalau enggak,"


"Wani Piro dokter?"


"salah satu koleksi tas, bakal gue hibahkan ke Lo!"


Sandra tersenyum lebar mendengar ucapan sahabatnya, "begitu sampai Jakarta, langsung kasih ya, jangan bohong,"


"iya Sandra nya Alex,"


Begitu melintas di sebuah Bank, Sandra menghentikan mobilnya, ia menunggu di mobil, sementara Natasha melangkah menuju mesin anjungan tunai mandiri.


Tak lama gadis itu kembali, dan duduk di sebelah kursi kemudi, lalu menghitung uang yang akan diberikan pada saudaranya sesuai saran dari Sandra.


Sesampainya di rumah sepupu Natasha, Sandra dan Xander disuguhi jajanan khas kota itu.


Kedua orang tua Natasha belum datang, rencananya, mereka datang Sabtu pagi, tepat hari H acara akad nikah sekaligus resepsi.


Selain keluarga besar ibu dari Natasha juga ada para tetangga sibuk membantu memasak, membuat tenda dan juga dekorasi pelaminan.


Andai Eli tidak menghubunginya, mungkin Sandra akan lupa dengan janjinya dengan ibu tiga anak itu.


Natasha dan Xander berpamitan untuk pulang, juga mengatakan akan kembali esok hari.


Sesampainya di rumah Ferdiansyah, Eli dan ketiga anaknya telah menunggunya, Sandra berpamitan kembali dengan pasangan paruh baya itu juga Ferdiansyah.


Eli dan anak-anaknya terlihat antusias saat menaiki mobil mewah yang dibawa Sandra, sementara Xander yang duduk di samping kursi kemudi, masih sibuk dengan ponsel miliknya.


Pertama-tama Sandra mengajak Eli dan anak-anaknya jalan-jalan ke sekitar simpang lima, tak lupa mengajak mereka untuk makan.


Sebelum pulang, Sandra mengajak mereka untuk berbelanja kebutuhan pokok di supermarket.


Satu Troli penuh dengan belanjaan mereka.


Pukul sembilan malam, mereka baru tiba kembali di rumah