How To Marry You ?

How To Marry You ?
enam puluh tiga



Sandra memanyunkan bibirnya, rasanya kesal setengah mati, andai bisa ia ingin menghajar kedua lelaki yang tengah tertidur di jok belakang, mobil yang dikemudikannya.


Beberapa saat yang lalu, masih di club' malam, Dirinya duduk di salah satu table bersama Jonas, menunggu kedatangan Choki yang katanya sedang berada lantai atas, tempat dimana pelanggan menyalurkan hasratnya dengan membayar psk atau pasangan yang dibawanya.


Jonas masih saja menggodanya agar mau bercumbu, namun dengan tegas Sandra menolak, rasanya ia menyesal mengikuti ajakan rekannya itu.


Ia berfikir mungkin lelaki itu hanya ingin mengujinya, apa dirinya tetap setia pada Alex.


Bukan hanya merayu, sambil meminum minumannya, Jonas menceritakan jika club' dimana mereka berada saat ini adalah tempat dimana para sahabat Alex datang sedari masih berseragam putih abu-abu.


Dari cerita itu, Sandra jadi tau maksud cerita Lolita mantan sekertaris Alex tentang kebiasaan lelaki itu jika sedang melampiaskan hasrat sebelum bertemu dengannya.


Alex sering menggunakan jasa PSK yang ada di club' ini, ada rasa kecewa, nyatanya lelaki itu tak sungguh-sungguh menunggunya, tapi ia berusaha memaklumi, karena bagaimanapun Alex adalah pria dewasa yang butuh melampiaskan hasratnya.


Dan tentang pernikahannya itu bukan keinginannya, ia hanya menuruti perintah orang tuanya, yang menjodohkan dengan Ferdiansyah.


Nyatanya selama pernikahan, mantan suaminya tak pernah bisa memasukinya, Ferdiansyah mempunyai penyakit lemah syahwat,


Berbeda dengan Alex yang sengaja mendatangi club' dan membayar jasa perempuan pekerja s*x komersil, entah berapa perempuan yang sudah dimasukinya.


Memikirkan itu, membuat Sandra kesal, dimana-mana lelaki sama saja kecuali mendiang ayah dan mantan bapak mertuanya,


Sebagian lelaki tak bisa cukup dengan satu perempuan, dalam hati Sandra bertanya, bukankah jika seorang lelaki telah berhubungan intim dan telah mencapai puncaknya, usai sudah, mungkin hanya memerlukan waktu semenit hingga tiga puluh menit paling lama,


Mengapa ada banyak lelaki yang mau menggelontorkan uang cukup banyak hanya untuk membuang cairan itu?


"Mbak, dari tadi gue cerita, Lo malah bengong sih,"ucap Jonas mulai kesal.


Sandra tersadar, tadi ia melamun sejenak, "Terus suruh ngapain? Mau pulang duluan nggak boleh,"sahutnya.


"Ya tanggapi kek, malah dicuekin,"


Obrolan mereka terputus ketika ada dua orang perempuan yang terlihat berbeda usia mendatanginya.


"Hai Jo, mami bawa cewek baru nih, sesuai pesanan Lo, baru beberapa kali pake,"ujar Perempuan berusia pertengahan empat puluhan bergaun merah menyala,


Jonas menatap perempuan muda dengan mini dress berwarna hitam, terlihat penuh minat.


"mbak, ini mami Belinda, mucikari sekaligus pengelola club' disini,"bisiknya pada Sandra.


Jonas menyuruh wanita muda itu duduk dipangkunya, seperti tak peduli keberadaan rekannya, lelaki itu meremas di bagian yang menonjol milik wanita dengan mini dress hitam itu.


Sandra sampai melongo dibuatnya, ia tak menyangka jika rekan kerjanya bertindak seberani itu dihadapannya.


"ini siapa Jo?"tanya mami Belinda yang tiba-tiba duduk disebelah Sandra.


Jonas yang sedang sibuk meremas sana sini, menghentikan kegiatannya lalu melirik ke arah perempuan bergaun merah itu, "ini rekan kerja gue di kantor, sekretarisnya bang Alex,"jawabnya.


"Alex udah lama banget nggak kesini, gue denger lagi di Amerika, Kapan balik?"tanya Mami Belinda.


Jonas menaikan bahunya, "tergantung bos besar,"


Tak lama Choki datang bersama perempuan dengan mini dress hijau tua,


Sandra menajamkan pandangannya, saat melihat perempuan yang bersama Choki, sepertinya, ia pernah melihatnya.


Itu adalah perempuan yang bersama Ferdiansyah saat dirinya bertemu klien disalah satu cafe.


Mereka mengobrol sambil minum-minum, sementara Sandra hanya menyimak dan hanya menanggapi sekedarnya saja.


Dari yang ia dengar, beberapa dari sahabatnya sering mengunjungi club' ini, tapi menurut pengakuan mami Belinda, sudah lama sahabat lelakinya tak lagi berkunjung, entah apa alasannya.


Tapi Choki tiba-tiba menyela, "udah pada Nemu tambatan hati,"


Lewat tengah malam, Sandra berada di sana, hanya melihat tingkah laku pengunjung yang membuatnya mengelus dada.


Tadi juga Jonas sempat bersama wanita muda dengan mini dress hitam menuju lantai atas.


Sejujurnya Sandra tak menyangka, kelakuan kedua rekannya sebrengsek itu.


Sandra menghela nafas, cukup sekali dirinya mengunjungi tempat bising itu, ia kapok.


Sesampainya di kantor, Sandra mengemudikan mobilnya ke bagian belakang gedung, tak mungkin dirinya memapah dua orang lelaki dewasa bertubuh lebih besar darinya.


Sandra meminta penghuni rumah dua lantai itu, membawa kedua lelaki yang tak sadarkan diri, entah berapa gelas atau botol yang dihabiskan.


Setelah memastikan kedua rekannya ditangani dengan tepat, Sandra membawa mobil ke parkiran bawah tanah, sepertinya tak mungkin dirinya bisa pulang ke rumah Tante Terry,


Ia memilih tidur di kamar rahasia yang ada di ruang kerja Alex, ia tak mau ambil resiko, jika beristirahat di lantai tujuh, bisa-bisa Jonas akan berbuat buruk padanya.


Bukannya berprasangka buruk, hanya saja, lelaki itu bahkan berani menciumnya, mulai sekarang ia harus menjaga jarak dengan Jonas.


Memasuki kamar rahasia milik Alex, rasa rindu mulai merasuk dihatinya, sudah lama sekali rasanya ia tak bertemu lelaki yang dicintainya.


Usai membersihkan diri, ia berganti baju menggunakan kaos oblong serta bokser milik Alex, meskipun disalah satu sudut lemari ada beberapa pakaian miliknya.


Karena seringnya ia bercinta dengan Alex diruang kerja maka lelaki itu sengaja memintanya untuk menaruh beberapa pakaian.


Sandra membaringkan tubuhnya di ranjang milik Alex, aroma khas lelaki itu merasuk di indera penciumannya.


Ah... Rindu sekali.


Sandra mulai terisak, Rindu ini menyiksanya, membuatnya sesak, hingga ia sedikit memukul dadanya.


Air matanya membasahi bantal, pandangannya berkabut, dari penglihatannya, ia melihat lelaki itu tengah berbaring miring berhadapan dengannya, sambil tersenyum jahil seperti biasa.


Namun saat tangan Sandra menggapainya, bayangan lelaki itu menghilang.


Ia memeluk tubuhnya sendiri, ia benar-benar tersiksa sekarang, ia rindu dekapan lelaki itu,


Sandra dan Alex benar-benar saling mencintai, mungkin sama atau lebih besar salah satu, yang jelas keduanya mengerti perasaan masing-masing.


Cinta itu tak hilang meskipun waktu telah berlalu dan mungkin sudah berkali-kali bertemu orang baru, Rasa itu masih sama seperti saat masa sekolah dulu.


Andai tak ada perbedaan diantara keduanya, mungkin mereka sudah menikah dan menjalani rumah tangga dengan bahagia, bukan hanya Alexander tapi mungkin akan ada adik perempuan untuk putra semata wayang mereka.


Sayangnya tidak sesimpel itu, keduanya berbeda keyakinan, dulu saat Sekolah, Sandra berfikir mungkin rasa cintanya pada Alex hanya karena cinta monyet, nyatanya walau berpisah bahkan menikah dengan Ferdiansyah, Nama Alex masih tertanam kuat di hatinya.


Sandra masih terisak, otaknya berfikir, bagaimana caranya untuk keduanya bersatu?


Tak mungkin ia memaksakan kehendaknya agar Alex mengikuti keyakinannya, begitu pula dirinya.


Biarlah waktu yang menjawab, jika memang tak bisa bersatu, mungkin Sandra akan berhenti berhubungan dengan lelaki manapun, ia harus memprioritaskan putra semata wayangnya.