How To Marry You ?

How To Marry You ?
tujuh delapan



Liburan yang sudah direncanakan, tak juga terealisasi, nyatanya Alex makin sibuk dengan adanya Benedict yang sudah resmi menjadi ayah dari dua anak kembar,


Alex mengajak kekasihnya menjenguk Ayudia pasca melahirkan tak lupa membawakan hadiah.


Sandra sedikit iri dengan kasih sayang berlimpah yang diterima Ayudia, meski yatim piatu tapi ada mertua dan saudara yang begitu perhatian dengan wanita dua anak itu.


Sandra teringat, saat dirinya melahirkan Xander, hanya Siska seorang yang mendampinginya, kedua orang tuanya yang masih kecewa dengannya bahkan tak menjenguknya, ia tau dirinya membuat aib bagi keluarga, tapi kenapa harus sampai seperti itu, Sandra bahkan tinggal di rumah Siska hampir dua bulan lamanya pasca melahirkan.


Salah satu orangtuanya mau menerima Xander saat putranya berumur satu tahun.


Sang ibu mau menjaga cucunya setelah Xander berumur satu tahun, sementara dirinya melanjutkan kuliahnya sembari bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan putranya.


Meskipun mau menerima keberadaan Xander, tapi tidak dengan biaya kebutuhan balita itu, sehingga Sandra benar-benar harus bekerja keras.


"kamu kenapa? apa aku buat salah? Kenapa sedari tadi aku lihat kamu terus diam?"tanya Alex sambil mengemudikan mobil menuju ke sekolah putranya.


Sandra yang mengalihkan pandangannya ke arah samping jendela, lalu mengelap sedikit sudut matanya, yah... Dirinya menangis teringat perjuangannya dulu.


Wanita itu menghadap kekasihnya yang sedang mengemudi sambil tersenyum lebar, "aku nggak apa-apa, seneng aja liat anak-anaknya Ben, gemesin banget, tapi nggak mirip sama Ben sama Ayu ya!"ucapnya berusaha menutupi rasa sedihnya.


"Mereka lebih mirip mendiang daddy-nya Ben, kalau Ben kan lebih mirip Tante Anna,"sahut Alex.


Mobil berhenti tak jauh dari tempat Xander bersekolah, Alex mengatakan bahwa dirinya yang akan menjemput putranya didalam sekolah, dan menyuruh Sandra untuk tetap di mobil.


Sepeninggal Alex, wanita itu kembali menumpahkan air matanya, masih teringat dengan perjuangannya membesarkan putranya.


Gunjingan dan sindiran dari keluarga besarnya sudah jadi makanan sehari-hari untuknya.


Dirinya sadar telah membuat malu kedua orang tuanya, tapi apa ia punya pilihan, bahkan ia tak menyangka dirinya akan hamil, apakah dosa yang ia lakukan harus ia tambahkan dengan dosa membunuh bayinya? Dengan begitu mereka baru bisa puas.


Setiap dirinya terpuruk akibat ucapan-ucapan buruk yang ditujukan padanya, Sandra hanya bisa menangis dalam diam dibalik bantalnya.


Usai puas menangis, ia akan memeluk putranya sembari meminta maaf, karena bocah itu juga ikut mendengar cacian dari orang-orang disekelilingnya.


Masa-masa sulit itu telah lewat, kini ia bisa melihat putranya tumbuh dengan baik serta ceria berkat keberadaan ayah kandungnya.


Meskipun sibuk, Alex akan menyempatkan diri untuk mengantar jemput putranya disekolah, seandainya tidak sempat ia akan meminta choki atau Jonas.


Belum lagi soal membantu mengerjakan PR, apalagi sejak Sandra kembali bekerja, maka sepulang sekolah atau malam hari yang mengajari bocah itu adalah Alex,


Akhir pekan jika tidak sibuk, Alex akan mengajak dirinya dan Xander untuk berlibur, entah ke tempat wisata atau sekedar piknik di taman kota.


Baru-baru ini jika sempat, Alex mengajari putranya bermain basket atau olahraga boxing, sesuai bidang olahraga yang katanya semasa SMA dan kuliah ia tekuni,


Sandra tau dari beberapa piala dan mendali yang ada di lemari rumah tempatnya tinggal.


Pintu mobil terbuka, Alex dan putranya masuk dari pintu berbeda secara bersamaan,


"Ma, aku udah sunat belum sih?"tanya bocah berseragam batik itu.


Sandra menoleh kebelakang menghadap putranya, "kok nanya gitu, memangnya kenapa?"tanya balik.


Alex mulai melajukan mobilnya, "Tadi ada salah satu teman sekelasnya yang nanya, apa Xander udah sunat atau belum? Kalau sudah kok teman-temannya nggak diundang makan di rumahnya,"jelasnya.


"Udah sunat kok, waktu bayi,"jawab Sandra.


Alex sampai menoleh, "kenapa waktu bayi?"tanya terkejut mendengar fakta yang baru diketahuinya.


Sandra menghela nafas, ia jadi teringat hari itu, dimana ia masih berada di rumah Siska pasca melahirkan, putranya menangis terus menerus, yang membuat ia dan sepupunya bingung.


"Dulu saat Xander masih bayi berumur tujuh hari, tiba-tiba demam tinggi dan terus menangis, padahal sudah disusui, aku dan Siska terpaksa membawanya ke rumah sakit, dan dokter mengatakan jika saluran pipisnya terinfeksi, saat itu kami yang masih muda tak pandai merawat bayi, tentu tak terlalu mengerti tentang mengurus dengan benar, termasuk membersihkan saat buang air besar, kata dokter mungkin ada kotoran yang terselip di saluran pipisnya, sehingga solusi yang dokter berikan adalah dengan mengkhitan,"jelas Sandra panjang lebar.


Sandra tertawa, "justru kamu lebih berani dari mereka dong, waktu bayi loh, apa nggak hebat tuh,"sahutnya.


Tak ada tanggapan dari Alex, meski dua orang berharga dalam hidupnya tertawa bersama,


"ma, kalau mengajak teman-teman sekelas untuk makan-makan boleh nggak sih?"tanya bocah itu.


"boleh lah, buat anak mama apa sih yang enggak,"jawab Sandra sambil tersenyum menghadap putranya.


Tatapan Sandra beralih ke Alex yang sedari tadi diam,


"Lex boleh kan aku ajak teman sekelas Xander untuk makan-makan?"tanyanya.


Alex mengalihkan pandangan pada kekasihnya, "tentu saja boleh, mau makan-makan dimana?"tanyanya balik.


Xander bangkit dari duduknya, mendekati kedua orang tuanya yang ada di jok depan, "mama buatin nasi kuning aja, terus antar ke sekolah buat makan siang teman-teman aku,"


"Kalau kayak gitu mungkin mama repot sayang, gimana kalau pesan di tempat sahabat papa?"tanya Alex pada putranya.


"oh ya, mama kan kerja, lagian kayaknya mama nggak pernah masak nasi kuning, ya udah deh pa, Xander mau,"


Bukannya tersinggung dengan ucapan putranya, Sandra malah tertawa, itu memang fakta, dirinya tak bisa memasak nasi secara manual, pernah dulu waktu belum ada rice cooker, ia membantu ibunya memasak nasi, dan berakhir gosong.


"oh ya, aku dengar Tante Susi buka katering ya? beberapa kali saat aku tinggal di rumah Asha, dia bawa pulang makanan yang katanya masakan ibu dari Rama.


Alex mengangguk, lalu segera menghubungi langsung Tante Susi, untuk memesan nasi kuning dan Snack.


Sesampainya di kantor, Xander naik sendiri ke lantai tujuh, bocah itu ingin langsung tidur siang, sementara Alex dan Sandra menuju lantai enam.


Menjelang sore Sandra masuk ke ruangan Alex untuk memberikan berkas agar diperiksa oleh atasannya itu.


Biasanya Alex akan memintanya mendekat dan memeluknya, tapi entah mengapa sedari tadi lelaki itu diam, sibuk memeriksa berkas yang diberikannya.


Hingga berkas selesai diperiksa, lelaki itu tak kunjung mengucapkan sepatah katapun, Alex memberikan tumpukan berkas itu begitu saja.


Bahkan saat perjalanan pulang lelaki itu tetap bungkam, Alex membuka mulutnya jika ditanya oleh putranya.


Makan malam bersama pun seperti itu, Alex seolah mendiamkannya,


Sudah tak tahan, Sandra menegur lelaki itu saat putra mereka sudah tertidur,


Alex sedang memeriksa berkas yang dibawanya pulang ke rumah.


"aku punya salah, kenapa dari tadi kamu diamkan aku?"tanya Sandra duduk bersebrangan dengan lelaki itu.


Alex hanya menaikan bahunya, Sandra tentu kesal, "kalau kamu maunya begitu ya terserah,"ucapnya sembari bangkit hendak memasuki kamarnya, tapi tangannya ditahan oleh lelaki itu.


Alex menuntunnya, untuk duduk di sofa dibelakangnya, lalu menggenggam tangannya menatapnya lembut, "Sa, maafkan aku,"ucapnya sambil meletakan dahi dikedua lututnya.


Sandra mengernyit heran, "bukannya aku yang buat salah sama kamu?"


Alex menggeleng, punggung lelaki itu mulai bergetar, Sandra tak menyangka lelaki itu bahkan menangis, tapi ia bingung, apa yang membuat papa kandung putranya itu sampai menangis.


Dengan mata berkaca-kaca, Alex menatap penuh rasa bersalah pada wanita yang telah melahirkan putranya, "maafkan aku, karena aku nggak ada disaat masa sulit kamu, aku nggak mendampingi kamu, karena aku kamu melalui semuanya sendiri, maafkan aku, andai bisa aku ingin menebus semuanya,"


Sandra mengerti sekarang, Alex merasa bersalah padanya, ia menyentuh kedua sisi wajah lelaki tampan itu, lelaki yang dicintainya, "Lex, aku bahagia kok dengan adanya Xander, meskipun awalnya sulit, tapi aku bersyukur, putra kita telah lahir, meskipun caranya salah, jadi jangan merasa bersalah, yang penting sekarang kita besarkan Xander sama-sama ya!"


Keduanya berpelukan, entah mengapa malam itu ada kelegaan pada diri Sandra.