
Pagi-pagi sekali usai Subuh, keluarga kecil itu berangkat menuju stasiun yang ada dipusat kota, menurut pesan dari Elina, kereta berangkat tepat pukul tujuh pagi.
Karena tak sempat sarapan, akhirnya Sandra menyuapkan roti dengan selai cokelat pada suaminya yang tengah mengemudi, sedangkan putranya makan sendiri di bangku belakang.
Xander sengaja ijin sekolah untuk bertemu dengan mantan ayah tirinya, bagaimanapun lelaki dewasa itu pernah menjadi ayah yang baik untuknya.
Semalam Sandra memberitahukan pada putranya tentang kepergian Ferdiansyah yang akan meninggalkan ibukota untuk kembali ke kampung halamannya.
Karena masih pagi jalanan lumayan lancar, sehingga mereka sampai di stasiun tiga puluh menit sebelum waktu keberangkatan kereta.
Sandra meminta diturunkan di lobby stasiun bersama putranya, sementara Alex memarkirkan mobil.
Setelah berjalan mencari mantan keluarganya, akhirnya Sandra menemukan mereka yang bersiap mengantri untuk pencetakan tiket.
Sandra diikuti putranya menghampiri mereka, menyalami dan mencium punggung mantan mertuanya, tak lupa meminta maaf karena tidak sempat menjamu lelaki paruh baya itu dengan baik.
Ketika giliran Ferdiansyah, lelaki itu membuang muka, saat Sandra menyodorkan tangannya.
"mas, tolong buka pintu maaf kamu buat aku,"pintanya, tapi mantan suaminya masih bersikap dingin padanya.
Tiba giliran Xander yang mengalami mantan ayah tirinya, bukannya membalas jabatan tangan remaja itu, Ferdiansyah malah memeluk erat mantan anak tirinya.
"maafkan ayah ya Xander, ayah sering menyiksa kamu,"
Dalam dekapan lelaki yang dipanggil ayah, Xander menggeleng, "Xander yang minta maaf karena sering nyusahin ayah, Xander harap setelah ini hidup ayah jauh lebih baik, Xander pasti bakal kangen banget sama ayah,"ujarnya sedih, "ayah tolong maafkan mama ya!"pintanya.
Mendengar permintaan mantan anak tirinya, Ferdiansyah melirik sekilas kepada wanita yang hingga saat ini masih bertahta di hatinya.
"oke, ayah akan maafkan mama demi Xander, jadi pesan ayah, jadilah lelaki yang bisa melindungi mama dari siapapun termasuk papa kamu, selamat ya, akhirnya kamu ketemu dengan papa kandung kamu, satu hal yang ayah minta, jangan pernah lupakan ayah ya!"
Xander mengangguk sembari melepaskan pelukan itu, lalu mengambil tangan ayahnya lalu mencium punggung tangannya.
Remaja itu juga memeluk lelaki paruh baya yang biasa dipanggil mbah Kakung dan berdoa supaya tetap sehat.
Elina memeluk mantan keponakannya dan berpesan supaya menjaga sang mama dengan baik.
"El, sesuai jadi mbak, ini ada sedikit uang untuk kamu memulai usaha, anggap saja ini investasi mbak, tolong diterima, mbak doakan usahamu lancar dan berkah ya, salam buat anak-anak,"ucap Sandra sembari memberikan kantong plastik hitam yang diambil dari tasnya, lalu diberikan pada mantan adik iparnya.
Hampir saja Ferdiansyah protes, tapi ditahan oleh Bapak, sehingga lelaki itu pasrah saja.
Setelah urusan dengan Elina selesai, Sandra kembali menghampiri Ferdiansyah, sekali lagi ia meminta maaf pada mantan suaminya.
"oke, aku maafkan kamu, tapi untuk terakhir kalinya, apa aku boleh memeluk kamu?"tanyanya.
Sandra mengangguk,
Ferdiansyah memeluk erat mantan istrinya, "maafkan aku Sandra, aku harap setelah ini kamu akan terus bahagia meskipun tanpa aku, jaga selalu kesehatan kamu dan jika suatu saat kamu ingin kembali padaku, aku masih disini menunggu kamu,"
Dalam rengkuhan mantan suaminya, Sandra mengangguk, matanya berkaca-kaca, entah mengapa meskipun tak pernah cinta, ia bersedih dengan perpisahan ini.
Suara deheman, membuat mantan suami istri itu melepaskan pelukannya, keduanya kompak menoleh ke arah sumber suara.
Itu Alex dengan rahang yang mengeras, terlihat jelas kemarahan dari wajah lelaki itu.
Ferdiansyah mengernyit heran, mengapa mantan atasannya repot-repot datang ke mari, "loh pak Alex, ada apa kemari? Apa pak Alex mau ke luar kota juga?"tanyanya.
Alex menggeleng sambil menghampiri Sandra lalu merangkul bahunya, "saya hanya menemani istri saya yang menemui mantan suaminya untuk terakhir kalinya,"jawabnya.
"maksud pak Alex apa? Saya tidak mengerti,"ucap Ferdiansyah bingung.
Alex mencium kening istrinya, lalu menatap mantan bawahannya, "Sandra Wijayanti adalah istri saya, dan Alexander adalah putra kandung saya, apa anda mengerti bapak Ferdiansyah?"
Ketiganya kompak menatap Sandra seolah menanyakan kebenaran fakta yang baru mereka ketahui, dan wanita itu mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
Hampir saja, Ferdiansyah terbakar emosi memberikan bogem mentah pada lelaki yang menghalangi jalannya untuk rujuk dengan Sandra, andai bapak dan Elina tak mencegah.
Senyum kemenangan tergambar jelas di wajah milik Alex Soejono, "disini yang seharusnya marah adalah saya, karena anda yang merebut wanita saya terlebih dahulu, dengan pernikahan yang tak didasari cinta,"ucapnya dengan tampang begitu menyebalkan Dimata Ferdiansyah, "silahkan tinggalkan kota ini sesuai kesepakatan kita dan jangan mengganggu keluarga saya, anda mengerti!"lanjutnya dengan tatapan mengintimidasi.
Terdengar pengumuman dari petugas informasi kepada penumpang kereta tujuan Semarang, untuk segera naik, karena beberapa menit lagi kereta akan berangkat.
Sandra dan Xander melambaikan tangannya pada ketiga orang yang pernah mengisi hari-harinya.
Setelah mereka tak terlihat, Alex merangkul istrinya berjalan menuju mobil dengan putranya yang berjalan terlebih dahulu didepannya.
"kamu menangis?"tanya Alex mulai melajukan mobi milik istrinya.
"Mereka pernah jadi bagian dari hidupku, apa kamu tidak mengijinkan aku untuk sekedar menangis yang terakhir kalinya?"
"oke, aku ijinkan, tapi hanya untuk saat ini, aku tidak suka melihat air mata kamu,"
Terkadang perpisahan memang hal yang tidak menyenangkan, tapi adakalanya dengan perpisahan hidup menjadi lebih bahagia.
Kehidupan keluarga kecil itu terus berjalan, Sandra masih menjalani dua peran istri di rumah dan bawahan di kantor bagi Alex.
Para sahabat mereka belum tau kebenaran tentang pernikahan diam-diam yang keduanya jalani, toh tak ada satupun yang bertanya.
Hal yang biasa buat yang lainnya ketika sedang berkumpul Alex akan menempel pada Sandra, tak segan untuk mencium pipi atau mencuri kecupan dibibir istrinya.
Natasha yang paling sering melontarkan protes, dan mengompori Sandra agar jangan mau diperlakukan seperti itu oleh sahabat yang terkenal sebagai seorang player.
Alex tak menanggapi, karena tanpa mereka tau, dirinya telah sah sebagai pasangan suami istri, ia justru semakin terang-terangan menunjukan kemesraannya.
Walau sibuk dengan pekerjaannya, Alex dan Sandra selalu memberikan perhatian pada putra semata wayang mereka, sekedar sarapan bersama atau mengantarkan ke sekolah, juga pertemuan wali murid salah satu dari keduanya akan datang.
Sempat disinggung tentang adik untuk Xander, tetapi Sandra beralasan masih trauma dengan keguguran yang dialaminya, saat itu ia hampir meregang nyawa akibat pendarahan parah.
Sesekali ia mengunjungi Tante Terry saat weekend, sekedar memasak bersama atau mendengar curhatan adik kandung dari mendiang mertuanya tentang Jonas yang tak kunjung mau menikah, padahal sebentar lagi usianya mendekati kepala tiga.
Malam itu usai berperang peluh di kamar yang menjadi saksi bisu malam pertama dan malam-malam yang lainnya, kedua sejoli itu saling berpelukkan.
"Makasih ya Sasa, sudah hadir dalam hidupku, semakin hari aku semakin mencintai kamu, tetaplah begini meskipun ujian akan datang nantinya,"ucap Alex sembari mencium kening istrinya, "akhirnya impian aku untuk menikah dengan kamu terlaksana,"lanjutnya.
"Sama-sama papa Alex, aku harap cinta kamu buat aku tak berubah meskipun suatu saat nanti aku sudah tak cantik lagi,"sahut Sandra.
"pasti Sasa sayang,"
Keduanya kembali berciuman mesra, mungkin melanjutkan lagi sesi bertukar Saliva dan berperang peluh.
Ada kalanya perbedaan memang tak bisa bersatu, tapi jika salah satu dari mereka mengalah maka sebuah hubungan yang tadinya tak mungkin menjadi mungkin.
Terkadang Cinta datang diantara dua orang anak manusia yang berbeda, tapi sebisa mungkin logika harus tetap berjalan, supaya tak ada orang yang tersakiti.
Kali ini benar-benar Tamat ya, terima kasih yang sudah kasih jempol dan hadiah, jangan bosan baca cerita aku selanjutnya ya!
Tadinya mau lanjut ke sahabat Benedict yang lain, tapi sepertinya aku mau lanjutin cerita pertama yang pernah aku upload tapi nggak lanjut-lanjut.
Sekali lagi terima kasih buat dukungannya.
love banyak-banyak buat kalian.