How To Marry You ?

How To Marry You ?
tujuh belas



Tiga hari Sandra ijin tidak masuk ke kantornya dengan alasan mengurus anaknya yang sedang sakit.


Ia bersyukur putranya tidak ada masalah di kepalanya, setelah dokter melakukan observasi dan CT Scan, sore hari berikutnya, Xander diijinkan pulang oleh dokter.


Tadi pagi-pagi sekali putranya meminta untuk bersekolah, sehingga hari ini Sandra pergi bekerja.


Seperti biasa sebelum bekerja ia akan sarapan bersama dengan cleaning service di kantin,


Tak masalah Jika membawa makanannya dari luar, karena sarapan yang disediakan di kantin hanya roti atau sandwich tak ada nasi.


Selesai dengan sarapannya Sandra naik menuju ruangannya.


Di mejanya sudah menumpuk beberapa pekerjaan miliknya, baru ditinggal tidak masuk tiga hari, pekerjaannya sudah sebanyak itu.


Sepertinya nanti sore ia harus lembur.


Sandra yang sedang serius bekerja di kejutkan dengan suara rekannya.


Gita menanyakan kabar Xander, sambil bekerja Sandra menceritakan keadaan putranya.


"Sa, entar siang kita disuruh rapat,"ujar Gita.


Sandra mengernyit heran, "sejak kapan admin ikut rapat? Bukannya yang rapat hanya staf keuangan ya?"


"Gue juga nggak tau Sa, Pokoknya staf dilantai ini disuruh rapat nanti siang,"


Sandra hanya berdehem dan melanjutkan pekerjaannya.


Seperti biasa menjelang jam makan siang, ia akan keluar menjemput putranya di sekolah.


Gita sudah mewanti-wanti dirinya agar jangan sampai terlambat sampai di kantor, karena rapat akan dilaksanakan tepat jam satu siang.


Sandra menjemput Xander di sekolah, lalu mengantarkan ke kantin apartemen, ia juga makan siang bersama dengan putranya.


Entah mengapa siang itu jalanan lebih macet dari pada biasanya, kendaraan bermotor berjalan merayap, waktu tempuh yang biasa hanya sepuluh hingga lima belas menit, sekarang sudah lebih dari dua puluh menit, ia masih dijalan yang sama.


Sandra melihat waktu di pergelangan tangannya, sudah lewat sepuluh menit dari habisnya waktu istirahatnya.


Ia dalam masalah sekarang, untuk pertama kalinya dirinya ikut rapat, tapi malah terlambat begini.


Sandra berdoa agar dirinya tidak dipecat.


Tepat pukul tiga belas lebih tiga puluh menit, Sandra sampai di ruang kerjanya, tapi lantai terlihat sepi, berarti rapat masih berlangsung dilantai atas.


Ia membuka ponselnya, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Celine dan pesan dari Gita yang intinya menanyakan keberadaannya dan berpesan jika sudah sampai ia harus segera ke ruang rapat di lantai lima.


Sandra menaiki lift menuju keatas, salah satu cleaning service memberitahunya, sebenarnya sudah beberapa kali dirinya naik ke langit lima untuk meletakan berkas di ruang arsip.


Tetapi ini kali pertama ia menuju ruang rapat,


Pintu kayu berwarna cokelat dengan dua gagang pintu, Sandra mengetuknya pelan, tak lama pintu di buka dari dalam, Celine yang membukanya.


Sandra bisa melihat wajah muram manajer keuangan itu, ia hanya bisa menunduk dan minta maaf.


Celine memberitahukan jika tempat duduknya bersebelahan dengan Gita, karena merasa bersalah, Sandra hanya bisa menunduk.


Rapat dilanjutkan, ia mendengar suara Celine yang memberikan laporannya.


Hanya suara manajer keuangan yang terdengar,


Mungkin sekitar lima belas menit, Celine terus berbicara, setelahnya digantikan oleh lelaki yang beberapa hari lalu bertemu dengannya, tentu saja itu Rama.


Sandra mendongak melihat ke arah dimana Rama berada, lelaki itu memberikan komentar terkait laporan keuangan yang tadi Celine sebutkan.


Sandra tak menyangka kenalannya adalah salah satu petinggi di kantor ini, padahal ia sudah enam bulan lebih bekerja, tapi baru kali ini ia tau.


Gita sering menceritakan tentang Rama tapi Sandra tak berfikir jika yang dimaksud adalah Rama kenalannya,


Kenapa dunia sempit sekali?


Sandra terus memperhatikan lelaki yang baru ia sadari sebagai salah satu atasannya hingga Rama selesai berbicara.


Sandra melotot kaget dan tak habis pikir, kejam sekali sahabatnya itu, apa lelaki itu tidak tau jika dirinya sedang membutuhkan banyak uang, lihat saja ia akan protes setelah ini.


"Rapat selesai silahkan kembali ke ruangan masing-masing,"ucap Rama mengakhiri rapatnya.


Rama langsung ke luar dari ruangan itu, Sandra bangkit lalu berjalan cepat mengikutinya, tak peduli pada Celine dan Gita yang memanggilnya, prioritasnya adalah gaji yang diterimanya utuh, tak berkurang sedikitpun.


Rama masuk kedalam lift berwarna gold, Sandra memanggil namanya, walau rekan-rekannya mungkin akan mempertanyakan mengapa seorang staf biasa begitu tidak sopan dengan atasannya.


"Ram, nggak bisa gitu dong, masa dipotong sampai lima puluh persen, tega banget sih lo, gue setiap hari berangkat pagi-pagi buta, itu nggak diitung, belum lagi kalau lembur,"oceh nya tak peduli pandangan staf lainnya.


Rama menatapnya tajam, "Itu udah aturannya ibu Sandra,"ucapnya tak mau dibantah.


"Gue butuh duit, sumpah lo tega banget, misal mau dipotong jangan lima puluh persen dong, lima persen kek,"Sandra masih tak terima, wanita itu berdiri menghalangi pintu lift.


"Silahkan keluar ibu Sandra, saya akan meeting lagi dengan pengacara di lantai atas,"pinta lelaki itu.


Sandra menggeleng, ia tak bisa menerima begitu saja soal pemotongan gajinya, ia tidak bisa membayangkan jika penghasilannya berkurang.


Celine memperingatinya, namun tak diindahkan oleh Sandra.


Mungkin sepanjang ia bekerja disini, baru kali ini ia ngotot seperti ini.


Ponsel Rama berdering, ia mengangkatnya, sambil melirik ke arah Sandra.


"Iya ini lagi di lift, ada karyawan Lo yang protes, nggak terima gajinya gue potong lima puluh persen,"


"...."


"telat ikut rapat,"


"....."


"Sandra Wijayanti staf keuangan,"


"..."


"iya gue suruh naik sekarang,"Rama mengakhiri panggilannya.


Lelaki itu menatap Sandra, "Silahkan masuk, anda protes langsung pada atasan disini,"ucapnya Formal.


Demi lima puluh persen gajinya, Sandra akan berjuang, Celine dan para staf lainnya sudah memasuki lift sebelah.


Sepanjang jalan, Sandra terus mengoceh, ia masih tak terima dengan keputusan Rama,


"Sa, lo berisik banget, sebelas dua belas sama Asha, ampun deh, kuping gue pengeng,"tutur Rama sambil memegangi telinganya.


"maka dari itu, tarik ucapan lo yang mau potong gaji gue,"


"Protes sama atasan lo sana,"


Keduanya sampai di pintu berwarna hitam, tanpa mengetuk, Rama memasuki ruangan.


"Pak, ini karyawan yang protes karena gajinya saya potong lima puluh persen karena terlambat memasuki ruang rapat,"ucap Rama berbicara sopan.


Sandra melihat ke arah meja kerja atasnya, kursi itu membelakanginya, sehingga ia tidak bisa melihat wajah bosnya yang menurut cerita Gita sangat tampan.


"Sa, gue balik ke Cafe dulu ya, urusan gue disini udah selesai, saran gue lo mesti sabar dan tabah, soalnya bos paling nggak suka di protes,"pesan Rama, "satu lagi, kalau bos masih tetep kekeh potong gaji, Lo cip*k aja bibirnya, gue yakin, salah satu koleksi kartunya, bakal langsung dikasih deh,"bisiknya.


Sandra melebarkan matanya, ingin protes tetapi Rama berlari keluar dari ruangan itu.


Hening, hanya terdengar hembusan pendingin ruangan, hingga Sandra mulai angkat bicara, "Pak, saya mohon jangan potong gaji saya, maaf tadi jalanan macet sehingga saya terlambat, saya sangat membutuhkan uang itu,"pintanya, ia terus ocehan yang intinya meminta supaya gajinya tak di potong.


Kursi kebesaran itu berbalik, "ada syarat yang harus kamu penuhi supaya gaji tidak dipotong,"


Sandra seperti pernah mendengar suara lelaki itu, ia yang sedari tadi menunduk, kini mendongakkan kepalanya, ia mematung melihat siapa yang duduk di kursi itu.


"Long time no see babe,"