
Tiga hari kemudian.
Malam itu, Alex bersama Fernando mengunjungi Rama di cafe, selain membahas pekerjaan, ketiganya juga membahas tentang rencana pernikahan Rama dan Sinta yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.
Segala keperluan tentang pernikahan sudah selesai hingga delapan puluh persen.
Acara yang akan di lapangan kampung tempat dimana Benedict dan Ayudia melaksanakan resepsi dulu.
Aneh memang, baik bos ataupun wakilnya yang memiliki uang berlimpah, malah mengadakan resepsi pernikahan sederhana ala orang biasa.
Bukan karena tak mampu, hanya saja pihak laki-laki berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan perempuan yang dicintainya.
Sinta adalah tetangga Ayudia, rumah mereka saling berdekatan, masih dalam satu gang salah satu perumahan padat penduduk di ibukota.
Sementara Rama dan Fernando sedang membahas soal acara pernikahan dan rumah yang akan ditinggali usai pesta, Alex diam, pikirannya melayang jauh, memikirkan rencana pernikahannya dengan sang pujaan hati.
Kurang dari tiga bulan, tapi sedikitpun belum ada persiapan apapun, tentang rencananya yang akan mengikuti keyakinan kekasihnya, pengurusan berkas pernikahan ke kantor urusan agama, hingga konsep resepsi.
Alex bersandar di sofa, ia mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya, pusing sekali rasanya, bukan apa-apa, tadi siang ia mendapatkan telepon dari Paman dari mendiang mamanya yang tinggal di Manado, beliau menanyakan tentang keputusannya untuk keluar dari keyakinan yang sedari kecil dianutnya.
Mungkin Opa kecil biasa Alex memanggilnya, mendapatkan informasi dari Maria atau Tante Terry, tentang rencananya itu.
Opa kecil marah besar padanya, sempat berbicara dengan nada tinggi, intinya beliau menentang keras keputusannya.
Beliau yang merupakan seorang pendeta, menceramahinya panjang lebar, dan berencana akan berkunjung ke ibukota, karena itulah ia sedang pusing.
Alex tau betul watak dari opa kecilnya, ia tak ingin Sandra sakit hati karena ucapan laki-laki tua itu dan meninggalkannya lagi.
"Kenapa Lo? Kayak ada yang dipikirin Lex, ada masalah apa?"tanya Rama sambil memberikan bir kalengan yang baru diambilnya dari kulkas.
Alex mengambil Kaleng itu, lalu membukanya dan meminumnya hingga tersisa setengah, ia menghembuskan nafasnya kasar, "gue lagi mumet,"
"Belum dapat jatah apa gimana nih? Apa perlu gue telponin mami buat kirim anak buahnya kemari?"cetus Fernando usai menghisap rokok yang dipegangnya.
Alex mengumpat, "gue setia, ada Sandra yang setiap saat bisa gue ajak bercinta, dia sehat, bersih dan bebas penyakit, ngapain juga gue masih cari yang kayak gitu, elo kali, udah karatan kan? Secara udah setahun kan Lo nggak main,"ucapnya diakhiri dengan ejekan.
Fernando balas mengumpat, "gue udah nggak selera sama yang ke jalan tol, kagak bangun junior gue, biarpun itu jal**g pake lingerie,"sahutnya.
"eh, kok sama, gue sejak dapet perawan, udah kaga nafsu sama cewek-cewek kayak gitu, gue pikir udah nggak normal tapi ternyata bukan cuman gue, Lo juga do?"ucap Rama.
"Termasuk sama Citra?"tanya Alex, ia tau mantan tunangan Rama masih mengejar-ngejar sahabatnya itu.
"iya, belum lama, Citra nyamperin gue ke apartemen, dia nyaris polos, tapi gue malah jijik, abis itu dia ngamuk-ngamuk masa, gue ketawa aja, mupeng nya itu loh, kasihan banget,"
Alex melempar kulit kacang pada Rama, "cih... dulu aja main Mulu tiap ketemu, jangan munafik deh,"
"Gue main buat menyalurkan hasrat Alex, ya rasanya sama kayak waktu gue sewa anak buahnya mami,"
Alex dan Fernando mengumpat secara bersamaan, mereka tak menyangka, Rama tak jauh berbeda dengan keduanya, sama-sama brengsek, padahal wajah alim dan kalem.
Yang ditanya kompak menghela nafas lelah, keduanya bahkan secara bersamaan menghabiskan sisa bir di kaleng masing-masing.
"Dih, gue tanya malah pada kayak gitu sih? Kalian kenapa sih? Apa seberat itu masalahnya?"tanya Rama lagi.
"Gue udah suruh orang awasi rumah keluarganya dan kakaknya, tapi nggak ada tanda-tanda kemunculan cewek gue, sampai sekarang gue bingung, apa dia masih hidup atau udah mati, rasanya gue mau gila kalau mikirin,"ungkap Fernando dengan wajah murung,
"Terus kalau Lo Lex?"tanya Rama.
Alex menatap kedua sahabatnya secara bergantian, lalu menghela nafas lelah, "gue abis di telpon Opa kecil, mungkin beliau dapat info dari Maria atau Tante Terry tentang rencana gue pindah keyakinan, dan gue diceramahi panjang lebar, beliau mau datang kesini, gue takut omongan opa bakal nyakitin Sandra, kalau gara-gara itu dia ninggalin gue, gimana? Gue pusing banget,"jelasnya.
"Emang Lo serius mau nikahi Sandra? Kan dia masih punya laki kan?"tanya Fernando serius.
"gue lah lakinya,"sahut Alex, ia memang belum memberi tahu sahabatnya tentang resminya Sandra menjadi Janda, biarlah mereka berspekulasi semaunya.
"Dasar perebut bini orang, aturan selesaikan dulu sama lakinya, masa ia cewek satu cowoknya dua, aneh aja Lex,"ucap Fernando.
"Bodo amat,"ujar Alex tak peduli.
Obrolan mereka terhenti karena ponsel Rama berdering, "Ada apaan nih Ben hubungi gue? Perasaan urusan kerjaan beres, ayu juga udah balik dengan selamat, jadi deg-degan gue,"
"angkat aja sih,"saran Fernando.
Rama mengangkatnya tak lupa mengaktifkan load speaker,
"Halo Ram, tolong kirim Nando ke salah satu pulau gue selama setahun dan jangan sampai dia balik kesini,"
Baru saja ketiganya hendak bereaksi, dari seberang sana, Benedict mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Ketiganya mengumpat secara bersamaan, bukan hanya Fernando langsung yang harus menanggungnya, itu juga akan sangat berimbas pada Alex dan Rama.
Pekerjaan Fernando yang sebagian besar berada di pulau Dewata, akan sangat merepotkan untuk Alex dan Rama, yang notabenenya bekerja full di ibukota.
Akan sangat melelahkan jika harus bolak-balik Jakarta-Bali, pekerjaan mereka saja sudah menumpuk apalagi jika ditambahkan kerjaan diluar pulau, apalagi wahana bermain yang baru jadi beberapa bulan lalu di Malang juga masih harus dipantau.
Mau tak mau itu Alex dan Rama, harus menggantikan tugas Fernando.
"Terus acara pernikahan gue gimana? masa mesti ditunda? Gila kali ya! Terus kalau perut Sinta makin gede, apa kata orang?"keluh Rama.
"Nyesel gue, bawa Ayu pulang, tau gitu biarin aja Ayu hilang, bangsat emang temen lo, **Jing, B*bi," dan berbagai umpatan yang terlontar dari mulut Fernando.
Berbeda dengan kedua sahabatnya yang mengungkapkan keluhannya, Alex diam menunduk, sepertinya pernikahannya akan benar-benar ditunda hingga waktu yang tak bisa ditentukan, mengingat waktu hukuman Fernando hingga setahun lamanya, itu artinya ia yang akan mengambil alih semua pekerjaan lelaki berambut cokelat itu, tak mungkin bukan , membiarkan Rama menunda pernikahannya, apalagi keadaan Sinta yang sudah berbadan dua.
Bagaimana ia mengatakannya pada Sandra? Dirinya tau, kekasihnya pasti kecewa padanya.
Tiba-tiba terlintas dipikirannya, dirinya yang nantinya jarang berada di ibukota, tentu akan membuat peluang Sandra dan Ferdiansyah kembali bersama, jadi Apa yang harus dilakukannya?