How To Marry You ?

How To Marry You ?
tujuh puluh sembilan



Sebelum makan siang, Sandra mengemudi sendiri menuju rumah Tante Susi untuk mengambil pesanan nasi kuning dan Snack yang dipesan Alex kemarin.


Ibu dari Rama itu sedikit terkejut dengan kedatangan wanita yang biasa bersama Natasha, sedikit pangling, andai Sandra tak mengingatkannya.


"Ya ampun Sasa, udah lama banget kita nggak ketemu, terakhir abis ujian itu kan?"ujar Tante Susi yang sekarang memiliki usaha katering, sudah lebih dari sepuluh tahun.


Sandra mencium punggung tangan, memeluk, serta mencium pipi kanan kiri perempuan paruh baya itu, "iya Tante, sebenarnya Sasa sering loh makan masakan kiriman Tante buat Asha,"


Tante Susi mempersilahkan tamunya untuk duduk, bersebelahan di kursi ruang tunggu tempat dimana para pelanggannya atau ojek online mengambil pesanan mereka.


"Sebenarnya Rama pernah cerita, Sasa udah balik lagi kesini, Tante pikir cuman candaan doang, nggak taunya betulan, lagian kamu nggak pernah mampir si,"


"Sasa sibuk mengurus anak sama kerja,"


Terlihat raut terkejut dari perempuan dua anak itu, "kamu udah nikah?"tanyanya seolah tak percaya.


"tapi udah cerai Tante, jadi sekarang aku janda,"jawab Sandra sambil tersenyum sungkan.


"Apa kamu dekat lagi dengan Alex?"tanya Tante Susi.


"Alex bos tempat aku kerja,"


"lalu pesanan nasi kuning ini apa untuk anak kamu? dan Alex yang memesan, kok bisa?"


Sandra menunduk, selain dengan orang tua Natasha, dirinya juga cukup dekat dengan orang tua para sahabatnya kecuali mendiang papa Alex.


"itu anak Alex Tante,"sahutnya.


Tante Susi sampai menutup mulutnya tak percaya,


"Ceritanya rumit Tante, mungkin kapan-kapan aku ceritakan,"


Pekerja telah selesai memasukan semua dus berisi nasi kuning dan snack kedalam mobil Sandra.


Kedua wanita beda usia itu saling berpelukan, sebenarnya Tante Susi meminta Sandra untuk lebih lama berada namun dengan halus ia menolak, karena diburu waktu untuk mengantarkan nasi kuning juga harus bekerja lagi usai makan siang.


Diperjalanan menuju sekolah putranya, Alex menghubunginya, menanyakan lokasi keberadaannya, katanya lelaki itu ingin ikut membagikan makanan pada teman sekelas putranya.


"kamu kan masih ada pertemuan sama klien, udah nggak usah,"ucap Sandra masih dalam panggilan telepon.


"aku tak ingin melewatkan momen kayak gini sa," sahut Alex diseberang sana.


"Terserah kamu, aku udah mau sampai, aku tutup ya!"


Sandra tau Alex ingin melakukan yang terbaik untuk buah hati mereka, tapi pekerjaan juga penting untuk masa depan mereka.


Berbeda dengan sekolah yang dulu, kali ini tempat putranya menuntut ilmu berada tepat di jalan yang bisa dilalui dua mobil, sehingga mobil Sandra bisa masuk ke parkiran di sekolah.


Kemarin sore, dirinya telah meminta ijin pada wali kelas untuk membagikan makanan pada teman sekelas putranya.


Sandra meminta penjaga sekolah untuk membantunya membawa bingkisan itu ke lantai empat, cukup melelahkan sebenarnya, tapi ia harus tetap semangat demi melihat senyum putranya.


Kebetulan jam pelajaran sebentar lagi berakhir, sehingga Sandra sempat menunggu sejenak di depan kelas.


Tak lama Alex datang membawakan cooler box, bersama dengan Jonas,


Cukup aneh, melihat kedua lelaki dengan setelan jas mewah membawa dua cooler box,


"apa belum selesai belajarnya?"tanya Alex sambil melihat pergelangan tangannya.


"Mungkin sedikit lagi, kamu beli es krim?"tanya Sandra balik.


"Hem... Anak-anak suka es krim bukan,"


Tak sampai lima menit bel sekolah berbunyi, Wali kelas mempersilahkan ketiga orang dewasa dan satu penjaga sekolah masuk untuk membagikan makanan.


Anak-anak terlihat antusias, apalagi ada tambahan es krim, tapi sebelum itu Alex menyampaikan beberapa patah kata untuk teman-teman putranya, tak lupa berterima kasih karena sudah mau berteman dengan putranya.


Giliran Sandra yang menjawab, "tidak ada alasan khusus, mama Xander hanya ingin membagikan makanan pada teman sekelas Xander, seperti yang dibilang papa Xander, kami ingin berterima kasih karena kalian sudah jadi teman yang baik untuk Xander,"


Tak membuang waktu, satu persatu anak-anak mendapatkan bingkisan, mereka bersalaman dengan orang tua juga paman dari salah satu teman mereka.


Selesai membagikan, anak-anak dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing, agar bisa menikmati bingkisan itu di rumah saja.


Sepeninggal anak-anak, Xander dan Jonas berjalan terlebih dahulu ke mobil, sementara Sandra dan Alex menjelaskan penjelasan wali kelas soal perkembangan putranya.


Menurut wali kelasnya, Xander termasuk pandai di kelas, bocah itu aktif bertanya bisa dibilang cukup kritis, sama seperti papanya yang seorang pengacara.


Sesampainya di bawah, Alex bersama Jonas dan penjaga sekolah membawakan nasi kuning yang ditempatkan di kotak untuk para guru dan staf tata usaha.


Tak lupa memberikan uang terima kasih pada penjaga sekolah yang telah membantu mereka.


Karena masih harus bertemu klien, Alex bersama Jonas beranjak dari sekolah terlebih dahulu, sementara Sandra dan putranya menuju kantor.


Sepanjang perjalanan, Xander makan siang dengan nasi kuning sambil bercerita betapa bahagianya dirinya tadi.


Sandra ingat, ini kali pertama ia membagikan makanan pada teman sekelas putranya, bahkan saat bocah itu duduk di bangku taman kanak-kanak tak sekalipun ia berbagi, mengingat kondisi keuangan yang pas-pasan, apalagi saat itu kakek Xander juga mulai mengalami kesulitan keuangan.


Sandra bersyukur, sejak bertemu dengan Alex, kondisi dirinya dan putranya banyak berubah, mereka tak lagi kekurangan, bisa sesuka hati makan apapun yang mereka inginkan atau membeli barang yang dulu diimpikan.


Mobil memasuki parkiran bawah tanah, Sandra memarkirkan mobilnya berjejer dengan koleksi mobil Alex dan teman-temannya.


Parkiran bawah tanah hanya untuk kendaraan milik Alex dan para sahabatnya, mengingat rumah mereka tak memiliki parkiran yang luas, tapi sejak Benedict memutuskan tinggal di rumah yang baru jadi beberapa bulan ini, dua mobil berada di rumah mewahnya.


Sandra dan putranya menaiki lift dengan pintu gold, sebagai kekasih dan putra semata wayang bos di gedung itu, ia mendapatkan fasilitas setara sahabat-sahabat Alex, ya meskipun sebatas penghuni lantai enam yang tau fakta itu.


Seperti biasa, Xander langsung menuju ke lantai tujuh, untuk beristirahat dan Sandra melanjutkan pekerjaan di lantai enam.


Sejam menjelang jam pulang kerja, Sandra merasa mengantuk, tumben sekali, Alex dan Jonas juga belum kembali, ia memutuskan turun ke lobby untuk membeli kopi, ia sempat menghubungi Gita dan Arumi untuk menawari mereka kopi, mendengar akan mendapatkan kopi gratis, kedua gadis itu tak menolak.


Sebenarnya ada petugas OB yang bisa saja membuatkannya kopi atau membelikannya, namun Sandra yang sedari tadi sediri ingin berjalan-jalan sejenak menghilangkan jenuh.


Ketika Sandra mengantri kopi di dekat lobby, ada yang memanggilnya, tau itu suara siapa, ia memutar bola matanya malas.


"Tumben aku kamu turun ke bawah?"tanya lelaki yang tak lain adalah mantan suami Sandra.


"Lagi ngantuk,"jawab wanita itu singkat.


"Sandra, bisa aku minta waktunya sepulang berkerja?"


"maaf aku sibuk,"


"Ayolah Sandra, sebentar saja, sebelum Maghrib, kamu bisa pulang, anggap saja ajakan teman lama,".


"Xander kasihan sendirian,"sahut Sandra dengan maksud menolak.


"Bagaimana jika makan siang besok?"


"aku jemput Xander,"


"oke, besok pagi sarapan bagaimana?"


Sebagai seorang yang pernah terikat hubungan pernikahan, tentu Ferdiansyah tau waktu luang mantan istrinya.


"lihat besok," sahut Sandra malas.


Ferdiansyah menyodorkan ponselnya, "masukin nomor ponsel kamu yang baru, Elina nggak mau kasih,"


Terpaksa Sandra mengetikan beberapa digit nomor ponselnya, ia tak ingin terlihat sombong, Karena ada beberapa pekerja disekitar mereka.


"aku wa kamu besok pagi,"


Sandra mengangguk, lalu mohon undur diri terlebih dahulu, karena kopi pesanannya sudah jadi.