How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus sebelas



Hari berlalu, Liburan keliling pulau Jawa dengan mobil akhirnya terealisasi.


Sandra dan Natasha bergantian mengemudi, mereka memulai dari jalur selatan terlebih dahulu.


Menginap di hotel, berburu kuliner, mengunjungi tempat wisata, atau janjian dengan teman yang mereka kenal dari masing masing-masing kota yang dikunjunginya.


Para sahabat mereka tak ada yang tau, tentang liburan kali ini, Natasha hanya memberitahu rencananya pada kedua orangtuanya, dan meminta agar merahasiakannya.


Bahkan saking tidak ingin diganggu oleh para sahabatnya, kedua wanita itu sengaja menarik uang cas dalam jumlah besar.


Karena setiap transaksi akan dengan mudah dilacak oleh orang-orang Alex.


Sebenarnya tak masalah jika yang lain tau, tapi karena malas diganggu, akhirnya mereka memutuskan mematikan ponselnya.


Kedua perempuan itu mengatakan menerima paket liburan yang diberikan Benedict, sehingga itu menjadi alasan mereka mematikan ponsel.


Bandung menjadi kota pertama tujuan mereka, di kota kembang itu selain berburu kuliner mereka juga berbelanja baju di factory outlet, hampir saja keduanya kalap andai Xander tak mengingatkan.


Natasha juga bertemu dengan teman kuliahnya di kota itu, di sana mereka menginap selama dua hari.


Setelahnya, mereka mengemudi ke arah timur, sempat mampir ke beberapa kota untuk berburu kuliner, tapi tak sampai menginap.


Mereka tidak singgah di kota melainkan di pedesaan pinggir pantai yang berbatasan dengan samudra Hindia.


Ada salah satu mantan pasien Natasha yang tinggal di desa pesisir itu, kebetulan sebelum keberangkatan mantan pasien itu mengiriminya foto balita berusia dua tahun.


Dokter kandungan itu teringat tentang rencana perjalanannya bersama Sandra dan putranya, sehingga ia meminta ijin untuk berkunjung ke desa itu.


Sebagai anak yang lahir di kota, Xander begitu antusias saat diajak bermain bersama remaja seusianya.


Main bola di pantai, membuat istana pasir dan terakhir berenang di kolam renang tak jauh dari pantai.


"Xander kayaknya seneng banget Sa, baru kali ini liat dia ketawa lepas gitu,"cetus Natasha sembari makan pecel dan peyek yang dibelinya di warung.


"gue kan jarang ngajak dia main di pantai, terakhir waktu kita ke Bali,"sahut Sandra.


"untung kita nggak jadi terima tawaran Ben ya, meskipun harus pake duit sendiri seenggaknya ini sebanding dengan pengalaman berharga yang gue dapet,"


Sandra mengangguk, setuju dengan pendapat gadis disebelahnya, "Sha, kemarin sebelum Alex ke Amerika, gue minta kejelasan soal hubungan kami, dan dia menyinggung soal niat dia mau ikut keyakinan gue, tapi gue kayak nggak yakin gitu, Lo tau bukan yang namanya Islam bukan sekedar syahadat doang, kita harus menjalankan semua ibadah yang diperintahkan dan menjauhi larangan- Nya, saat gue ngomong kayak gitu Alex kayak marah gitu, dia bahkan bilang, kalau kami pisah, dia bakal mati, disitu gue jadi serba salah, menurut Lo gimana sha?"Curhatnya panjang lebar.


Natasha menghela nafas kasar, "sebelumnya gue minta maaf Sa, sebenarnya dari kita masih sekolah gue udah berfikir, hubungan Lo berdua bakal serumit ini, tapi gue nggak enak mau ngomong, awalnya gue pikir Alex cuma mau main-main sama Lo, kayak sama gebetannya yang lain, tapi kok makin lama gue lihat, cara dia ngeliatin Lo, kok beda, meskipun selama kuliah di sering jalan sama cewek lain, tapi cuman hitungan hari udah ganti lagi, gue bahkan pernah maki-maki dia saking gedek nya lihat tingkahnya, bukan apa-apa, masalahnya cewek-cewek itu pada nanya Mulu sama gue, saat itu gue pikir dia udah move on dari Lo, eh nggak taunya belum,"


Sandra terdiam mencerna ucapan sahabatnya, matanya melihat ke arah putranya yang sedang membuat istana pasir bersama teman baru.


"Lo kepikiran Xander ya?"tanya Natasha menyadari diamnya wanita disebelahnya.


"Xander malah nyuruh gue pisah sama papanya kalau Alex nggak nikahin gue,"


Natasha terkejut mengetahui fakta baru itu, "kok bisa?"


Sandra menaikan bahunya, "makin gede mungkin dia mikir hubungan kedua orang tuanya aneh, nggak nikah tapi punya dia dan sekamar pula, di sekolah mungkin guru agamanya membahas soal kayak gitu,"


"gini aja Sa, sepulang Alex dari Amerika, Lo jangan mau diajak gituan lagi, terus bersikap sebatas ibu dari anaknya Alex sekaligus bawahannya di kantor, seenggak Lo jangan ninggalin dia dulu, sampai dia kuat mental tanpa Lo,"saran Natasha.


Dua hari mereka tinggal di desa itu, setelahnya mereka menuju ke Jogja, ada teman kuliah Sandra yang tinggal di kota yang terkenal dengan kota gudeg itu.


Seperti biasa mereka mengunjungi tempat wisata, berburu kuliner dan berbelanja, Hanya dua hari mereka berada di kota itu.


Rencana awal berkeliling pulau Jawa, tak bisa sepenuhnya terlaksana, dikarenakan waktu yang sepertinya terlalu mepet, karena mereka berencana mengunjungi tempat saudara di Semarang.


Tapi sebelum ke kota itu, mereka berkunjung ke kota Solo, untuk berbelanja batik.


Tiba di kota Semarang, Natasha mengantarkan Sandra dan Xander menuju rumah Siska, sementara dokter kandungan itu menuju tempat sepupunya dari pihak ibu.


Malam itu sebelum tidur, Sandra menceritakan tentang hubungannya dengan Alex pada Siska, tak lupa meminta pendapat sepupunya itu.


Pendapat Siska hampir sama dengan Natasha, "pokoknya jangan kasih peluang untuk tidur bareng, kasih batas gitu, jangan buat dosa terus menerus Sasa, kamu tetap berperan sebagai ibu dari anaknya Alex kayak kamu sama mas Ferdi aja, mungkin bagi Alex, yang penting kamu masih kelihatan di mata dia,"


Di kota itu, tak lupa Sandra mengajak putranya berziarah ke makam mendiang orangtuanya juga keluarga yang berpulang terlebih dahulu.


Siska sempat menanyakan, apa ia akan mengunjungi mantan mertuanya atau tidak, tentu saja hal itu ditolak mentah-mentah, mengingat kejadian bagaimana dirinya dipermalukan oleh perempuan paruh baya itu, meskipun sebenarnya ia ingin bertemu dengan Elina dan anak-anaknya, tapi rasa kesalnya lebih besar, sehingga ia memilih tak mampir.


Empat hari mereka berada di kota yang terkenal dengan wingko dan bandeng prestonya, setelahnya mereka langsung pulang ke ibukota, setidaknya ada jeda waktu istirahat sebelum kembali ke aktivitas rutin mereka masing-masing.


Pengalaman berharga bagi ketiganya, juga semakin solidnya hubungan persahabatan antara Sandra dan Natasha.


Jika ada waktu libur lagi mereka merencanakan akan melakukan hal itu kembali, entah kapan.


Sebelum kembali ke rumah, Sandra juga sempat mampir ke kediaman kedua orang tua Natasha, sekedar menyapa dan makan malam bersama.