
Waktu berlalu, Ujian sekolah dan ujian Nasional telah usai untuk tingkat SMA dan SMK di ibukota.
"Akhirnya udah selesai juga Sasa, seenggaknya gue udah lega banget,"ujar Vina saat keduanya berjalan menuju parkiran.
"berarti bentar lagi lo bakal tunangan sama Toni dong, wah, Tante Yuli bakal masak besar nih,"ucap Sandra tersenyum senang membayangkan masakan ibu dari sahabatnya yang menjadi favoritnya.
"Ya iyalah, entar lo temenin gue pokoknya,"
Sebuah pesan masuk di ponsel milik Vina, gadis itu membacanya, "Sa, Toni lagi didepan gerbang, mau jemput kita, ngajakin ke mall,"
"Ya elah Vi, gue jadi kambing conge nih males banget, gue balik aja deh, motor Lo gue bawa, entar gue antar ke rumah,"
"Toni ngajakin dobel date nih,"
"maksud Lo?"
"Toni bareng Harry,"
Sandra yang tak enak akhirnya menuruti permintaan sahabatnya.
Sandra membonceng Harry menggunakan motor Vina, sedangkan Vina membonceng Toni,
Mereka menuju mall yang tak jauh dari sekolah.
Sebelum menonton, mereka makan siang terlebih dahulu, di food court yang ada di mall tersebut.
Keempatnya membicarakan tentang ujian nasional yang baru saja usai, juga tentang rencana usai lulus.
Toni, Vina dan Harry berkuliah ditempat yang sama, sedangkan Sandra mengatakan masih bimbang dalam menentukan pilihan.
Mereka baru selesai menonton menjelang sore.
Saat perjalanan pulang, Alex menelpon, tapi Sandra tak angkat, karena tak ingin sahabatnya tau jika mereka berpacaran.
Sandra meminta Harry mengantarkan sampai gerbang komplek.
Sepeninggal Harry, ponsel Sandra kembali berdering, Ia melihat siapa yang menelpon, tapi ia tak mengangkatnya, mungkin nanti saat sampai rumah ia baru akan menelpon balik.
Baru saja ia melewati gerbang komplek, deru motor yang ia kenali mendekat, Sandra menoleh.
Alex turun dari motornya dan berjalan menuju kekasihnya tanpa melepas helm full face miliknya.
"kamu kok disini?"tanya Sandra heran.
"Udah seneng-senengnya Sasa? Bahkan SMS aku nggak dibalas dan telpon aku nggak diangkat saking asiknya jalan sama cowok lain,"ucap Alex membuka kaca helm nya.
"Kamu tau alasannya Alex,"tutur Sandra.
"Sampai kapan Sasa? Kita harus sembunyi begini, kamu malu punya pacar aku?"
"Bukan gitu Alex, aku belum siap,"
Alex kesal, ia marah, pacarnya seolah tak menginginkan dirinya, ia cemburu melihat kedekatan Sandra dengan lelaki lain.
"ikut aku,"Alex memegang pergelangan tangan kekasihnya.
Sandra menggeleng, "Ayah dan ibu aku di rumah, nanti mereka marah,"
"aku nggak peduli, sekarang kamu ikut aku, sebelum aku mencium kamu disini,"ancam lelaki itu.
Sandra yang tau betul watak pacarnya, memilih menurut, ia membonceng lelaki itu.
Ditengah-tengah perjalanan, Alex menghentikan motornya, ia menggandeng tangan Sandra memasuki toko pakaian,
"Ngapain kita kesini?"tanya Sandra heran.
"Ya beli baju, masa nonton bioskop, kan udah tadi sama gebetan kamu, emang mau nonton juga sama aku?"sindir lelaki itu.
Sandra memilih diam tak menanggapi,
Alex memilihkan dua kaos lengan pendek,satu celana jeans, hot pants, satu setel piyama serta dalaman beberapa set, tak lupa jaket untuk Sandra, lalu menyuruhnya untuk berganti pakaian, malas berdebat, wanita itu memilih menurut.
Selesai dengan urusan baju, Alex membeli helm di penjual pinggir jalan untuk kekasihnya.
"Pegangan yang kenceng, aku mau ngebut,"pesan Alex.
"kita mau kemana? kenapa mesti beli baju segala?"tanya Sandra.
Tak menjawab Alex mulai melajukan motornya menuju barat ibu kota.
Beberapa kali Sandra bertanya, kemana Alex akan membawanya pergi, tetapi lelaki itu diam saja.
Langit sudah gelap tapi Alex tak kunjung menghentikan laju motornya,
Keduanya semakin jauh dari ibu kota, entah kemana lelaki itu akan membawanya.
Pasti sekarang kedua orang tuanya sedang khawatir mencarinya,
Pantat dan punggung Sandra rasanya mulai pegal, ini sudah lebih dari tiga jam, tapi Alex tak kunjung menghentikan laju motornya.
Sandra melihat ke sepanjang jalan, ini kali pertama ia pergi ketempat ini, apalagi menaiki motor hingga berjam-jam.
Alex mengehentikan motornya di sebuah bangunan, semacam cottage.
Sandra bisa mendengar debur ombak dan angin pantai yang berhembus.
Alex menggandengnya masuk ke salah satu bangunan.
"Sebentar lagi makanan kita datang, aku atau kamu dulu yang mandi?"tanya Alex.
"Aku aja,"jawab Sandra.
Alex menunjukan kamar dengan ranjang queen size, disalah satu sudutnya terdapat pintu yang ternyata adalah kamar mandi.
Beberapa saat berlalu, Sandra membungkus kepalanya dengan handuk yang telah tersedia, ia memakai piyama berwarna merah muda, ia keluar dari kamar bertepatan dengan Alex yang sedang menggosok kepalanya dengan handuk kecil.
Lelaki itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek setengah paha.
"Makan dulu yuk, makanannya udah Dateng,"ajaknya.
Dua porsi nasi goreng seafood tersedia di meja makan.
Keduanya mulai menikmati makanannya, "Apa kamu sering kesini?"tanya Sandra.
"beberapa kali, dengan sahabat aku, kami menaiki motor dari ibu kota,"jawab Alex.
"Lalu kenapa kamu bawa aku jauh-jauh ke sini? Aku bahkan belum mengabari kedua orang tuaku,"
"kalau begitu kabari saja, bilang ke mereka, kamu sedang bersama pacar, akan menginap dua malam,"
"hah? Ya nggak mungkin aku kasih tau mereka aku lagi berduaan sama kamu, bisa digantung ayah,"
"Nggak apa-apa lagi, terus bilang juga kalau anak gadisnya sudah tak gadis lagi, gara-gara pernah ditiduri oleh Alex,"
"kamu kenapa sih? dari tadi ngomong aneh-aneh,"
Alex sedikit membanting sendoknya, "menurut kamu, aku kenapa?"
"Habiskan makanan kamu Alex, aku malas berdebat, aku lelah,"
Alex memilih menghabiskan makanannya, ia perlu banyak tenaga untuk malam ini.
Selesai makan, Alex keluar dan duduk di kursi depan, lelaki itu hanya mengenakan kaos oblong polos.
Alex menghisap rokoknya, sesekali meminum bir botolan yang mengandung beberapa persen alkohol, ia perlu menghangatkan tubuhnya.
Sandra menghampirinya, dan duduk berhadapan dengan pacarnya, "kamu minum alcohol?"tanyanya.
"iya, kamu mau coba?"tawar Alex sambil menunjukan botol bir.
"tidak terima kasih,"
Hening hanya terdengar deburan ombak dari arah pantai.
"Lex, kalau kamu emang mau diemin aku, ngapain kita jauh-jauh kesini?"tanya Sandra mulai tak nyaman, apalagi Alex sudah hampir menghabiskan satu botol minuman yang ada di meja.
Alex tak bersuara, lelaki itu hanya menatap Sandra tajam sambil terus menghisap rokok miliknya.
Ditatap seperti itu, membuat Sandra semakin tak nyaman, ia merasa ada yang salah dengan kekasihnya.
"Alex, kamu kenapa sih? Jangan buat aku bingung, kalau aku memang ada salah, aku minta maaf, tapi jangan tatap aku kayak gitu,"ungkapnya.
Alex meminum sisa bir miliknya hingga tandas, ia melempar botol kaca itu sembarang arah hingga terdengar bunyi pecah.
Sandra terkejut, ini pertama kalinya Alex bersikap seperti itu.
Lelaki itu bangkit setelah mematikan rokoknya, lalu mengurung Sandra di kursi, menunduk dan menatapnya tajam, "kamu nggak tau salah dimana nya? Sasa aku tanya, kalau kamu lihat aku jalan sama cewek lain, apa yang kamu pikirkan? Bukan cuma sekali, apa yang akan kamu lakukan,"
Sandra berusaha tenang, ia menghela nafas, "aku akan meminta penjelasan kamu dulu,"
Alex bangkit masih dengan tatapan tajam dan berkacak pinggang, "Oke kalau gitu, sekarang aku tanya, kamu kenapa bisa bersama cowok lain, bukan cuma sekali aku lihat kamu dengan dia, apa hubungan kamu sama dia?"
"Tadi Vina ngajak aku ke mall, tadinya aku nggak mau, tapi nggak enak kalau nolak,"jawabnya jujur.
"dia itu suka sama kamu Sasa, kalau kamu mau diajak jalan, sama aja kamu ngasih harapan ke dia, ngerti nggak sih kamu?"
"aku tau, Harry pernah nembak aku sebelum ketemu kamu dulu, tapi kan disitu ada Vina dan Toni, toh aku nggak ada rasa sama dia,"
"sesimpel itu? Lalu bagaimana dengan aku?"
"Memangnya kamu kenapa?"
"Aku kenapa?"Alex menghembuskan nafasnya kasar, pacarnya benar-benar tidak peka, "Aku cemburu, aku nggak suka kamu jalan sama dia, kamu ngerti perasaan aku nggak sih?"
"Tapi aku nggak ada rasa sama Harry, disitu juga ada Vina dan Toni, jadi nggak bakal terjadi apa-apa,"
"Bagiamana saat kamu berada di bioskop tadi?"tanya Alex menyelidik.
"tidak terjadi apapun,"jawab Sandra santai.
"Astaga Sasa, seolah aku yang pusing sendiri, sebenarnya kamu cinta sama aku nggak sih?"
"Kalau nggak cinta ngapain aku mau diapa-apain sama kamu,"
"Oke kalau yang itu aku percaya, tapi aku minta mulai sekarang kamu nggak boleh jalan sama lelaki lain selain aku, kamu mengerti? Kalau nggak jangan terkejut, jika keesokan harinya, kamu dengar kabar, lelaki itu masuk rumah sakit,"ujar Alex memberi peringatan.
"Terserah, udah ya, aku masuk, aku ngantuk,"ucap Sandra bangkit sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Di Cottage itu, terdapat dua kamar tidur, ruang tamu, ruang makan bergabung dengan dapur.