How To Marry You ?

How To Marry You ?
empat puluh lima



Sandra kembali menitipkan Ferdiansyah pada perawat yang berjaga, ia beralasan akan menjemput mertuanya di stasiun yang terletak di Jakarta timur.


Namun sebelum itu, dirinya akan mampir pulang terlebih dahulu untuk mandi dan berganti baju, sedari pagi ia hanya cuci muka dan gosok gigi.


Tak ingin membuang banyak waktu, Sandra hanya mandi ala kadarnya, tidak sampai dua puluh menit, dirinya sudah keluar lagi dari rumah,


Sandra mengemudikan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan dimana putra dan sahabatnya tengah berada di sana.


Tadi Natasha mengiriminya pesan jika gadis itu sedang mengajak Xander bermain di Timezone,


Sandra menyusulnya, di pusat permainan itu, ia bisa melihat tawa dari dua orang yang disayanginya,


"Mama,"panggil Xander yang menyadari kedatangan ibunya.


Bocah yang sedang bermain car simulator menghampiri dan memeluknya erat,


Seperti biasa Xander akan menceritakan hal yang sedang dilakukannya,


Mereka bertiga mengunjungi salah satu restoran cepat saji yang ada di pusat perbelanjaan itu.


"Keadaan ayah gimana ma?"tanya Xander sambil memakan egg chicken roll pesanannya.


"Seperti yang semalam kita lihat, tangan dan kakinya patah,"jawab Sandra.


"emang kronologi kecelakaannya gimana?"giliran Natasha yang bertanya.


Sandra menaikan bahunya, ia tak banyak bertanya tentang kejadian yang menimpa lelaki itu


"emang Lo nggak nanya?"tanya Natasha lagi.


Sandra menggeleng sambil memakan salad sayur miliknya.


"segitu dinginnya Lo sama mantan, jangan gitulah, bagaimanapun dia pernah jadi bagian dari hidup Lo!"ucap Natasha tak habis pikir.


"terus abis ini Lo mau jemput mantan mertua kan? Mau dibawa kemana? nggak mungkin kan dibawa ke rumah Alex, meskipun Alex orangnya keliatan cengar-cengir doang, tapi aslinya dia sebelas duabelas sama Ben dan Nando, Lo tau kan?"


Sandra mengangguk, dia tau betul watak kekasihnya, keras kepala, egois dan sangat posesif pada dirinya.


"gue juga bingung sha, kalau apartemen mas Ferdi kan udah dijual, nggak mungkin juga gue suruh tidur di rumah sakit, bantu mikir dong,"keluhnya.


"sewain hotel murah sih, yang penting bisa tidur,"saran Natasha.


"bener juga ya, kayaknya nggak jauh dari rumah sakit ada hotel, coba gue bawa ke sana deh,"ujar Sandra, "oh ya, menurut Lo, cara ngasih tau Alex gimana ya!"


"itu udah resiko dia sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Lo, saran gue, Lo kasih tau dia apa adanya, kalau dia pinter harusnya dia terima,"


"ngomong-ngomong orang tuanya mas Ferdi belum tau kalau kami mau cerai,"


"emang Lo tinggal berapa kali sidang?"


"kata kuasa hukum gue sih sekali lagi,"


"ya udah, mudah-mudahan lancar,"


Mereka melanjutkan makan siang, diselingi obrolan tentang kegiatan Natasha dengan Xander tadi pagi di rumah.


Selesai makan siang, Sandra undur diri, ia harus menjemput orang tua dari Ferdiansyah, mengingat jarak yang lumayan jauh dari tempatnya berada saat ini, belum lagi macet dimana-mana akibat jam makan siang.


Sandra baru tiba di Stasiun satu jam setelahnya, tadi lalu lintas benar-benar padat, ia memarkirkan mobilnya dipusat penjualan batu cincin yang bersebrangan dengan stasiun.


Panas, semrawut suasana didepan stasiun, tak menyurutkan langkah Sandra untuk berjalan kaki menuju pintu keluar stasiun.


Belum ada parkiran yang memadai di stasiun dengan bangunan tua itu.


Terdengar pengumuman dari petugas informasi stasiun, jika kereta yang dinaiki oleh orang tua Ferdiansyah baru saja tiba.


Ponsel Sandra berbunyi, itu mertuanya, yang menelpon, ia mengangkatnya, dan mengatakan, jika dirinya berada di pintu keluar karena penjemput tidak bisa masuk ke dalam stasiun.


Ia mencium punggung tangan mantan mertuanya itu, tak lupa meminta untuk membawakan tas yang dibawa oleh salah satu dari mereka.


Sandra meminta maaf karena mobilnya terparkir lumayan jauh dari stasiun.


"Loh, nduk, Iki dudu mobile Ferdi yo?"tanya Inah ibu dari Ferdiansyah.


Sandra yang tengah menaruh tas bawaan di bagasi mobil belum menjawab pertanyaan mantan mertuanya.


Ia mempersilahkan keduanya untuk duduk di jok belakang, setelahnya ia duduk dibalik kemudi.


"niki fasilitas kantor Bu,"Sandra baru menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.


"Kerjamu Kuwi opo to nduk? Wenak men, ulih fasilitas mobil, lah wong Ferdi adol mobil tapi ga olih fasilitas koyo Iki,"giliran Sumarso mantan mertua laki-laki yang angkat bicara.


"Kulo sekertaris teng kantor advokat pak,"sahut Sandra mulai mengemudikan mobilnya.


"Terus piye kabare anakmu? kelas Piro tho?"tanya Inah.


"Alhamdulillah sehat Bu, sampun kelas sekawan,"jawabnya dengan bahasa halus.


"Kowe njagani Ferdi, sopo sing jagani anakmu?"giliran Sumarso bertanya lagi.


"wonten rencang Kulo pak,"


Selanjutnya hanya obrolan random mengenai kehidupan pernikahan Sandra dan Ferdi, tentu ia tak mengatakan jika mereka dalam proses cerai.


Pasangan paruh baya itu diantarkan langsung ke rumah sakit, karena Sandra belum sempat untuk membooking kamar hotel untuk mereka.


Sebelum naik ke lantai dimana Ferdiansyah di rawat, Sandra terlebih dahulu mengajak mereka makan siang di kantin rumah sakit.


Setelah makan siang, mereka baru menuju ruangan dimana Ferdiansyah dirawat.


Inah tak kuasa menahan tangis melihat kondisi putranya, ini kali pertama Ferdiansyah sampai seperti ini.


"kok Iso le, Kowe koyo iki, terus sing nabrak tanggung jawab Ra?"tanya Inah masih sesenggukan.


"kabur Bu,"jawab Ferdiansyah sambil melirik Sandra yang sedari tadi berdiri di ujung ranjang dekat kakinya.


"Ndang lapor polisi nduk, kriminal Iki,"ucap Sumarso geram.


"Ndak usah pak, nanti urusannya jadi panjang, Ferdi nggak mau repot,"cegahnya.


Sandra berfikir, mana mau lelaki itu berurusan dengan polisi, bisa-bisa terbongkar kelakuan buruknya selama ini.


Sandra tau, Ferdiansyah terluka bukan karena kecelakaan mobil, itu pasti tindakan penganiayaan.


Tak mungkin kecelakaan mobil ada bekas luka tusuk di punggung, juga lebam-lebam di wajah lelaki itu, tanpa dijelaskan pun dirinya sudah paham.


Semalam dokter juga sempat menjelaskan tentang hal itu, salah satu perawat yang menerima Ferdiansyah di IGD mengatakan jika lelaki itu diantarkan oleh tukang ojek yang menemukannya tak sadarkan diri dipinggir jalan.


Bukan pula kena begal atau rampok, karena dompet dan ponsel Ferdiansyah masih ada disaku celana jeans milik lelaki itu.


Kebetulan tadi siang Sandra mengiriminya pesan yang mengatakan jika sidang kedua berjalan lancar.


Mungkin pihak rumah sakit menghubunginya setelah membaca pesan darinya.


Sekitar satu jam mengobrol, Sandra mengajak pasangan paruh baya itu menuju hotel yang terletak tak jauh dari rumah sakit, mungkin sekitar lima menit berjalan kaki.


Sandra pikir, mereka butuh istirahat sejenak, karena telah menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan kereta.


Sebagai mantan menantu yang baik, meskipun sempat mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dulu, Sandra menyewakan kamar terbaik di hotel itu untuk beberapa hari kedepannya, tentu dengan uang pribadinya.


Setelah memastikan mantan mertuanya istirahat dengan nyaman, ia kembali ke rumah sakit untuk menjaga Ferdiansyah.