How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus empat



Sandra menyapa Alex sekadarnya, ia menyelonong masuk begitu saja.


Hal itu membuat Alex semakin geram, lelaki itu berjalan tepat dibelakang kekasihnya.


Xander baru saja keluar dari kamarnya, hendak ke dapur mengambil air minum, melihat sang mama datang, remaja itu menghampirinya, "ma, entar abis magrib ke supermarket ya, mbak Ninik bilang ada beberapa keperluan habis,"


Sandra mengangguk, lalu berlalu menuju kamarnya, sementara Alex masih mengikutinya dari belakang.


"kamu apa-apaan sih? kurang kerjaan banget ngikutin aku terus,"protesnya kesal.


"kamu abis ngapain sama Nando?"tanya Alex menyelidik.


Sandra melepas blazer lalu menaruhnya di keranjang cucian, ia juga mulai melepas jam tangannya, "kerja lah, memangnya mau ngapain lagi?"


Alex mengutak-atik ponselnya, lalu menunjukkannya pada kekasihnya, "ini maksudnya apa sa?"tanyanya.


Sandra melihat ke layar ponsel lelaki itu, terlihat di sana, Fernando yang sedang bersandar dipundaknya saat mereka sedang makan siang, ia memutar bola matanya malas, ia tau meskipun menjelaskan kejadian sebenarnya pun, Alex akan tetap menuduhnya macam-macam, tapi setidaknya ia pikir harus tetap menjawab apa adanya,


"seperti yang kamu lihat, aku sama Nando lagi makan siang bareng di ruang kerja, karena kami nggak sempat keluar, saking sibuknya, lalu disitu juga ada Asha, jadi buang pikiran negatif kamu,"


"Tapi kenapa mesti sedekat itu? Dan kenapa mesti Nando? Dia itu brengsek Sa,"


Sandra mulai membuka celana formalnya, menyisakan celana pendek, ia sudah menduga, Alex akan memperpanjang masalah ini, "Aku sama Nando adalah rekan kerja, mau nggak mau aku dekat, bukankah dia partner kamu berburu wanita cantik dulu, berarti kamu sama brengseknya dengan dia,"


"Tapi sejak ketemu kamu, aku udah berhenti,"


"Terus kejadian sebulan yang lalu, itu apa? udah ya Alex, aku malas berdebat sama kamu, intinya gini, kalau memang kamu percaya, aku bersyukur, tapi kalau nggak, ya udah, terserah kamu mau ngapain,"setelah mengatakannya, Sandra beranjak menuju kamar mandi tak lupa menguncinya.


Sudah bisa ia perkirakan, Alex mengetuk pintu kamar mandi dan memintanya bergabung, tapi karena malas juga kesal dituduh macam-macam, Sandra tak menanggapi permintaan lelaki itu.


Tak sampai sepuluh menit, Sandra keluar, dengan bathrob dan handuk melilit di kepalanya, ia bernafas lega, Alex tidak ada di kamar.


Dengan cepat Sandra mengambil baju piyama lengan pendek dengan celana panjang berwarna Salem.


Baru saja selesai mengancingkan piyama, Alex masuk ke kamar, "kamu cepat banget mandinya,"ucapnya.


Sandra mulai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer yang diambilnya dari laci meja riasnya, "ngapain lama-lama,"sahutnya.


Alex mengambil alih hair dryer itu, "sini aku bantu keringkan,"


Sandra tak berani menatap lelaki yang sedang sibuk mengeringkan rambut panjangnya, ia lebih memilih melihat koleksi make up miliknya.


Tak ada pembicaraan apapun hingga Alex selesai mengeringkan rambut milik wanita itu.


Saat Sandra hendak keluar, Alex menahan tangannya, "aku mau bicara,"pintanya.


"Sa, bukannya aku nggak percaya kamu, aku percaya kamu, tapi aku nggak percaya Nando, dia brengsek, bisa aja dia manfaatin kamu yang jauh dari aku,"tutur Alex lembut.


Sandra menghela nafas, mendadak dirinya kesal, ucapan lelaki itu secara tak langsung menuduh kalau ia adalah perempuan yang gampang terperdaya, padahal meskipun ia pernah menikah dengan Ferdiansyah, nyatanya sekalipun ia tak pernah sampai berhubungan intim dengan mantan suaminya, hanya sekadar bercumbu, harusnya Alex lebih tau dari siapapun jika dirinya masih suci, hanya Alex yang pernah berhubungan intim dengannya.


Walau sedari kuliah banyak godaan tapi tak sekalipun Sandra menanggapinya, andai dulu orang tuanya tak menjodohkannya dengan Ferdiansyah, mungkin hingga saat ini dirinya masih sendiri.


"Alex, aku murni bekerja bersama Nando, tak ada niat apapun, kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing, kalau tidak percaya, kamu bisa suruh asisten kamu buat retas cctv yang ada di ruang kerja aku, dari situ kamu bisa lihat, apa saja yang kami lakukan,"


Sandra beranjak dari sana, namun baru beberapa langkah ia berbalik, "Kamu nuduh aku ada hubungan sama Nando, tapi jangan-jangan kamu sendiri yang seperti itu, andai bulan kemarin aku nggak memergoki kamu, mungkin kamu udah tidur sama perempuan itu, kamu menuduh aku untuk menutupi kesalahan kamu, dasar egois,"ungkapnya.


"satu lagi, kalau kamu masih berpikir aku nggak setia sama kamu, lebih baik kita udahan aja, aku akan keluar dari rumah ini,"lanjutnya.


Alex melebarkan matanya, ia menggeleng, "nggak bisa Sandra, aku nggak mau kita pisah,"


Merasa sudah cukup mengungkap yang ada dipikirannya, Sandra keluar kamar, tak peduli dengan ucapan lelaki itu.


Xander yang sedang duduk di ruang tengah menoleh, begitu pintu kamar orang tuanya terbuka, remaja itu bisa melihat, wajah kesal sang mama, juga wajah panik papanya.


Sandra duduk bersebelahan dengan putranya, ia mengambil gelas dimeja, lalu meminumnya hingga tandas, berdebat membuat tenggorokannya kering.


Alex yang masih tak terima, menghampiri kekasihnya, ia tak akan membiarkan wanita itu pergi dari sisinya lagi, "Sa, jangan gini, oke aku yang salah, aku minta maaf, tapi tolong aku nggak mau pisah," ujarnya menggenggam tangan wanita itu sembari duduk di karpet tepat didepan sofa, tak peduli ada putranya di sana.


Sandra menepis tangan lelaki itu, ia bungkam, tepatnya malas berbicara, bisa-bisanya Alex meragukan cinta dan kesetiaannya, bahkan ia rela berkali-kali melakukan perbuatan yang dilarang dalam keyakinannya.


"kenapa lagi sih ma?"tanya Xander angkat bicara, ia heran mengapa setelah sebulan kedua orang tuanya tidak bertemu, mereka malah berdebat, apa karena masalah tempo hari.


"Alexander bilang ke mama, jangan tinggalin papa, kamu ingin keluarga yang utuh bukan?"pinta Alex pada putra semata wayangnya.


"kok aku, kalau mama mau ninggalin papa, nggak masalah kok, bagiku yang penting mama bahagia, masalah keluarga utuh, aku udah biasa hidup hanya berdua sama mama,"sahut remaja itu.


Alex berdiri, Ia melototi putranya, "Alexander bisa-bisanya kamu ngomong begitu, kamu senang kalau mama dan papa pisah?"


Xander berdiri diatas sofa untuk mensejajarkan tingginya dengan papanya, "kalau ia kenapa? lagian kalian bukan suami istri kan? Dosa kalau tinggal bersama tanpa ikatan, itu kata guru agama aku,"ungkapnya, "mama kalau mau pergi dari rumah papa, aku ikut, nggak apa-apa kita hidup sederhana, yang penting mama bahagia,"lanjutnya sambil melirik Sandra yang masih duduk.


Alex menggeleng tak terima, putranya menginginkan ia dan Sandra berpisah, amarahnya mulai terpancing, "itu tidak akan terjadi, papa nggak akan biarkan mama pergi,"ucapnya dengan suara meninggi.


"kalau gitu nikahi mama,"sahut Xander tegas.


Melihat keadaan yang tidak semakin panas, Sandra bangkit ia menarik tangan putranya, agar remaja itu turun, "hentikan Alexander, cukup bicaranya, dia papa kamu,"


"Dan kamu Alex, Dia anak kandung kamu, bisa-bisanya kamu ajak dia berdebat, sekarang lebih baik kamu pikirkan baik-baik, apa kamu masih percaya sama aku atau tidak? aku pergi,"


Setelahnya Sandra beranjak dari sana, ia menuju kamarnya, untuk mengambil, cardigan, dompet dan ponselnya, tak lupa mengajak putranya berbelanja ke supermarket.