
Sandra kembali ke ruangan tempat dimana Ferdiansyah dirawat, lelaki itu sedang memainkan ponselnya.
"kayaknya ibu dan bapak nggak curiga bahwa kita sedang dalam proses cerai,"ujar Ferdiansyah begitu Sandra datang.
"Memangnya kamu mau mereka tau?"tanya Sandra.
"Ya enggaklah, bagi mereka pernikahan seumur hidup sekali, pasti shock banget kalau tau yang sebenarnya,"jawab Ferdiansyah, lelaki itu terdiam sejenak, "apa nggak sebaiknya kamu batalkan gugatan cerai itu? Toh selama ini kita jarang bertengkar, terakhir aku juga bersikap baik sama Xander,"lanjutnya membujuk.
Sandra yang duduk, menghela nafas, sejujurnya ia malas berhadapan dengan lelaki itu, atas dasar kemanusiaan ia mau melakukan semua ini, "Sebelumnya aku minta maaf jika kata-kataku bakal menyinggung kamu, tapi jujur aja, aku bersikap baik sama kamu, karena kamu pernah jadi bagian dari hidup aku, kamu pernah jadi ayah yang baik untuk Xander, tapi sikap kamu yang terakhir ke aku, membuat aku sakit hati, disaat aku butuh sandaran kamu malah pergi dengan wanita lain, harusnya sebagai suami, kamu cerita sama aku tentang kesulitan yang sedang kamu alami, kita bisa pikirkan sama-sama, jangan malah lari dari kenyataan dan menambah masalah baru,"akhirnya Sandra buka suara, matanya sedikit berkaca-kaca, tentu itu hanya akting, ia muak dengan tingkah seenaknya lelaki itu.
Kalau dipikir-pikir, sifat egoisnya memang hampir sama dengan Alex, tapi meski egois kekasihnya masih mau mendengarkan pendapatnya, berbeda dengan Ferdiansyah yang sama sekali tidak mau diprotes.
"Kasih aku kesempatan memperbaiki semuanya, aku tidak ingin bercerai,"
"Apa karena wanita itu sudah tak bisa membantu kamu membayar hutang kamu? makanya kamu mau kembali sama aku? Memangnya kamu pikir aku tidak punya perasaan apa?"
Sandra bangkit dari duduknya, ia mulai terbakar amarah, kesal sekali rasanya, "Setelah dokter mengizinkan kamu pulang, sebaiknya kamu pulang ke Semarang,"
Untuk meredam amarahnya, Sandra memutuskan keluar dari kamar rawat itu, tak peduli dengan panggilan dari Ferdiansyah,
Sandra duduk bangku yang ada di koridor ruang perawatan, ia meminum air mineral yang diambilnya dari Tote bag, segar rasanya.
Ponselnya berbunyi, dilayar tertera nama Pak Alex, kebetulan ia sedang merindukan lelaki itu, terakhir mereka bertemu kemarin pagi.
"halo pak,"sapa Sandra,
"gimana keadaan kamu? Apa masih sakit? Apa perlu aku mampir ke rumah?"ucap Alex diseberang sana.
"Tidak usah, saya hanya butuh istirahat,"
"aku kangen, mungkin aku nyampe rumah tengah malam, kamu mau dibawain apa?"
"tidak usah,"
Salah satu perawat menghampiri Sandra yang sedang berbicara di telpon, hendak mengajaknya bicara, ia terpaksa menutup ponselnya agar Alex tak mendengar percakapannya.
"Bu Sandra, tadi dokter bilang, anda harus menebus resep ini diluar, agar nanti saat makan malam pak Ferdi bisa meminumnya,"ucap perawat sambil memberikan selembar kertas.
Sandra menerimanya, "baik sus, kalau begitu saya titip suami saya ya!"sahutnya sambil berdiri menerima kertas itu.
Alex kembali menghubunginya, karena tak ingin lelaki itu tau, Sandra sengaja mengabaikan panggilan itu.
Sandra bergegas menuju apotik yang tadi diberitahu oleh perawat, ia mengambil mobilnya dan mengemudikannya.
Saat sedang mengemudi, ia baru menghubungi Alex kembali,
"Maaf tadi aku nggak angkat telpon kamu,"
"kamu lagi nggak di rumah? Katanya sakit, kok malah pergi,"
"aku ke rumah sakit,"
"apa separah itu?"
"tidak kok, hanya butuh obat saja,"jawab Sandra, tentu saja dirinya berbohong, ia tak ingin lelaki itu marah.
"kalau udah selesai langsung pulang, istirahat, tadi aku telpon Xander, katanya lagi sama Asha, seneng kayaknya,"
"iya, entar aku sepulang dari apotik aku jemput Xander,"
Alex bergumam, lalu mengakhiri panggilannya.
Sandra menebus obat ke apotek yang lumayan jauh dari rumah sakit, sehingga ia membutuhkan waktu yang lama.
Usai magrib, mertuanya memintanya untuk menjemput di hotel, tadi Sandra mengatakan, jika malam ini dirinya tidak bisa menjaga Ferdiansyah, mengingat sahabatnya yang menjaga Xander harus bekerja.
Sandra baru beranjak dari rumah sakit sekitar pukul delapan malam, Ia mengemudikan mobilnya menuju rumah Natasha.
Lumayan memakan waktu yang lama, mengingat rumah gadis itu jauh dari rumah Alex, apalagi di jam segitu lalu lintas ibukota masih padat.
sekitar empat puluh menit, mobilnya baru memasuki komplek perumahan dimana sahabatnya tinggal.
"Lagian besok aja sih Xander pulangnya, gue dinasnya agak siangan, jadi nggak masalah,"ucap Natasha saat membukakan pintu untuk Sandra.
"Alex mau balik, nggak mungkin Xander gue titipin lagi, adanya dia curiga, males ribut gue,"sahutnya
"Terus apa rencana Lo selanjutnya, nggak mungkin bukan, Lo bolak-balik ke rumah sakit, jaraknya lumayan jauh dari kantor Alex, saran gue mending jujur deh, lagian Lo belum ketok palu, seenggaknya dia masih suami Lo,"
"gue udah ngomong ke mas Ferdi, biar dia bareng orang tuanya di Semarang, gue nggak mungkin ngurus dia kan? Gue mesti kerja, Xander juga sekolah,"
"Bawanya gimana ke sana? Apa pake ambulance? Nggak mungkin dong kondisi gitu naik kereta,"
"gue yang antar, pinjem mobilnya Alex, misal dia nggak mau pinjemin, gue terpaksa sewa mobil,"
Natasha menghembuskan nafas kasar, "apapun itu gue dukung Lo, kalau ada yang bisa gue bantu, ngomong aja, ingat sa, gue sahabat lo juga,"
"makasih ya sha,"sahut Sandra sambil memeluk sahabatnya.
Xander juga melakukan hal yang sama, bocah itu menyalami tak lupa mencium punggung Natasha,
Sandra dan putranya melambaikan tangannya saat mobil mulai berjalan meninggalkan rumah bergaya minimalis itu.
"ma, kenapa dulu mau nikah sama ayah?"tanya Xander tiba-tiba.
Sandra yang tengah mengemudi, sampai menoleh menatap putranya,
"Nggak usah kaget gitu, Xander sampai nanya gini, aku udah gede untuk tau apa yang terjadi sama mama,"
Sandra menghela nafas, "mama hanya menuruti ucapan Mbah kung dan Mbah uti, mama tidak mau dicap sebagai anak durhaka oleh mereka,"
"Apa mama menyesal pernah melahirkan Xander?"
Sandra menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah merah,
"Mama bahagia adanya kamu, tidak sekalipun mama membenci kamu, karena kamu adalah bukti cinta mama dan papa, meskipun cara yang kami lakukan salah, kamu tau bukan perbedaan diantara kami?"
"apa setelah mama resmi bercerai dengan ayah, mama akan kembali bersama papa? Bukankah hingga saat ini kalian masih berbeda?"
Sandra mulai menjalankan mobilnya, ia terdiam sejenak, terkadang ia tak habis pikir, kenapa putranya berfikiran seperti orang dewasa,
Mungkin keadaan yang memaksa Xander berfikiran lebih dewasa dari seusianya.
Sedari kecil banyak tetangga yang sering mencela bocah itu, mengatakan jika Xander adalah anak haram, tidak jelas asal usulnya.
Kalau sudah begitu, bocah itu akan pulang dalam keadaan menangis, dan Sandra hanya bisa meminta maaf serta menahan tangisnya, ia tak ingin terlihat bersedih dihadapan putranya.
Sandra tau, putranya sering diperlakukan tidak baik oleh orang-orang disekitarnya, termasuk mantan mertua juga Ferdiansyah, namun ia hanya bisa diam saja melihat itu.
Maka dari itu setelah bertemu kembali dengan Alex dan diselingkuhi oleh Ferdiansyah, ia memanfaatkan kesalahan mantan suaminya untuk mengajukan gugatan cerai.
Cukup sudah, putranya menderita, ia ingin Xander bahagia, diterima dengan baik di lingkungan sekitarnya.
"Menurut kamu apa yang harus mama lakukan?"tanya Sandra balik.
Xander terdiam, lalu melihat ke arahnya, "aku bahagia ketika tau papaku adalah orang yang baik, papa menerima aku, mau bermain dan mengajari aku PR, aku berharap mama dan papa bisa bersatu suatu saat dan memberiku seorang adik perempuan yang lucu,"jawabnya.
Sandra tersenyum mendengar jawaban putranya, ia berharap akan ada kebahagiaan didepan sana untuknya dan Xander.