How To Marry You ?

How To Marry You ?
lima belas



Beberapa menit menjelang jam makan siang, Sandra berpamitan pada Gita, untuk menjemput putranya di sekolah.


Hal rutin yang wanita itu lakukan setiap harinya.


Sandra mengendari motor yang dibelinya dari Rena sepeninggal sahabatnya yang pindah ke pulau Kalimantan karena mengikuti suaminya yang bertugas di sana.


Hanya menempuh waktu sekitar lima belas menit, Sandra telah sampai di sekolahan Xander.


Bocah itu biasanya menunggu di teras depan ruang guru atau jika masih ada teman sekolahnya, Xander akan bermain bola di Lapangan.


Senyum mengembang dari putranya begitu melihat kedatangannya.


Sandra pamit pada guru kelas Xander sekaligus berterima kasih.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Putranya akan menceritakan segala hal yang dialaminya di sekolah.


Sandra bersyukur Putranya tumbuh dengan baik,


Sesampainya di Apartemen, Sandra akan menitipkan putranya di kantin tempat ia bekerja dulu, sekaligus menemani sejenak putranya makan siang yang dibelinya di sana.


"Mama kerja dulu ya sayang, mudah-mudahan nanti nggak lembur, terus jangan lupa ngaji di masjid jam empat ya!"


Bocah itu tersenyum sambil menunjukan kedua jempolnya.


"Mbak Titi, nitip Xander ya!"ucap Sandra sambil memberikan uang pembayaran makan siangnya.


"Iya Sa, kamu hati-hati ya!"sahut mbak Titi mantan bosnya dulu.


Sandra bergegas kembali ke kantor tempatnya bekerja, sisa waktu sepuluh menit lagi jam istirahatnya selesai.


Motor matic itu membelah kemacetan ibukota, Sandra sudah terbiasa dengan hal semacam ini, ia tau harus bagaimana supaya bisa secara cepat sampai di tempat tujuan.


Security yang terbiasa dengannya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat bagaimana wanita beranak satu itu mengendarai motornya.


"Hati-hati Mbak,"teriak security bernama pak Yanto.


Sandra hanya menunjukan jempolnya sambil terus melajukan motornya menuju parkiran belakang gedung.


Ia akan lari sekuat tenaga agar bisa tepat waktu sampai di ruangannya, kalau tidak, mbak Celine akan mengeluarkan tanduknya.


Meski terlambat lima menit tapi tak masalah, yang penting atasannya belum kembali ke ruangan.


"Minum dulu sa, untung Nyonya besar belum dateng, jadi kita nggak denger ceramahnya,"cetus Gita yang mejanya bersebelahan.


Sandra meminum air yang ada di gelasnya hingga habis tak bersisa.


"Alhamdulillah, seger....Emang nyonya kemana?"tanyanya.


Gita menghentikan aktivitasnya, ia menggeser kursi kerjanya, "bos udah balik dari Amrik kemarin, jadi Si Nyonya lagi rapat sekaligus makan siang diatas,"jelasnya.


"oh.."komentar Sandra singkat.


"kok Oh doang sih Sa?"


"Ya, terus saya harus berbicara apa Nona Gita Saputri?"


"Ya apa kek, tanya gitu kabar bos kita tercinta, masa lempeng bener sih,"


"Oke, jadi apa kabar bos kita tercinta itu?"tanya Sandra sambil meledek rekannya.


"Tambah ganteng Sa, mana wangi lagi, tadi gue sempet ketemu sama beliau yang lagi di lift sebelah sama temennya, ya ampun temennya yang namanya Pak Rama itu juga nggak kalah ganteng, meleleh gue Sasa,"ucap Gita mendramatisir.


"Lebay Lo, dah lah, kerja buruan, pokoknya gue nggak mau lembur hari ini,"


"Sasa mah nggak asik kebanyakan micin si,"


Sandra tak menanggapi ucapan rekannya, ia mulai mengerjakan pekerjaannya.


Ia ingin cepat selesai dan pulang cepat, agar bisa mengajak putranya makan malam di warung langganannya.


Namun rencana tinggal rencana, nyatanya setelah turun dari lantai atas Celine memintanya membantu staf keuangan untuk merevisi laporan keuangan selama dua bulan kebelakang.


Memang diluar job desk nya, namun sebagai pekerja kontrak yang ingin diangkat karyawan tetap nantinya, mau tak mau hal itu dilakukannya, toh dirinya dibayar.


Tak lupa menghubungi mbak Titi untuk mengabari jika dirinya akan lembur di kantor.


Tepat pukul tujuh malam, Celine memerintahkan Sandra beserta staf keuangan lainnya untuk berhenti, dan melanjutkannya lagi besok.


Sandra menghela nafas, lelah sekali rasanya.


Sebenarnya rekan-rekannya mengajak makan bersama disalah satu restoran Jepang tak jauh dari kantor, namun ia menolak secara halus, dikarenakan ada urusan keluarga.


Sandra hampir selalu menolak acara makan bersama, ia lebih memilih makan bersama putranya di warung pecel ayam tak jauh dari apartemen.


Ia baru sampai di apartemen pukul setengah delapan malam, putranya sudah duduk menunggunya di lobby.


Bocah itu masih mengenakan baju Koko, baru selesai shalat isya di masjid Apartemen.


Sandra meminta maaf karena keterlambatannya, ia mengajak putranya untuk makan malam.


Xander meminta makan soto ayam yang dijual di warung langganannya.


Kedua ibu dan anak itu berjalan kaki menuju warung itu.


Xander menceritakan aktivitas mengajinya tadi sore, katanya dia baru saja naik ke iqro lima.


Sandra memberikan selamat dan menanyakan hadiah yang diinginkan putranya.


Xander mengatakan ingin ditemani berenang nanti saat weekend.


Sesampainya di warung, Sandra memesan soto dan nasi untuk putranya, sedangkan dirinya memesan nasi dengan lauk ayam goreng dan sambal.


Sambil menunggu pesanannya disajikan, Xander menceritakan tentang teman-teman ngajinya.


Sandra mendengar dan menangapi cerita dari putranya.


Selesai mengisi perut, keduanya baru kembali ke apartemen.


Mode ceria putranya berubah seketika ketika memasuki unit apartemen milik suaminya.


Selalu begitu setiap harinya, ia tau putranya tidak nyaman dengan ayah tirinya, namun Sandra seolah menutup mata dengan kenyataan itu.


Gajinya belum cukup untuk menyewa rumah kontrakan di ibukota.


Apalagi statusnya sebagai seorang istri yang harus mengikuti suaminya.


Karena Putranya sudah mandi sore di masjid, Sandra hanya menyuruhnya untuk sikat gigi dan membersihkan diri ala kadarnya.


Sementara putranya di kamar mandi, Ia akan menyiapkan tempat tidur.


Sandra akan menemani putranya hingga terlelap.


Usai memastikan bocah itu terlelap, Sandra baru bergegas mandi.


Segar sekali rasanya tubuhnya bersentuhan dengan air dan sabun yang wangi.


Saat membuka pintu kamar, suaminya sudah menunggunya, seperti biasa lelaki itu meminta supaya Sandra mencumbui lelaki itu.


Tak sampai adegan inti, karena cairan kental milik suaminya akan menyembur ketika dirinya memegang bagian bawah lelaki itu.


Hal yang terjadi semenjak ia menikah, Sandra sudah hafal kebiasaan suaminya.


Pernah beberapa kali saat milik lelaki itu tegak berdiri, ia mencoba memasukannya kedalam intinya, namun baru menyentuh liangnya, lagi-lagi cairan itu menyembur.


Sedikit kesal tapi Sandra tak mau terlalu memikirkannya, kalau sudah begitu, ia hanya bisa pasrah dan memilih tidur.


Sandra tak punya pilihan lain, ia berusaha ikhlas menjalani garis hidupnya.


Dirinya percaya kehidupannya tak selamanya seperti ini.


Setelah suaminya melampiaskan hasratnya, lelaki itu akan tidur membelakanginya.


Tak lagi ada ucapan terima kasih sejak lelaki itu tau jika Xander adalah anak yang dilahirkannya.


Sandra bisa mengerti tentang kemarahan suaminya.


Sebelum tidur, ia bersyukurlah karena telah bisa melalui harinya dengan baik dan berharap hari esok kehidupan baik menanti dirinya dan putra semata wayangnya.