How To Marry You ?

How To Marry You ?
empat puluh tiga



Sebulan berlalu, gugatan cerai dari Sandra sudah memasuki tahap persidangan.


Sandra bersama kuasa hukum rekan dari Alex, datang ke pengadilan agama, karena tidak dihadiri oleh Ferdiansyah, sidang pertama berjalan lancar.


Sewaktu memasukan gugatan ke pengadilan, Sandra memberikan bukti visum saat telapak tangannya terluka akibat didorong oleh Ferdiansyah, tak lupa rekaman suara saat lelaki itu mengucapkan kata cerai juga ia lampirkan.


Orang suruhan Alex juga memberikan rekaman cctv di tempat kejadian, untuk menguatkan bukti jika benar adanya Ferdiansyah melakukan kekerasan terhadap Sandra, juga tentang kebersamaan lelaki itu dengan wanita lain.


Sandra berharap ia segera resmi bercerai dengan Ferdiansyah, toh sejak dirinya diangkat menjadi sekertaris beberapa bulan ini, lelaki itu tak lagi memberikan nafkah berupa uang.


Sidang kedua sebulan setelahnya juga berjalan dengan lancar, berkat tak hadirnya Ferdiansyah meskipun sudah dikirimi panggilan dari pengadilan.


Kuasa hukum mengatakan jika sekali lagi Ferdiansyah tak menghadiri persidangan maka hakim akan mengambil keputusan untuk mereka bercerai.


Sore harinya, Sandra pulang bersama putranya, Alex sedang sibuk dengan urusan pekerjaan juga tentang Benedict yang katanya merencanakan pernikahan dengan salah satu waiters di cafe tempat Rama biasa bekerja, Ayudia namanya.


Sandra mengenal gadis berlesung pipi itu, Tentu dikenalkan oleh Alex saat dirinya berkunjung ke Cafe.


Alex juga mengaku pernah menyukai Ayudia, hanya sebatas suka bukan cinta, Sandra tak masalah dengan itu, wajar saja, gadis itu manis dan ramah dengan siapa saja tentu banyak disukai.


Walau belum melangsungkan pernikahan, baru rencana saja, tapi Benedict telah memberikan sahabat-sahabatnya bonus yang banyak, termasuk Sandra dan Natasha.


Selain mendapatkan transferan uang, tas dari brand ternama asal Perancis menjadi hadiah yang didapatkan oleh kedua wanita itu.


Tentu Sandra dan Natasha senang bukan main, tak lupa mendoakan kelancaran acara pernikahan itu.


Karena tak ada Alex di rumah malam itu, Sandra mengajak putranya, mengunjungi warung tenda pecel lele yang berada tak jauh dari apartemen tempat tinggalnya dulu.


Katanya Xander kangen ingin makan soto yang dijual di sana.


Seperti biasa sambil menikmati makanan, Xander akan bercerita tentang harinya, Sandra mendengarkan juga sesekali menanggapi cerita putranya itu.


"Papa kayanya lagi sibuk ya ma?"tanya bocah itu ketika keduanya dalam perjalanan ke rumah.


"iya, lagi banyak kerjaan,"jawab Sandra sambil mengemudi.


Ditengah perjalanan, ponsel Sandra berdering, dari nomor asing, bukan nomor ponsel melainkan telepon dengan nomor area ibukota.


Sandra mengangkatnya,


"....."


"malam, betul saya Sandra, ada apa ya?"


"......"


"Iya saya mengenalnya, kenapa ya?"


"...."


"Oke saya ke sana sekarang,"


Sandra memasukan ponsel ke dalam tasnya lalu berbalik arah.


"loh kok balik ma?"tanya Xander heran.


"barusan ada telepon dari rumah sakit, katanya Ayah kecelakaan,"jawab Sandra.


"Ayah Ferdi?"


"Iya, jadi kita jenguk dulu ya, disini hanya mama yang dikenalnya,"


Xander tak menjawab, bocah itu lebih memilih memainkan ponsel yang dibelikan papanya.


Tak lama mobil sampai di parkiran rumah sakit, tempat dimana Ferdiansyah sedang ditangani di IGD.


Sandra menanyakan keadaan Ferdiansyah pada salah satu perawat IGD yang ditemuinya.


Perawat mengatakan jika sebaiknya wali pasien mengurus pendaftaran terlebih dahulu, karena Ferdiansyah tengah ditangani oleh dokter.


Sandra menggandeng tangan putranya menuju tempat pendaftaran pasien, untuk mengurus segala administrasi.


Sekembalinya dari tempat pendaftaran pasien, dokter memanggil wali dari Ferdiansyah.


Dokter mengatakan, Jika pasien mengalami patah tulang kaki kanan dan tangan kiri, juga beberapa lebam di wajah, jahitan di pelipis juga pinggang sebelah kiri.


Ferdiansyah masih menjalani perawatan di dalam IGD,


Sekitar dua jam kemudian, lelaki itu baru masuk ruang perawatan.


Sandra dan Xander terus mendampingi Ferdiansyah, lelaki itu masih tertidur usai menjalani operasi.


Hari semakin malam, Xander mulai menguap, sepertinya bocah itu mengantuk, tapi Sandra bingung harus bagaimana, tak mungkin ia menghubungi Alex, lelaki itu pasti marah, Jonas juga pasti akan memberitahu sepupunya.


Dengan terpaksa Sandra menghubungi Natasha,


"Sha, sorry ganggu malem-malem, Lo sibuk nggak?"tanya Sandra melalui sambungan telepon.


"gue baru kelar operasi, ini mau balik, kenapa sa?"


"Gue boleh nitip Xander nggak, buat numpang tidur di rumah Lo,"


"boleh lah, tapi emang Lo mau kemana?"


"gue lagi di rumah sakit xx, Lo tau kan, entar kalau kesini gue ceritain,"


"ya udah gue kesitu sekarang,"


"gue tunggu di lobby ya!"


Sandra mengakhiri panggilannya, dan segera bergegas turun ke lobby bersama putranya, tak lupa memberi tau perawat jika dirinya akan pergi sebentar.


Xander yang sudah sangat mengantuk, tertidur dipangkuan Sandra di bangku panjang yang ada di lobby.


Tak lama Natasha datang, gadis itu masih mengenakan kemeja berwarna merah muda dan celana formal berwarna cokelat tua, terlihat raut wajah lelahnya.


"Emang siapa sih Sa yang masuk rumah sakit?"tanya Natasha duduk diseberang bangku yang diduduki sahabatnya.


"Mas Ferdi kecelakaan, disini hanya gue yang bisa dihubungi,"jawab Sandra sambil mengelus kepala putranya yang tertidur pulas.


"lah bukannya mas Ferdi punya selingkuhan, kenapa nggak perempuan itu yang urus? Lagian bukannya Lo bilang, sedang mengurus perceraian kalian,"


"iya, masalah rumah sakit menghubungi gue, masa ia gue tolak, tapi gue udah telpon ibunya mas Ferdi, mungkin besok baru sampai sini,"


"Alex udah Lo kabari?"


Sandra menggeleng, "bisa ngambek dia, lagian dia lagi sibuk banget, kaga enak mau gue gangguin,"jawabnya.


"Terus bukannya besok Xander harus sekolah?"


"ijin dulu kayaknya,"sahut Sandra.


"Ya udah bawa ke mobil gue, udah malem, pasti dia nggak nyaman tidur kayak gitu,"


Sandra menggendong putranya, menuju parkiran dimana mobil Natasha berada,


"sorry ya Sha, gue ngerepotin,"ucapnya setelah menidurkan putranya di jok mobil milik sahabatnya.


"santai aja lagi sa, lagian besok gue off, jadi aman kalau misalnya Lo mau nitip Xander sampai besok,"


"makasih banyak ya sha, hati-hati,"


Sandra melambaikan tangannya saat mobil sahabatnya meninggalkan area rumah sakit.


Sebelum kembali ke ruang rawat, ia membeli beberapa minuman dan camilan, yang akan menemaninya bergadang.


Dini hari, Ferdiansyah terbangun, lelaki itu mengeluh ingin buang air kecil, karena tak bisa berjalan ke toilet, Sandra meminjam pispot ke perawat yang berjaga.


Meski Sandra sedikit canggung, tapi ia berusaha tetap tenang juga sabar membatu lelaki itu buang air kecil di pispot.


Setelahnya, Ferdiansyah juga meminta minum, Sandra mengambilkan minum di gelas yang disediakan pihak rumah sakit.


"Makasih ya Sa, udah ngurus aku,"ucap Ferdiansyah usai minum.


"iya mas, sebagai sesama manusia wajib tolong menolong,"sahut Sandra yang duduk di kursi dekat ranjang pasien.


Hening, hanya terdengar suara pendingin ruangan juga dengkuran dari pasien disebelah.


"Aku udah hubungi ibu kamu, mungkin besok beliau baru sampai sini,"Tutur Sandra.


"Ibu nggak tau kalau kita mau cerai, aku harap kamu menutupi masalah kita,"pinta Ferdiansyah.


"Oke, tapi aku nggak bisa jaga kamu disini, kamu tau bukan aku harus antar jemput Xander, juga bekerja, ini aja aku titipin dia ke sahabat aku,"


"maafkan aku Sandra, aku udah nyakitin kamu,"


"lupain, udah lewat, mending kamu istirahat sekarang,"


Ferdiansyah menuruti ucapan Sandra, lelaki itu memejamkan matanya.