
Tak mau larut dalam kegelisahannya sendiri, malam harinya menjelang tidur, Sandra menanyakan kemana perginya Alex saat malam dimana lelaki itu dinner bersama Celine.
Alex menjelaskan jika dirinya bertemu dengan salah satu selebritis yang ingin memakai jasanya sebagai seorang advokat juga penyedia jasa keamanan,
"sejak kapan Celine jadi selebritis?"tanya Sandra tiba-tiba.
"maksudnya?"tanya Alex balik, sepertinya lelaki itu bingung.
"Lex, kamu tau bukan betapa Celine tergila-gila sama kamu? Lalu kalian dinner di restoran itu, yang kamu bilang ketemu klien, jadi fakta sebenarnya yang mana sih? Kamu ketemu klien atau dinner bareng Celine?"
Alex yang sedang memangku laptopnya untuk menyelesaikan sedikit pekerjaannya, menghentikan kegiatannya, "kok kamu tau aku bareng Celine? apa kamu menguntit aku? Siapa orang yang kamu suruh? kamu curiga sama aku? kamu nggak percaya sama aku?"tanyanya bertubi-tubi.
Sandra yang sedang berbaring langsung bangkit, wanita itu duduk bersila menghadap kekasihnya, "kok nada suara kamu kayak cowok yang kepergok selingkuh sama ceweknya, lagian aku cuman nanya, tinggal kamu jawab dan jelaskan, lagian ya Lex kalau kamu menikah sama Celine, kalian berdua cocok kok, pasangan serasi dan yang paling utama satu keyakinan,"
Alex menutup laptopnya lalu meletakan diatas ranjang, lelaki itu duduk bersila berhadapan dengan kekasihnya, tatapannya tajam, "jawab dulu pertanyaan aku, ngapain jadi omongan kamu melantur begitu sih, jangan sampai aku cari tau sendiri siapa yang meracuni otak kamu, bisa-bisanya kamu meragukan aku,"
Sandra tak mungkin dengan bodohnya mengakui jika informasi yang ia dapat berasal dari Gita, bisa dalam masalah besar rekannya itu, walau menyebalkan Gita adalah rekan pertamanya bekerja sepeninggal Rena.
"aku cuma tanya Alex, kenapa kamu jadi kayak kesal gitu? Kalau kamu nggak merasa bersalah harusnya jelaskan apakah benar apa yang aku omongin, dibuat simpel aja Alex,"
Alex menceritakan jika setelah selesai pertemuannya dengan salah satu kliennya, tak sengaja ia bertemu dengan Celine, yang baru saja selesai melakukan kencan buta dengan seorang pria kenalan orang tua wanita itu.
Alex menceritakan secara detail tentang apa saja yang keduanya bicarakan hingga hidangan apa saja yang dimakan.
"Sebagai atasan sekaligus teman lama, masa iya aku tolak ajakan dia, toh itu tempat ramai, aku juga tidak berada di ruangan tertutup yang hanya aku berdua sama dia, jadi hilangkan prasangka buruk kamu ke aku, harusnya kamu tau aku hanya mencintaimu, jangan cari-cari alasan supaya kamu ninggalin aku, itu nggak akan aku biarkan, jadi kamu dapat informasi dari mana?"
Tak mau rekannya dalam masalah, Sandra memilih merebahkan diri membelakangi Alex, sambil bergumam pelan, "lupain anggap aja aku nggak pernah ngomong,"
Sudah kepalang tanggung, tidak mungkin Alex akan membiarkannya begitu saja, mana bisa disaat ada yang mengancam hubungannya dengan kekasihnya, ia diam saja.
"Kalau kamu nggak mau ngomong, aku bisa cari tau sendiri,"
Sandra yang tau betul watak Alex, langsung berbalik ia berbaring miring menghadap lelaki yang masih duduk bersila, "udah deh lex, anggap aja kita nggak pernah ngomong soal ini, toh aku masih sama kamu disini, itu artinya aku percaya sama kamu, jadi kita hentikan pembicaraan ini, kita lupakan oke, jadi lebih baik kita tidur, udah malam,"ucapnya sambil menarik lembut tangan kekasihnya agar mendekat, tapi sepertinya Alex masih penasaran, lelaki itu malah bangkit turun dari ranjang tak lupa membawa laptopnya keluar dari kamar.
Sandra menghela nafas, ia memukul mulutnya pelan, bodoh sekali dirinya, harusnya tak usah ia tak usah membahas hal yang telah lewat,
Wanita itu memutuskan bangkit untuk mencari keberadaan kekasihnya, tak akan ia biarkan Gita dalam masalah.
Terlihat Alex sedang duduk di sofa ruang tengah sembari menghadap laptopnya dan menelpon seseorang, "iya, Lo retas cctv-nya, terus kirim ke gue,"
Mendengar itu, Sandra melebarkan matanya, ia berjalan cepat menghampiri laki-laki itu,
"kamu apa-apaan sih, kan aku bilang anggap aja, kamu nggak pernah dengar omongan itu, lagian aku percaya sama kamu kok,"ujarnya sembari duduk di samping Alex.
Namun lelaki itu tak menanggapi,
Merasa tak dipedulikan, Sandra menjadi kesal sendiri, sepertinya ia tak punya pilihan lain, ia harus mengakui dari mana ia mendapatkan informasi itu.
"Lex,...."belum sempat melanjutkan ucapannya, ponsel Alex berdering, lelaki itu mengangkatnya,
"oke thanks ya,"sahutnya.
Alex kembali sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dilakukannya, namun beberapa saat kemudian, Sandra bisa mendengar gumaman lelaki itu.
"dia bukannya rekan kerja kamu di bagian admin?"ucapnya menunjuk layar laptop.
Sandra melebarkan matanya, terlihat di layar, seorang perempuan yang sedang memotret secara diam-diam, Alex yang sedang makan bersama Celine.
"aku pecat aja kali ya!"cetus Alex,
Sandra menggelengkan kepalanya, "nggak boleh, enak aja main pecat aja, dia itu rekan kerja pertama aku, lagian wajar dia berfikir seperti itu, Karena di kantor gosip yang beredar tentang Celine menyukai kamu itu udah beredar,"
"tapi aku nggak ada perasaan apapun sama dia,"timpal Alex.
"aku tau Alex, jadi tolong jangan diperpanjang, cukupkan sampai disini,"
"tapi itu buat kamu meragukan aku, jangan-jangan perginya kamu ke tempat Asha, gara-gara ini?"
Sandra menghela nafas, resiko memliki kekasih seorang pengacara, yang akan selalu penasaran dengan hal detail seperti ini.
"gini ya Alex, aku tegaskan, cukupkan sampai disini, tidak udah dibahas ataupun sampai memecat Gita, dan aku percaya kamu hanya mencintai aku, please aku mohon,"
Alex menatap wanita disampingnya dalam, "jangan ragukan aku sa, aku mencintaimu melebihi nyawaku sendiri, Tolong jangan berfikir mencari alasan untuk meninggalkan aku,"
Sandra mengangguk, lalu mendekat dan mengecup bibir kekasihnya singkat, "iya, aku nggak akan meninggalkan kamu, jadi sekarang kita tidur yuk, udah malam, besok kita harus bangun pagi bukan,"ucapnya sambil bangkit dari duduknya,
Namun tangan wanita itu ditahan oleh Alex, "udah gitu doang?"
Sandra mengernyit heran, "maksudnya?"tanyanya.
"kamu udah sembuh masa nifasnya bukan?"tanya Alex balik.
Sandra mengangguk, "lalu?"
Alex bangkit sambil menutup laptopnya, ia mengecup punggung tangan kekasihnya, "aku menginginkannya sekarang,"bisiknya tepat ditelinga wanita yang hanya mengenakan gaun tidur berbahan satin berwarna hitam itu.
"tapi aku belum KB, gimana kalau aku hamil lagi?"
Alex menuntun kekasihnya menuju kamar, tak lupa menguncinya, ia mengambil sesuatu dari tas kerjanya, lalu menunjukan kotak yang Sandra ketahui sebagai pengaman saat berhubungan intim,
"ada beberapa isinya, aku bisa menggunakan ini, walau sebenarnya aku lebih suka tanpa memakai ini, tapi demi kamu aku akan memakainya,"
Alex memulai aksinya, ia mulai mencium kekasihnya lembut dan penuh cinta, beberapa menit berlalu, ciuman itu semakin panas dan menuntut menuju tahap selanjutnya.
Keduanya larut dalam gairah, tak lupa memasang pengaman yang Alex ambil dari kotak kecil, untuk sementara ia akan menggunakannya,
Tak cukup sekali karena sudah sebulan lebih keduanya tak berhubungan intim, Alex sampai menghabiskan tiga pengaman.