How To Marry You ?

How To Marry You ?
dua puluh dua



Beberapa hari kemudian,


Ponsel Sandra bergetar saat dirinya tengah bekerja, nomor asing yang tidak tersimpan dalam kontaknya.


Ia mengangkatnya, Ternyata itu Oscar yang mengajaknya makan siang bersama nanti, namun ia menolak secara halus, ia menawarkan jika bertemunya sepulang bekerja saja.


Sesuai kesepakatan tadi siang mereka bertemu di Cafe yang dikelola Rama.


Ada Oscar dan Natasha juga Rama yang menunggunya.


Sandra melambaikan tangannya, saling bersalaman dan berpelukan ala sahabat lama.


"gue denger lo udah nikah Sa?"tanya Natasha memulai pembicaraan.


Sandra meminum sedikit milkshake pesanannya, "Ya gitu deh,"


"Kenapa nggak ngabarin kita-kita? Terus laki lo orang mana dan kerja apa?"giliran Oscar bertanya.


Sandra sadar dirinya tengah diintrogasi, "gue di Semarang, laki gue orang sana dan kerja disalah satu showroom mobil,"jawabnya jujur.


"Kok bisa sih Sa? terus sahabat gue gimana nasibnya? Sorry bukannya gue mau nyalahin elo, perkara jodoh emang urusan Yang Maha Kuasa, cuman yang nggak gue abis pikir, lo main ngilang gitu aja tanpa pamit ke kita-kita, sebenarnya lo anggap kita temen nggak sih?"Rama angkat bicara, ini ucapan terlama lelaki itu pada Sandra sepanjang dirinya mengenal tunangan dari Citra itu.


"gue pamit kok, kan gue nginep di rumah Asha, mungkin Asha nggak denger pas gue ngomong,"sangkal wanita dengan potongan rambut sebahu.


"kapan? Seingat gue nggak ah,"Natasha juga menyangkal.


"Oke anggap aja Lo pamit ke Asha, tapi kenapa lo main ninggalin Alex gitu aja, lo nggak tau kan sepeninggal lo, dia kayak apa?"Oscar mencoba menengahi.


Meski merasa terpojok, Sandra berusaha tetap tenang, "menurut kalian bertiga kalau gue pamit sama Alex, kira-kira dia bakal lepasin gue nggak? lalu menurut kalian juga, apa mungkin jurang perbedaan antara gue sama Alex bisa disatukan? Pada ngerti kan maksud gue? Dari awal semenjak tau gue beda sama dia, gue udah bilang mending nggak usah sama-sama, gue tau endingnya bagaimana, tapi dia tetep kekeh nggak peduli soal itu, dia nggak mau lepasin gue, jadi menurut kalian gue mesti gimana?"


Ketiganya bungkam mendengar ucapan dari wanita itu.


"Jujur, gue nggak sadar kalau atasan gue itu Alex, kalau dari awal gue udah tau, nggak mungkin gue mau kerja disitu, tapi sekarang gue butuh duit, keadaan gue yang sekarang jauh berbeda saat kita SMA dulu, jadi suka tidak suka, gue akan tetap bertahan di kantor itu, minimal hingga kontrak kerja abis, kalau kalian ingin gue enyah, nggak masalah,"


Natasha memegang tangan sahabat lamanya, "nggak gitu Sasa, kita seneng banget bisa ketemu lo lagi, masalahnya itu Alex, duh gimana ya ngejelasinnya,"ujarnya sembari berdecak.


"Alex menyiksa diri Sa, dia tertekan dan depresi, saat lo tinggalin dulu, begitu juga dengan sekarang,"jelas Oscar, "sudah sepuluh tahun ini dia ketergantungan sama obat tidur, Lo ngerti resiko jika dia terus kayak gitu kan?"lanjutnya.


Sandra mengangguk,


"Sa, gue nggak nyuruh lo buat balikan sama Alex, gue tau status lo yang sekarang, tapi bisa nggak lo lebih nenangin dia, setidaknya biar dia nggak ketergantungan obat lagi, dia emang orangnya kelihatan konyol, tapi gue bisa rasain ketika pandangan dia kosong, apalagi sejak ketemu lo lagi,"


"dia udah ngusir gue Ram,".


"Dia lagi emosi Sa, itu nggak mungkin dari hati dia, buktinya abis ngusir lo, dia mabuk-mabukan tiap malem, dia nyebut-nyebut nama lo,"tutur Rama.


Sandra menghela nafas, "Apa yang harus gue lakuin?"


"saran gue, lo bilangin dia pelan-pelan, supaya dia nggak merusak dirinya sendiri, seenggaknya sampai dia bisa menerima keadaan,"Rama menyarankan.


Sandra melihat waktu di pergelangan tangannya, ia teringat putranya, "oke gue usahain, tapi nggak janji bisa berhasil, kalau gitu gue balik dulu ya, anak gue nungguin,"usai mengatakannya ia pergi meninggalkan ketiga sahabat lamanya itu.


Waktu berlalu, Sandra tak bisa berbuat banyak, ia juga tak bisa menemui Alex semaunya, bukan tanpa alasan, pekerjaannya tidak bisa langsung berinteraksi dengan atasannya itu.


Jika siang hari Sandra harus menjemput Xander dan mengantarnya ke apartemen, sedangkan sore, terkadang ia harus lembur atau buru-buru pulang karena putranya telah menunggunya.


Beberapa kali secara bergantian ketiga sahabatnya menanyakan tentang tindakannya, namun Sandra bilang jika dirinya belum bisa melakukan apapun.


Pagi itu saat dirinya sedang menunggu lift, ada seseorang yang memanggilnya, ia menoleh, itu salah satu sahabatnya yang blasteran, lelaki tampan berambut cokelat dan bermata hijau.


"gue pikir cuman gosip kalau lo udah balik, ternyata bener ya, makin seksi aja Sa,"cetus Fernando.


"terima kasih dan gue denger Lo kerja di Bali, wah tiap hari bisa cuci mata dong,"sahut Sandra.


"Ngeledek lo, Sa temenin gue yuk,"


"kemana?"tanya Sandra heran.


Karena masih pagi, belum banyak pekerja yang datang jadi Sandra tak mendengar bisikan-bisikan seperti biasa.


Fernando menunjukan bungkusan plastik yang dipegangnya, "sarapan bareng gue,"


"Temenin aja Sa, gue mau curhat tentang cewek gue ke Lo,"


Tak enak menolak, Sandra mengangguk, ia mengikuti Fernando memasuki lift berwarna gold itu.


Lift terbuka di lantai tujuh, ini kali pertama Sandra naik ke lantai ini, yang seingatnya adalah tempat tinggal dari Alex.


Hanya ada satu pintu berwarna hitam, dengan smart lock, "Password-nya tanggal malam pertama Lo sama Alex, ingat kan?"


Sandra mengangkat bahunya, sejujurnya ia sedikit lupa tanggal tepatnya, yang ia ingat hanya tempat terjadinya.


Bunyi pintu terbuka, begitu masuk ruangan yang katanya apartemen jadi-jadian, adalah simpel, tidak banyak barang, di samping pintu masuk, ada tempat penyimpanan sepatu dan sandal rumahan.


Fernando mempersilahkan Sandra untuk duduk di sofa panjang yang dibelakangnya ada dinding kaca.


Lelaki blasteran itu meninggalkannya dan memasuki salah satu pintu.


Tak lama Fernando datang diikuti oleh Alex dibelakangnya,


Sandra bisa mendengar dengan jelas umpatan yang keluar dari mulut lelaki yang hanya mengenakan bokser itu begitu melihat dirinya.


Alex kembali masuk ke dalam kamarnya, sementara Fernando tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa lo bawa gue kesini sih do? Nyari masalah lo, dia itu udah ngusir gue, sekarang malah dengan pedenya gue disini,"ungkap Sandra kesal.


"Emang kenapa sih Sasa alias Sandra? Gila ya kita temenan beberapa bulan, sering nongkrong bareng, gue baru tau nama asli lo, pantes nyarinya susah banget, Alex juga bego, masa nama lengkap cewek sendiri nggak tau,"


"Ngapain nyariin gue?"tanya wanita dengan potongan rambut sebahu.


"Gila Lo ya, kita nggak nyariin Lo, temen gue depresi gara-gara elo, terus gue suruh diem aja gitu? lagian lo pergi nggak bilang-bilang, bikin orang pada panik,"


"iya sorry gue minta maaf, gue udah pamit sama Asha kok, mungkin dia yang nggak ngeh kalau gue pamit, terus masalah nama kenapa nggak tanya Asha juga, dia kan temen les gue,"


Mendengar hal itu Fernando mengumpat, "bisa-bisanya gue lupa,"


"Terus katanya Lo mau curhat sama gue, apaan buruan, bentar lagi jam kerja gue mulai,"


"gue lagi deket sama cewek model gitu, menurut lo gimana?"


"gimana apanya?"tanya Sandra balik.


"Gimana pendapat lo, dia cantik, model, terus lulusan sarjana, tapi sayang beda keyakinan,"


"Lo cinta sama dia?"


"gue nyaman sama dia,"


"nggak nyambung jawaban Lo, gue tuh nanya Lo cinta nggak sama dia?"


Fernando mengangkat bahunya.


"Nggak jelas lo, saran gue mending stop sebelum terlambat,"


"Alasannya?"


"nggak usah diterangkan, Lo harusnya ngerti,"


"gitu ya!"


"udah kan do, gue balik kerja ya!"


"yah sa, entar dulu dong, masa pergi sih, belum ngomong sama Alex,"


"tapi gue mau kerja Nando, lagian Alex bakal ngusir gue,"


"Siapa yang ngusir?"


Sandra menoleh mendengar suara itu.