How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus lima



Sandra mengendarai motor menuju supermarket tak jauh dari gerbang komplek.


Sepanjang jalan, ia lebih banyak diam, begitu juga Xander yang membonceng dibelakangnya.


Ponselnya berdering, tapi ia tak pedulikan, ia tau siapa yang menghubunginya, malas sekali rasanya.


Sesampainya di supermarket, Xander terlebih dahulu masuk ke dalam, remaja itu mengambilkan troli belanjaan, karena banyak yang harus dibelinya, ada daftar yang tadi dicatat oleh Mbak Ninik, ART harian yang bekerja di rumah mereka.


Sandra bergabung dengan putranya yang mulai memasukan beberapa item sesuai dengan yang tertulis di catatan.


"Ma, emang mama serius mau pisah sama papa?"tanya Xander kala wanita yang melahirkannya sedang memasukan gula ke dalam troli.


Sandra melirik sekilas putranya, "kalau menurut kamu gimana?"tanyanya balik,


"kalau mama berpisah dari papa, apa mama akan bahagia?"tanya remaja itu kembali.


Sandra menghela nafas, "kebahagiaan mama tak penting Xander, mama bertahan hingga sekarang karena ingin memberikan kamu keluarga yang utuh,"jawabnya.


"apa mama mencintai papa?"tanya Xander sembari memasukan teh celup yang tertulis di catatan.


"papa kamu adalah cinta pertama mama, sejujurnya mama sangat mencintai papa, tapi kamu tau sendiri bukan, kalau kita berbeda,"


"bukankah papa mau mengikuti keyakinan kita setahun yang lalu, karena papa harus dipindah tugaskan, sehingga rencana itu tertunda, kenapa nggak jadi dilanjutkan?"


"nak, Keyakinan itu asalnya dari hati, bukankah sebagai umat beragama, ada beberapa kewajiban yang harus kita tunaikan, menurut kamu jika keyakinan dipaksakan agar kami bisa bersatu, kira-kira bisa nggak papa melakukan kewajiban yang biasa kita lakukan?"


"kan bisa belajar ma,"


Sandra menghembuskan nafasnya kasar, "mama tau seperti apa papa kamu, mama nggak terlalu banyak berharap, biar waktu yang menjawabnya,"


Xander terdiam mencerna perkataan yang dilontarkan oleh mamanya, ia melihat lagi wanita yang sedang mengambil beberapa mie instan dan memasukannya ke keranjang.


Hingga keduanya selesai berbelanja, tak ada lagi percakapan diantara mereka.


Langit berubah menjadi oranye, azan Magrib terdengar, Sandra bersama putranya untuk beribadah di Mushola yang terdapat di area supermarket.


Usai beribadah, Sandra mengajak putranya makan di warung tenda tak jauh dari supermarket.


Teringat dulu saat masih tinggal di apartemen, keduanya sering makan di tempat seperti ini, terkadang mereka rindu saat-saat seperti waktu itu.


Nasi soto ayam favorit Xander, sementara Sandra nasi dengan ayam goreng plus sambal dan lalapan.


Jika sudah begini, putranya akan makan dengan lahap, apalagi sejak menginjak remaja, Xander bisa menghabiskan dua porsi, tak masalah toh sekarang Sandra lebih dari mampu untuk membelikannya.


"Ma, kalau emang mama mau pisah dari papa, Xander nggak masalah kok, sekarang Xander udah gede, biarpun Xander belum bisa cari uang, tapi Xander udah bisa lindungi mama, jadi jangan melakukan hal yang membuat mama merasa berdosa,"cetusnya tiba-tiba.


Hampir saja Sandra tersedak mendengar penuturan putranya, bisa-bisanya bocah berumur tiga belas tahun itu berbicara seperti itu.


"akan mama pikirkan,"sahutnya, "tapi apa kamu siap jika kita harus keluar dari rumah itu? tanpa papa artinya kita kembali hidup sederhana,"lanjutnya.


"Tak masalah ma, yang penting kita tenang, dan mama nggak melakukan dosa terus menerus,"


"sok tau kamu,"ucap Sandra sambil tertawa, putranya benar-benar sudah mulai berpikiran dewasa.


"kata guru agama aku gitu ma, perempuan dan laki-laki tidak boleh berdekatan, haram hukumnya kecuali kalau sudah menikah, nah mama dan papa kan belum nikah, tapi kalian malah sekamar,"ungkap Xander polos.


Skakmat untuk Sandra, rasanya seperti tertampar, bedanya ia tak merasakan sakit di pipi.


Selama ini ia sadar, jika jalan hidup yang dipilihnya salah dan bertentangan dengan keyakinannya, tapi dengan dalih memberikan keluarga yang utuh, juga rasa cintanya pada Alex, sehingga ia melanggar aturan itu.


Rasa berdosa jelas ada, rasanya sesak jika memikirkannya, apa sekarang saatnya ia mengakhirinya?


Disisi lain, Alex mondar mandir di teras rumahnya, beberapa kali ia mengecek ponselnya, memastikan jika Sandra tak pergi jauh darinya berdasarkan GPS yang ada pada ponselnya.


Tak lama kemudian, ia memutuskan membukakan gerbang, agar Sandra dan putranya bisa dengan mudah masuk.


Alex berdiri di belakang mobil yang terparkir, ia menunggu kedatangan dua orang yang berarti dalam hidupnya, benar saja, mereka tiba setelah beberapa saat.


Sandra memarkirkan motornya tepat didepan mobil, sementara Alex menutup pintu gerbang.


Alex membantu kekasihnya membawakan beberapa kantong belanjaan menuju meja makan.


Saat sedang membereskan, Sandra berujar, "aku beliin kamu makanan, mumpung masih hangat, lebih baik kamu makan dulu,"tunjuknya pada bungkusan plastik berwarna bening.


Alex menuruti ucapan wanita itu, ia mencuci tangan dan mengisi gelas dengan air minum, Sementara Sandra membuka bungkusan dan meletakkannya di piring.


Xander masih sibuk menempatkan belanjaan sesuai tempatnya, "ma, libur akhir tahun, kita pulang ke Semarang ya, Xander kangen Tante Siska,"cetusnya tiba-tiba.


Alex menghentikan makannya, "ke Semarang nya ditunda dulu, papa mau ajak kalian ke Italia,"ucapnya.


Ibu dan anak yang sedang membelakangi Alex, menoleh secara bersamaan, lalu saling pandang, keduanya berbicara dengan tatapan mata.


"Aku nggak mau pa,"tolak Xander.


"kenapa? ini udah papa rencanakan dari beberapa tahun yang lalu kok, tanya mama, kalian bahkan sudah punya visa untuk berkunjung ke sana,"tutur Alex sambil melirik Sandra, sayangnya yang dilirik malah membuang muka.


"Ngapain ke sana sih? Papa mau nonton bola?"tanya remaja itu heran, ia menghampiri papanya lali duduk bersebrangan.


"kita bisa mengunjungi tempat-tempat indah di sana, kamu bisa searching, papa akan cuti dua pekan, kita juga bisa merayakan tahun baru di sana,"jawabnya.


"Mama gimana?"tanya Xander menatap Sandra yang telah selesai memasukan semua belanjaan ke tempatnya.


"kalau kamu?"tanya Sandra balik.


Alex yang masih menyantap makanannya jadi kesal sendiri, kenapa ibu dan anak seolah sedang mempermainkannya?


"Pokoknya papa putuskan kalian liburan bareng papa ke Itali, dan papa tidak terima penolakan,"ucapnya tegas, penuh penekanan.


Malas menanggapi, Xander memilih bangkit,


"mau kemana kamu?"tanya Alex, "papa belum selesai berbicara Alexander,"


Xander yang sedang berjalan menuju kamarnya, menghentikan langkahnya dan berbalik, "papa nggak dengar tuh suara azan, aku mau shalat jamaah di masjid, kan kalau di rumah nggak ada yang bisa jadi imam,"sindirnya dan langsung masuk ke kamarnya.


Alex tersedak mendengar sindiran putranya, melihat hal itu, Sandra bangkit, lalu menepuk punggung lelaki itu seraya memberinya minum.


"pelan-pelan Lex,"


Setelah tenang, Alex menatap wanita itu tajam, "kenapa Xander jadi kayak gitu sih?"tanyanya kesal.


Sandra menaikan bahunya, lalu memilih masuk ke dalam kamarnya untuk menunaikan kewajibannya, setidaknya walau hidup dengan bergelimang maksiat, kewajibannya jangan sampai terlewat.


Malam hari usai selesai mengenakan cream wajah, Sandra mengambil bantal dan gulingnya, ia hendak keluar dari kamar.


Alex yang sedang memangku laptop diatas ranjang, heran dengan tingkah kekasihnya, "kamu mau kemana? Kok bawa bantal sama guling?"tanyanya.


"aku mau tidur di sofa,"jawab Sandra tanpa melihat lelaki itu.


Alex menutup laptopnya dan menaruhnya di kabinet, lalu menghampiri wanitanya, "kenapa nggak tidur di kamar?"tanyanya.


Sandra menghela nafas lelah, waktu menunjukan pukul sembilan malam, tapi entah mengapa rasanya mengantuk sekali, "Lex, apa yang kita lakukan salah, tidak seharusnya kita sekamar,"jawabnya.


"Salah di mananya? Bukankah kita sudah terbiasa seperti ini?"tanya Alex heran.


"aku nggak mau berbuat dosa terus menerus,"jawab Sandra jujur.


Alex menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya ucapan putranya mempengaruhi Sasa-nya, andai remaja itu bukan putra kandungnya, mungkin ia sudah mengenyahkannya, sialan memang, bagaimana mungkin ia yang sudah sebulan tak memeluk dan mencium kekasihnya harus menahannya lagi, ia sampai ditegur Rama tadi sore gara-gara kabur ke ibukota demi menemui wanita ini.


"Sa, kembali ke tempat tidur sekarang,"ucapnya penuh penekanan dan tak mau dibantah.


"Tapi Lex,"protes Sandra.


Alex mendesis kesal, rasanya ia sudah mulai hilang kesabaran, sedari pagi, ia sudah menahan amarahnya melihat kekasihnya bersama sahabatnya, juga tentang kiriman foto dan suara sahabatnya yang membuat dirinya semakin kesal, belum lagi ucapan putra semata wayangnya yang seolah menyadarkannya dari kenyataan tentang hubungan rumit antara dirinya dengan wanita ini.


Tanpa banyak basa basi, Alex merebut bantal dan guling yang dipegang Sandra, lalu melemparnya ke atas ranjang.


Alex memegang kedua sisi kepala sang kekasih, lalu mencium bibir itu, bukan ciuman yang lembut, tapi ciuman kasar yang seolah-olah dirinya akan memakan bibir wanita itu.


Sandra melotot, ia terkejut dengan tindakan lelaki itu, memberontak tapi Alex mengurung dirinya dengan tubuh kekar lelaki itu, sehingga ia hanya pasrah diperlakukan seperti itu.


Alex melepaskan ciumannya, "balas ciumanku Sandra,"perintahnya,


"Tapi Lex.."protes wanita itu, tapi belum menyelesaikan kalimatnya, Alex kembali membungkamnya dengan ciuman.


Beberapa saat kemudian, Sandra mulai terbuai, hawa nafsu membuat logikanya tak bekerja.


Ucapan putranya, seolah menguap begitu saja, nyatanya Sandra malah membalas ciuman itu tak kalah panas.


Alex tersenyum tipis, mudah sekali memperdaya kekasihnya, tak banyak membuang waktu, ia mulai melanjutkan aksinya, dalam hati ia bertekad akan menggagahi wanita ini hingga pingsan.


Persetan dengan keadaan kekasihnya nantinya, selain untuk melampiaskan rindu dan hasrat ia juga ingin menegaskan pada wanita ini, agar tak main-main dengannya.