
Sandra menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga, mengurus Xander, mengantar jemputnya ke sekolah, mengurus rumah, berbelanja ke pasar tradisional atau ke supermarket.
Sejak perdebatan itu, Alex tak pulang ke rumah, walau begitu, lelaki itu selalu menyempatkan diri untuk melakukan panggilan video pada putranya, menanyakan aktivitas yang dilakukan bocah itu seharian.
Namun Alex sama sekali tak menghubungi Sandra, termasuk mengirim pesan, lelaki itu mendiamkannya.
Motor dan mobil yang biasa digunakan dulu, diantarkan oleh orang suruhan Alex keesokan harinya setelah ia pindah lagi ke rumah itu.
Alex juga memberikan ponsel lama, dan kartu yang dulu lelaki itu berikan padanya sebelum pergi setelah perdebatan itu.
Sandra menghubungi Natasha, meminta maaf karena tidak bisa berpamitan langsung saat kepindahannya.
Waktu berlalu, sudah sebulan sejak kepindahannya, Alex benar-benar tak mau menemuinya secara langsung, lelaki itu hanya menghubungi putranya.
Sandra bingung dengan sikap lelaki itu, bilang cinta tapi kenapa seolah ia tak dipedulikan, seolah hanya sebagai pengasuh anak semata wayang mereka saja.
Apa sebenarnya mau Alex?
Pagi itu, entah kenapa Sandra merasa lemas sekali, bahkan saat menuju ke kamar mandi ia harus berpegangan, agar tak jatuh.
Usai menyelesaikan kewajibannya, Sandra hanya tiduran, hingga pintu kamarnya di ketuk, itu putranya yang telah siap dengan seragam sekolahnya.
"Mama kenapa? Kok nggak buat sarapan,"tanya Xander.
Sandra yang sedang meringkuk dibalik selimut, meminta tolong putranya untuk mengambilkan ponsel miliknya yang ada di meja rias.
Xander menurut, bocah itu mengambilkan ponsel milik mamanya.
Sandra mengutak-atik ponselnya,
"Halo Alex,"
"ya, kenapa Sa?"
"Aku minta tolong, antar Xander ke sekolah,"
"oke,"
Sandra menaruh ponselnya di sisi ranjang lalu melihat ke arah putranya, "Xander, berangkat sama papa ya, lalu sarapan di sekolah saja ya!"
Ia meminta putranya mengambil dompet miliknya yang ada dimeja rias, lalu memberikan uang berwarna hijau, "beli nasi ya nak, maaf mama nggak bisa antar kamu,"
Xander menerima uang jajannya, "mama sakit?"tanyanya bingung.
"Mama cuman masuk angin aja kok, mama mau tidur dulu, lalu tolong jangan bilang papa kalau mama lagi nggak enak badan, kamu mengerti?"
Sandra menyuruh putranya menunggu papanya di teras rumah, supaya lelaki itu tak masuk dan mengetahui keadaanya.
Setelah memastikan putranya dijemput Alex memalui jendela, Sandra memutuskan untuk membaringkan tubuhnya diatas ranjang, tanpa sarapan, sepertinya membayangkan makanan saja, rasanya ia ingin muntah.
Dering ponsel membuatnya terbangun dari tidurnya, Sandra meraba sisi ranjang tempat dimana suara itu berasal.
Dari Guru kelas putranya, yang memberitahukan jika sudah sejam lebih Xander belum juga dijemput.
Sandra meminta maaf, dan mengatakan akan menyuruh orang lain untuk menjemput putranya.
Waktu sudah menunjukan pukul tiga belas, ternyata ia tertidur sangat lama, tapi mengapa badanya tak kunjung membaik, malah semakin pusing.
Teringat tadi pagi, belum ada makanan apapun yang masuk ke perutnya, ia malas sekali,
Sandra kembali menghubungi Alex,
"Kamu dimana?"
"baru pulang dari pengadilan, ada apa?"
"bisa minta tolong jemput Xander dan bawa ke kantor kamu?"
"oke,"
Sandra menghembuskan nafasnya kasar, Alex bersikap dingin padanya, sampai kapan laki-laki berbuat seperti itu.
Tak mau menambah pusingnya, ia memilih memejamkan mata lagi, walau sebenarnya ia lapar, tapi rasanya malas sekali.
Sebuah tangan yang besar nan dingin memegang dahinya, membuat wanita itu membuka mata,
Sandra mengucek matanya, ia menatap ke arah lelaki yang rasanya sudah lama sekali tak ia lihat secara langsung,
Sandra duduk bersandar di head board, ia melihat waktu di ponsel miliknya, sudah pukul enam belas, artinya ia sudah tidur sekitar tiga jam.
"nggak kok, aku biasa aja, kamu ngapain kesini? Tumben, kirain udah lupa sama aku,"sahut Sandra ketus.
"aku nggak mau ribut sa,"
"mana Xander?"
"lagi mandi, apa kamu tidak masak?"
"aku malas, tolong pesankan anak kamu makanan,"ucap Sandra, setelahnya, ia merebahkan diri kembali dan menyelimuti tubuhnya hingga sebatas leher, bahkan ia membelakangi lelaki itu.
Terdengar hembusan nafas kasar dari belakangnya, "oke," setelahnya Alex keluar dari kamar, memesankan makanan untuk putranya.
Lagi-lagi tidurnya terganggu, Sandra jadi kesal sendiri,
"Apaan sih, aku ngantuk jangan ganggu bisa nggak?"ucapnya kesal.
Alex terkejut, untuk pertama kalinya wanita itu membentak dirinya,
"kamu kenapa sih Sa? Aku bangunin kamu, cuma mau nawarin makanan,"
"aku malas, kamu aja yang makan,"sahut Sandra masih membelakangi lelaki itu.
"Kalau ngomong hadap sini, kenapa membelakangi aku?".
"Aku malas lihat muka kamu,"
"hah?"Alex terkejut, kenapa kekasihnya berubah ketus dan tak lembut padanya.
"Sandra seharian kamu belum makan bukan? Setidaknya harus ada asupan makanan supaya kamu nggak sakit,"
"Apa peduli kamu?"
Alex menghela nafas, apa yang terjadi dengan wanita yang dicintainya? Apa karena ia mendiamkannya selama ini? Ia hanya kesal, karena wanita itu mengungkit kembali perbedaan diantara keduanya,
Alex sengaja menyibukkan diri untuk melupakan rasa kesalnya pada kekasihnya.
"Sandra, maafkan aku karena mendiamkan kamu, bukan maksudku melakukan itu, aku hanya butuh waktu untuk mencari solusi supaya kita bisa bersatu,"
Pundak wanita itu bergetar, Sandra menangis mendengar ucapan lelaki itu, entah mengapa rasanya ingin menangis saja, padahal ucapan Alex biasa saja.
Tangan besar itu memeluk pinggangnya, "sasa sayang, aku minta maaf, sikap aku menyakiti kamu,"bisik Alex.
Bukannya diam, Sandra menangis makin keras, dan Alex jadi panik, ia membalikan tubuh wanitanya, "Sasa sayang maafkan aku, please berhenti nangis, aku salah, aku minta maaf, aku janji nggak akan cuekin kamu,"
Sandra sendiri bingung kenapa bisa hanya karena itu ia menangis, Alex terus memeluknya, dan membisikkan kata-kata maaf padanya.
Puas menangis, Sandra melepaskan pelukan itu, ia bangkit tanpa mengatakan sepatah katapun pada lelaki itu.
Sepuluh menit berlalu, Sandra baru saja keluar dari kamar mandi, wanita itu mandi bahkan keramas,
Alex menatap bingung kekasihnya, bisa-bisanya setelah menangis cukup lama, wanita itu bertingkah seolah tak ada apa-apa, bahkan dengan santainya memakai baju didepannya, padahal sudah sebulan mereka tidak berhubungan intim, apa Sandra sengaja memancingnya?
Alex berinisiatif membantu kekasihnya mengeringkan rambut, wangi sampo semerbak tercium oleh hidungnya, hasratnya mendadak bangkit, sebisa mungkin ia mengendalikannya, agar tak menyerah wanita itu.
"setelah ini kita makan ya! Aku pesankan mie goreng seafood,"ucapnya.
Sandra terdiam, lalu berucap, "Lex, aku pengen makan nasi Padang,"
"hah?"
"iya aku pengen makan nasi Padang langsung di warungnya, kita ke sana yuk!"
"tapi Sa, mie gorengnya gimana?"
"ih.. Tapi aku pengen makan nasi padang,"
Alex semakin heran dengan kekasihnya, kenapa mendadak wanita itu berubah manja? Dan sepertinya tak mau dibantah.
"Oke, aku kasih tau Xander untuk ikut,"
Ketiganya mengunjungi salah satu warung kaki lima yang menjual masakan khas Sumatra Barat itu, warung itu baru buka sore hari.
Yang membuat Alex bingung, porsi makan tak masuk akal dari kekasihnya, namun ia memilih tak berkomentar, takut wanita itu menangis lagi.