
Sejak malam itu, akhirnya Alex kembali tinggal di rumahnya, itu juga atas permintaan putranya,
Tingkah laku Sandra semakin aneh, tak seperti biasanya, tak ada lagi sikap yang lembut, dan selalu mengalah,
Sandra menjadi ketus, keras kepala, gampang menangis, manja dan tak mau jauh darinya.
Bukan hanya itu, bahkan wanita itu terlebih dahulu meminta untuk berhubungan intim.
Sudah seminggu Sandra bersikap aneh, sampai Alex harus mengalihkan pekerjaannya pada rekannya yang lain atau menunda, ia juga meminta Choki untuk mengantarkan berkas-berkas yang harus ia periksa ke rumahnya.
"mbak Sandra kenapa bang? Sakit atau gimana?"tanya lelaki dengan badan kekar itu ketika mengantarkan beberapa berkas.
Alex yang sedang memeriksa berkas hanya mengangkat bahunya, "ini udah semua kan? Gue kerjain nanti malam, biar Besok siang bisa diambil, kayaknya gue nggak bisa ke kantor untuk sementara waktu,"
Pembicaraan keduanya terganggu dengan kedatangan Sandra, wanita yang mengenakan daster rumahan menghampiri Alex, seolah tak peduli ada orang lain, Sandra malah duduk di paha kekasihnya,
Alex sedikit terkejut, tapi tak menolak juga, berbeda dengan Choki yang melongo melihat tingkah ajaib mantan rekan kerjanya.
Sandra memeluk Alex lalu mengendus-endus leher lelaki itu,
Alex yang awalnya biasa saja, lama-lama merasa tak nyaman, "Sasa sayang masih ada Choki, kamu diam dulu ya, bentar aja, ini aku tinggal periksa dikit lagi,"pintanya.
Sandra menghentikan kegiatannya, tapi setelahnya terisak,
Alex menjadi panik, "Maaf, aku nggak bermaksud marahi kamu ko, Sasa sayang ayo lanjutkan, nggak usah pedulikan Choki,"
Sandra menghapus air matanya, lalu melakukan hal yang sama, wanita itu mulai mengendus-endus leher kekasihnya.
Alex berusaha mati-matian menekan hasratnya, segila-gilanya dirinya pada s*x, ia tak akan melakukannya didepan bawahannya.
Semua tingkah kedua sejoli itu tak lepas dari tatapan mata Choki, ia tak menyangka, mantan rekannya yang dewasa dan mandiri berubah seratus delapan puluh derajat.
"Bang, Bu bos kenapa?"tanyanya heran.
Alex melototi bawahannya supaya tak banyak bertanya, ia tak ingin kekasihnya menangis lagi.
Sepeninggal Choki, kedua sejoli itu melakukan hubungan intim di ruang tamu,
Alex tentu saja senang, kebutuhan biologisnya tersalurkan, apalagi dengan wanita yang dicintainya.
Selama seminggu ke belakang, keduanya lebih sering berhubungan intim, entah berapa kali sehari, yang jelas tergantung mood Sandra.
wanita itu selalu memintanya, Alex tentu saja senang, dan tak akan melewatkan kesempatan itu.
Selama seminggu pula, Alex hanya keluar rumah saat mengantar dan menjemput Xander, itupun jika Sandra mengijinkan, karena beberapa kali justru Choki yang melakukannya.
Alex ingin bertanya, tapi tak mau melukai perasaan kekasihnya, ia hanya berusaha menikmatinya.
Rama yang lebih sering berhubungan dengannya soal pekerjaan, sempat protes, karena setiap sahabatnya hendak menemuinya di kantor, ia tak berada di tempat.
"lo sakit apa gimana sih Lex? Kata Jonas, lo lagi kerja dari rumah, tumben betah di rumah," tanya Rama melalui sambungan telepon suatu siang.
Alex yang sedang melakukan hubungan intim tentu sedikit sulit mengendalikan suaranya agar terdengar normal, "egh... Lagi pengen aja Ram.... ah..."
Alex melirik kekasihnya yang sedang sibuk memanjakan adiknya, tak mungkin ia melarang wanita itu menghentikan kegiatannya, bisa-bisa merajuk, maka ia yang akan kerepotan sendiri,
"Yang penting kerjaan beres Ram, kecuali kalau Ben sama Lo kasih ijin gue cuti sebulan,"
Rama mengumpat lagi, "bisa-bisanya Lo ngomong gitu disaat bos, lagi kelimpungan nyariin bininya, gue nggak mau tau, besok Lo harus hadir di kantor, jangan pikirannya ************ mulu lo!"
"ah... Guwehh.... Nggakh.... Janji,"
Sebelum mengakhiri panggilannya, Rama mengumpat lagi.
Alex meletakan ponselnya asal, lalu meminta kekasihnya untuk berhenti, ia tak ingin mengotori mulut itu dengan cairan kental miliknya.
Sandra menurut lalu menaiki dirinya, entah sudah berapa kali sedari pagi keduanya melakukannya.
Beberapa saat kemudian Sandra ambruk diatas dadanya, wanita itu telah mencapai puncaknya.
Alex ingin segera menyelesaikannya, ia harus segera menjemput putra mereka, ia membalikkan posisi lalu memulai aksinya, hingga cairan miliknya kembali ke dalam liang hangat dibawah sana.
Sandra tertidur dibawah selimut tebal, sementara Alex bergegas mandi kilat, ia tak ingin menunggu putranya terlalu lama.
Tak sampai sepuluh menit, ia sudah mandi dan bersiap mengeluarkan motor milik kekasihnya, sebisa mungkin ia harus cepat kembali sebelum wanita itu terbangun.
Alex mengendarai motor bagai pembalap, beberapa kali menyalip, jika biasanya menaiki mobil ia bisa memakan waktu lebih dari tiga puluh menit, maka dengan motor, ia hanya memerlukan waktu tidak sampai lima belas menit.
Sesampainya di sekolah, putranya baru saja keluar dari kelasnya, bocah itu heran melihat penampilannya.
Bagiamana tidak heran, Alex yang jika keluar rumah selalu rapih dengan kemeja dan celana formal, sekarang hanya mengenakan kaos oblong hitam dengan celana pendek warna senada, penampilan khasnya ketika didalam rumah.
"tumben papa pake kaos,"komentar Xander sambil menerima helm kecil milik bocah itu.
Alex membuka kaca helm, "Papa buru-buru, takut mama keburu bangun, kamu tau bukan sekarang kondisi mama bagaimana,"
Xander membonceng papanya, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang lelaki dewasa itu, "Pa, semalem Xander mimpi, opa sama oma dateng ambil bunga yang ditanam mama di teras belakang, itu maksudnya apa ya?"
Alex yang mulai melajukan motornya, namun tetap mendengarkan cerita putranya hanya menanggapi, "mimpi kan bunga tidur, jadi tidak usah dipikirkan,"
Motor melaju dengan cepat, tadi Alex sempat meminta putranya agar berpegangan lebih erat agar tetap aman, karena ia akan kembali mengebut.
Namun ia teringat tadi pagi, kekasihnya meminta dibelikan rujak mangga muda untuk makan siang, sehingga ia mampir dulu ke tempat pedagang rujak yang berjualan pinggir jalan.
Tak lupa membelikan makan siang untuk ia dan putranya, karena semenjak ia tinggal lagi di rumah, Sandra melarangnya untuk memasak, dengan alasan tak tahan dengan aromanya, jadilah setiap tiga kali sehari, ia membeli makan diluar.
Beruntung, sesampainya di rumah, Sandra masih tidur, sehingga ia dan putranya bisa makan terlebih dahulu.
Sudah beberapa hari ini, Sandra tak mau makan nasi, wanita itu hanya mau makan buah-buahan saja, belum lagi setiap paginya akan muntah-muntah dikamar mandi.
Alex sempat curiga, dan menanyakan apa wanita hamil atau tidak namun Sandra mengatakan jika seminggu sebelum ia kembali ke rumah, kekasihnya kedatangan tamu bulanan, meskipun tak sebanyak biasanya.
Sehingga Alex berfikir, mungkin Sandra hanya ingin bermanja padanya, karena sebulan kemarin ia mendiamkan wanita itu.