
Sudah dua berlalu, semenjak kepindahan Sandra dan Xander ke rumah milik Alex.
Selama itu pula, Sandra beberapa kali berkunjung ke Apartemen, namun tak kunjung bertemu dengan Ferdiansyah.
Ia juga sudah memindahkan seluruh barang-barang pribadi miliknya dan juga Xander ke tempat tinggalnya yang sekarang.
Menurut informasi yang didapat Sandra dari pihak pengelola, seminggu yang lalu Ferdiansyah kembali, dan mengatakan jika lelaki itu akan menjual apartemen miliknya.
Entah masalah apa yang sedang menimpa Ferdiansyah, hingga menjual istrinya sendiri pada Alex juga menjual apartemen.
Pesan yang dikirim Sandra hanya dibaca tanda dibalas, telpon tak diangkat, lelaki itu seolah menghindari dirinya.
Sandra sedang dilema, ingin berbicara baik-baik dengan suaminya tentang perceraian yang akan diajukannya, tapi lelaki itu susah sekali ditemui, belum lagi tuntutan Alex yang memintanya segera menceraikan Ferdiansyah.
Alex beralasan, ingin memberi adik untuk Xander, tapi semua itu tidak akan terwujud selama Sandra masih terikat pernikahan dengan suaminya.
Walau nantinya akan bercerai dengan Ferdiansyah, bukankah sulit untuk Sandra dan Alex menikah? Mengingat perbedaan keyakinan diantara keduanya.
Sandra sudah berusaha memberi pengertian pada kekasihnya, namun lelaki itu seolah tak mempedulikan hal itu.
Dirinya jelas tau sifat keras kepala yang dimiliki Alex, sedari dari remaja memang seperti itu,
Alex akan teguh pendirian mempertahankan pendapatnya dan keinginannya, tak peduli apapun,
Sandra harus banyak bersabar menghadapi temperamen bos sekaligus kekasihnya.
Walau tak pernah melakukan kekerasan secara fisik padanya, tapi jika keinginan lelaki itu tidak dipenuhi, itu akan mempengaruhi mood seharian.
Tentu yang akan direpotkan bukan hanya Sandra, tapi Jonas dan rekan advokat yang lain akan ikut kena imbasnya.
Benar-benar kekanakan, maka dari itu sudah tugas Sandra untuk membuat mood Alex, baik-baik saja.
Para sahabat lelaki itu tentu tak tau perihal sifat asli dari Alex, hanya bawahan dan rekan sesama Advokat yang ada dilantai enam yang tau betapa keras kepala dan menyebalkannya lelaki itu.
Walau seperti itu, Alex adalah bos dan rekan yang royal pada orang disekelilingnya.
Seperti beberapa saat lalu ketika salah satu cleaning service meminta pertolongan padanya untuk membantu biaya pengobatan keluarga yang sakit, Alex tanpa pikir panjang dan banyak bertanya, memberikan uang untuk membantu, meskipun sedari pagi moodnya sedang tidak baik.
"mbak, lo lagi ada masalah apa sih sama Abang, kenapa hari ini abang marah-marah Mulu, gue udah kena semprot dua kali,"bisik Jonas rekan.
Sandra menaikan bahunya, tentu dirinya tau penyebab mood lelaki itu memburuk, hanya saja tak mungkin dirinya menceritakan pada orang lain bukan.
Kemarin sore seharusnya dirinya ada jadwal melakukan kontrasepsi suntik tiga bulan disalah satu bidan langganannya.
Tapi Alex yang sudah tau jadwalnya malah membuatnya sibuk dengan pekerjaannya, sehingga membuat Sandra lupa.
Semenjak menjadi sekertaris dari bosnya, ia sengaja melakukan hal itu mengingat Alex yang tak pernah mau memakai pengaman jika berhubungan intim dengannya, juga secara sengaja lelaki itu membiarkan benihnya menyembur ke dalam rahimnya.
Sandra yang sadar diri akan statusnya tak mungkin dengan bodohnya memiliki anak dari lelaki lain sementara dirinya telah bersuami.
Ferdiansyah yang notabenenya menderita lemah syahwat akan curiga padanya, jika sampai ia hamil.
Tadi saat bangun tidur, Alex memintanya untuk berhubungan intim, namun Sandra menolak karena dirinya belum melakukan kontrasepsi, karena itulah mood lelaki itu memburuk seharian.
Yang kenal imbasnya bukan Sandra tentunya, tapi Jonas dan advokat rekanannya yang berkantor di lantai enam.
Jam makan siang tanpa pamit pada bosnya, Sandra pergi keluar kantor, ia sudah mengirim pesan pada bidan langganannya untuk melakukan kontrasepsi, sekaligus menjemput putranya di sekolah, ia meminjam motor milik Arumi.
Alex yang sedang meeting dengan rekan sesama pengacara tak menyadari jika Sandra telah keluar dari kantor setengah jam lebih cepat dari waktu istirahat.
Sesampainya di sekolah, putranya sudah menunggunya,
"tumben mama yang jemput, papa mana?"tanya Xander heran.
"Papa lagi meeting penting, nggak bisa diganggu,"jawab Sandra mulai menjalankan motor pinjaman milik Arumi.
Diperjalanan menuju tempat bidan, ponselnya bergetar di saku celana formalnya, Sandra tau siapa itu tapi memilih tak peduli.
"Kok kita kesini ma?"tanya Xander heran,
Sandra mampir ke bidan langganannya yang tak jauh dari apartemen,
Ia berkonsultasi sejenak, mengenai dirinya yang tak kunjung mendapatkan tamu bulanan, jika tubuhnya yang lebih berisi, walau tak sampai dibilang gemuk.
Bidan yang bernama Suharti mengatakan jika hal itu memang sering terjadi pada seseorang yang melakukan kontrasepsi suntik tiga bulan.
Tak masalah, setidaknya untuk saat ini ia tidak boleh memiliki anak lagi.
Sedari tadi ponselnya terus bergetar, tapi lagi-lagi Sandra tak peduli,
Dari tempat bidan Suharti, ia mengajak putranya untuk makan mie ayam langganannya.
Jam makan siang tentu akan sangat mengantri, tapi tak masalah, tadi putranya menginginkannya.
Ponselnya terus saja bergetar, akhirnya Sandra memutuskan untuk mengangkatnya,
"Halo,"
"kamu dimana?"
"lagi makan siang bareng Xander,"
"kenapa nggak ijin sama aku?"
"kamu tadi lagi meeting, aku nggak mau ganggu,"
"seenggaknya kamu kirim pesan dong,"
"maaf aku lupa,"
"udah dulu ya, pesanan makanan aku datang,"
Sandra langsung mengakhiri panggilannya, ia malas berdebat dengan lelaki itu.
Pesanan mereka datang, putranya terlihat antusias saat mie ayam favoritnya disajikan dihadapannya.
Sambil makan Xander sambil berceloteh tentang betapa nikmatnya mie yang tersaji.
Sandra hanya tersenyum melihat tingkah putranya.
Saat perjalanan menuju kantor, tak sengaja, Sandra melihat suaminya berada di mobil bersama seorang perempuan ketika lampu lalulintas berubah merah.
Sandra sampai menajamkan penglihatannya, untuk memastikan jika itu Ferdiansyah suaminya.
Beruntung kaca mobil itu sedang dibuka, sehingga Sandra bisa melihat dengan jelas.
Lampu merah berubah hijau, kendaraan mulai melaju, Sandra memutuskan untuk mengikuti mobil yang ditumpangi suaminya.
Mobil terus melaju namun ditengah jalan yang tidak terlalu ramai, Sandra menghadangnya, ia dengan sengaja menghentikan motornya tepat didepan mobil yang ditumpangi suaminya,
Sandra membuka helm, tak lupa berpesan pada putranya untuk diam sebentar di trotoar tak jauh dari sana.
Ia mengetuk pintu kemudi mobil, kaca diturunkan,
"turun mas, aku minta waktunya sebentar,"ujar Sandra sambil melirik wanita berbeda yang ia lihat tempo hari.
Ferdiansyah berbicara sejenak dengan wanita yang bersamanya, setelahnya ia keluar dari mobil menghampiri istrinya.
"Ada apa?"tanya lelaki itu santai seolah tidak ada apa-apa.
"kamu kemana aja sih? Aku telpon nggak diangkat, aku wa nggak dibalas, aku ke apartemen, tapi kata pengelola, kamu mau menjualnya, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu seperti ini?"
"tentu aku butuh uang, makanya aku menjualnya, memangnya apalagi? Toh kamu sudah tidak tinggal di sana bukan?"
Sandra sudah memberitahukan pada suaminya melalui pesan, jika dirinya mendapatkan rumah dinas dari kantornya bekerja, hanya saja pesan yang dikirimnya tidak mendapat balasan dari lelaki itu, hanya dibaca saja.
"walau begitu seharusnya kamu balas pesan aku, bagaimanapun aku istri kamu, aku cari kamu, tapi kamu seolah menghindari aku, lalu siapa wanita itu?"
"dia pacar aku, kenapa kamu cemburu?"
Sandra bersikap tenang, jujur saja ia sama sekali tak cemburu, tapi ia harus berakting supaya terlihat seperti istri yang begitu mencintai suaminya.
"Mas, kamu masih punya aku, bagaimana bisa kamu punya pacar? kamu anggap aku apa?"
"bukankah kamu sama, kamu berselingkuh dengan bos kamu?"
Sandra terkejut tapi mencoba tetap tenang, ia teringat cerita dari Alex ketika suaminya menjualnya kepada bosnya itu.
"kamu menuduh aku? Oh aku ingat, pak Alex pernah bercerita, bahwa kamu menawarkan aku padanya, kamu menjual istrimu ke lelaki lain, dimana hati nurani kamu, kenapa kamu jahat sekali? Beruntung pak Alex baik, malam itu beliau mengatakan hal itu, kamu tau, gara-gara kamu, gaji aku dipotong tiap bulan untuk mengganti uang yang beliau keluarkan, harusnya kamu tau, utang tiga puluh juta aja, baru aku cicil sekali, dan kamu malah menambahkan utang aku, kamu tega banget sih,"
Terlihat raut terkejut di wajah Ferdiansyah mendengar pengakuan Sandra,
"Aku minta maaf Sandra, tapi aku terpaksa melakukannya, aku butuh uang, untuk menutupi hutang-hutang ku, kalau tidak aku akan dipenjara,"
"tapi kenapa kamu jalan sama cewek lain? kamu selingkuh dari aku?"
"aku butuh dia, untuk membantuku membayar hutang,"
"tapi nggak dengan selingkuh, kamu kan bisa kerja, jangan kayak gini dong mas, kamu mengkhianati pernikahan kita,"
"aku ngga ada pilihan lain Sandra, toh kamu juga sama, kamu udah pernah melahirkan sebelum menikah sama aku,"
"kenapa diungkit, aku udah minta maaf kan? Dan selama ini aku setia meskipun kamu selalu mengecewakan aku,"
"maka dari itu aku sengaja menjual kamu ke pak Alex, kamu tau bukan, aku nggak bisa memenuhi kebutuhan batin kamu, beliau sepertinya tertarik sama kamu,"
"apa kamu gila? Bagaimana mungkin kamu berfikir seperti itu? Aku istri kamu, apa aku pernah protes dengan keadaan kamu?"
"sudahlah Sandra, lebih baik mulai sekarang kita urus diri masing-masing, tolong jangan campuri urusanku,"
"tapi aku istri kamu,"
"mulai sekarang nggak,"
"apa maksud kamu?"
"kamu aku ceraikan,"
Sandra menganga, ia terkejut, semudah itu suaminya menceraikan dirinya, kenapa nggak dari dulu? Rasanya ia senang sekali, namun harus tetap tenang, ia harus berakting sebagai seorang istri yang tersakiti.
"aku nggak terima kamu ceraikan begitu saja, bukankah kamu mencintai aku?"ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Betul aku mencintai kamu, tapi cinta itu tidak bisa membebaskan diri aku dari hutang yang membelenggu, maka cukup sampai disini pernikahan kita,"setelah mengatakannya Ferdiansyah berlalu.
Sandra memegang lengan lelaki itu, ia menangis tersedu-sedu, tentu bukan karena lelaki itu, ia sedang berakting, ia membayangkan saat orang tuanya pergi meninggalkannya.
"kamu nggak bisa gitu aja menceraikan aku,"
"apalagi Sandra, mulai sekarang kita bukan suami istri,"
Sandra masih tetap kekeh dengan pendapatnya, hingga Ferdiansyah yang tak sabar mendorongnya dengan keras hingga Ia jatuh terduduk di aspal,
Ferdiansyah meninggalkannya begitu saja, sementara Xander yang melihat kejadian itu langsung menghampiri ibunya,
Bocah itu memeriksa keadaannya, terlihat raut terkejut ketika mendapati telapak tangan Sandra lecet, mungkin terbentur aspal tadi.