How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus empat belas



Sekali lagi aku ingatkan, cerita ini sedikit berbeda dari apa yang pernah aku ceritakan di dua cerita sebelumnya, mohon maklum.


Hampir 2000 kata, mohon dukungannya.


Happy reading.


Ada sedikit rasa takut, namun Alex bukan orang yang percaya tentang hal mistis, bertahun-tahun ia menjadi penghuni gedung ini, tak sekalipun dirinya bertemu dengan sosok dari dunia lain.


Teringat tadi ucapan Sekuriti yang bertugas di pos keamanan depan kantor, jika ada tamu yang datang, bodohnya ia, tak menanyakan siapa tamu yang berkunjung.


Seingatnya hanya Fernando sahabatnya yang bertamu tidak tau waktu, tetapi seingatnya tadi sore ia masih berkomunikasi dengan lelaki blasteran itu membahas soal pembayaran pajak tahunan villa yang ada di Bogor, sepertinya tak mungkin dia.


Apa Rama atau Oscar? Itu lebih tak mungkin, Rama yang sudah memiliki istri tak mungkin menghampirinya tengah malam begini, apalagi Oscar yang memiliki jadwal operasi padat, lelaki yang berprofesi sebagai dokter bedah, lebih memilih tidur di kamar rahasia di ruang kerja direktur rumah sakit.


Kalau Benedict, jelas mustahil, budak cinta seperti dia, akan lebih memilih berperang peluh dengan Ayudia.


Alex menutup pintu ruang kerjanya nyaris tanpa suara, lalu berjalan perlahan mendekati seseorang yang tengah tidur meringkuk di sofa ruang kerjanya.


Setelah mendekatinya, ia baru menyadari jika itu adalah tubuh seorang wanita, Apa Natasha? Sepertinya tak mungkin, gadis itu bertubuh mungil.


Tercium aroma parfum yang sangat dikenalinya, perlahan ia menyingkap tudung Hoodie dan rambut yang menutupi wajah itu.


Alex menyunggingkan senyumannya, mengetahui dengan jelas siapa wanita yang masih betah menutup mata, padahal ada seseorang yang sedang menatapnya.


Entah berapa menit, Alex masih betah memandang wanita yang beberapa waktu ini selalu menghindarinya.


Teringat tadi siang, wanita ini juga yang memintanya agar hubungan mereka diakhiri, dan sekarang wanita ini juga yang menghampirinya.


Apa cara yang diajarkan sepupunya berhasil? Kalau ia ingatkan Alex untuk memberikan bonus besar bulan depan.


Alex mengirimi pesan pada Chiko agar menjaga putranya di rumah, sepertinya sang ibu akan bersamanya malam ini.


Alex bangkit berdiri menuju kamar mandi, sepertinya ia harus mandi kilat, ia harus segera menghilangkan bau parfum dari kedua wanita mantan teman kencannya.


Tak sampai sepuluh menit, ia sudah selesai mandi dan hanya mengenakan celana bokser, lalu menghampiri wanita yang masih tertidur di Sofanya.


Dengan hati-hati ia mengangkatnya, wanita itu sempat menggeliat, namun Alex menenangkannya, dirasa memungkinkan, ia mulai melangkah lagi menuju kamar rahasianya.


Ia meletakan dengan perlahan, lalu membuka Hoodie yang dikenakan wanita itu, meninggalkan kaos oblong yang ia ingat jika itu adalah salah satu miliknya.


Tak lupa membuka celana kulot, menyisakan dalaman berwarna hitam, Alex mengumpat dalam hati, hanya melihat bagian bawah yang tertutup kain segitiga, seketika hasratnya bangkit.


Namun ia harus menahannya mati-matian, ia tak boleh menggagahi wanita disaat tengah tertidur, apalagi keduanya sedang bermasalah, ia tak ingin wanita itu terkejut.


Alex membaringkan tubuhnya di samping wanita yang berbaring terlentang itu, ia mencium kening itu lembut, sebelum menariknya kedalam pelukannya.


Cukup begini untuk malam ini, ia harus berusaha menahan hasratnya, mungkin pagi nanti, mereka bisa bercinta dengan hebatnya, melampiaskan rindu yang tertahan selama beberapa bulan ini.


Seperti sudah kebiasaan, sebelum azan subuh berkumandang, Sandra terbangun dari tidurnya, ia membuka mata yang terasa berat, ia diam sejenak menatap langit-langit ruangan yang dikenalnya.


Ia ingat semalam, usai menangis meratapi kisah asmaranya dengan lelaki yang sangat dicintainya harus ia akhiri dikarenakan perbedaan antara keduanya, sehingga menyulitkan mereka untuk meresmikan hubungan menuju jenjang pernikahan.


Dirinya yang memutuskan, dirinya juga yang menangis patah hati, teringat ucapan mantan rekan kerjanya, yang memberitahunya jika mereka akan mengunjungi hiburan malam, membuatnya semakin mengeraskan tangisnya, sampai-sampai putranya heran, tapi Sandra berkilah, jika dirinya sedang menonton drama asal negeri ginseng.


Merasa tak tenang, ia memutuskan menghampiri lelaki itu ke kantor, dan berharap masih ada di sana, mungkin Jonas hanya ingin meledeknya.


Namun ia harus menelan pil pahit begitu sampai di ruang kerja dengan pencahayaan remang-remang dari luar, lelaki itu tak ada di sana, jadi benar jika papa dari putranya tengah berkunjung ke tempat hiburan malam, yang dikelola oleh mami Belinda.


Membayangkan jika lelaki itu berhubungan intim dengan wanita sewaan membuatnya kembali menangis.


Ia terisak-isak, ia bersedih, ia kecewa, ada penyesalan dihatinya kenapa tadi siang ia harus mengakhiri hubungan kasih mereka.


Nyatanya ia tak suka dengan keadaan ini, ia benci membayangkan tubuh lelaki itu dijamah oleh wanita lain.


Ia semakin mengeraskan tangisnya, rasanya ingin sekali menghampiri ke club' itu, memergoki lelaki itu, memakinya dan mengatakan jika ia tak mau jika ada wanita lain yang berhubungan intim dengan lelaki itu selain dirinya.


Tapi ia terlalu malu menunjukan wajahnya, bukankah dirinya sendiri yang menginginkan untuk mengakhiri hubungan mereka?


Tapi ia tak terima jika lelaki itu berhubungan dengan wanita lain, apa boleh untuk kali ini saja ia egois?


Ia tau resiko yang harus ditanggungnya karena memaksakan diri berhubungan dengan lelaki dengan perbedaan keyakinan itu.


"kamu udah bangun?"tanya Alex dengan suara serak khas bangun tidur.


Lelaki itu masih memeluk Sandra, lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher dengan aroma wangi yang disukainya.


"kamu pindahin aku ke sini?"tanya Sandra balik sembari melepaskan tangan besar itu dari perutnya,


Namun lelaki itu mengeratkan pelukannya, "begini sebentar aja, aku kangen banget sama kamu,"bisiknya.


Entah berapa lama keduanya terdiam dengan posisi yang masih sama, hingga Sandra menyadari ada yang salah dengan dirinya.


Teringat semalam, ia mengenakan Hoodie dan celana kulot, tapi mengapa sekarang ia hanya mengenakan kaos dan kain segitiga yang menutupi aset berharganya.


"Baju aku kemana?"tanyanya sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar.


Alex menduselkan kepalanya ke ceruk leher Sandra, lalu bergumam, "ada kok,"


Hampir saja Sandra mengeluarkan suara indahnya, "lepas, aku mau pipis, mau subuhan juga,"pintanya.


Alex terpaksa melepaskan wanita itu, ia hanya menatap saat Sandra memasuki kamar mandi.


Sepuluh menit berlalu, wanita itu keluar kamar mandi dengan penampilan lebih segar dengan handuk melilit di pinggangnya, menutupi kain segitiga.


Setelahnya Sandra keluar dari kamar itu, tadi sempat berbicara jika akan mengambil mukena yang disimpannya di meja sekertaris.


Beberapa menit berlalu, Alex keluar dari kamar tidurnya, ia tak mandi hanya cuci muka dan gosok gigi, tak lupa menyemprotkan parfum miliknya.


Ia masih mengenakan celana bokser saat keluar menuju ruang kerjanya, di sana wanita itu tengah duduk menunggunya, Sandra sudah mengenakan Hoodie dan celana kulot yang semalam dilepasnya.


Alex melirik sekilas, saat mengambil botol air mineral, setelahnya ia duduk di sofa singel menjaga jarak dengan wanita itu.


"kamu ngapain malem-malem kesini?"tanyanya dalam mode dingin, berbeda sekali saat tadi dirinya di ranjang.


Alex bisa melihat wajah gelagapan wanita itu, ia sedikit menyunggingkan senyumannya, sepertinya cara tarik ulur berhasil.


"aku lupa nganterin berkas penting," kilah Sandra tanpa menatap lawan bicara.


"oh, mana berkasnya?"tanya Alex menyodorkan tangan kanannya.


Sandra bangkit, hendak keluar, namun ucapan Alex menghentikan langkahnya, "Mata kamu bengkak, apa semalam kamu habis menangis?"


"nggak, siapa yang nangis,"kilah wanita itu.


"oh gitu ya, soal berkas, nanti saja, aku mau bicara, silahkan kamu duduk kembali,"pintanya.


Sandra menuruti ucapannya, tapi masih belum mau menatap matanya,


"Sandra meskipun kita berpisah, aku minta kamu dan Xander tetap tinggal di rumah itu, kamu tau bukan, rumah itu sudah atas nama putra kita, jadi tolong jangan pergi dari sana,"


Alex menatap wanita itu, tak ada perubahan reaksi, Sandra masih menunduk tak menatapnya balik.


"Oh aku mau cerita, bukankah kita sekarang bersahabat, sudah hal biasa bukan jika sesama sahabat saling bercerita, seperti aku dengan Asha, toh masih belum jam kerja,"


Belum ada reaksi apapun dari wanita itu, sepertinya Alex harus lebih bisa memprovokasi ibu dari putranya.


"semalam aku tidak sengaja bertemu Rachel di club', kamu ingat siapa dia kan? Dia cerita katanya lagi nyari calon suami, tuntutan dari orangtuanya, dia seumuran kita, tapi belum menikah, maka dari itu dia menawarkan diri agar aku menikahinya, menurut kamu gimana? Bagaimanapun kamu adalah ibu dari putraku, aku juga harus berdiskusi sama kamu bukan?"


Wanita itu menoleh, menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca, sepertinya akan menangis,


"semalam Rachel mengajak aku untuk tidur bersama, kamu tau bukan sudah lama aku nggak melampiaskan hasrat, sebagai lelaki dewasa, sehat dan normal aku butuh pelampiasan, jadi..."


"Stop Alex... jangan dilanjutkan, aku nggak mau dengar, tolong jangan lanjutkan,"


Ucapannya terpotong, oleh teriakan dari Sandra yang tak mau mendengar kelanjutan kata-katanya.


"kenapa? Toh sekarang kita sahabat, sama seperti aku dan Asha, kamu bisa tanya dia, dulu aku sering bercerita tentang hubunganku dengan mantan-mantan teman kencanku,"


Sandra bangkit, "tapi aku pacar kamu, bukankah kamu bilang kalau kamu cinta mati padaku, kenapa belum sampai dua puluh empat jam, kamu udah lupa sama aku,"teriaknya tak terima.


Alex masih bersandar di sofa, "ya begitulah laki-laki, patah hatinya hanya hitungan menit, selanjutnya jika ada wanita seksi membuka pahanya, dia akan dengan senang hati menjamahnya,"


Alex bisa melihat, air mata yang tak kunjung berhenti keluar dari kedua kelopak mata wanita yang dicintainya, sebenarnya ia tak tega, tapi apa mau dikata, ia harus memberikan pelajaran pada wanitanya yang nakal.


Alex bangkit dan melangkah tepat didepan wanita yang tingginya hanya sebatas dagunya, ia menunduk dan berbisik, "kamu tau kan, aku paling tidak tahan jika digoda, mengingat semalam, aku jadi berhasrat kembali,"


Sandra masih mengeluarkan air matanya, Alex menyunggingkan senyumannya, lalu berbalik mengambil ponselnya, ia mengutak-atik sedikit dan telpon pun menyambung,


"Halo Rachel, apa kamu masih di apartemen?"


"...."


"aku mau kesana seka..."


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ponselnya direbut lalu dimatikan dan dimasukan kedalam saku Hoodie.


"kamu apa-apaan sih? Kenapa hape aku di rebut? Kembalikan sekarang, aku mau ngomong sama Rachel,"pinta Alex.


Sandra menggeleng sambil terus menangis,


"kenapa nggak boleh? Itu hape aku, barang pribadi aku, kembalikan sekarang,"


"Nggak Alex, kamu nggak boleh tidur sama dia,"teriak Sandra sembari menangis.


"Kenapa nggak boleh? apa kamu lupa, kalau sekarang aku singel? Jadi aku bebas tidur dengan wanita manapun yang aku mau,"


"apa semudah itu kamu melupakan aku? Apa sama sekali kamu tidak memikirkan perasaan aku?"tanya wanita itu sembari menghapus air matanya.


Ini kali pertama Alex melihat, Sandra menangis sampai seperti itu,


"Ini mau kamu bukan? Apa kamu lupa siapa yang kemarin siang meminta hubungan ini berakhir? Yang sebenarnya nggak memikirkan perasaan siapa? kamu tau bukan bagaimana aku mencintai kamu, tapi kamu sengaja menghindari aku, jadi aku tanya siapa yang salah?"


Sandra terisak, ia menyadari kesalahannya, "keadaan yang salah, aku dan kamu yang salah, harusnya dulu kita nggak saling jatuh cinta, kita berbeda dan tak mungkin bersatu,"gumamnya.


Alex mulai kesal, lagi-lagi alasan perbedaan itu yang diungkit oleh Sandra, ia muak sekali rasanya, tapi kenyataannya memang seperti itu, selama ini ia tak kunjung menikahi wanitanya, andai di negara ini bisa menikah dengan perbedaan keyakinan mungkin sedari lulus SMA ia akan meminta papanya untuk melamar pacarnya.


Namun peraturan menyebutkan jika pernikahan hanya bisa dilakukan oleh pasangan dengan keyakinan yang sama.


"Jadi apa mau kamu? Aku mau menjalin hubungan dengan wanita lain, kamu melarang, jadi apa yang harus aku lakukan? Apa kamu mau meminta aku untuk melajang hingga mati? Jangan egois Sandra, aku lelaki normal, aku butuh melampiaskan hasrat,"teriaknya.


Sandra menggeleng, "aku nggak tau, aku bingung, aku nggak rela kamu sama wanita lain, aku cemburu, tapi aku takut jika terus melanjutkan hubungan ini,"


Alex menghela nafas, diluar masih belum terang, tapi ia harus berteriak marah-marah, ia menghampiri wanita itu lalu memeluknya erat, sembari menenangkannya agar berhenti menangis.


"Maafkan aku, tidak seharusnya aku meneriaki kamu, maafkan aku sayang,"bisiknya semakin mengeratkan pelukannya.


Sandra membalas pelukan itu, ia juga meminta maaf.


Alex melepaskan pelukan terlebih dahulu, ia memegang sisi wajah wanita itu, lalu dengan kedua ibu jarinya, ia menghapus air mata itu, "shut... hentikan tangisan kamu sayang, hatiku sakit saat air mata kamu keluar, maafkan aku,"ucapnya menatap penuh rasa bersalah.


Sandra masih sesenggukan, "jangan pergi dan berpaling dari aku,"Isaknya, "aku mohon maafkan aku, dan jangan lepaskan aku,"


Alex mengangguk menyetujui permintaan wanita dihadapannya,


"aku mencintai kamu, jadi jika aku minta putus, peluk aku dan tahan langkah aku supaya aku tidak pergi dari kamu, aku mohon,"pinta Sandra masih sesenggukan.


Alex kembali memeluknya, "iya aku janji tak akan melepaskan kamu apapun yang terjadi, aku akan selalu menahan kamu untuk berada disisi aku,"