How To Marry You ?

How To Marry You ?
seratus satu



Alex belum bisa kembali ke ibukota dikarenakan, Fernando mengambil cuti selama seminggu usai menjalani hukuman selama setahun.


Kesal tentu saja, Rasa rindu pada kekasihnya semakin menyiksanya, apalagi mereka terakhir bertemu sebulan yang lalu.


Komunikasi yang dilakukannya dengan Sasa-nya tak cukup mengobati rindunya, rasanya ingin berlari menghampiri wanita itu, ingin memeluk, mencium bahkan bercinta sampai puas.


Sayangnya ia harus menunda keinginannya, kemarin Fernando menghubunginya, untuk memberitahukan jika ada kemungkinan sahabatnya itu mengajukan perpanjangan cuti.


Tapi ada kata-kata terakhir dari lelaki blasteran itu yang membuatnya bingung,


"Lex, lama nggak ketemu Sasa, makin semok aja ya! Bikin gue gimana gitu, terus Lo nggak ada niatan nikahi kalau dia udah jadi janda gitu? Apa nunggu ditikung dulu? Oh ya Lo kan beda sama kita ya, gimana kalau Lo nikahnya sama Cristy biar sama, oke juga loh dia di ranjang, cocok deh sama Lo,"


Ucapan sahabatnya masih terngiang-ngiang dalam pikirannya, apa maksudnya?


Karena penasaran, ia menelpon Rama, dan jawaban Rama adalah, "gue nggak tau maksudnya Dodo, yang jelas sejak balik dari pulau, dia cuman nemuin gue sekali buat setor muka, Ben juga belum balik, tapi kalau kata Oscar sekarang tiap hari dia ke rumah sakit mulu, ngajak Sandra sama Natasha makan siang, coba Lo tanya Oscar atau Natasha aja deh,"


Alex tau jika Fernando memang dekat dengan Natasha, sama dengan yang lainnya, mengingat gadis itu satu-satunya perempuan yang ada di perkumpulan mereka sedari SMA, berbeda halnya dengan Sandra yang merupakan kekasihnya,


Tapi kenapa harus bersama Sandra juga makan siangnya, bukankah Fernando tak terlalu dekat dengan kekasihnya? Bukankah biasanya hanya dengan Natasha saja?


Ada pikiran buruk yang melintas dalam benaknya, apalagi ia ingat ucapan Fernando tentang dirinya yang dijodohkan dengan Cristy, sahabatnya juga menyinggung soal kesamaan keyakinan, lalu ada ucapan soal tikung menikung.


Alex menepis pikiran buruknya, tak mungkin sahabatnya mengkhianatinya, sedari terbentuknya perkumpulan mereka, ada aturan tak tertulis tentang berbagi wanita ataupun berhubungan dengan mantan kekasih atau teman kencan diantara mereka, tak boleh ada yang ribut hanya karena wanita.


Karena semakin penasaran ia menghubungi Natasha.


"kenapa Lex? Gue mau balik nih," ucap Natasha diseberang sana, terdengar juga suara pintu mobil ditutup, mungkin wanita itu sedang ada diparkiran rumah sakit.


"Sha, Lo bareng Sandra nggak?"tanyanya.


"jam kerjanya kan beda, Sandra balik jam empat, tadi kayaknya dijemput Nando deh, lagi rajin tuh orang tiap hari antar jemput,"


Jawaban Natasha membuat Alex mengepalkan tangannya, apa pikiran buruknya benar, jika sahabatnya mengkhianatinya?


Bukankah Fernando tau, jika Sandra adalah wanita yang dicintainya, Rasanya ingin segera memastikan kebenarannya.


"menurut Lo, apa mereka terlihat akrab atau dekat?"tanya Alex penasaran.


"ya Deket lah, sama kayak yang lain, lagian kenapa sih Lo nanya-nanya? Oh ya si Nando bilang mau perpanjang cuti seminggu lagi, jadi Lo sabar dulu disitu,"


Ucapan Natasha membuat Alex semakin kesal, bukan pada gadis itu, melainkan pada keadaannya yang tak bisa dengan mudah menghampiri kekasihnya.


Semakin penasaran, tak ada pilihan lain selain menghubungi putra semata wayangnya,


Sejak kejadian sebulan lalu, saat remaja itu memergoki dirinya berciuman dengan wanita selain Sandra, sikap putranya menjadi dingin padanya, pesan yang ia kirimkan hanya dijawabnya dengan singkat, dan jika ia menelpon remaja itu tak mau mengangkatnya meski sedang online.


Alex menghela nafas lelah, pikirannya mulai tak tenang, ia mengirim pesan pada putranya, agar remaja itu mengangkat telponnya, ada pembicaraan penting yang ingin ia bicarakan.


"kenapa?" tanya remaja itu ketus.


"Papa minta maaf, soal kejadian tempo hari, papa harap kamu maafkan papa,"jawab Alex berbasa-basi.


"to the point aja, aku mau belajar,"


Alex menghela nafas, "Apa mama sudah pulang?"tanyanya.


"telepon aja ke handphone mama, kenapa nanya ke aku,"


Alex mencoba bersabar, ia tau putranya masih marah padanya, "Apa mama sedang dekat dengan seseorang?"tanyanya.


"mungkin, lagian bagus juga kalau mama dekat dengan orang lain, aku setuju, asal mama bahagia, kasihan mama dikhianati Mulu,"


"udah dulu ya, mama kayaknya udah pulang,"


Alex bisa mendengar pintu terbuka, dan suara putranya menyapa Sandra,


"makasih uncle bule udah antar mama, tiap hari juga boleh,"


Alex bisa mendengar ucapan putranya pada lelaki yang dipanggil uncle bule, apa itu Fernando?


Alex mengakhiri panggilannya begitu saja, rasanya kesal sekali, benar-benar penghianat.


Sepertinya ia harus kembali ke ibukota, masa bodo dengan pekerjaannya juga amukan Benedict, ia harus segera mengurusi urusan pribadinya sendiri.


Namun ia tidak bisa langsung kembali, ada acara di resort, yang membuat dirinya tak bisa kembali malam ini, tapi ia sudah memesan tiket pesawat untuk keberangkatan subuh nanti.


Alex tak memberitahu siapapun tentang kedatangannya ke ibukota termasuk pada Bagus, asisten sementaranya di resort.


Dari bandara ia menaiki taksi online menuju rumahnya, waktunya mepet sekali untuk memergoki dua orang yang diduga mengkhianatinya.


Taksi yang ditumpanginya, berhenti didepan rumah tetangga sebelahnya, karena ada mobil yang dikenalinya berhenti tepat di depan rumahnya.


Alex diam didalam taksi sambil mengamati keadaan, tak lama Sandra dengan senyum secerah mentari keluar dari gerbang rumah, dan uncle bule yang dimaksud putranya keluar dari mobil menyambut wanita beranak satu itu.


Alex membayar ongkos taksi, lalu segera keluar dari mobil, dengan langkah pasti, ia menghampiri Fernando yang sedang membukakan pintu untuk Sandra.


Tak banyak bicara, Alex menarik baju Hoodie yang dikenakan Fernando, ia membawanya masuk ke dalam gerbang rumahnya, tepat dimana mobil terparkir.


"**jing, ngapain Lo deketin cewek gue bangsat, mau jadi pengkhianat Lo!"ujar Alex sembari memukul rahang Fernando.


Sandra yang mengikutinya menjerit, ia tak menyangka Alex datang dan langsung menghajar sahabatnya.


"Berhenti Alex, apa yang kamu lakukan?" Sandra berusaha menghentikan tindakan lelaki yang baru datang itu.


Fernando tak tinggal diam, ia balas menghajar Alex, beberapa kali pukulan mendarat di wajah lelaki beranak satu itu.


Sandra menghampiri keduanya, lalu menghalangi Alex yang hendak membalas pukulan Fernando.


"kamu apa-apaan sih? Dateng-dateng main pukul aja, nggak jelas tau nggak,"ucapnya.


"kamu belain dia?"tanya Alex marah.


"Siapa yang belain? dan nggak perlu ada yang dibela juga, lalu kenapa kamu kesini? Bukannya harusnya kamu di Bali,"


"itu nggak penting, aku hanya memastikan, dua orang yang berarti dalam hidup aku ternyata mengkhianati aku, nggak nyangka kamu Setega itu sama aku,"ujar Alex dengan nada tinggi.


Sandra mengernyit bingung, "siapa yang mengkhianati? bukannya kamu yang mengkhianati aku didepan mata kepalaku sendiri,"


"Apa yang kamu lakukan sama dia? Bagian mana yang sudah dia sentuh, aku akan menghapusnya,"ucap Alex sambil memegang lengan Sandra, memindai beberapa sisi tubuh wanita dihadapannya.


Sandra menepis kasar kedua tangan Alex, ia mendorong lelaki itu kasar, "dasar gila, kamu menuduh aku berselingkuh dengan sahabat kamu dan aku? Pake otak kamu Alex, aku nggak serendah itu, oh aku tau, kamu nuduh aku untuk menutupi kesalahan kamu sendiri bukan, jangan main asal tuduh,"


Usai mengatakannya, Sandra menggandeng lengan Fernando untuk keluar dari halaman rumah itu.


Alex tak tinggal diam, dirinya menahan tangan wanita itu, "kamu mau pergi sama dia? Aku menyempatkan pulang untuk ketemu kamu, tapi kamu malah seperti ini, kenapa kamu seperti ini? Tapi aku nggak akan melepaskan kamu, meskipun aku harus berhadapan dengan sahabatku sendiri,"


Alex menarik tubuh Sandra dan menyembunyikannya dibelakang tubuhnya, "gue nggak akan biarkan Lo ambil Sandra dari gue, dia cewek gue,"


Lelaki blasteran itu menyunggingkan senyumannya, "baru cewek kan? yang udah nikah aja bisa cerai apalagi cuma status pacar, lagian Lo nggak bakal nikahi Sandra kan? seperti yang gue bilang tempo hari, lebih baik Lo sama Cristy yang satu keyakinan, dan Sandra sama gue,"


Hampir saja Alex menghadiahkan bogem mentah, tapi Sandra mencegahnya.